Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 36


__ADS_3

“Mas, naik sepeda yuk pagi ini. Terus kita mampir beli oleh-oleh buat yang di Jakarta, besok ‘kan kita udah pulang,”


Elvina membuka tirai jendela dan itu membuat matahari langsung masuk ke dalam kamar, membuat mata Vano yang sebelumnya terpejam terpaksa terbuka.


“Mas, kamu dengar aku barusan bilang apa?”


“Apa?”


“Ih emang nggak dnegar?”


“Tapi saya baru bangun, belum nyambung kamu ngomong apa,”


“Ayo kita naik sepeda, Mas. Kita beli oleh-oleh juga abis itu,”


“Oh beli oleh-oleh, okay ayo. Saya mandi dulu ya,”


“Nggak usah, ‘kan kita mau naik sepeda, nanti keringetan, Mas. Jadi kita sepedaan dulu, abis itu kita balik ke hotel untuk mandi, terus kita bawa mobil ke tempat belanja oleh-oleh. Kita sepedaan sekalian cari sarapan, Mas. Gimana menurut Mas?”


Vano beranjak duduk lalu menganggukkan kepalanya. Ia berdiri akan menata ranjang tapi dilarang oleh Elvina.


“Udah Mas siap-siap aja, biar aku yang beresin,”


“Nggak apa-apa, ‘kan seklaian mau bangun,”


“Aku aja, ini tugas aku,”

__ADS_1


“Sejak kapan beresin tempat tidur jadi tugas istri? Siapapun boleh kali ngerjainnya, mau istri, mau suami ya sama aja,”


“Mas ganti baju aja dulu sana, abis itu kita berangkat naik sepeda,” ujar Elvina sambil emrebut selimut yang sedang dilipat oleh suaminya.


Vano menatap istrinya dalam diam, Elvina menganggukkan kepalanya mengisyaratkan sang suami untuk segera bersiap.


Akhirnya Vano mengangguk. Ia segera ke kamar mandi mencuci muka, menggosok gigi dan juga mengganti pakaian.


Tidak lama kemudian Vano selesai bersiap. Ia langsung menatap istrinya yang sudah menyampirkan sling bag di bahunya.


“Kamu udah siap ternyata ya? Saya baru sadar, kalan ganti bajunya?”


“Tadi sebelum kamu bangun, Mas,”


Melihat Vano akan meraih kunci mobil, Elvina langsung menahan lengan sang suami lalu menggelengkan kepalanya.


“Kita ‘kan mau naik sepeda, Mas. Ih masa lupa sih?”


“Oh iya, maaf-maaf saya masih agak nggak nyambung abis bangun tidur,”


Vano langsung merangkul bahu istrinya keluar dari kamar dan mereka melangkah keluar dari kamar.


Mereka bersepeda bersama sekalian mencari sarapan. Hanya berkeliling di sekitar penginapan saja atas permintaan Elvina. Sekitar lima belas menit kemudian Elvina ingin makan bubur ayam yang kebetulan mereka lewati.


Akhirnya mereka putar balik hanya untuk makan bubur yang diinginkan oleh Elvina. Walaupun harus menyebrang jalanan yang cukup ramai tapi Vano tidak keberatan.

__ADS_1


“Ramai, Sayang. Kamu yakin mau makan di sini?” Tanya Vano pada istrinya setelah melihat warung bubur ramai.


“Hah? Eh gimana?”


Elvina terkejut ketika suaminya memanggil dengan mesra. Sayang, panggilan mesra yang keluar dari mulut Vano secara tiba-tiba membuat Elvina mengangkat kedua alisnya dan gugup.


“Kenapa? Kamu nggak suka ya saya panggil sayang? Merasa jijik atau gimana?”


“Nggak-nggak, aku biasa aja kok,”


“Ya udah berarti saya manggil kamu sayang nggak apa-apa dong?”


Elvina terkekeh tidak bisa menjawab. Sejujurnya Ia merasa aneh ketika dipanggil mesra seperti itu oleh Vano walaupun Vano itu suaminya sendiri.


“Saya simpulkan kamu nggak senang dengar panggilan itu. Maaf ya, saya spontan aja tadi. Kamu yakin mau makan di sini? Rame lho,”


“Aku tetap mau makan di sini,”


“Ya udah ayo kita duduk,”


Vano meraih tangan Elvina, mengajak Elvina duduk di kursi yang masih kosong di dalam warung bubur tersebut.


“Kamu duduknya jangan di sebelah sini, biar saya aja,” ujar Vano pada Elvina ketika Elvina akan duduk tepat di sebelah laki-laki.


“Mas Vano cemburu ya?” Bisik Elvina.

__ADS_1


__ADS_2