
Elvina dan Vano sudah selesai memilih buah tangan. Sekarang waktunya mereka ke kasir untuk membayar apa yang sudah mereka pilih. Tapi begitu sampai di kasir, ternyata ada Rendra bersama pasangannya yang sedang menunggu belanjaan mereka dihitung totalnya.
Sebelum sampai di kasir untuk mengantre di belakang Rendra, Elvina berbisik pada suaminya. “Mas, ada Rendra di kasir. Kamu aja yang bayar ya. Aku nunggu di mobil,”
Vano menghembuskan napas pelan dengan ekspresi wajah jengah. Entah bagaimana lagi Ia harus bersikap di depan Elvina yang ternyata sulit untuk diberi pengertian. Diminta untuk tenang, seolah tak peduli dengan kehadiran Rendra, ternyata tidak bisa dilakukan oleh Elvina. Sesulit itu ternyata.
“El, kamu jangan begitu. Mau sampai kapan sih begini?”
“Aku males ketemu dia, Mas. Aku males tatapan sama dia,”
“Ya nggak ada yang nyuruh kamu untuk tatapan sama dia juga, El. Dia sibuk sama pacarnya sendiri tuh,”
“Udah nikah kali, Mas,”
“Memang mereka udah nikah?”
“Iya kayaknya,“
__ADS_1
“Kok kayaknya? Bukannya kamu stalking dia terus? Nggak ada foto-foto nikahnya dia gitu?”
“Belum sih,”
“Ya udah biarin aja. Ayo jangan menghindar,” ujar Vano sambil merangkul bahu istrinya.
“Ih Mas aku nggak mau ke kasir, kamu aja. Aku nunggu di mobil,”
“El, kamu jangan begitu. Saya nggak mau ya kamu menghindar terus. Kamu harus terima kenyataan kalau kamu sama dia itu masih hidup di bumi yang sama jadi kemungkinan untuk ketemu ya bisa aja, masa iya tiap ketemu kamu menghindar terus?“
“Tapi aku belum—“
Vano merangkul erat bahu istrinya. Ia tidak mengizinkan Elvina untuk kabur ke mobil demi memghindari Rendra. Tapi Elvina keras kepala tidak mau melanjutkan langkahnya ke kasir.
“Belum tentu juga dia nyadar ada kamu,”
“Ya tapi kalau dia nyadar gimana?”
__ADS_1
“Nggak masalah,”
“Aku nggak siap, Mas,”
“Masa nggak siap terus. Kalau kalian saling tatap ya bagus biar saling tau perasaan masing-masing udah move on atau belum,”
“Ya kalau dia udah, Mas. Aku yang belum, terus tatapan sama dia bikin aku tersiksa,”
“Ya udah sekarang saya mau siksa kamu, supaya apa? Supaya nanti ke depannya kamu nggak begini lagi. Saya siksa sekali aja. Kamu nggak boleh menghindar terus. Saya nggak mau istri saya payah. Ketemu sama masa lalu nggak boleh kayak begini responnya. Kamu itu perempuan, cantik, berharga, jadi ngapain mesti takut ketemu sama masa lalu yang kamu sendiri bilang udah nyakitin kamu,”
Akhirnya Vano berhasil membawa istrinya ke kasir dan Rendra masih berdiri di depan meja kasir, di sebelah Rendra ada pasangannya yang tak ikut mengantre, tapi menjadi teman bicaranya Rendra selama menunggu total belanjaan.
Vano masih merangkul istrinya berusaha untuk membuat Elvina tenang dan kuat. Ia tidak mau istrinya seperti ini terus. Yang salah Rendra, yang menyakiti Rendra, jadi kenapa harus Elvina yang menghindar? Vano tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Belum bisa melupakan tidak masalah, yang terpenting jangan takut untuk bertemu. Karena mereka masih menjadi penghuni bumi yang sama dan kemungkinan untuk bertemu itu sudah pasti ada. Vano tidak mau kalau sampai istrinya seperti ini terus bila bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
“Mas, aku—“
“Sstt, kita di sini lagi antre nunggu kasir selesai hitung belanjaan dia, bukan mau ketemu malaikat maut, jadi kamu tenang aja,”
__ADS_1
“Ih Mas,”
Vano terkekeh dan suaranya itu langsung mengalihkan perhatian Rendra dan wanitanya. Mereka berdua spontan menoleh, dan detik itu juga mata Rendra juga Elvina saling beradu satu sama lain.