Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 14


__ADS_3

“Yah, gimana ya caranya supaya Elvina bisa ngelupain Rendra? Itu anak udah kelewatan cinta sama Rendra, Pa. Mama jadi kesal campur sedih deh ngeliat Elvina lagi-lagi mandangin fotonya Rendra sama perempuan lain,”


Arman langsung menghentikan gerak jarinya di atas keyboard laptop begitu mendengar laporan dari istrinya soal anak mereka yang sampai saat ini belum bisa lepas dari masa lalu yang sudah menempatkannya di posisi paling tidak enak.


“Ya Allah, Bunda liat sendiri?”


“Iya, barusan Bunda nyamperin dia di kamar, Bunda liat dia ngelamun sambil merhatiin layar handphone nya, Bunda langsung samperin terus Bunda liat handphone nya. Ternyata lagi mandangin fotonya Rendra. Ya ampun, Bunda benar-benar nggak paham lagi deh sama Elvina,”


“Apa sebaiknya kita bawa El ke psikolog ya, Bun? Ya barangkali aja El butuh bantuan orang yang paham,”


“Udah pernah kita ajak, tapi dia nggak mau, malah nggak terima ‘kan. Dia merasa baik-baik aja. Dia nggak paham gimana perasaan orangtuanya ngeliat dia susah banget move on dari laki-laki jahat itu,”


Arman mengusap bahu istrinya yang sekarang mulai menunjukkan emosinya lagi kepada Rendra. Kalau saja Rendra tidak mengkhianati Elvina, pasti Elvina tidak akan sering didapati sedang melamun, atau prestasinya menurun, sampai menutup diri juga dari yang namanya kaum laki-laki.

__ADS_1


“Bun, apa kita obrolin aja sama El ya soal ajakannya Vano yang pengen serius sama El?”


Dini menatap suaminya dengan sorot mata bimbang. “Maksudnya kita suruh El untuk terima ajakannya Vano secepat mungkin?”


“Biar El buka hatinya untuk laki-laki lain, Bun. Dan Vano itu ‘kan jelas asal-usulnya, kalau diliat juga Vano itu serius kok, nggak mau main-main. Mungkin karena udah memasuki usia yang dewasa,”


“Vano ‘kan udah nunjukkin keseriusannya sama kita. Datang ke sini sendirian udah, datang ke sini bawa orangtua yang ternyata sahabat lama kita juga udah. Ya harusnya El yakin kalau Vano itu memang benar-benar cinta sama dia dan pengen punya hubungan yang serius,”


“Cinta datang karena terbiasa. Vano juga udah ngomong begitu ‘kan. Setelah menikah juga bisa kok untuk saling mencintai, Bun. Banyak yang kayak begitu, dan berhasil sampai akhir hayat,”


“Masalahnya El ini egonya besar, Yah. Liat aja dia tetap nggak mau dengerin omongan orangtuanya. Disuruh lupain Rendra tapi tetap aja,”


“Emang susah kalau udah soal hati, Bun,”

__ADS_1


“Coba Ayah mau ngobrol dulu deh sama El,”


Arman langsung meninggalkan semua pekerjaannya dan bergegas ke kamar putri satu-satunya itu.


Ia mengetuk pintu kamar anaknya dan langsung dipersilahkan masuk. Ia melihat Elvina yang saat ini duduk di ranjang menatap ke arahnya.


“Kenapa, Yah?”


“Ayah mau bicara serius sama kamu,”


“Soal apa? Soal Rendra? Tadi Bunda udah ngomong kok, Yah. Apa Ayah mau ngomelin aku karena aku masih belum bisa lupain Rendra? Aku juga mau lupain dia, Yah, tapi susah, aku belum bisa,”


Arman langsung menghampiri anaknya yang saat ini menatapnya dengan mata berkaca. Kalau sudah melihat Elvina terpuruk seperti ini, Arman menyesal pernah mengizinkan Rendra masuk ke dalam hidup putri semata wayangnya.

__ADS_1


__ADS_2