
“Ke pantai yuk,” ujar Elvina seraya menatap Vano yang langsung berbaring di atas tempat tidur begitu sampai di penginapan mereka.
Vano berbeda dnegan Elvina yang masih semangat sementara Vano merasa lemas sebab di perjalanan Ia tertidur dan sekarang nyawanya belum terkumpul.
“Kamu capek, Mas? Masa dari Jakarta ke Bali capek?”
“Lemes aja, masih mau males-malesan. Kalau nanti sore ke pantainya, gimana? Kamu keberatan atau nggak?”
“Emang Mas mau tiduran dulu ya?”
Sekarang Elvina mulai membiasakan dirinya sendiri untuk manggil suaminya dengan sebutan yang wajar, selayaknya istri kepada suami, bukan anak didik kepada gurunya. Elvina tak lagi memanggil suaminya dengan sebutan pak Vano karena itu panggilan ketika Elvina masih menjadi mahasiswi Vano, tanpa ada status lainnya. Sedangkan sekarang Elvina sudah menjadi istri Vano. Jadi panggilan memang sudah seharusnya berubah.
Vano langsung beranjak duduk dan menggelengkan kepalanya. Ia membawa Elvina ke Bali untun membuat Elvina bahagia. Melihat Elvina sepertinya antusias sekali ingin bertemu dengan pantai jadi Vano putuskan untuk memenuhi keinginan istrinya itu.
“Ya udah ayo kita ke pantai,”
“Nggak usah deh kalau Mas mau rebahan dulu. Aku ikut Mas aja kalau gitu,” ujar Elvina seraya duduk di tepi ranjang menatap Vano yang duduk di tengah ranjang.
“Nggak apa-apa, saya mau kok ke pantai juga. Saya nggak keberatan,”
__ADS_1
“Tapi—“
“Ayo ke pantai, saya udah kangen pantai,”
“Nggak usah deh, nanti aja. Bentar lagi kita ke pantainya, sampai Mas udah terkumpul nyawanya, ‘kan baru abis bangun tidur tuh,”
Vano terkekeh mendapati labilnya sang istri. Tadi kelihatannya semangat sekali mau ke pantai, setelah Ia bersedia Elvina malah duduk.
Vano turun dari ranjang. Ia berdiri di hadapan Elvina dan mengulurkan tangannya. Elvina mengernyit tidak paham. Ia sudah katakan nanti, tapi kenapa suaminya tetap mau pergi sekarang? Elvina benar-benar tidak paham. Ia lihat duaminya memang masih butuh waktu dulu. Habis tidur, pasti kepalanya masih pening, masih butuh penyesuaian sebelum pergi ke pantai.
“Ayo mau jalan atau saya gendong?”
“Kenapa sih? Kamu nggak mau saya gendong?”
“Ya kali, Mas. Emang aku anak kecil? Aku udah dewasa masa digendong-gendong,”
“Ya barangkali aja kamu belum mau bangun juga karena kamu minta digendong sama suami kamu ini,”
Elvina menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia berharap digendong oleh Vano. Malu sekali kalau sampai tu terjadi.
__ADS_1
“Yuk kita ke pantai. Saya sewa motor untuk kita bepergian selama di sini. Kita ke pantai naik motor ya?”
“Okay siap,”
Mereka langsung keluar dari kamar. Dan bergegas mendekati motor yang sudah Vano sewakan dnegan tujuan supaya kalau mau kemana-mana selama di Bali jadi mudah.
“Duduk di depan atau belakang?” Tanya Vano seraya memasangkan helm di kepala istrinya.
“Hah?”
Tentu saja Elvina terperangah kaget. Pertanyaan macam apa itu? Memangnya Ia anak kecil? Sudah dua kali Elvina dianggap anak kecil oleh Vano. Tadi mau ditawarkan supaya digendong, sekarang ketika akan naik motor malah ditawarkan duduk di depan.
“Apa sih? Aneh-aneh aja deh kamu, Mas. Aku duduk di belakang lah, masa di depan,”
“Oh, saya kira mau di depan. Ya udah ayo naik,”
“Iya tunggu sebentar,”
“Perlu saya gendong supaya gampang naiknya?”
__ADS_1
Elvina langsung memukul pelan bahu suaminya dari belakang setelah Ia berhasil duduk dengan nyaman di atas jok motor. Vano tertawa karena menyadari Elvina semakin kesal.