Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 63


__ADS_3

“Kak, aku kemarin itu tadinya pengen ngajakin kakak beli bakso lho, tapi kakak belum pulang. Akhirnya aku gagal deh beli bakso. Ntar siang aja ya, Kak? Temenin aku beli bakso,”


“Iya boleh, maaf ya aku pulangnya emang telat,”


“Kakak pulang jam berapa emang?” Tanya Davina pada Elvina yang pagi ini berada di meja makan bersamanya, Vano, Lisa dan Beni orangtua mereka.


“Aku pulang jam sembilan,”


“Hah? Kok malam banget? Dimarahin sama Abang nggak?”


“Hehehe nggak, cuma dikasih tau aja,” jawab Elvina sambil terkekeh seperti kuda. Ia awalnya ragu jawab atau tidak, tapi kalau Ia tidak jawab, nanti Davina bingung kenapa Ia memilih untuk tidak jawab.


“Kenapa bisa semalam itu, Nak? Mama udah tidur jadi nggak tau kamu pulang jam berapa,”


Vano membiarkan istrinya yang menjawab karena yang tahu persis jawabannya adalah Elvina sendiri.


“Aku sampai rumah jam sembilan, Ma. Aku sama teman-teman aku ketiduran pas nonton demaa korea, terus pas bangun kaget udah jam sembilan, aku minta maaf ya, Ma, Pa, pulangnya telat semalam,“


“Nggak apa-apa telat, Sayang. Asal jangan malam-malam kayak gitu ya? Rawan soalnya, tau sendiri dunia ini makin sinting. Makin banyak orang jahat, jadi kita mesti waspada. Ya salah satu caranya hindari pulang malam, karena kalau malam penjahat-penjagat itu semua lebih bebas beraksi. Apalagi kamu ‘kan perempuan dianggap lemah sama mereka, nggak punya kekuatan. Yang laki-laki aja bisa doserang apalagi kamu perempuan,” ujar Lisa pada menantunya.


Lisa tidak melarang menantunya itu mau kemana-mana, itu hak Elvina. Tapi Lisa tidak mau terjadi sesuatu pada anak maupun menantunya.


“Iya, Ma, aku paham. Aku minta maaf. Aku nggak bakal kayak semalam lagi. Aku nggak tau kalau misalnya bakal ketiduran. Pas bangun aku juga kaget banget tau-tau udah jam sembilan. Harusnya nggak usah nonton drama korea di rumah teman, di rumah sendiri aja biar kalau ketiduran nggak apa-apa,”


“Mending nonton di sini, Kak, sama aku,” ujar Davina.


Elvina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan lagi tertidur di rumah temannya akibat menonton drama korea, karena pulangnya akan sangat terlmabat, dan bisa-bisa suaminya tidak berhenti menasehati. Semalam untungnya Vano mau berhenti karena Ia bilang mau tidur. Kalau Ia mengulangi kesalahan yang sama Vano pasti lebih tegas lagi. Atau-bisa-bisa Vano mengusirnya dari rumah.


“Ya udah hari ini ‘kan hari minggu, nonton deh sepuasnya sama Davina,”


“Iya, Ma,”


“Siang nanti pokoknya temenin aku beli bakso ya, Kak?”


“Iya, nanti beli bakso sama kakak ya,”


“Yes akhirnya kesampean juga beli bakso,”


“Kemarin mau dibeliin malah nggak mau, ditemenin juga nggak mau, entah apa maunya kamu, Dek,” celetuk Vano.


“Yang aku mau, aku belinya sama kakak. Bukan sama abang,”


“Ya penting sama aja. Judulnya beli bakso, mau siapa aja teman kamu pas beli,”


“Ih suka-suka aku lah, orang aku maunya beli sama Kak El, bukan sama Abang,”


Vano geleng-geleng kepala. Sudah Elvina juara di hati adiknya itu sekarang, bukan Ia lagi selaku abang kandung.


Selepas saralan dnegan menu nasi dan ayam goreng, Elvina membereskan meja makan dibantu oleh Davina.


Elvina yang membersihkan piring kemudian Davina yang mengeringkannya. Sementara Lisa mulai membuat bolu pisang.


Selepas membasuh peralatan makan bekas sarapan, Elvina membersihkan meja makan, dan setelahnya Ia bergegas ke dapur dimana ibu mertuanya sedang mengaduk adonan.


“Mama, aku bantu ya. Tolong kasih sku kerjaan, Ma,”


“Nggak bakal boleh, Kak, orang mama nggak mau dibantuin, sama aku aja nggak mau,” ujar Davina yang akhirnya menjadi penonton saja, karena tidak diperbolehkan oleh mamanya membantu.


“Aku bantu ya, Ma?”


“Nggak usah, Sayang. Biar Mama aja, kamu sama Davina anteng-anteng aja. Atau mendingan keluar gih, masih pagi tuh cari udara segar, jangan di rumah terus. Sana jalan-jalan santai,”


“Ya udah ayo, Kak,”


“Aku bantuin Mama aja deh,”


“Nggak usah, udah sana jalan-jalan sama Davina,”


Elvina tidak enak hati tidak membantu mertuanya membuat kue, sementara mertuanya itu memang tidak mau dibantu.


“Ayo, kakak,”


Davina mengajak kakak ioarnya itu keluar meninggalkan dapur bahkan sampai menarik tangannya yang apda akhirnya membuat Elvina melangkah meninggalkan dapur.


“Mau kemana?”


“Mau ngajakin kakak naik sepeda aja, kali ketemu jajanan, Kal,”


“Kita ‘kan udah makan, Dek,”


“Ya nggak apa-apa kalau ketemu jajanan kita beli, jajan yang keliatan enak. Aku pengen cari bakpao, Kak. Semoga ada ya,”


“Ya udah ayo,”


“Naik sepeda ya, Kak,”


“Hah? Kamu mau naik sepeda? Yakin?”


“Yakin,”


“Kakak naik sepeda kakak, nah aku naik soeeda aku, gimana?”


“Disuruh Mama jalan, tapi kita naik speeda,”


“Hahahaha nggak apa-apa, Kak. Aku malas ah kalau jalan kaki,”


“Ya udah okay ayo kita berangkat sekarang,”


Elvina dan Davina sudah mengambil sepeda masing-maisng, dan mereka langsung bergegas meninggalkan rumah dengan sepeda. Elvina pergi begitu saja tanpa pamit dulu pada suaminya sehingga suaminya itu bingung istrinya kemana, kenapa tidak naik-naik ke kamar? Karena bingung, dan penasaran, akhirnya Vano keluar dari kamar meninggalkan laptopnya untuk mencari keneradaan sang istri.


Ia ke dapur, Vano tidak menemukan Elvina, yang ada hanya mamanya saja. Tadi yang Ia ingat Elvina membasuh peralatan makan, sekarang sudha tidak ada tanda-tanda keberadaannya di dapur.


“Ma, aku mau tanya. Elvina dimana ya, Ma?”


Akhirnya Vano memilih untuk bertanya pada mamanya yang sedang membuat bolu pisang.


“Elvina diajak adek kamu pergi barusan,”


“Pergi kemana, Ma?”


“Pergi jalan-jalan aja dis ekitar rumah, mau cari udara segar mereka. Mama suruh begitu ketimbang bantuin Mama di sini,”


“Oh, hadi mereka jalan?”


“Ya—-kayaknya sih begitu, jalan kaki deh kayaknya, coba kamu liat aja di depan. Bawa motor atau apa gitu nggak,”


“Makasih infonya, Ma,”


“Okay, Sayang,”


Vano segera keluar untuk memastikan Elvina dan Davina kakak beradik ipar itu benar-benar jalan kaki atau justru membawa kendaraan.


“Ah sepeda pada nggak ada. Naik sepeda nih perginya. Kenapa nggak pakit ke saya dulu Elvina? Paling nggak saya nggak bingung kamu kemana,”


Vano tidak sukanya Elvina tidak pamit. Langsung lergi begitu saja, walaupun tujuan perginya mereka dekat, tapi Vano ingin tahu kalau istrinya itu pergi, menggunakan apa, dengan siapa. Vano harus membuasakan Elvina kalau apa-apa itu bicara padanya. Tidak langsung ambil keputusan begitu saja.


“Saya harus biasakan Elvina kalau mau apa-apa itu ngomong dulu ke saya, nggak bakal saya larang juga kalau nggak negatif,”


******


Elvina dan Davina menghentikan sepeda mereka di taman karena melihat penjual bakpao dan minuman dingin.


Mereka makan di sana sambil menghabiskan waktu dengan perbincangan yang random. Elvina senang seklai smenejak ada Davina, Ia tidak merasa anak tunggal lagi. Ada yang memperhatikannya, mengajaknya mengobrol, bercabda. Selama ini karena Ia anak tunggal, Ia merasa kesepian. Semenjak memiliki Davina yang merupakan adik ipar tapi sudah Ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri, kehidupan Elvina benar-benar berwarna.


“Kak, di kampus kakak pernah ada jalan-jalan gitu yang nginap?”


“Pernah, emang kenapa?”


“Terus dosennya ikut nggak?”


“Ya ada yang ikut ada yang nggak, kenapa emangnya, Dek?”


“Nggak apa-apa, nih ya kalau misalnya ada acara nginap gitu di suatu tempat, mahasiswa dan dosen harus nginap, apa kakak sama Abang bakal satu kamar nginapnya? ‘Kan kalian suami istri, tapi posisinya lagi sama orang-orang kampus,” ujar Davina yang mengundang tawa Elvina.


Benar-benar tidak jelas obrolan mereka. Tadi membahas kesukaan Vano dulu saat kecil yaitu berenang sampai kakinya pernah kram, sekarang membicarakan tentang kemubgkinan yang akan terjadi kalau ada kegiatan di kampus Elvina yang mengharuskan dosen dan mahasiswa menginap, apakah Elvina akan menginap bersama Vano atau justru memilih untuk berbaur. Jujur Davina penasaran aoal itu.


“Gimana, Kak?”


“Hmm kayaknya kakak sama teman-teman teman kakak aja deh,”


“Kenapa?”


“Ya karena itu ‘kan lagi sama teman-teman ya, nah Mas Vano juga sama teman-teman dosennya. Masa iya aku sama abang kamu itu satu kamar? Kayaknya nggak mungkin. Aku mau profesional jadi mahasiswa dan Mas Vano jadi dosen. Jadi kalau di kampus selalu ingat status itu. Mau lagi ada kegiatan apapun yang nginap ataupun nggak tetap aja aku sama Mas Vano itu cuma mahasiswa sama dosen jadi terbatas ineraksinya, kalau di rumah baru deh teraerah mau gimana,”


“Wah jadi kakak bakal milih sekamar sama teman-teman kakak?”


“Iya dong, ‘kan konteks pertanyaan kamu tadi acara atau kegiatan kampus yang mengharuskan mahasiwa dan dosen menginap di suatu tempat, nah ya udah aku milih sama teman-teman aku lah tidurnya, Mas Vano ya sendiri aja atau sama teman-teman dosennya mungkin,”


“Hahaha kasian dia kalau sendirian, Kak,”


“Nggak apa-apa ‘kan cuma bentar,”

__ADS_1


“Hahaha kakak parah banget nih,”


“Eh pulang yuk, bakpao kamu sama aku udah sama-sama habis,”


“Yuk, ntar kita dicariin,”


“Nah itu dia makanya,”


Elvina mengajak Davina untuk pulang. Ia tidak mau lama-lama karena takutnya baik ibu mertua maupun suaminya khawatir dnegan mereka yang lama di luar.


Mereka kembali ke rumah dnegan sepeda masing-masing yang kecepatannya cenderung rendah. Mereka benar-benar santai menikmati suasana pagi di komplek perumahan menggunakan sepeda smapai kemudian ada sepasang suami istri seumuran mertua Elvina menyapa mereka dan itu tentunya membuat mereka langsung spontan menghentikan pahu sepeda.


“Elvina, Davina, darimana?”


“Dari taman, Bu,”


“Oh gitu, Vano mana? Nggak keliatan,”


“Mas Vano di rumah, Bu,”


“Oh iya-iya, belum isi, Elvina?”


“Isi apa ya, Bu?”


“Hamil maksudnya,”


Lelaki di sebelah wanita itu tampak menegur istrinya menggunakan sikunya yang sengaja menyinggung lengan istrinya.


Sang ustri langsung menatap suaminya yang kelihatan kesal setelah Ia bertanya seperti itu oada Elvina sennetara Elvina tersenyum dan menjawab dengan santai.


“Doain yang terbaik aja ya, Ibu,”


“Pasti, ya udah kalau gitu salam buat Vano ya,”


“Iya, Bu, mari saya pulang dulu,”


“Iya hati-hati,”


Elvina dan Davina yang sedari tadi dian kembali mengayuh sepeda mereka menuju rumah.


“Maksud ibu itu nanya kayak tadi apaan sih? Dikira sopan apa nanya kayak gitu? Aku aja yang maish sekolah tau kalau itu nggak wajar untuk ditanyain ke perempuan manapun yang udah nikah!”


Davina menggerutu disela kakinya sibuk mengayuh sepeda ke rumah. Elvina terkekeh mendengar adik iparnya itu menggerutu. Padahal menurut Elvina wajar saja Ia ditanya begitu, karena Ia sudah menikah dengan Vano enam bukan tapi belum ada tanda-tanda hamil. Mungkin orang itu sudah tidak sabaran mendapatkan kabar kalau Ia mengandung, walaupun sebenarnya wajar-wajar saja enam bulan belum ada tanda-tanda hamil. Banyak orang yang lebih lama usia pernikahannya baru dikarunia anak setelah penantian lama itu, karena Tuhan punya waktu terbaik untuk setiap rencananya.


“Biarin aja lah, Dek. Orang tanya kita ya kita harus jawab,”


“Ya tapi nggak boleh lah nanya kayak gitu, Kak. Nggak sopan banget. Emang beluau nggak diajarin sopan santun apa ya? Udah tua juga, masa mulutnya kayak gitu? Lagian ya, zaman sekarang udah nggak zamannya lagi kali nanya kapan punya anak, kapan niksh, kapan bla bla bla. Kayak nggak ada kerjaan aja yang suka nanya kayak gitu ih,”


“Nggak apa-apa, orang nanya bisa jadi doa mungkin,”


“Aku pengen banget punya ponakan tapi ya nggak sekepo itu juga kali, orang lain tapi dok akrab deh nanya-nanya kayak gitu. Nggak wajar nanya privasi sesoerang,”


“Udah, Sayang. Kamu jangan kesal kayak gitu. Toh ibunya udah nggak ada sama kita lagi,“


“Iya, Kak. Aku cuma rada gondok aja,”


“Gondok tuh kesal ya?”


“Iya emang kakak nggak tau?”


“Sering dnegar tapi selama ini cuma nebak-ndbak aja artinya apa,”


“Lagian nggak nanya aja sih sama yang sering ngomong begitu,”


“Ah ngapain kurang kerjaan hahahaha,”


“Hmm iya juga sih,”


Mereka sudah tiba di rumah dan kaget melihat Vano di halaman depan rumah sedang duduk berhadapan dengan laptop yang ada di meja dan ada secangkir kopi di dekat laptopnya itu.


“Eh Abang ada di sini ternyata,” sapa Davina pada abangnya yang langsung menatap adik dan juga istrinya yang baru saja samlai di rumah.


“Darimana?” Tanya Vano pada mereka berdua.


“Abis beli bakpao sama minuman di taman,”


“Oh, terus kok cepat pulangnya?”


“Hah? Bukannya lama ya? Ini aja tadi kakak udha ngajakin aku pulang mungkin kakak takut udah dicariin sama abang,”


“Kirain smapai jam dua belas perginya,”


“Ya nggak lah, Abang lebay ah,”


“Udah ya aku mau masuk,”


Davina masuk ke dalam rumah, sementara Elvina duduk di depan suaminya yang sebelumnya menaikkan salah satu alis dan mengisyaratkan Ia untuk duduk.


“Kenapa, Mas?”


“Saya tadi bingung kok kamu nggak naik-naik ke kamar. Akhirnya saya cari kamu ke bawah, ke dapur lebih tepatnya dan kata Mama kamu sama Davina pergi. Kamu lupa pamit sama saya? Padahal saya pengen tau kamu pergi kapan, kemana, sama siapa?”


“Ya emang harus apa, Mas? Orang timbang pergi ke taman komplek diang, emang harus gutu izin dulu?”


“Pamit, kalau masalah izin ya saya nggak mungkin nggak kasih izin ke kamu,”


“Orang cuma dekat kok,”


“Ya pergi dekat aja kamu bodo amat, nggak mau pamit sama saya, kamu sering begitu lho kalaus aya perhatikan. Cuma sekarang aja saya ngomong. Kamu sering banget suka ambil keputusan sendiri. Saya nggak bskal larang kamu pergi, tapi setidaknya ngomong ke saya. Saya udha mikir kamu kemana gitu, ternyata pergi sama Davina,”


“Mas kenapa jadi over protective gini sih sama aku?”


“Kalau kamu anggapnya begitu ya terserah kamu lah, itu hak kamu,”


“Mas over protective dan aku nggak suka,”


“Kalau menurut kamu begitu saya minta maaf,”


“Masa ita aku harus ngomong dulu timbang keluar sama Davina ke taman?”


“Ya emang salah ya? Biar daya tau aja, saya pikir kamu ke rumah teman kamu,“


“Ya emang kalau aku ke rumah teman aku nggak boleh? Salah gitu kalau misalnya aku pergi ke rumah teman aku?”


“Saya nggak bilang salah, Elvina,”


“Ya terus?”


“Saya cuma mau kamu ngomong aja ke saya. ‘Kan gampang tinggal ngomong mau kemana, sama siapa, naik apa. Saya nggak larang, asal bukan ke tempat yang aneh-aneh aja,” ujar Vano.


Vano hanya ingin diberitahu kalau istrinya pergi, bukan maksudnya ingin melarang. Tidka salah ‘kan suami ingin tau kemana istrinya pergi? Dan istrinya juga sebaiknya emmang menyampaikan bila Ia hendak melakukan sesuatu ternasuk itu pergi ke suatu tempat supaya duaminya tahu juga, dan bisa lebih mudah memantau.


“Aku nggak suka kalau pasangan aku terlalu over—“


“Kalau yang kamu sebuta barusan itu, saya nggak skan mungkin bicara baik-baik begini ke kamu. Saya pasti langsung mrah begitu kamu pulang karena daya nggak suks kamu pergi. Tapi kenyatananya spa? Saya ngomong baik-baik. Saya bicarain naunya saya gimana, dan itu untuk kenaikan kamu juga, Elvina. Kalau kamu bilang, otomatis saya tau dan saya jadi gampang untuk mantau kamu ‘kan. Kalau ada apa-apa setidkanya saya nggak bodoh-bodoh banget pas ditanyain sana polisi kemana istrinya pergi, sama siapa, perginya kapan,” ujar Vano dengan ketus. Ternyata Elvina tidak dengan permintaannya itu.


“Ya udahlah, aku minta maaf udah bikin kamu kesal,”


“Saya nggak kesal, cuma pengen kamu hargai saya aja, kamu ‘kan istri saya masa saya nggak boleh tau kamu kemana? Yang barusan pergi dekat, ntar yang pergi jauh gimana? Bisa-bisa


Kamu bakal sering pergi tanpa pamit ke saya kalau saya nggak bicara kayak gini ke kamu,”


Elvina mendnegus kesal. Suaminya ini terlalu ingin menjaganya padahal Ia bukan anak kecil lagi jadi seharusnya santai saja. Tidka perlu tahu Ia kemana juga rasnaya okay-okay saja, tidak amsalah, apalagi kalau Ia hanya pergi ke tempat yang dejat jaraknya.


“Abang, nih kue kering, temenin kopi abang,”


Tiba-tiba Davina datang dengan membawa satu buah toples kaca keluar. Vano langsung berdecak pelan.


“Dek, jangan ditenteng satu tangan gitu ding toples nya, ntar kalau pecah, Mama marah lho,”


“Iya tau ini toples kesukaan Mama tapi tenang aja nggak bakal pecah. Aku mau cerita sama Abang,”


“Harusnya bakpao dong yang dibawa ke abang, bukan ini,”


“Oh Abang kau? Okay-okay bentar tadi Kak El beli kok,”


Davina langsung bergegas membawa kembali wadah yang sebelumnya Ia bawa keluar karena Ia pikir abangnya butuh teman kopi berupa kue kering tapi ternyata ingin bakpao. Untungnya Elvina beli sepuluh bakpao untuk dibawa pulang ke rumah.


“Nih, Bang,”


Davina datang lagi ke beranda rumah. Lalu Ia letakkan satu buah piring kecil berisik satu bakpao di hadapan sang kakak.


“Nah gitu dong, makasih,”


Obrolan antara Vano dan Elvina langsung berakhir tentunya, karena ada Davina di dekat mereka.


“Abang, aku mau cerita deh sama Abang,”


“Cerita apa?“ tanya Vano sambil menikmati bakpao dan menggerakkan salah satu tangannya di atas laptop.


“Ih abang ntar dulu kerjanya, ini ada cerita heboh menggemparkan,”

__ADS_1


“Hah? Apaan sih? Kok lebay anat heboh menggemparkan?”


Davina tertawa karena ekspresi bingung kakaknya itu. Ia berhasil membuat Vano bingung seklaigus penasaran tingkat dewa. Disebut heboh menggemparkan oleh adiknya pasti bukan kabar sembarangan atau kabar biasa, pikir Vano seperti itu.


“Jadi tadi tuh kita ketemu sama Ibu-ibu tetangga gitu deh terus masa dia nanya ke kakak kapan isinya, Bang. Maksud dia hamil. Nggak sopan ya mulutnya?”


“Kirain apa, ternyata yang menggemparkan itu cuma omongan tetangga yang nggak penting?”


“Ih kok Abang meremehkan sih?”


“Yang meremehkan siapa?”


“Ya abang lah, itu barusan ngomong begitu masa,”


“Ya ngapain didengerin orang ngomong kayak gitu. Emang yang ngatur kapan punya anak manusia? ‘Kan bukan,”


“Itu dia, aku kesalnya disitu. Ngapain sih dia nanya-nanya kayak gitu. Ih nggak sopan banget, Bang,”


“Ya udah biarin aja suka-suka dia mau ngomong apa. Nggak usah dipeduliin,”


“Tapi kaisna Kak El,”


“Aku nggak apa-apa kok, Dav. Kamu tenang aja, nggak udha kelikiran sama aku. Orang sku anggap itu bercandaan aja bukan hal yang serius, karena benar kata Mas Vano, yang ngatur smeuanya utu bukan kita hadi yang nggak pelru ditanyain ya harusnya sih nggak ditanya ya cuma ‘kan nulut orang beda-beda. Ya udah terserah dia aja deh mau gimana,”


“Pokoknya kakak nggak usah mikirin deh, aku emang mau punya keponakan tapi nggak mau kakak sampai merasa tertekan tau,”


“Iya, makasih ya,” jawab Elvina sambil tersenyum menatap adiknya itu.


“Kamu kenapa jadi keliatan paling kesal padahal Kak El keliatannya baik-baik aja tuh, dia santai, kamu nya yang kesal,”


“Ya iyalah aku kesal. Aku nggak mau ya kakak ipar sku jadi meras atertekan gara-gara pertanyaan itu,”


Elvina tersenyum mendnegar Davina yang sekarang ini menjadi pelindungnya. Elviba mencubit lembut pipi Davina.


“Aku beruntung deh punya kamu,”


“Punya saya berarti nggak beruntung ya?”


“Beruntung juga kok, Mas. Tenang aja, kamu nggak pernah aku lupain,”


Vano terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Ia baru tahu ternyata saat mereka pergi tadi ada saha yang membuat Davina kesal, sementara Elvina sebaliknya. Mungkin karena perbedaan usia juga. Walaupun tidak beda jauh tapi Elvina memiliki usia yang ada di atas Davina dan kematangan emosinya juga mulai terlatih sementara Davina sebaliknya. Ada yang bicara tidak enak sedikit, sudah berhasil membuat rasa kesal Davina timbul ke permukaan.


“Ya udah jangan dipikirin lagi omongan orang, Dek. Karena kalau kamu pikirin ya kamu bisa stres sendiri. Biarin aja, tanggapi dengan santai kayak kakak kamu tuh,” ujar Vano sambil menatap Elvina.


“Lagian yang ditanyain hamil siapa yang kesal siapa,”


“Ih aku nggak pernah suka ya dnegar orang nanya kayak gitu apalagi kalau sesama perempuan. Nggak sopan tau! Apalagi kalau bukan siapa-siapa, alias keluarga aja bukan, sahabat atau orang terdejat aja bukan, amsa dia ngomong gitu. Kalau keluarga atau kerabat terdekat ya okay lah masih bisa dimaklumi seidkit lah ini, orang duma tetangga juga, nggak tau deh itu tetangga yang mana aku ‘kan nggak banyak kenal sama tetangga-tetangga di sini, orang pada jarang keluar dari rumah,”


“Ya sama kayak kamu, keluarnya kalau mau sekolah atau jalan-jalan doang, selebihnya mah kayak ayam lagi jagain telor nya. Did alam kandang mulu,”


“Ih enak aja nyamain aku sama ayam! Aku nggak terima ya, Bang,”


“Hahahaha sembarangan banget kamu, Mas. Masa iya adek aku ini disamain kayak ayam yang jagain telor nya. Ya kalau anka peremluan mah emang bagusnya di rumah aja ngapain banyak keluyuran keluar rumah? Nggak bagus tau, mending juga di rumah, nggak mesti kejebak macet, nggak ngabisin uang, udah paling bener di rumah. Ya kalau sesekali keluar boleh lah, namanya juga cewek ‘kan, aku juga gitu kok,”


“Tuh dengar, Abang. Jangan seenaknya bilang aku kayak ayam jagain telor. Ih abang nih sembarangan aja ya,”


“Ya abisnya kamu mirip sama ayam yang jagain telornya. Ngomongin tetangga pada diam di dalam rumah aja, lah kamu sendiri juga begitu, Dek,”


“Udha biasa kalau dalam komplek itu suka hidup sendiri-sendiri, ada positif ada negatifnya. Positifnya kita nggak bgeliat ibu-ibu ngerumpi, negatifnya ya kurang akrab satu sama lain, jadi asing gktu rasanya aldahal tetangga,”


“Tapi komplek ini masih jauh lebih mending lah ya daripada komplek-komplek lain. ‘Kan ada tuh yang benar-banar nggak peduli sama tetangga nya, misal tetangga ngalamin musibah ya mereka tetap aja nggak mau tau gitu, nggak ada empati nya. Kalau di sini ‘kan masih ada gotong royong nya lah ya walaupun nggak semua. Ada yang meninggal, ada banyak yang datang, ada acara banyak juga yang hadir setidaknya masih ada yang peduli gitu,”


“Aku nggak suka sama ibu-ibu tadi, dia tetangga mana sih itu? Tetangga blok mana maksud aku, kayaknya aku baru pertama kali liat tapi kok dia kenal sama Kak El ya?”


“Ya mungkin datang waktu acara nikahnya Abang sama kak El. Udahlah jangan kesal gitu, Dek. Anggao aja dia udha nggak sabaran liat anaknya Abang sama Kak El,”


“Dia nggak sabaran apalagi aku tapi aku nggak kelo sampai nanya kayak gitu juga kali. Masa tiba-tiba nyapa terus nanya kayak gitu, ‘kan nggak sopan banget, Bang,”


“Udah-udah, hangan ngomel lagi ya,”


Vano mengusap bahu adiknya itu dan nengundang tawa Elvina. Sepertinya Vano ini mmang sering menjadi penenang untuk adiknya yang muda terpancing emosi di usianya yang masih labil saat ini.


“Benar kata abang kamu, Dav. Anggap aja dia udah nggak sabar kali ya ngeliat aku punya anak,”


“Bukan anak kamu aja, anak saya juga,”


“Lah emang siapa yang bilang anak aku doang, Mas?”


“Dari kata-kata kamu barusan,”


“Ih kamu salah paham, mas anggak ngerti sih sama ucapan aku?”


“Hahaha Abang takut banget diakuin sebagai bapak sama anaknya sendri,” ejek Davina smabil menunjuk wajah abangnya yang kini sala tingkah.


“Jadi saya salah paham ya?”


“Orang aku nggak pernah bilang anak aku sendiri kok. Kamu salah penafsiran tau,”


“Tapi kamu bilang narusan ‘anggap aja dia nggak sabar aku punya anak’ ya kan berarti itu anak kamu doang,”


“Astaga, ya udah deh kalau aku salah ngomong, aku minta maaf banget sama Mas. Udah jangan diperpanjang lagi ya. Takutnya malah jadi ribut berkepanjangan, ada Davina nggak enak kalau sampai kita ribut,”


Davina terbahak melihat Elvina yang pasrah. Entah siapa yang salah, Davina juga tidak bisa memutuskan tapi ketika melihat sepasang suami istri punya pendapat sendiri lalu beradu pendapat begini jadi menyenangkan untuk ditonton.


“Kakak sama Abang kenapa lucu banget sih? Berantemnya gemes deh,”


“Nggak berantem, Dek. Lagi beda pendapat aja ini,”


“Iya seru kalau lagi beda pendapat,”


“Menurut Abang, omongan Kak El salah, dan menurut Kak El, dia nggak salah. Yah jadi ribet deh,”


“Ya lagian Abang nih permasalahin hal kecil deh,”


“Oh jadi kamu nyalahin abang nih?”


“Perkara omongan kak El yang kayak gitu aja jadi ribet. Udah deh, Bang, jangan gitu sama kakak aku,”


“Dibela mulu kamu, El,” ujar Vano sambil menatap istrinya.


Elvina menjulurkan lidah mengejek sang suami. Kemudian Elvina mengajak Davina untuk berhigh-five.


“Udah ah kita masuk yuk, Dek. Nggaka syik, yang kerja nggak usah ditemenin ya? Masa hari libur malah kerja, aneh banget ya,”


“Iya, hari libur masih kerja, emang nggak bosan apa? Ih kalau aku sih bosan banget,”


“Terus, sindir aja terus, anggap aja Abang nggak dengar,”


Elvina dan Davina tertawa karena sindiran Vano untuk mereka. Saat mereka akan beranjak meninggalkan Vano seorang diri di beranda rumah.


“Eh bentar, mau liat rumah nggak nanti?”


“Abang ngajakin siapa nih?”


“Kamu sama Kak El lah kalau emang mau,”


“Rumah siapa?”


“Ya rumah Abang sama Kak El, Dek. Masa rumah tetangga,”


“Oh…mau-mau,”


“Jam berapa, Mas?” Tanya Elvina pada suaminya yang rindu dengan rumah mereka dan ingin mengunjunginya sebentar.


“Jam berapa aja terserah kamu,”


“Ya terserah Mas aja, ‘kan sekarang Mas lagi kerja tuh,”


“Ya udah nanti sore aja deh, gimana?”


“Okay boleh,”


“Dek, ikut ‘kan?”


“Ikut dong, aku pengen jalan-jalan biar nggak dibilang kayak ayam jagain telornya lagi,”


Vano tertawa, adiknya itu lagi mengungkit perkataannya barusan. “Ya udah syukur deh biar nggak kayak ayam yang did alam kandnag mulu kalau habis bertelor,”


“Ih abang kenapa sih? Ada dendam apa sama aku? Hmm?”


“Nggak ada dong, adikku yang cantik dan baik hati. Masa iya Abang dendam sama adeknya sendiri? Ya nggak mungkin lah,”


“”Ya udah pokoknya aku mau ikut ya, jadi kakak sama abang jangan pergi cuma berdua doang lho, ntar kelupaaan ajak aku. Nah kalau misalnya aku ketiduran ketok aja pintu kamar aku, suruh siap-siap ntar juga aku bangun kok pasti,”


“Jangan susah ya dibangunin,”


“Nggak lah, Bang,”


“Malu tau kalau anak perempuan susah dibangunin, ntar kalau udah punya suami dan suaminya gampang dibangunin, kamu—“


“Ih nggak usah bahas suami-suami dulu deh, orang masih lama juga,”

__ADS_1


“Ya emang siapa yang nyuruh kamu punya suami sekarang, Dek?”


__ADS_2