
"Kok belum siap-siap sih? aku kirain udah rapi begitu aku pulang,"
Vano bingung karena ternyata sang istri belum bersiap juga padahal Ia sudah menduga kalau Elvina sudah siap dengan penampilannya yang rapi dan cantik begitu Ia tiba di rumah. Tapi ternyata masih mengenakan pakaian rumah.
"Ih, aku bingung pilih baju yang mana. Kamu bantuin aku dong,"
"Hah? kamu minta bantuan aku, Sayang? lah aku bingung soal gituan. Biasanya kamu jago kalau urusan fashion,"
"Tapi kali ini aku bingung, padahal cuma mau makan malam sama kamu aja ya,"
"Biarpun begitu tetap harus istimewa penampilan kamu, Sayang, soalnya mau makan malam sama aku yang lagi ulang tahun,"
"Emang masih ulang tahun? bukannya udah selesai?"
"Masih lah, orang masih tanggalnya kok, belum ganti hari,"
"Ya udah buruan nggak usah banyak omong. Kamu nggak mau mandi dan siap-siap?"
"Kamu aja belum juga kok,"
"Aku mah gampang. Tinggal ambil baju terus make up dan selesai deh,"
"Nggak se simple itu. Kamu make up suka lama,"
"Nggak ah, aku nggak lama-lama,"
"Bener ya? awas aja kalau lama. Aku tinggal beneran,"
"Ya udah, berarti aku di rumah aja. Alhamdulillah nggak capek pergi-pergi,"
Elvina senang juga kalau rencana makan malam dengan suaminya gagal terlaksana. Ia akan diam saja di rumah. Sehingga tidak perlu lelah bersiap dan pergi hanya untuk menuruti keinginan Vano yang ingin makan malam dengannya.
"Eh nggak-nggak! aku cuma bercanda. Pokoknya kamu harus ikut sama aku, Sayang. Aku 'kan udah bilang dari awal, aku mau pergi sama kamu, masa kamu nolak sih?"
"Siapa yang bilang aku nolak? aku nggak nolak, Mas. Kamu sendiri yang bilang, kamu bakal ninggalin aku,"
"Iya itu kalau lama, makanya jangan lama-lama kalau dandan mau pergi tuh,"
Vano merangkum wajah sang istri kemudian Ia meninggalkan kecupan singkat di hidung Elvina dan segera beranjak menuju toilet.
Vano mandi sementara Elvina mempercepat kegiatannya mencari-cari baju yang sekiranya tepat Ia gunakan untuk pergi sore ini dengan sang suami yang hari ini bertambah usianya.
Setelah dapat satu baju berwarna biru muda berupa blouse dan skirt yang tidak formal, Elvina segera mengganti pakaian yang sekarang Ia kenakan dengan pakaian yang sudah Ia pilih itu. Setelah berganti pakaian, Elvina langsung duduk di depan cermin meja riasnya untuk berhias diri sebentar.
"Sayang, udah kelar belum?"
Terdengar suara Vano dari dalam kamar mandi yang ingin mengetahui dia sudah selesai mempersiapkan dirinya atau belum. Vano takut istrinya masih sibuk memilih baju sementara Ia sebentar lagi akan selesai mandi. Seperti biasa, Ken tidak pernah lama kalau mandi.
"Udah, nggak usah cerewet kamu, Mas,"
"Santai, Sist. Aku takutnya kamu belum ketemu sama baju yang pas dan bentar lagi aku selesai mandi,"
"Okay, aku tunggu, cepetan ya!"
"Emang kamu udah siap, Sayang?"
"Ya belum sih, cuma nyuruh cepat aja supaya aku nggak nungggu lama-lama,"
"Takutnya aku yang nunggu kamu kelamaan, Sayang,"
"Nggak, aku aja udah siap nih,"
Elvina hanya menggunakan make up sederhana saja yang penting wajahnya sudah terlihat segar, itu sudah lebih dari cukup untuk Elvina tanpa harus make up terlalu berlebihan.
Elvina menggunakan parfum dan mengambil tas serta ponsel. Vano keluar dari kamar mandi dan kaget ternyata istrinya sudah siap. Benar-benar sudah siap bukan hanya omong kosong saja. Artinya tinggal Ia saja yang belum siap padahal tadi Ia sempat takut Elvina terlalu lama mempersiapkan dirinya.
"Aku cuma bikin muka aku supaya keliatan segar nggak pucat aja,"
"Kamu sakit?"
"Hah? nggak, emang kenapa? kamu kok tanya begitu?"
"Ya karena tadi kamu bilang supaya muka kamu nggak pucat. Emang muka kamu sempat pucat?"
"Itu hal biasa aja, Mas. Make up adalah penolong dan aku bersyukur bisa sedikit-sedikit soal make up walaupun nggak jago,"
"Aku senang banget deh kamu mau makan malam sama aku,"
"Emang aku pernah nolak ya?"
"Kayaknya sih nggak deh, Sayang,"
"Kamu buruan pakai baju. Kepedean banget keluar pakai bathrobe aja,"
"Emang kenapa sih? aku 'kan seksi banget," ujar Vamo dengan percaya diri.
"Seksi darimana? kamu terlalu percaya diri ya, Mas,"
"Seksi di mata kamu. Emang aku harus percaya diri, masalah ganteng atau jelek itu urusan belakangan, Sayang,"
Vamo segera berganti pakaian dengan yang disiapkan sang istri. Elvina jahil menyiapkan kemeja batik untuk Vano. Ia yakin laki-laki itu pasti protes.
"Sayang,"
Benar dugaan Elvina, Vano pasti memanggilnya untuk melontarkan protes kepadanya.
"Sayang, aku disiapin baju batik emangnya mau ngapain? kita 'kan nggak ada acara formal ya, kita cuma makan berdua di luar, kenapa harus disiapin baju batik, Sayang?"
"Hargai apa yang udah disiapin sama istri,"
Sontak saja ucapan dari Elvina membuat Vano dilema sekali. Satu sisi Ia tidak mau mengenakan baju macam-macam karena hanya pergi berdua makan malam di luar. Tapi di lain sisi Ia memang harus menghargai apa yang sudah dipersiapkan istri untuknya karena biasanya istri tahu yang terbaik.
"Sayang, masa iya aku disuruh pakai baju formal? mana batik pula. Aku nggak mau deh, Sayang," ujar Vano yang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus menolak. Karena kemeja batik memang tidak tepat digunakan untuk saat ini.
"Nurut aja, Mas. Kamu mau hargain istri kamu atau nggak sih?"
"El, aku hargain banget pilihan kamu cuma biasanya kamu tuh nggak saltum begini alias salah kostum. Gini ya, kita 'kan cuma makan malam aja di luar kenapa harus pakai batik? nggak perlulah, Sayang. Pakai aja baju yang biasa,"
Elvina berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak. Vano tampaknya hilang cara untuk menolak. Dia kelihatan tertekan sendiri. Sebenarnya Vano tidak mau mengecewakan istri tapi Ia juga tidak mau tampil aneh. Tidak mungkin datang ke restoran atau rumah makan mengenakan baju batik. Kalau kebetulan batiknya dikenakan ketika kerja dan belum sempat ganti baju, itu tidak masalah. Kalau dia beda perkara. Sudah pulang ke rumah setelah bekerja seharian mengenakan baju yang formal setelah itu mandi dan bersiap pergi. Rasanya bosan juga pakai baju formal.
"Udah pakai batik yang aku siapin aja, aku malas ambil baju lagi untuk kamu,"
"Ya udah aku aja, Sayang,"
"Tuh, berarti tandanya kamu nggak hargain aku. Buktinya kamu nggak mau pakai baju batik yang udah aku siapin. Kamu jahat banget sih,"
"Sayang, tapi aku gerah kalau pakai kemeja batik kayak begini, kurang nyaman,"
"Ya ampun, padahal makan di tempat yang ada AC dan adem, kamu bilang gerah?"
Vano menganggukkan kepala. Salah satu alasan supaya Ia tidak dipaksa mengenakan baju batik dengan mengatakan bahwa Ia tidak merasa nyaman karena gerah, walaupun sebenarnya tidak tahu bagaimana suasana di restoran yang akan mereka kunjungi nanti, tapi kemungkinan besar apa yang disampaikan Elvina benar seratus persen. Tidak ada cerita restoran apapun itu tidak ada pendingin ruangan. Di tempat makan yang letaknya pinggir jalan sekalipun pasti ada kipasnya minimal.
"Sayang, aku cari sendiri baju aku ya. Aku yang ambil sendiri kalau kamu malas ambil baju lagi untuk aku,"
Detik itu juga tawa Elvina meledak. Vano tetap bersikeras tidak mau mengenakan baju batik yang telah Ia pilih untuk Vano. Sebenarnya Ia hanya ingin mengerjai Vano saja.
"Iya-iya, aku cuma bercanda kok. Itu baju untuk kamu udah aku siapin, dipakai ya,"
"Tapi bukan kemeja batik 'kan, Sayang?"
"Nggak, tenang aja,"
"Dimana baju yang mau aku pakai?"
"Itu, kamu nggak sadar ya?"
Elvina menunjuk ujung sofa kamar dimana Ia meletakkan lipatan pakaian yang akan digunakan sang suami.
"Oalah kamu ngerjain aku ternyata ya?"
Elvina terkekeh dan mengangguk membenarkan. Ia memang sengaja mengerjai Vano hingga akhirnya membuat Vano bingung sekaligus kelihatan tidak enak hati menolak pilihannya.
****
__ADS_1
“Ih nggak usah gandengan, kayak mau nyebrang aja deh,”
“Lah emang kenapa sih? Anggap aja kita bapak dan ibu negara,”
Vano tidak suka Elvina protes karena Vano menggenggam tangannya ketika hendak melangkah masuk ke dalam restoran.
“Ini restoran mahal, kenapa kita nggak merakyat aja sih, Mas?”
Elvina mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran yang suasana nya sangat nyaman dan memanjakan mata dengan gaya elegan nya.
“Kamu merakyat mulu, padahal ada duit. Jangan terlalu irit napa,”
“Ih aku juga suka kok ke restoran kayak gini sering juga malah, bahkan sebelum sama kamu. Aku sama kalau makan di luar sering ke tempat kayak begini, tapi lebih suka pecel ayam di pinggir jalan,”
Vano terkekeh mendengar ucapan istrinya yang jujur sekali bahwa seleranya adalah makanan yang sederhana di pinggir jalan yang tak kalah lezat bukan di tempat-tempat mahal dengan gaya eropa dan semacamnya.
“Kalau makan sama cowok ke restoran yang mahal-mahal gitu pernah?”
“Ya pernah lah, mantan aku semuanya orang kaya,”
“Iya kamu nya juga kaya,”
“Hmm, kaya monyet,”
Vano yang kini merangkul Elvina sambil mencari tempat duduk, Ia sempatkan untuk mencubit lengan Elvina karena gemas dengan lelucon Elvina. Restoran yang mereka datangi ini benar-benar tenang suasana nya, dan juga nyaman.
“Abis ini kita ke pecel lele juga yuk,”
“Dih, ngapain? ‘Kan udah makan di sini. Ah kamu aneh-aneh aja,”
“Ya nggak apa-apa, emang kenapa? Asal perut muat, kita makan dimana aja yang menurut kita enak, kayaknya emang udah lama kita nggak makan pecel lele ya, Sayang. Kalau ke warteg sekalian gimana?”
“Mas, itu perut apa balon udara?”
Vano tertawa mendengar celotehan sang istri. Karena Ia terlalu banyak keinginan, akhirnya perutnya disamakan dengan balon udara.
“Makanya jangan makan di sini harusnya, di warung tenda pinggir jalan aja. Sambil dengerin klakson kendaraan orang, terus abang penjualnya nyalain musik dangdut, itu lebih seru, Mas,”
Elvina nyaman mendengarkan live musik dan menyaksikan orang bermain alat musik seperti biola, gitar dan semacamnya dengan alunan lagu-lagu yang sendu, tapi Elvina nyaman juga dengan suasana makan di warung tenda yang ada di pinggir jalan. Malah lebih beragam yang bisa Elvina saksikan.
“Kamu udah capek jadi anak dan istri orang berada kayaknya ya,”
“Aku suapin,”
Makanan datang dan Vano langsung mengambil alih makanan yang seharusnya untuk sang istri. Elvina menggeleng menolak.
“Emang kenapa sih, Sayang? Aku mau suapin,”
“Aku nggak mau, kamu makan sendiri terus aku juga makan sendiri, selesai deh,”
“Aku mau suap—“
“Aku bukan anak kecil,” ujar Elvina seraya melotot karena sang suami memaksa agar Ia diperbolehkan untuk menyuapi dirinya.
“Ya emang siapa yang bilang kamu anak kecil? Aku tau kamu bukan anak kecil, kamu ‘kan udah bisa bikin anak kecil,”
“Aku lem mulut kamu biar diem ya, Mas. Kamu ngoceh terus bukannya makan, kalau lagi ulang tahun tuh nggak boleh bikin orang kesel,” Elvina bicara pelan seraya menatap Vano dengan tajam seperti ingin menelan Vano bulat-bulat.
“Emang benar ‘kan? Kamu udah bisa bikin anak kecil jadi kamu bukan anak kecil lagi,”
“Terus aja terus, aku tusuk pake ini ya,”
Elvina sedang memotong daging dengan pisaunya dan Ia mengarahkan mata pisau ke arah sang suami yang langsung bergidik takut.
“Jangan becanda, Sayang, kamu nih suka macam-macam,”
“Makanya diem! Bercanda terus, maksudnya apa coba ngomong aku udah bisa bikin anak kecil,”
“Ya maksudnya karena kamu udah—“
“Terus, beneran aku tusuk kamu ya,”
“Tusuk pakai panah cinta kamu aja, Sayang,”
*****
“Vano, tolong beli bubur, soalnya Amih nggak masak dia sakit, terus aku juga lagi males banget turun ke dapur,”
Pantas saja Vano bangun, Istrinya masih ada di atas ranjang, belum ke dapur. Rupanya karena Elvina sedang enggan meninggalkan tempat tidur untuk memasak di dapur.
“Oh Amih sakit? Sejak kapan?”
“Katanya sih semalam, terus aku juga lagi malas masal, beli aja nggak apa-apa ‘kan?”
“Nggak masalah, Sayang, nanti aku beli bubur tapi sekarang aku mandi dulu ya,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Vano bergegas bangun dari ranjang dan mandi. Setelah itu mereka melakukan ibadah Subuh bersama lantas Vano pergi meninggalkan rumah sebentar untuk mencari bubur ayam sesuai dengan permintaan sang istri.
Elvina menunggu suaminya di lantai bawah supaya nanti bisa langsung makan sebab Ia sudah lapar padahal semalam Ia makan dan banyak juga karena tidak hanya makan di satu tempat saja dalam rangka memperingati hari ulang tahun sang suami.
Elvina duduk di sofa ruang tamu sambil bersandar dan memejamkan matanya. Hampir saja Ia tertidur lagi, tapi sayangnya ada pengganggu yaitu serangga yang merayap di kakinya. Ia langsung berteriak kaget dan ternyata itu kecoa.
“Ih Astaga! Apa-apaan sih kecoa ini?! Bikin kaget aja lo!”
Elvina mengomeli serangga itu habis-habisan karena Ia diganggu. Sementara serangga sudah pergi menjauh.
“Kok ada kecoa sih, tumben banget. Sejak kapan ada kecoa ya?”
Elvina segera mengambil cairan pengusir serangga untuk memusnahkannya. Elvina berharap di rumahnya hanya ada satu saja. Padahal selama ini kebersihan sudah selalu terjaga tapi masih ada serangga ternyata.
Serangga itu langsung terkapar tidak berdaya di lantai. Elvina menghela napas lega karena apa yang Ia lakukan berhasil memusnahkan satu serangga.
“Semoga aja cuma itu aja, nggak ada serangga lain. Takutnya dia bawa teman atau beranak,”
Elvina akan mengembalikan cairan pengusir serangga ke tempatnya namun terdengar suara Vano mengetuk pintu rumah.
“Iya sebentar,”
Elvina langsung bergegas membukakan pintu. Dan suaminya itu kaget melihat Elvina memegang botol cairan pengusir serangga.
“Kamu ngapain sih pegang-pegang itu? Hah?”
Vano jadi ingat dengan momen dimana Elvina menggores tangannya dengan pecahan kaca saat di hotel. Vano berpikir yang tidak-tidak begitu melihat istrinya memegang cairan pengusir serangga itu. Vano akan merampas botol di tangan Elvina namun Elvina langsung menjauhkannya.
“Ngapain kamu pegang-pegang ini? Mending kamu cuci tangan terus makan,”
Elvina segera bergegas mengembalikan botol cairan pengusir serangga setelah itu membasuh tangannya hingga bersih dan duduk di meja makan.
“Aku habis musnahin kecoa,”
Vano juga membasuh tangannya dan Ia duduk menyusul di meja makan bersama sang istri yang sudah membuka dua wadah bubur.
“Aku pikir kamu mau ngapa-ngapain pegang itu,”
“Emang kamu pikir aku bakal ngapain? Ya udah pasti musnahin serangga lah kalau udah pegang itu,”
“Aku takut kamu usaha lagi untuk musnahin nyawa kamu, El,”
Elvina mengernyitkan keningnya tidak paham dengan ucapan sang suami. Elvina lupa kalau Ia sudah pernah membuat suaminya hampir mati berdiri karena terlampau cemas melihat Ia yang ingin membunuh dirinya sendiri karena perkara dengan Delila.
“Maksudnya gimana?”
“Ya aku takut kamu ngulangin hal yang pernah terjadi di hotel waktu itu,”
Elvina terkekeh mendengar penuturan sang suami. Sementara Vano sendiri menatapnya sinis. Ia khawatir malah ditertawakan.
“Kamu takut aku ngelakuin itu lagi?”
“Ya, tapi dengan cara yang beda. Aku tadi langsung mikir-mikir, aku abis buat kesalahan apalagi sama Delila? Kok kamu nekat lagi, eh nggak taunya gara-gara mau bunuh serangga. Tolonglah jangan bikin aku khawatir, Sayang. Aku tuh masih trauma sama kejadian waktu itu lho, aku takut banget kamu ngulangin hal itu lagi,”
“Lho, yang bikin khawatir siapa? Kamu aja yang terlalu takut. Aku ‘kan nggak mau aneh-aneh pegang cairan pengusir serangga tadi, aku cuma mau musnahin serangga aja tadi, kamu mikirnya kemana-mana,”
“Ya wajar, aku masih trauma, Sayang,”
__ADS_1
“Jadi, siapa yang salah di sini?”
“Ya nggak ada sih,”
“Makanya jangan apa-apa tuh langsung ambil kesimpulan sendiri, jadi tadi ada kecoa ngerayap di kaki aku pas aku duduk nungguin kamu. Dia belum terlalu jauh kaburnya udah langsung aku bikin tepar,”
“Kasian banget itu,”
“Ih daripada bikin rumah jadi jorok gara-gara ada dia, mending dibikin tepar aja udah. Padahal setiap hari rumah dibersihin, tapi aku heran kok masih ada aja sih serangga kayak gitu di rumah,”
“Ya wajar aja, Sayang, malah rumah kita termasuk aman dari gituan lho, tikus aja nggak ada,”
“Eh jangan sampai deh, aku pindah kalau beneran ada tikus di rumah,”
Sontak ucapan Elvina mengundang tawa Ken. Segitu takutnya Elvina dengan serangga sampai punya niat ingin angkat koper kalau misal ada tikus. Untung bilangnya kalau ada tikus, bukan kecoa. Kalau Elvina bilang dia bakal pindah bila ada kecoa, sekarang juga perempuan itu pindah.
“Emang kamu mau pindah kemana? Dimana-dimana serangga nya yang dibikin pindah. Kamu beda banget ya, masa kamu yang mau pergi,”
“Ya daripada aku harus ketemu tikus di rumah ini, ih mendingan aku pindah aja. Aku sama kecoa aja takut plus geli, apalagi tikus, Ken. Nggak bisa bayangin deh. Tadi aja aku udah teriak, terus kalau ketemu tikus gimana? Teriakan aku bakal lebih kencang banget kayaknya,”
“Pindah kemana aku tanya?”
“Ya kemana aja deh,”
“Rumah yang satu lagi? Lah kalau di sana ada tikus juga gimana?”
“Ih jangan! Kamu ngomongnya aneh-aneh,”
Elvina tidak mau dua rumah mereka jadi dihuni dengan tikus atau yang lainnya yang membuat kesan rumah jorok.
“Eh tapi ngomong-ngomong aku ketemu sama tikus lho semalam,”
“Hah? Kamu serius? Dimana?!”
Elvina sampai menghentikan makannya karena mendengar penuturan sang suami yang membuatnya kaget luar biasa. Selama ini Ia tidak pernah bertemu dengan yang namanya tikus, kalau serangga kadang-kadang saja dan itu pun jarang sekali.
“Di hatimu,”
Elvina merotasikan bola matanya mendnegar celetukan Vano. Ia bertanya serius, Ken justru malah mengajaknya bercanda.
“Aku serius, Mas, kamu liat tikus dimana? Aku mau pindah aja deh, beneran. Daripada aku dibuat takut liat dia terus tiap hari, dia pasti mainnya di dapur terus itu, ih nggak bayangin kalau tiap hari liat dia mulu,”
“Aku baru aja liat dia semalam,”
“Serius kamu? Kok kamu nggak langsung bilang ke aku sih?”
“Waktu aku ambil minum, El,”
“Ih kok nggak ngomong aja dari semalam? Harusnya langsung dikasih racun tadi malam,” Ken melancarkan aksinya untuk membuat sang istri takut. Dalam hati Ia menahan tawanya. Ia tidak benar-benar melihat tikus, Ia hanya ingin mengerjai Elvina saja dan ternyata Elvina takut sungguhan.
“Nggak deh, aku cuma bercanda,”
“Ih kamu yang bener dong,”
“Iya beneran,”
“Ya kamu liat dimana? Di dapur? Terus tikusnya besar atau maish kecil?”
“Udah gede, kayak kucing,”
“Beneran? Segede itu? Ih kok serem sih? Itu tikus atau siluman tikus? Kamu serius liat dia segede itu? Apa ada yang kirim siluman ke rumah kita, Mas? Saingan di kerjaan kamu kali ya, Mas?”
Vano terbahak, tawanya benar-benar pecah mendengar berbagai dugaan yang dilontarkan Elvina kepadanya barusan. Pembahasan dimulai dari tikus, kemudian kiriman dari saingan dalam pekerjaan.
“Ah kamu bohongin aku kayaknya ya?!”
Elvina mulai mencurigai suaminya yang terbahak itu. Tidak mungkin Vamo terlihat santai ketika dia baru saja mengakui bahwa dia bertemu dengan tikus. Vano sendiri pasti geli dan akan berpikir keras bagaimana caranya mengusir tikus itu.
“Kamu bohong ‘kan? Ih jahat banget, bohongin aku segala. Udah gitu pintar banget lagi ngarangnya. Segala bilang tikusnya segede kucing. Lah aku bingung dong. Masa iya segede itu? Kalau bener segede itu kayaknya itu beneran siluman kiriman deh,”
“Nggak, Sayang, aku bercanda aja kok. Jangan dipikirin ya, jangan terlalu dibawa serius lah. Santai aja kita pagi-pagi. Biar murah rezeki dan hari terasa ringan tanpa beban, kita harus banyak-banyak bercanda,”
“Ih tapi nggak bohongin aku juga dong, Mas,”
“Iya tujuannya ‘kan untuk hibur kamu sama diri aku sendiri, El, biar kita ketawa, jangan banyak beban pikiran. Tikus aja dipikirin,”
“Ya haruslah dipikirin karena tikus itu ganggu kenyamanan kita tau nggak? Kalau aku nggak takut sih nggak masalah,”
“Ya udah nanti aku usir kalau emang ada,”
“Ya nggak bisalah, Mas. Yang ada kamu digigit,”
“Bisa kok, Sayang. Aku angkat tikusnya terus—“
Vano menatap Elvina dengan mata memicing dan tiba-tiba saja dia menerkam dagu Elvina hingga membuat sang istri memekik kaget.
“Aku kasih ke kamu tikusnya biar kamu peluk,”
“Enak aja kalau ngomong!”
“Nggak boleh deh, yang boleh peluk kamu itu cuma aku aja, nggak boleh yang lain,”
“Aku kaget, Mas! Kamu kenapa sih aneh banget sikapnya. Ingat udah nambah umur, malu kalau aneh-aneh sikapnya,”
“Tandanya meskipun makin tua, aku makin semangat untuk hibur kamu dengan tingkah aneh aku. Nggak apa-apa aneh, yang penting lucu bikin kamu ketawa,”
“Emang aku ketawa? Perasaan dari tadi nggak deh, kamu aja yang sibuk ketawa terus,”
“Ya udah ketawa sekarang!”
Elvina menggelengkan kepalanya. Ia tidak gila tertawa tanpa sebab. Vano yang sejak tadi terlihat terus giginya apalagi ketika berhasil mengerjai istrinya.
“El, kamu belum datang bulan ya?”
Di tengah suasana sarapan yang mulai tenang setelah sebelumnya ramai karena lelucon Vano tentang tikus, Vano tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan seperti itu kepada istrinya yang otomatis langsung menghentikan gerak mulutnya yang tengah mengunyah.
“Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa, aku cuma mau tanya aja. Kok kayaknya kamu belum datang bulan ya?”
“Emang belum,”
“Eh serius? Udah dicek belum?”
“Aku males ceknya ah,”
“Lho, emang kenapa? Kali aja rezeki nya datang sekarang, El,”
“Ya aku malas, nanti kamu kecewa lagi lho,”
“Nggak lah, Sayang. Kalau emang belum dikasih ya nggak apa-apa. Aku nggak akan kecewa kok,”
Elvina berat sekali bila disuruh untuk menggunakan testpack. Sebab Ia sudah pernah dibuat kecewa, apalagi Vano yang sudah berharap sekali bisa segera memiliki anak.
“Cek aja, siapa tau ada kabar baik ‘kan,”
“Iya Insya Allah kalau ingat,”
“Harus ingat dong, Sayang, aku soalnya penasaran banget,”
“Emang kamu nggak takut kecewa ya? Kamu ‘kan udah sering dibikin kecewa,”
“Nggak kecewa kalau memang belum dikasih,”
“Bohong banget, padahal udah berharap ‘kan?”
“Iya kalau berharap mah nggak usah ditanya lagi, aku udah berharap banget dari awal setelah kamu keguguran terakhir waktu itu tapi sayangnya ‘kan kamu belum mau punya karena belum cinta sama aku, tapi aku tetap sabar kok,”
“Kamu nggak ada niatan mau cari yang lain aja, Maa?”
“Hah? Maksud kamu?”
“Kali aja aku nggak bisa punya anak, kamu mau cari yang lain aja ya?”
__ADS_1
“Heh! Kamu jangan ngomong begitu ya!”