Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 94


__ADS_3

"Kami pulang dulu,"


Arman dan Dini pamit pulang meninggalkan kediaman Elvina dan Vano setelah Vano tiba di rumah.


Vano benar-benar pulang cepat, sesuai dengan apa yang Ia katakan pada Elvina sebelum berangkat ke acara ulang tahun Tata di sebuah restoran. Yang terpenting baginya adalah, Tata sudah melihat kehadirannya dan Ia juga sudah menjelaskan pada Tata bahwa Elvina tidak bisa ikut hadir di acara ulang tahunnya karena kaki Elvina sakit.


"Hati-hati, Yah, Bun. Terimakasih udah datang,


"Iya, sama-sama,"


"Vano, sabar ya sama Elvina. Tapi kalau seandainya kamu memang udah nggak sanggup bersama anak ayah, tolong jangan sakiti dia. Serahkan ke ayah dengan cara baik-baik,"


Vano mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan Arman yang terkesan tiba-tiba.


"Yah, apa maksudnya?"


"Kamu mungkin lelah dengan perangai Elvina. Kamu mungkin juga lelah karena dia enggak mencintai kamu sampai sekarang. Yang ayah minta cuma satu, jangan sakiti dia. Kembalikan dia ke ayah, jangan kamu buang dia begitu aja. Karena dia adalah separuh hidup ayah,"


Vano rasa sebelum Ia tiba, Elvina dan kedua orangtuanya terlibat obrolan tentang rumah tangganya bersama Vano. Makanya Arman bicara seperti ini padanya.


"Yah, sampai kapan pun aku akan terus bertahan dengan Elvina,"


"Tapi, Elvina ada niat untuk pisah dari kamu, Van,"


Kalimat itu membuat dunia Vano seakan runtuh. Elvina memang belum mencintainya, tapi Ia tidak menyangka kalau Elvina mau berpisah darinya. Ia pikir, Elvina mau bertahan sampai mereka saling mencintai dan bisa hidup bahagia tanpa adu mulut hampir setiap hari hanya karena Elvina yang egois dan Vano yang terkadang lelah dengan Elvina.


"Bagaimana pun kelangsungan hubungan kalian, ayah harap enggak saling menyakiti,"


Arman menyusul Dini yang sudah lebih dulu ke mobil. Sebelum itu, Arnan menepuk bahu Vano seraya tersenyum lalu meninggalkan Vano yang termenung.


Berpisah tidak pernah ada dalam bayangannya. Tapi ternyata Elvina punya keinginan seperti itu.


Elvina menyerah kah? Padahal Ia berharap penantian dan kesabarannya selama ini berbuah manis. Elvina bisa mencintainya seperti ketika Ia mencintai mantan kekasihnya. Tapi ternyata tidak, Elvina sudah punya rencana untuk lepas darinya.


Vano masuk ke dalam kamar. Elvina rupanya belum terlelap. Perempuan itu menatap suaminya yang tak mengucap sepatah katapun melainkan langsung mengubur diri di bawah selimut.


"Mas, tadi acara ulang tahun Tata gimana? Seru ya?"


Vano tidak menjawab, telinga nya saja masih terasa berdenging setelah mendengar perkataan Arman tentang Elvina, apalagi hatinya. Jangan ditanya sesakit apa.


"Mas, kok diam aja? Kamu belum tidur 'kan?"


Vamo masih bertahan dalam diamnya. Elvina menghembuskan napas kasar kemudian Ia mengguncang pelan lengan suaminya yang Ia yakini belum tidur.


"Mas, jawab dong! Kamu kenapa sih? Tadi baik-baik aja, kenapa sekarang cuek? Kamu nggak jawab pertanyaan aku lho,


"Mas---"


"Kapan kamu mau pisah dari aku, Elvina? Aku baru tau soal itu. Apa diam-diam kamu udah mengajukan gugatan perceraian? Hmm?"


Vano yang sebelumnya berbaring dengan posisi memunggungi Elvina, kini berbalik hingga terlentang dan kepalanya menoleh ke samping dimana Elvina duduk bersandar di kepala ranjang.


Elvina diam tidak memberikan reaksi apapun. Ia terkejut karena tiba-tiba Vano bicara seperti itu.


Vano segera beranjak untuk duduk. Ia butuh jawaban Elvina sekarang. Apa benar Elvina diam-diam sudah mengajukan gugatan perceraian? Kalau ya, Vano hancur sekali. Sama seperti ketika Elvina memutuskan untuk tidak mau punya anak dengan cara mengonsumsi pil kontrasepsi, Elvina seolah tidak menghargainya. Tanpa ada pembicaraan sebelumnya Elvina mengambil keputusan semaunya. Padahal ini tentang mereka berdua.


"Kamu ngomong apa, Mas?"


"Aku tanya sama kamu, Elvina. Kamu mau pisah dari aku karena kamu benar-benar nggak bisa cinta sama aku, iya 'kan? Sejak kapan kamu punya keinginan itu? Perlu kamu tau, selelah apapun aku tunggu kamu, aku nggak ada sedikit pun punya pikiran untuk menceraikan kamu. Aku sabar menunggu karena aku yakin kamu bakal cinta sama aku, melupakan semua masa lalu kamu, dan kita hidup bahagia berdua. Tapi ternyata apa? Kamu mau pisah dari aku? Iya, Elvina?"


Elvina menelan saliva nya kelat. Ia bisa menyaksikan bagaimana terpuruknya Vano sekarang. Lelaki itu nampak kacau terlihat dari raut wajahnya yang biasa ceria, kini berubah menjadi lemah dan bahkan matanya berkaca.


"Kamu tau 'kan kalau aku mencintai kamu? aku mau hidup bahagia sama perempuan pilihan aku. Tapi ternyata kamu nggak menginginkan hal serupa ya?"


Elvina masih tidak memberikan reaksi apapun. Ia menggigit bibir bawahnya menyaksikan Vano yang kini menjambak rambutnya sendiri seraya mendesah berat.


"Kenapa rasanya sesak banget ya?"


"Mas, aku minta maaf,"


Elvina meraih tangan suaminya untuk Ia genggam erat. Tapi Vano langsung melepaskannya. Vano butuh diyakinkan bahwa apa yang Ia dengar dari Arman bukanlah kebenaran.


"Iya, aku memang mau pisah dari kamu. Aku nggak bisa hidup terlalu lama dengan laki-laki yang enggak aku cintai. Kita selama ini memang baik-baik aja, meskipun pasti ada pertengkaran, aku pikir bakal bahagia walaupun begitu kehidupan kita. Tapi ternyata enggak, aku tetap merasa tertekan karena aku hidup sama orang yang sebenarnya enggak aku inginkan,"


Seharusnya Vano sudah mengantisipasi hal ini. Siapa yang mau hidup dengan orang yang tidak dicintai bahkan mengisi kepala pun tidak sama sekali. Seharusnya Ia tidak terkejut lagi mendapati fakta bahwa Elvina ingin mereka berpisah.


*****


"Mas, kamu mau kemana?"


Elvina mengejar Vano yang pagi ini berpenampilan seperti biasanya bila Ia hendak ke kantor tapi yang membuat Elvina bingung sekaligus penasaran adalah, Vano membawa satu koper.


Vano tentu akan meninggalkan rumah dalam beberapa hari ini bila dilihat dari yang Ia bawa sekarang ini.


"Aku mau membiasakan hidup sendiri tanpa kamu, Elvina. Kamu sendiri bilang kalau kita akan berpisah 'kan? Biar aku terbiasa,"


Elvina mendorong dada suaminya hingga Vano mundur satu langkah. "Kamu apa-apaan sih?! Hah?! Aku 'kan enggak bilang kalau kita akan pisah dalam waktu dekat, terus kenapa kamu udah berpikir ke arah sana?"


"Aku tau cepat atau lambat kamu bakal mengajukan gugatan itu. Jadi biar aku terbiasa dan barangkali selama aku pergi nanti, kamu sadar kalau sebenarnya aku ini berharga untuk kamu, dan supaya kamu bisa berpikir lebih matang soal semuanya. Karena sejujurnya aku enggak mau pisah dari kamu,"


Vano menarik kopernya dan Elvina kembali mengejar pria itu. Sudah tidak sarapan bersama, tidak terlibat obrolan apapun selepas bangun tidur, sekarang Vano tiba-tiba saja membawa koper.


"Kamu larang aku untuk keluar dari rumah kalau kita berdua ada masalah. Dan ini apa? Kamu mau ninggalin rumah, Mas?"


"Elvina aku butuh waktu. Aku terlalu sakit sekarang ini, kamu paham nggak? Hah?"


Vano membuka bagasi mobil dan meletakkan kopernya di sana. Setelah itu Ia membuka pintu mobil mengabaikan Elvina yang benar-benar tidak paham dan sulit mencerna semuanya. Ini terlalu tiba-tiba untuk Elvina yang berpikir bahwa Ia dan Vano akan baik-baik saja meskipun semalam itu sempat membahas soal perpisahan.


"Mas, apa yang kamu mau sebenarnya?! Hah?! Kamu mau aku tetap sama kamu sementara aku nggak cinta sama kamu? Begitu? Aku enggak bahagia sama kamu Mas! Kamu harus tau soal itu,"


"Iya, makanya sekarang aku kasih kamu kebahagiaan sebelum waktu perpisahan itu benar-benar datang. Aku kasih kamu waktu untuk bahagia sendiri tanpa aku. Okay, Sayang?"


Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Elvina yang merasa darahnya mendidih dari ujung kaki sampai kepala.

__ADS_1


Elvina menendang ban mobilnya yang kini terparkir sendiri tanpa pasangannya. Elvina berseru marah, Ia tidak tahu lagi ingin melampiaskan emosinya dengan cara apa.


"MAS VANO!”


******


"Yah, Mas Vano pergi dari rumah. Aku enggak tau kenapa dia tiba-tiba marah karena dia tau aku mau pisah dari dia dan tadi pagi dia pergi dari rumah, Yah,"


Elvina masuk ke dalam ruangan ayahnya dan langsung mengadukan kisah percintaannya dengan judul baru hari ini pada sang ayah.


Arman segera memeluk putrinya yang datang dengan masalahnya. Elvina menangis dalam rengkuhannya.


"Sebentar, cerita ke ayah pelan-pelan, jangan langsung nangis begini, Nak,"


Arman mengiringi anaknya agar duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya. Elvina melepas pelukannya pada sang ayah kemudian menghapus jejak air matanya yang membuat Arman sesak melihatnya.


"Kenapa? Coba jelaskan ke ayah pelan-pelan, biar ayah paham,"


Elvina menahan isak tangisnya agar tidak menghalangi Ia bercerita dengan papanya. Tujuan ia datang ke sini untuk mengeluhkan permasalahannya dengan Vano. Sebab Ia tidak tahu lagi harus mengadu pada siapa.


"Mas Vano tau soal aku yang mau pisah dari dia, Yah. Semalam kami membicarakan itu. Terus tadi pagi tiba-tiba aja dia bawa koper dan pergi dari rumah, Yah,"


Arman menghela napas pelan kemudian mengurut kepalanya. Gestur tubuhnya itu membuat Elvina sadar bahwa ayahnya sudah Ia buat stres sekarang.


"Yah, aku minta maaf karena udah bawa-bawa Ayah. Tapi aku enggak tau harus cerita ke siapa lagi, Yah,"


"Enggak apa-apa, memang sepatutnya anak itu terbuka sama orangtuanya. Tapi maunya ayah, kamu jangan datang-datang langsung menangis. Kamu jelaskan dulu semuanya,"


"Maafin aku ya, Yah,"


Arman memeluk Elvina dengan erat dan Elvina kembali menangis. Setiap kali dalam masa terpuruk dan bertemu dengan sandaran yang tepat, pasti tangisannya pecah.


"Aku bilang terus terang sama Mas Vano bahwa aku nggak bisa hidup lama-lama sama orang yang enggak aku cinta. Sebenarnya aku nggak bahagia sama dia. Dan tadi pagi Mas Ken bilang bahwa dia mau kasih waktu untuk aku sendirian supaya aku bisa bahagia tanpa dia,"


"Ya udah, apa yang dilakukan itu harusnya udah sesuai dengan inginnya kamu 'kan?"


"Yah, tapi nggak begitu caranya. Dia tiba-tiba aja pergi ninggalin aku. Aku merasa dibuang, Yah. Padahal aku nggak ngomong kalau aku mau pisah dari dia dalam waktu dekat ini,"


"Kak, kalau dia pergi tiba-tiba dan niat mau buang kamu, dia udah pergi gitu aja tanpa pamit ke kamu. Tadi dia ngomong kalau dia mau pergi 'kan? Artinya dia masih menghargai kamu walaupun menurut kamu cara dia masih salah,"


"Katanya dia mau terbiasa hidup tanpa aku, Yah," ujar Elvina dengan senyumnya yang sinis. Setiap mengingat pembicaraannya dengan Vano tadi pagi, mendadak emosi Elvina naik lagi.


Ia tidak terima ketika Vano pergi begitu saja. Seperti apa yang Ia katakan barusan, bahwa Ia merasa telah dibuang oleh pria itu. Vano juga memaksakan kehendak ingin terus hidup bersamanya sementara Ia keberatan dengan hal itu.


"Ayah perlu bicara sama Vano? Hmm?"


"Nggak usah, aku cuma mau cerita aja sama Yah. Aku bersyukur masih punya tempat untuk cerita. Tapi aku enggak mau ayah kepikiran dan bahkan ikut campur dalam masalah aku dan dia. Ayah tenang aja ya,”


"Kamu ini bagaimana? Pelik sekali hubungan kamu sama Vano ya. Kamu cerita ke ayah dengan nangis-nangis, itu udah bikin ayah kepikiran lalu kamu minta ayah untuk nggak ikut campur? Mana bisa papa merasa tenang, Elvina?"


"Aku nggak mau ayah malah jadi terbakar emosinya waktu ngomong sama dia,"


"Nggak, ayah mau bicara baik-baik. Barangkali dengan ayah, kalian bisa kembali rukun,"


"Atau begini aja, kamu biarkan Vano pergi, sampai waktu yang dia mau. Barangkali dia hanya perlu waktu dan kamu pun perlu waktu untuk lebih memikirkan semuanya. Yakin atau enggak mau pisah dari Vano? karena papa lihat, Vano itu baik banget sama kamu. Meskipun kamu nggak membalas perasaan dia, tapi papa bisa lihat kalau dia berusaha untuk menghargai kamu sebagai istrinya, menjadikan kamu ratu dalam hidupnya,"


"Seharusnya kamu bersyukur dengan itu, Elvina. Dan kamu belajar untuk bisa menerima dia. Kamu dan dia udah terlanjur bersatu, udah terlanjur menyakiti banyak pihak dulu. Seharusnya kalian hidup bahagia sekarang. Tapi bagaimana baiknya itu terserah kalian. Hanya kalian yang bisa menentukan mau dibawa kemana pernikahan kalian itu,"


Arman meraih tangan putrinya kemudian Ia genggam erat. Elvina menatap Arman lamat-lamat. Arman memberikan senyumannya dan itu membuat Ia merasa tenang.


"Jangan egois, pikirkan perasaan orang lain itu penting sekali. Dia udah mau nunggu kamu sampai kamu bersedia buka hati untuk dia, mau membalas perasaannya. Seharusnya kamu pikirkan itu. Vano juga manusia, Elvina. Dia punya rasa lelah dan jenuh. Kalau dirasa udah nggak mampu dan nggak ada yang bisa dipertahankan, mungkin sebelum kamu memutuskan untuk berpisah dari dia, udah duluan dia yang mau ninggalin kamu,"


"Ayah mau anak menantu papa itu akur-akur. Kalau hidup akur, damai, 'kan enak. Jadi bagaimana? Ayah perlu bicara sama Vano?"


"Nggak usah, Yah. Benar kata ayah, biar aja dia pergi. Terserah mau kembali kapan. Enggak kembali pun aku nggak peduli lagi lah, Yah,"


"Itu yang nggak baik dari kamu. Ucapan kamu itu benar-benar menunjukkan kalau kamu nggak mau menghargai Vano selama ini,"


"Sebenarnya aku nggak paham apa mau dia, Yah. Kalau aku nggak bisa cinta sama dia sampai kapan pun, apa aku harus terus sama dia?"


"Jawabannya ada di kamu,"


"Tapi ayah nggak yakin, apa benar sedikit pun enggak ada rasa cinta untuk Vano? Kalian itu hidup bersama nyaris dua puluh empat jam, hanya berpisah ketika sama-sama punya kegiatan. Mengingat bagaimana sikap dia ke kamu, apa kamu yakin nggak ada sedikit aja perasaan itu untuk Vano? Hmm?"


"Yakin, aku masih belum lupa sama masa la---"


"Jangan bawa-bawa masa lalu karena hidup kamu ada di masa sekarang dan untuk masa depan. Jangan menoleh ke belakang lagi, ngerti nggak?"


Elvina menunduk ketika Arman memperingatinya dengan tegas. Dada Arman panas mendengar Elvina membahas masa lalu. Bagaimana Vano tidak makan hati ketika harus bersaing dengan masa lalu Elvina.


"Masa lalu yang mana lagi yang bikin kamu belum bisa cinta sama Vano? Mantan kamu sendiri? Dia ‘kan udah punya pasangan yang baru dan mereka udah bahagia, El,”


"Yah, aku nggak ganggu. Aku tetap jalan di jalur yang udah ditentukan untuk aku. Cuma aku masih belum bisa membuka hati untuk Vano. Jangan marah sama aku, salahkan hati aku yang enggak bisa---"


"Ayah enggak salahkan kamu, setidaknya hargai suami kamu sekalipun kamu belum mencintai dia. Paham enggak?"


Elvina menghempaskan kepalanya ke sofa dan Ia benar-benar dibuat terdiam terus menerus oleh ayahnya yang tegas itu. Dan kali ini kelihatan sekali Arman ada di pihak Vano. Mengapa seperti itu? Harusnya Elvina tahu jawabannya. Arman tidak akan membela pihak yang menurutnya memang salah.


"Kalau udah saling menghargai, hidup bakal rukun, dan enak aja kalian menjalani kehidupan sehari-hari tanpa berdebat. Ayah yakin lambat laun kalian bakal saling mencintai dan hidup bahagia bersama. Kalau masih belum bisa juga membuka hati atau mencintai Vano, nggak masalah. Setidaknya kamu udah menghargai dia dan walaupun kalian pisah, bakal ada kesan baik yang kamu tinggalkan untuk Vano,"


Elvina beranjak dari tempat duduknya sekarang. "Aku pulang dulu ya, Yah. Terimakasih udah mau dengar cerita aku, udah mau bagi waktu untuk aku,"


"Sama-sama, jangan kebanyakan nangis. Fokus juga sama pemulihan kaki kamu. Ke sini pakai tongkat pasti sulit untuk kamu. Ayo ayah antar pulang,


"Iya, Yah,"


******


"Jadi sekarang gantian. Gue sering datang ke lo ngajakin main kalau gue lagi ada masalah sama Sarah. Sekarang lo nih yang datang ke gue,"


Vano tersenyum saja menanggapi Ajun yang siang ini Ia datangi di kantornya dan tanpa basa-basi mengajak Ajun untuk makan di luar. Mengalirlah keluh kesahnya yang saat ini tengah galau merana.


"Ya udah kalau emang dia maunya begitu, Van. Pisah aja sekarang, orang kalian juga belum ada anak kok,"

__ADS_1


"Ngomong sembarangan aja lo,"


Vano menimpuk Ajun dengan puntung rokoknya yang sudah mati baranya. Ajun tertawa lepas karena Vano yang kelihatan tidak terima dengan sarannya itu.


"Lah emang kenapa? Elvina sama lo 'kan nggak punya anak, jadi ya nggak ada yang terlalu dipikirin,"


"Gue nggak mau, Jun. Gue berat banget untuk ngelepas dia,"


"Ya daripada lo galau begini. Kenapa sih masalah kita bisa sama? Gue sama lo ini sama-sama enggak diinginkan, enggak dicintai sama pasangan. Bedanya gue sama Sarah udah punya anak jadi mau gimana-gimana itu perlu berpikir lebih matang supaya enggak egois ke anak. Kalau lo sama Elvina 'kan belum punya anak, jadi menurut gue lebih mudah. Cuma karena lo udah bucin banget ke istri, jadi wajar sih kalau merasa keberatan,"


"Jujur gue enggak masalah sama sekali kalau dia belum bisa cinta sama gue. Tapi paling enggak, jangan ada niat untuk pisah dari gue, terus hargai gue gitu lho, Jun,"


"Bagi lo, dia nggak hargai lo? Ya karena dia 'kan nggak cinta sama lo,"


"Ya memangnya harus cinta dulu baru bisa hargai gue?"


"Emang dia nggak hargain lo gimana sih? Selama ini gue lihat dia baik sama lo,"


"Ya pokoknya gue merasa dia itu susah banget untuk hargai keberadaan gue di hidup dia,"


Vano tentu tidak akan menceritakan bagaimana sikap Elvina selama ini yang suka membuatnya makan hati. Berperilaku tidak sopan seolah Vano bukan suaminya, padahal Vano sudah berusaha bersikap baik sebab menghargai Elvina, sampai Elvina menolak punya anak darinya pun, Vano tidak mempermasalahkan. Ia terima keputusan itu walaupun harus menelan kenyataan pahit.


"Ya udah lah, nikmati aja kegalauan lo. Yakin aja, nanti juga baikan terus hidup senang deh kalian berdua, punya anak banyak, biar jadi temannya Kila,"


"Mana ada? Dia aja nggak mau punya anak sama gue. Segitu nggak maunya sampai nolak waktu gue minta satu kali aja nggak minum pil. Benar-benar enggak diinginkan banget gue ya," gerutu Vano dalam hatinya.


"Menurut lo, keputusan gue untuk pergi sementara dari dia, benar atau salah?"


"Kata gue, benar. Biar Elvina tau gimana rasanya lo tinggalin. Nah, lo lihat deh tuh reaksinya gimana. Kali aja dia sadar kalau peran lo dalam hidup dia tuh penting banget. Lo yang udah sabar sama dia, lo yang jadi suami luar biasa untuk dia disaat laki-laki lain belum tentu bisa kayak lo,"


"Jun, lo nggak tau gue harus merasakan yang namanya bersaing sama masa lalu dia,"


Vano menahan kata-kata itu agar tidak lepas dari mulutnya. Apa yang bisa Ia ceritakan ke orang lain, maka akan Ia ceritakan untuk mengurangi beban. Tapi yang menurutnya tidak pantas untuk diketahui oleh orang lain, maka Ia simpan saja.


"Kalau dia nggak merasa kehilangan setelah gue tinggal, gimana, Jun?"


Vano menyeruput jus alpukat di hadapannya kemudian menatap Ajun yang saat ini menyesap rokoknya dalam-dalam.


Ajun menghembuskan asap rokoknya ke udara kemudian terkekeh. "Ya udah, terima nasib,"


"Ah elah lo mah nggak bisa banget bikin suasana hati gue membaik,"


"Ya habisnya gimana dong? Gue juga bingung. Tapi gue yakin sih, pasti dia merasa kehilangan, Vano. Kalian itu udah setahun hidup sama-sama, masa iya enggak ada sedikit pun rasa kehilangan? Paling enggak nih, dia bangun tidur aja udah ngerasain hal yang beda dan enggak biasa karena nggak ada lo di samping dia,"


*****


"Ibu, mau kemana?"


"Pergi sama teman-teman, kenapa?"


Amih menatap Elvina dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tidak yakin. Ia mengamati kaki Anatha lebih lama. Ia tidak yakin Elvina bisa pergi dengan teman-temannya disaat kondisi kakinya belum pulih.


"Ibu yakin mau pergi, Bu? Kaki ibu lagi begitu. Lebih baik di rumah aja, Bu, kalau saya boleh kasih saran,"


"Aku bosan di rumah aja, mumet juga, Mih. Jadi mending keluar. Enggak apa-apa lah pincang dan bikin malu,"


"Nggak bikin malu kok, Bu. Tapi saya nggak tega lihat ibu jalannya agak susah. Lagian Pak Vano pesan supaya ibu banyak istirahat di rumah---"


"Nggak usah bawa-bawa nama Vano, Mih,"


Amih menghalangi langkah Elvina yang kelihatan sulit dengan tongkat penopangnya. Elvina keras kepala sekali, padahal Ia memberi saran agar tetap di rumah karena merasa tidak tega bila Elvina harus pergi dengan kakinya yang belum pulih pasca retak.


"Mih, jangan bikin saya kesal ya,"


"Bu, saya mohon maaf, saya harus pastikan ibu baik-baik aja di rumah. Saya enggak mau terjadi sesuatu sama ibu, Pak Vano juga udah titip pesan terus sama saya supaya saya jaga Ibu,"


"Kamu mau dengar kata-kata dia? Hah?"


Elvina menatap Amih dengan tajam. Seketika Amih dibuat menciut. Amih menundukkan kepalanya takut. Niat baiknya yang ingin memastikan Elvina baik-baik saja malah disambut dengan amarah Elvina.


"Untuk apa kamu dengar omongan dia?"


"Maaf, Bu. Pak Vano yang bayar saya jadi saya harus dengar semua pesan Pak Vano, Bu. Lagipula Pak Vano berpesan ke saya seperti itu karena beliau nggak mau Ibu kenapa-napa, Pak Vano mau kaki ibu cepat pulih. Salah kalau saya patuh sama Pak Vano ya, Bu?"


"Oh jadi karena Vano yang gaji kamu? Begitu? Hmm?"


"Biar kaki ibu cepat sehat dan normal, Bu. Kalau digunakan untuk berjalan sekarang, takutnya malah tambah sakit. Saya lihat ibu meringis terus," ujar Amih mengalihkan ucapan Elvina.


"Aku bosan di sini, paham enggak sih? Aku butuh pengalihan dari semua beban yang menimpa aku sekarang,"


Amih berdehem kemudian menyentuh kedua lengan Elvina dan tersenyum. "Begini aja, Ibu mau apa supaya enggak bosan? Biar saya turuti. Ibu mau saya joget kah? Masak sesuatu? Atau apa?"


Elvina berdecek kesal. Ia menjauhkan tangan Amih dari lengannya kemudian Ia kembali ke kamar.


Amih yang melihat itu tersenyum. Elvina tidak memaksakan kehendaknya untuk keluar rumah dan Ia senang sekali sekaligus merasa lega.


Kebetulan Amih akan kembali bekerja namun pesan Vano masuk ke ponselnya. Seperti biasa, Ken rajin bertanya soal Elvina pada Amih.


-Anatha lagi sibuk apa, Mih?-


-Barusan masuk kamar lagi setelah saya larang untuk keluar, Pak-


Vano membaca pesan itu benar-benar kesal sekali. Elvina sangat keras kepala padahal demi kebaikannya juga.


*****


"Kamu jangan coba-coba hubungi Vano lagi ya. Enggak usah diladeni kalau dia telepon atau kirim pesan ke kamu,"


"Memang kenapa, Bu?"


"Untuk apa masih peduli sama aku? 'Kan udah minggat,"


Amih terdiam hanya mau mendengarkan saja karena sesungguhnya Ia kurang suka dengan sikap Elvina ini. Suami hanya ingin tahu kabar istri, memang salah ya?justru bukannya bagus, Ken masih peduli, masih mau bertanggung jawab atas Elvina sekalipun sedang meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Bu, saya nggak pantas untuk ikut campur, tapi saya rasa nggak ada salahnya dengan sikap Pak Vano. Saya justru kagum karena Pak Vano tetap perhatian ke ibu walaupun beliau nggak di rumah,"


Elvina memutar bola matanya jengah karena selalu saja ada yang membela Vano, dan Elvina merasa tidak pernah memiliki pendukung.


__ADS_2