Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 29


__ADS_3

“Kamu ngeliatin apa sih? Seriu banget natap handphone,”


Vano menegur istrinya yang sedang serius mengamati layar ponsel, sementara Vano menikmati pemandangan pantai sambil minum es kelapa. Ini gelas kedua, dan sepertinya akan tambah lagi. Karena perpaduan antara es kelapa dengan pantai itu tiada lawan.


“Hm? Aku lagi liatin orang liburan aja,”


“Siapa yang liburan?”


“Teman aku,”


“Ngapain ngeliatin orang liburan, El? Kamu sendiri ‘kan sekarang lagi liburan,” ujar Vano yang sebenarnya sedang berusaha untuk berpikiran positif. Entah kenapa melihat Elvina fokus dengan ponsel, Vano langsung menebak kalau istrinya sedang mengamati foto atau video mantan kekasihnya, Rendra yang sampai saat ini masih membayangi Elvina. Vano tidak bisa berbuat apa-apa, selain sabar. Karena yang Ia tahu sejak awal, Elvina memang masih terjebak dalam masa lalunya, dan Ia sudah mengatakan tidak keberatan. Ia bisa membuat Elvina mencintainya dengan proses. Karena semua butuh proses. Vano juga percaya sekali dengan kata-kata ‘cinta bisa hadir karena terbiasa’


Sebelum membuat Elvina cinta, Vano harus terbiasa dulu melihat Elvina yang masih suka mengamati kegiatan mantan kekasihnya lewat sosial media. Vano menahan diri supaya tidak sakit hati, Ia harus maklum. Tapi susah sekali ternyata. Rasa cemburunya langsung menggebu-gebu ketika tahu, kalau yang diperhatikan oleh istrinya itu bukan foto dirinya, melainkan lelaki lain.


“Ya nggak apa-apa dong, Mas. Kenapa aku nggak boleh ngeliatin orang liburan? Aku ‘kan senang,”


“Daripada sibuk sama handphone, mendingan sibuk nikmatin liburan kita, El. Kayak saya nih, minum es kelapa sambil merhatiin ombak,”

__ADS_1


“Nggak bosan apa merhatiin ombak?”


“Nggak, karena memang saya suka,” jawab Vano sambil menatap lurus ke depan, dimana ombak datang dengan tenang.


“Ada yang lebih menarik untuk diperhatiin ketimbang ombak,”


Vano langsung menoleh ke sebelahnya dimana Elvina berada, kemudian Vano tersenyum membalas tatapan Elvina yang saat ini duduk bersila menghadap ke arahnya, tapi masih di kursi yang berbeda dan posisinya bersebelahan hanya dipisahkan oleh satu buah meja saja.


“Apa yang lebih menarik daripada ombak?”


“Ya…apa kek. ‘Kan banyak, Pak Vano—eh Mas maksud aku. Duh maaf ya, aku kadang masih suka lupa manggil Mas pakai sebutan itu lagi,”


“Liatin penjual es kelapa tuh menarik, terus ada ibu-ibu yang lagi kepang rambut para cewek juga menarik tuh, atau liat aja bule-bule yang lagi berjemur gelar kain di pasir,” ujar Elvina seraya mengamati satu persatu apa yang Ia sebut barusan.


“Sayangnya itu nggak ada yang bikin saya tertarik sih,”


“Daripada merhatiin ombak, mendingan merhatiin yang lain lah, Mas, perhatiin tuh yang aku sebut barusan,”

__ADS_1


“Nggak ada yang lebih menarik daripada ombak, El,”


“Oh segitu sukanya ya sama ombak? Kenapa emangnya? Ada alasan?“


“Alasannya, bikin saya tenang, dan mata saya berasa dimanjakan aja gitu,”


Elvina menganggukkan kepalanya paham mendengar penjelasan singkat suaminya yang merupakan seorang dosen itu. Beruntung penjelasannya dengan bahasa yang orang awam yang bisa Ia pahami. Tadi Elvina mengira suaminya akan menjawab dengan kata-kata yang berat sehingga sulit untuk Ia cerna.


“Eh ada satu sih yang menarik juga di mata saya,”


“Nah gitu dong, masa ombak aja sih? Apa kalau aku boleh tau?” Elvina senang mendengar jawaban suaminya. Dan Ia antusias untuk mendengar ucapan selanjutnya dari suaminya itu.


“Ya kamu lah, apalagi?”


Elvina tertawa mendengar jawaban Vano. Elvina tidak menduga kalau Vano akan menjawab seperti itu. Menurutnya, Vano bukan laki-laki yang suka berkata manis, tapi sepertinya dugaan itu salah.


“Kenapa aku?”

__ADS_1


“Kamu menarik, nggak bosan saya pandang kamu. Jadi selain saya suka memandangi ombak, saya suka memandangi kamu juga,”


__ADS_2