Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 140


__ADS_3

“Eh, Del, ngapain ke sini?”


“Mau tanya sama kamu. Gimana Elvina? Dia masih kesal sama aku ya? Dan kamu blokir nomor aku ya?”


Kedatangan Delila ke kantornya langsung disambut dengan kagetnya Vano. Lelaki itu tidak menyangka akan kedatangan Delila hari ini secara tiba-tiba dan ketahuan juga kalau Ia memblokir nomor Delila, kemungkinan besar Delila menghubunginya dan tidak bisa makanya Delila tahu nomornya diblokir olehnya.


Seperti apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya, hubungan antara dirinya dan Delila tidak bisa lebih dari sekedar teman kalau mau akur dengan Elvina, lagipula yang namanya berteman tidak harus rajin berkomunikasi.


Apa yang Ia inginkan Sudah tercapai. Elvina mengaku telah mencintainya dan dia cemburu melihat kedekatannya bersama Delila. Jadi tidak ada alasan lagi Ia dekat dengan Delila seperti saat rencana berjalan.


“Kamu ada perlu apa?”


“Aku mau tanya sama kamu soal Elvina. Tadi kamu nggak dengar aku tanya apa?”


“Elvina udah nggak kesal lagi kok. Aku sama dia udah baik-baik aja. Aku udah minta maaf sama kamu soal kejadian waktu di hotel itu dan Elvina juga pasti udah minta maaf ‘kan ya? Dia udah ketemu kamu bahkan datang langsung ke rumah kamu. Ya…aku harap kamu nggak sakit hati lagi dan bisa memaafkan kesalahan istri aku,”


“Terus nomor aku diblokir itu karena Elvina yang suruh ya?”


“Nggak, Del. Memang aku aja yang mau ngelakuin itu,”


“Kenapa? Memangnya aku sangat mengganggu kamu ya?”


“Sebenarnya biar aman aja sih, Del. Kita ‘kan tetap berteman ya, nah berteman itu ‘kan nggak harus aktif komunikasi lewat chat atau telepon. Hubungan kita tetap baik-baik aja,”


“Kalau kamu blokir aku artinya kamu ada masalah sama aku, Van,”


“Oh nggak-nggak, sumpah nggak sama sekali. Elvina nggak minta aku untuk blokir nomor kamu, itu aku yang mau. Karena urusan kita ‘kan udah selesai. Jujur kemarin itu aku ‘kan abis blokir nomornya teman istri aku, nah aku inisiatif ngelakuin hal yang sama untuk diri aku sendiri,” ujar Vano yang memilih untuk jujur. Memang kemarin diam-diam Ia memblokir nomor teman Elvina khususnya yang pria. Yang pertama dia blokir adalah Jona. Entah kenapa tangannya gatal, saking inginnya tidak ada pertengkaran lagi di dalam rumah tangganya.


“Oh begitu. Aku agak heran sih. Kamu kok mutus silaturahmi kita. Cuma ya kalau memang kamu maunya begitu nggak masalah sih,”


“Aku unblock nanti, tapi nggak tau kapan,”


Delila tersenyum tipis setelah itu beranjak. Kedatangannya ke kantor Vano hanya ingin membahas perihal itu saja, tidak lebih. Ia merasa perlu bertanya langsung pada Vani kenapa Vano memblokir nomor teleponnya. Ia merasa tidak ada masalah apa-apa lagi pada Elvina maupun Vano tapi Vano malah menutup akses komunikasi mereka.


Dengan terang-terangan Vano keberatan untuk membatalkan blokiran nomor teleponnya. Tadi Vano mengatakan Ia akan melakukannya tapi kapan-kapan.


“Aku permisi, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Delila angkat kaki dari ruangan dimana Vano bekerja setelah itu Ia menutup pintunya dan melangkah keluar dari kantor Vano.


Tidak lama mobilnya pergi, dan Elvina yang niatnya ingin mengantarkan laptop lain milik suaminya langsung menyadari kehadiran Delila di kantor sang suami tapi sekarang sudah pergi.


Elvina sempat melihat sekilas wajah Delila sebelum masuk ke dalam mobilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati.


“Ada urusan apalagi Delila ke kantor Ken? Ih nggak ada habis-habisnya deh. Nggak yang laki-laki, nggak yang perempuan, sama aja gatelnya,”


Elvina jadi berpikiran negatif walaupun Ia tahu itu dosa. Tapi bagaimana Ia bisa berpikir positif kalau sudah melihat Delila ke kantor suaminya padahal yang Ia tahu, mereka dekat hanya karena Vano minta bantuan Delila saja dan sekarang tujuan Vano meminta bantuannya sudah tercapai. Entah apalagi tujuan Delila datang ke kantor Vano.


******


“Hai, Sayang,”


Elvina menanggapi kalimat sapa suaminya dengan mengangkat alisnya saja. Ia menutup pintu ruangan Vano setelah itu berjalan mendekat pada lelaki yang tersenyum menyambutnya di kursi kerja.


Elvina langsung meletakkan barang yang dibutuhkan oleh suaminya hingga Ia harus pergi ke kantor untuk mengantarnya.


“Wuidih dapat laptop baru nih,”


“Laptop baru palamu. Itu ‘kan laptop yang kamu maksud? Lagian pake acara ketinggalan segala,”


“Iya maaf, Sayang. Aku benar-benar lupa. Untung aja kamu mau antar ke sini. Maaf ya udah ngerepotin,”


“Nggak apa-apa, aku jadi tau deh kalau ada yang habis datang ke sini. Coba aja kalau aku nggak datang antar laptop itu, aku jadi nggak tau apa-apa,”


Vano mengangkat satu alisnya bingung. Ia masih belum mengerti dengan arah pembicaraan sang istri yang baru saja bicara dengan sinis.


“Maksudnya? Siapa yang kamu maksud datang ke sini?”


“Masa iya harus aku yang jawab?”


Sejenak Vano berpikir dan mengingat-ingat siapa yang baru datang ke kantornya dan bertemu dengan Elvina.


“Kalau yang barusan banget mah ada staf yang datang ke sini, itu yang kamu maksud? Dia emang tiap hari datang mulu, El, untuk bahas kerjaan,”


“Kalau itu nggak perlu diomongin. Aku juga tau kali,” sahut Elvina dengan sinis.


“Ya terus siapa yang kamu maksud, sayangku? Jangan muter-muter deh. Kalau mau ngomong ya ngomong aja. Aku ‘kan nggak paham siapa yang kamu maksud,”


Vano kembali mengingat-ingat karena Elvina yang masih memilih bungkam. Kemudian Ia langsung menjentikkan jarinya.


“Oh, Delila yang kamu maksud ya?”


Elvina mengangguk malas. Siapa lagi yang Ia bicarakan kalau bukan perempuan itu. Harusnya sejak awal Vano sudah tahu, tanpa basa-basi lagi.


“Sorry aku benar-benar nggak tau siapa yang kamu maksud, Sayang,”


“Sekarang udah tau ‘kan?”


“Iya udah,”


“Berarti tinggal kamu jelaskan aja, kenapa dia datang ke kantor kamu? Ada urusan apa sama dia, Mas?”


“Jujur aku juga kaget banget Delila datang ke kantor hari ini. Aku pikir ada hal penting apa yang mau dia bahas sama aku. Ternyata dia itu cuma mau tau gimana kamu sekarang? Apa masih marah atau nggak? Terus dia juga bingung karena aku blokir nomor handphone dia, aku jelasin aja lah aku ngelakuin itu ada maksud. Aku nggak mau perang-perang lagi sama kamu, Sayang. Lagian aku udah blokir nomor teman-teman cowok di handphone kamu yang bikin aku cemburu, aku inisiatif untuk ngelakuin hal yang sama untuk diri aku sendiri. Aku blokir nomor orang yang bisa mancing kamu cemburu. Dia pikir kamu yang udah blokir nomor dia. Terus aku bilang aja kalau itu kerjaan aku,”


“Oh gitu, aku pikir karena ada urusan apa,”


“Nggak ada, aku benar-benar anggap dia teman aja. Dan aku pikir, berteman itu nggak harus sering komunikasi lewat handphone ‘kan,”


“Aku padahal nggak minta kamu untuk blokir nomor dia,”


“Iya, memang aku yang mau, barusan aku bilang ‘kan,”


“Kenapa? Kamu nggak harus ngelakuin itu padahal,”


“Nggak apa-apa. Aku memang maunya begitu. Jangan protes, Sayang,”


“Nggak protes, cuma aku bingung aja kenapa kamu sampai punya pikiran begitu. Padahal aku mah udah bodo amat lah,”


“Yang bener bodo amat? Nanti giliran aku deket sama yang lain nggak bisa bodo amat, yang ada juga cemburu terus,”


Elvina yang beranjak ingin segera pulang karena tugasnya sudah selesai yaitu mengantarkan keperluan sang suami yang sempat tertinggal.

__ADS_1


“Kamu mau kemana?”


“Pulang lah, mau kemana lagi?”


“Bareng aja sama aku,”


“Nggak ah, masih lama, aku mau duluan aja,”


“Bentar lagi, dua jam lagi kira-kira,”


“Itu masih lama, Mas. Aku nggak mau lama-lama nunggu. Bye, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, ya udah hati-hati, Sayang,”


Elvina hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun setelah itu Ia beranjak keluar dari kantor suaminya untuk kembali ke rumahnya.


Ia diminta untuk menunggu. Tidak bisa, karena masih terlalu lama bila harus pulang dengan Vano. Barusan lelaki itu mengatakan dua jam lagi. Lebih baik Ia pulang lebih dulu biar bisa istirahat, ketimbang pulang bersama Vano yang bisa jadi mundur jam pulangnya karena pekerjaan, artinya Ia akan lebih lama lagi sampai di rumah.


****


“Ah, lega gue. Udah kemana-mana pikiran gue denger berita kecelakaan itu,”


Asal sudah mendengar suara istri, Vano merasa tenang sekali. Ia panik begitu mendengar kabar ada kecelakaan di dekat kantornya, cukup parah hingga memakan korban jiwa. Ia sudah tahu plat nomornya tapi tetap cemas karena Elvina baru saja meninggalkan kantornya. Ia takut sekali terjadi sesuatu pada Elvina. Tapi beruntungnya Elvina baik-baik saja, Ia barusan bisa mendengar suaranya.


Dentingan dari ponsel membuat Vano gagal melanjutkan pekerjaannya. Ia segera meraih ponselnya kembali.


-Kamu kenapa sih? Aneh banget. Kamu mau ketemuan sama siapa? Kok kayaknya takut banget aku belum sampai di rumah-


Vano berdecak karena kecurigaan yang diungkapkan Elvina. Ia bukan takut Elvina belum sampai rumah karena ingin bertemu seseorang, tapi Ia takut Elvina kenapa-napa, makanya Ia telepon karena tujuannya ingin memastikan keadaan Elvina tidak seperti yang ada di dalam pikirannya.


Supaya tidak ribut di chat, dan Ia juga malas mengetik panjang lebar, alhasil Ia kembali menghubungi Elvina untuk bicara langsung pada perempuan itu guna memberinya penjelasan.


“Halo, Sayang, kamu ngomong apa sih? Aku tuh tanyain kamu udah sampai rumah atau belum karena aku khawatir,”


“Khawatir kenapa sih? Kamu tuh aneh tiba-tiba telepon aku suaranya kedengaran panik. Terus tanya aku udah sampai rumah ‘kan bisa lewat chat aja. Kenapa? Kayak mau ketemu sama orang. Sebelum ketemuan harus mastiin aku udah di rumah dulu ya?”


“Astaga, nggak sama sekali, El. Kamu tau nggak, aku tuh tanya kamu udah sampai atau belum karena aku dengar ada kecelakaan yang cukup parah nggak jauh dari kantor aku. Makanya aku khawatir banget, aku panik takutnya kamu kenapa-napa,”


“Kamu dapat berita itu darimana?”


“Aku dengar staf-staf ngomongin itu,”


“Tau plat mobil yang kecelakaan ‘kan?”


“Tau sih, cuma tetap aja aku panik,”


“Nah ya udah, kalau udah tau plat mobil yang kecelakaan, kamu nggak usah panik lagi lah, santai aja. Aku baik-baik aja sampai di rumah dengan selamat,”


“Nah gitu jawabnya ‘kan enak, nggak nuduh aku yang macam-macam,”


“Maaf ya jadi kesannya nuduh. Soalnya aku benar-benar bingung kenapa kamu sampai kedengaran panik gitu waktu aku angkat telepon dan kamu telepon hanya karena mau nanya posisi aku. Jelas aja pikiran aku kemana-mana. Aku pikir kamu lagi mau mastiin aku sudah sampai rumah atau belum karena mau ketemuan sama yang lain, ternyata nggak ya,”


“Ya nggak lah, kamu jangan suka sembarangan kalau ngomong tuh. Malah nuduh tau nggak?”


“Iya maaf, aku nggak bermaksud nuduh. Ya udah teleponnya stop dulu ya,”


“Okay, tapi kamu lagi ngapain sekarang? Nggak kemana-kemana lagi ‘kan, Sayang?”


“Nggak, emang kenapa?”


“Okay, aku memang nggak mau keluar lagi,”


“Okay, Sayang. Baik-baik di rumah, ya,”


“Hmm kamu juga hati-hati pulangnya. Kecelakaan dekat kantor kamu ‘kan? Berarti gimana dong? Kamu lewat mana?”


“Lewat hati kamu lah, lewat mana lagi?”


Usai melemparkan kelakar seperti itu, Vano langsung menyudahi sambungan telepon diantara Ia dan sang istri.


“Duh, panik banget dia hanya karena dengan kecelakaan itu, padahal aku baik-baik aja,”


Hati Elvina menghangat karena Vano yang begitu mencemaskan dirinya. Tapi Ia juga kesal pada dirinya sendiri karena malah berpikiran negatif soal suaminya. Seharusnya tidak seperti itu.


“Maafin aku ya, Mas. Aku memang suka jahat sama kamu,”


****


“Kamu darimana? Kok lama sih pulangnya?”


“Dari kantor lah, Sayang. Mau darimana lagi?”


“Terus kok tumben udah jam sepuluh baru pulang,”


Vano meraih tangan istrinya. Elvina pikir Vano mengingatkan secara halus bahwa Ia belum cium tangan dan malah langsung mencecar Vano dengan pertanyaan, tapi justru Vano mencium tangannya.


“Kebalik kali,”


Elvina langsung mencium punggung tangan sang suami. Vano tertawa, padahal Ia tidak merasa keberatan mencium tangan istrinya bulak balik antara punggung tangan dan telapak tangan kanan Elvina.


“Ya nggak apa-apa, supaya kamu nggak marah,”


“Oh untuk bujuk aku rupanya,”


“Nggak juga sih, emang pengen aja cium tangan istri, nggak harus kamu terus yang cium tangan aku. Aku juga boleh lah, suka-suka aku,”


“Iya-iya terserah, kamu belum jawab pertanyaan aku lho. Kamu baik-baik aja? Kok pulangnya malam banget,”


“Wuih udah beda banget dari yang biasanya,”


“Maksudnya?”


“Biasanya nggak mau tau aku pulang jam berapa, nggak ditanya-tanyain, kok sekarang—“


“Ya udah mau aku cuek aja? Hah?”


Vano terkekeh dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia mencium singkat bibir sang istri kemudian hidung runcingnya juga.


“Aku hampir kecelakaan tadi,”


“Hah?! Kok bisa?”


“Iya, ban bocor terus udah hampir oleng gitu karena aku juga ngantuk. Tapi untungnya nggak apa-apa sih, untung masih ketemu bengkel dan aku duduk dulu di sana bentar,”

__ADS_1


“Ya Allah, tapi kamu nggak apa-apa ‘kan? Maksud aku nggak sempat kecelakaan atau gimana?”


“Nggak kok, tenang aja. Aku ngantuk parah dan kayaknya karena kecapekan juga jadi bawaannya badan aku itu lemes gitu,”


“Pikiran kamu juga kemana-mana kali tuh, jadi makin oleng,”


“Nggak ada aku mikir kemana-mana. Emang kondisi badan aku aja, Sayang. Dan kebetulan keadaan ban juga begitu,”


“Mana telepon aku nggak dijawab-jawab,” gerutu Elvina setaya meletakkan tas Vano di tempatnya dan juga menerima jam tangan Vano yang diulurkan pria itu. Ia meminta tolong pada Elvina agar meletakkan jam tersebut di tempatnya juga karena Ia masih terlalu malas beranjak dari sofa.


“Ya udah kamu istirahat aja dulu, apa mau langsung mandi?”


“Pengennya sih langsung mandi tapi nggak ada tenaga. Mandiin dong, El,”


“Dih enak aja. Malu sama umur kamu tuh,”


“Mandiin pokoknya,”


“Nggak bisa! Mandi sendiri sana, aku siapin aja bajunya,”


“Bisa kok, El. Tinggal gosok-gosok aja,”


“Palamu aku gosok-gosok sini. Mau nggak?”


Vano terbahak puas mendengar omelan Elvina yang menentang keras keinginannya untuk dimandikan oleh Elvina. Itu memang permintaan aneh dan Ia sudah duga Elvina tidak akan melakukannya. Sesungguhnya Ia juga hanya berkelakar saja, tidak serius.


“Iya emang mandi harus gosok pala. Aku mau-mau aja,”


“Udah jangan bercanda terus. Mandi sana,”


Elvina meraih celana dan baju tidur untuk sang suami setelah itu Ia letakkan di depan Vano yang masih nyaman duduk bersandar di sofa kamar.


“Tuh bajunya,”


“Okay, makasih ya,”


“Sama-sama,”


“Aku ambil minum untuk kamu ya?”


“Nggak usah, aku mau mandi sekarang. Tolong buatin mie instan aja, mau nggak?”


Elvina tanpa pikir panjang menganggukkan kepalanya. Ia tidak keberatan dimintai tolong oleh suaminya untuk membuatkan mie instan.


“Kuah atau yang goreng?”


“Kuah biar seger. Jangan lupa banyak irisan rawit, sama telur dua ya, Sayang,”


“Okay, aku bikin sekarang, kamu mandi,”


Vano mengangguk dan memberikan hormat, sementara Elvina langsung bergegas keluar kamar menuju dapur usai suaminya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya selepas seharian lelah bekerja.


Keadaan rumah sudah sepi sunyi mengingat sekarang ini sudah pukul sepuluh malam bahkan sudah lebih. Sebenarnya Elvina agak takut juga. Bulu romanya berdiri waktu menginjak lantai dasar dan sepanjang kakinya melangkah ke dapur, tapi Ia tidak mungkin tiba-tiba lari masuk kamar lagi dan tidak jadi membuatkan mie instan untuk suaminya. Justru semakin cepat Ia membuat mie instan itu, semakin cepat juga Ia bisa kembali ke kamar meninggalkan suasana yang membuatnya takut.


Elvina memberanikan dirinya demi menuruti permintaan sang suami. Kali ini Ia yang bekerja keras menghadang rasa takutnya sendiri demi mie instan yang diinginkan Vano. Sesekali Ia yang berkorban, suaminya ‘kan terbilang sudah sering.


Elvina tidak tengok kanan kiri. Ia tetap fokus merebus air, kemudian masukkan bumbu, mie, dan telur. Semua Ia lakukan dengan perasaan yang tidak tenang.


“Elvina benar-benar penakut banget. Masa di rumah sendiri aja takut,” ejek dirinya sendiri.


Meskipun dapur dan sekitarnya terang benderang tapi tetap saja suasana yang sepi tidak ada orang maupun suara sedikitpun membuat Elvina merinding dan Ia kesal pada suaminya yang lama sekali tidak turun-turun.


Harusnya kalau sudah selesai mandi, datangi dirinya di dapur. Kalau ada Vano, Elvina bisa merasa tenang, tidak merinding lagi.


“Sayang!”


“Arghh elah!”


Elvina marah karena Vano tiba-tiba datang menepuk bahunya. Ia yang sedang resah, tentu saja kesal.


Vano menatapnya dengan polos dan bertanya-tanya. Ia tidak merasa berbuat kesalahan tapi istrinya marah.


“Aku kenapa emangnya? Kamu marah sama aku?”


“Ya iyalah! Kamu ngagetin aku aja sih,”


Vano terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian Ia mencium Elvina yang sudah hampir menyelesaikan tugasnya.


“Aku bikin kamu kaget ya? Okay, maaf. Aku benar-benar nggak sengaja,”


“Kamu sengaja, Mas! Ih kamu nih benar-benar nyebelin banget sih! Aku mau nangis jadinya ‘kan,”


“Lah kenapa nangis?”


“Aku ‘kan takut tadi sendirian, terus tiba-tiba kamu kagetin. Aku pikir apa tadi, ah kamu nggak lucu!”


Elvina mendorong Vano untuk menjauh. Memang benar, Vano melihat mata istrinya yang sedikit berkaca. Elvina takut dan ketika dikagetkan malah menangis.


“Aku pikir nasib aku nggak aman nih, ada yang datang entah hantu apa rampok, nggak taunya kamu!”


“Ya Allah, ngelawak banget kamu,”


Vano tertawa lepas. Penuturan Elvina membuat perutnya tergelitik. Elvina penakut sekali. Dan pikirannya sudah kemana-mana kalau sedang merasa takut.


“Aku spontan marah deh, terus mau nangis abis itu,”


“Uluh-uluh tayang akoh. Jangan nangis dong, aku nggak niat bikin kamu kaget, seriusan deh,”


Vano memeluk istrinya yang masih di depan kompor menunggu mie lunak. Vano mengusap-usap kepala istrinya dengan lembut kemudian mencium pelipisnya singkat.


“Kamu bohong! Kamu ‘kan suka jahil orangnya,”


“Nggak, Sayang. Udah jangan nangis,”


“Aku nggak nangis, cuma mau nangis aja tadi, aku pikir siapa,”


“Ternyata suaminya yang ganteng, iya nggak?”


“Kamu lama banget sih, kok baru turun. Aku deg-degan tau, begitu sampai lantai bawah aku merinding, terus di dapur sendirian apalagi, merindingnya nggak ketulungan. Aku berharap kamu cepat-cepat turun, tapi kamu lama banget,”


“Eh aku tuh udah cepat banget karena aku ingat kamu di bawah pasti cuma sendirian. Amih ‘kan udah pasti tidur karena ini udah malam banget. Aku sampai cepat-cepat banget keramas, sikat gigi, sama sabun. Kayak orang dikejar hantu karena aku udah yakin kamu tuh pasti lagi ketakutan di bawah. Eh ternyata bener ‘kan,”


“Udah tau begitu malah dikagetin. Ya gimana nggak marah coba,”

__ADS_1


“Iya ya, aku oneng banget,”


__ADS_2