Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 142


__ADS_3

"Mas, Delila datang lagi ke kantor kamu?"


"Hah? nggak, Sayang. Emang kenapa? kamu kangen banget sama dia ya? kok tanyain soal dia,"


Vano mencium bahu Elvina yang berbaring memunggunginya. Elvina langsung bergerak tidak nyaman karena suaminya sekarang sudah mencium lehernya.


"Aku bukan kangen, tapi penasaran aja dia masih datang ke kantor kamu atau nggak. Kata kamu nggak ,kok nggak sih? kamu yakin?"


"Yakinlah, dia sama aku 'kan udah nggak ada urusan apa-apa lagi, Sayang. Jadi ngapain dia datang ke kantor aku lagi coba?"


"Barangkali aja dia kangen sama kamu,"


"Eh sembarangan kalau ngomong. Ya nggak lah, mana ada ceritanya dia kangen aku atau sebaliknya? urusan aku sama dia itu cuma yang berhubungan sama kamu aja, Sayang. Lebih dari itu nggak ada kok,"


"Cie bohong,"


"Lah? beneran aku, kok bohong sih?"


"Memang benar ya kamu blokir nomor telepon dia? coba aku liat, aku nggak percaya kalau nggak ada bukti,"


"Okay, nih liat sendiri ya, Sayang,"


Vano terpaksa beranjak dari posisi berbaringnya demi mencari ponsel pintarnya yang ternyata tidak ada di nakas.


"Kamu liat handphone aku nggak, Sayang?"


"Nggak, aku nggak liat sama sekali. Memang kamu taruh dimana tadi?"


"Biasanya 'kan di nakas, Sayang. Kamu nggak pegang?"


"Nggak, ih nggak percayaan banget,"


"Bukan nggak percayaan, Sayangku. Tapi aku bingung dimana handphone aku, kali aja kamu pegang tadi,"


"Nggak sama sekali, ih cerewet banget ya. Nuduh aja kamu bisanya tuh,"


Vano langsung mencari-cari di sofa, di atas meja rias, di bawah-bawah bantal tidur dan bantal sofa juga tidak luput dari pencariannya tapi entah kenapa Ia tidak berhasil menemukannya.


"Kemana sih? kok nggak ada ya, Sayang,"


"Kamu lupa naruhnya kali, Mas,"


"Ya emang lupa. Kalau ingat mah nggak bakal kayak begini,"


"Terakhir kamu taruh dimana?"


Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar lupa dimana Ia meletakkan ponselnya sebelum hilang sekarang.


"Tapi kayaknya nggak jauh-jauh deh, El. Tadi seingat aku ada di nakas sebelah tempat tidur kok, kayak biasa,"


"Ya terus kenapa nggak ada sekarang? ketinggalan di kantor kamu kali,"


"Nggak ah, udah aku bawa pulang ke rumah, El. Masa iya ketinggalan di kantor?"


"Ya bisa aja. Kamu 'kan sibuk jadi sampai nggak sadar kalau handphone kamu nyelip dimana,"


"Tapi udah aku bawa pulang kok,"


"Tapi kok nggak ada. Pulang kemana dulu nih. Ke rumah ini atau ke rumah yang lain?" tanya Elvina seraya menahan senyum gelinya. Vano langsung mengernyit menatap ke arahnya.


"Rumah lain gimana maksud nya, Sayang?"


"Rumah yang lain itu ya bukan rumah ini,"


"Cepat jangan muter-muter ngomongnya, El,"


"Rumah yang lain itu ya rumah orang lain,"


"Oh rumah Delila yang kamu maksud ya?"


"Iya barangkali ketinggalan di sana,"


Vano tertawa mendengar kelakar istrinya itu. Elvina sekaligus menyindir. Elvina ingin tahu reaksi suaminya. Kalau dia panik begitu Ia sindir, artinya memang ada yang ditutupi tapi sejauh ini Vano kelihatan aman-aman saja.


"Aku nggak ke rumah siapa-siapa lah. Kamu jangan ngarang ya,"


"Oh ya?"


"Iya beneran. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Dan ke rumah ini ya, bukan ke rumah tetangga atau musuh. Aku jujur beneran,"


"Ya udah bagus kalau kamu jujur,"


"Jangan nuduh dong, Sayang,"


"Nggak nuduh, aku 'kan cuma asal ngeluarin celetuk aja,"


"Tempat aku pulang ya cuma kamu,"


"Heleh gombal aja kamu, bukannya fokus tuh cari handphone,"


"Aku juga bingung banget kemana handphone aku ya? apa benar-benar hilang?


"Coba cari dulu lebih teliti. Barangkali nyelip?"


"Nggak ada dimana-mana kayaknya,"


"Terus gimana? kamu mau nyerah?"


"Aku bingung mau cari dimana ya?


"Makanya lain kali di kamar ini pakai cctv,"


"Ya jangan lah, Sayang. Itu namanya nggak ada privasi sama sekali dong,"


"Ya habisnya kok handphone kamu nyelip? di kantor kata kamu nggak ada terus kamu juga langsung pulang ke rumah, jadi dimana handphone kamu itu?"


"Kamu nggak iseng 'kan, El?"


"Iseng gimana?"


"Ya kali aja kamu ngumpetin,"


Elvina langsung tertawa dan Ia beranjak duduk menatap geli suaminya yang berdiri dengan berkacak pinggang, Vano hampir menyerah mencari ponselnya.


"Kamu nuduh aku?"


"Feeling aku nih kamu lagi mau kerjain aku. Bener nggak?"


"Nggak salah ngomong? yang sering kerjain aku itu siapa? kamu 'kan?"


"Diri kamu sendiri kayaknya, El,"


"Ya kali aku ngerjain diri sendiri,"


"Kalau nggak ketemu, tinggal beli aja,"


"Ya elah beli handphone mulu kayaknya. Aku nggak mau ah, pemborosan tau, El,"


"Iya memang tapi 'kan kamu punya uangnya. Hitung-hitung menyenangkan diri sendiri lah, Mas,"


"Sayang banget beli handphone baru karena yang itu nyelip nggak tau kemana. Yah, padahal aku mau ngasih unjuk ke kamu, aku mau buktiin kalau aku emang beneran udah blokir nomornya Delila, Sayang,”


“Berarti aku simpulin, kamu bohong ya,”


“Bohong gimana? Beneran itu, El. Makanya aku mau kasih unjuk karena aku jujur, tapi sayangnya alat bukti nih nggak ada,”


“Nggak ada bukti berarti bohong. Udah gitu aja intinya,”


Vano berdecak tidak terima dikatakan bohong. Padahal Ia benar-benar jujur mengungkapkan bahwa dia memblokir nomor Delila. Ketika akan membuktikannya, ponselnya malah hilang entah dimana.


“Ya udah tidur deh kamu, nggak usah mikirin handphone lagi, besok aja,”


“Lah gimana nggak dipikirin, Sayang. Itu handphone terbilang masih baru. Orang belinya aja waktu kamu ngambek karena Delila, eh sekarang masa udah hilang?”


“Ya habisnya gimana? Biar selesai urusan handphone mending tidur. Besok lagi dicari, Mas,”


Saat Vano akan setuju, besok pagi Ia akan kembali mencari benda canggih dan pintar itu, Vano justru dikejutkan dengan suara denting dari ponselnya yang letaknya sangat dekat dengan posisinya saat ini. Begitu Ia teliti lagi ternyata ponselnya itu ada di bawah bantal Elvina.


Elvina tertawa melihat tatapan Vano yang garang mengarah padanya. Barusan yang bilang tanpa bukti berarti bohong adalah Elvina, ternyata dia yang membuat Vano jadi kesulitan memberikan bukti.


“Lah ternyata sama kamu ya. Parah banget, aku udah nyariin kemana-mana, aku tanya juga ke kamu. Katanya nggak liat, eh nggak taunya malah diumpetin. Niat banget ngerjain suaminya ya,”


“Gimana? Panik nggak?”


“Panik sih nggak, justru aku kesal sama diri sendiri karena aku jadinya nggak bisa buktiin ke kamu kalau aku nggak bohong,”


“Ya udah mana coba liat. Katanya kamu blokir nomor Delila,”


“Cie masih cemburu,”


“Nggak bakal cemburu kalau nggak ada sebab. Kalau cemburu tanpa alasan berarti aku nggak percaya diri dong, aku mengakui kalau dia lebih daripada aku dong,”


“Nggaklah, istri aku yang lebih-lebih,”


“Udah buruan kasih unjuk mana dia buktinya, aku nggak yakin ah,”

__ADS_1


Vano langsung mengutak atik ponsel pintarnya untuk memberitahu bahwa dia memang benar-benar memblokir nomor telepon Delila.


“Tuh ‘kan, emang bener ‘kan? Aku mah nggak pernah bohong, Sayang,” ujarnya setelah Ia bisa memberikan bukti bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar kenyataan.


“Oh iya benar tuh, tumben,”


“Kok tumben,”


“Maksudnya tumben beneran sinkron mulut sama fakta,”


“Eh memangnya selama ini nggak? Kalau aku bilang cinta berarti faktanya nggak cinta begitu?”


“Bercanda, jangan ngegas gitu jawabnya. Udah malam nih, daripada banyak omong mending tidur deh,”


“Selamat malam, bestie,”


“Hmm malam,”


“Ham hem ham hem aja kamu. Balas yang romantis dong,”


“Nggak jago,” lugas Elvina seraya menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Vano terkekeh merasa Elvina malah mengajaknya bercanda, padahal sebelumnya dia disuruh tidur oleh Elvina.


Vano turut menarik selimut sehingga mempertemukan mereka di dalam selimut. Vano tertawa melihat kebingungan Elvina.


“Eh kamu dulu pernah main ini nggak sih? Ceritanya di dalam selimut ini rumah gitu, terus sama-sama ngumpet nanti ada monster,”


“Iya, aku ingat,”


Vano tertawa dan cepat-cepat menutup mulutnya supaya tidak terlalu mengganggu. Karena pelototan tajam Elvina juga Ia cepat-cepat menutup mulutnya.


“Jangan berisik! Udah malam tau,”


“Iya maaf, aku nggak sengaja, Sayang,”


“Kamu kebiasaan kalau ketawa suka nggak bisa direm. Ini ‘kan malam, emang nggak takut apa?”


“Nggaklah, ngapain takut. Aku punya Tuhan,”


“Tapi tetap aja jangan berisik soalnya ini udah malam, waktunya tidur bukan ngobrol apalagi ketawa,”


“Siap, Bu bos, saya laksanakan,”


Vano langsung memejamkan matanya untuk tidur, begitupun Elvina. Saat mereka hampir terpejam, alarm dari ponsel Vano malah berdering hingga membuat Elvina berdecak kesal sambil menggosok telinganya karena terlalu berisik.


“Maaf-maaf, Sayang, aku lupa juga kapan pasang alarm,”


“Buat apa sih nyalain alarm? Ini tengah malam kamu mau ngapain emangnya? Kok minta dibangunin alarm?”


Vano langsung cepat-cepat mematikan alarm yang berdering cukup membuat telinga terus padahal tadinya sudah mau terlelap.


Vano sendiri juga tidak tahu sejak kapan Ia mengatur alarm supaya bunyi pukul sebelas malam. Yang seharusnya tidur habis nonton berdua dengan Elvina akhirnya malah ngobrol dan diganggu alarm.


“Kenapa nyalain alarm?”


“Aku aja nggak tau kalau alarm bakal bunyi,”


“Terus siapa yang gituin alarm nya?”


“Ya mungkin aku cuma nggak sengaja, Sayang,”


“Aku kirain kamu pakai alarm supaya kamu bangun mau ngelakuin ritual tengah malam,”


“Ya ampun, ritual apa?”


“Pesugihan,”


“Astaghfirullah, Elvina suka ngadi-ngadi mulutnya ya. Mana ada pesugihan,”


Elvina terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak meledak.


Vano kaget sekali Ia menduga kalau Ia akan melakukan ritual pesugihan.


“Alhamdulillah aku orangnya aman-aman aja, nggak mau pakai cara kotor untuk dapat apa yang dimau, entah itu harta, atau apapun itu,”


“Keren-keren, bagus itu,”


“Iyalah, siapa dulu dong,”


“Orang,”


“Ya emang orang, tapi aku siapa?”


“Vano,”


“Iya tau kalau nama. Maksud aku aku siapa kamu?”


“Nah itu yang mau aku dengar dari tadi. Lama banget nggak paham-paham,”


Elvina memejamkan mata tidak ingin bicara lagi dengan Vano. Tiba-tiba Ia merasa keningnya diusap-usap dengan lembut. Ia membuka sedikit matanya dan melihat Vano menatapnya serius sambil ibu jarinya bergerak mengusap kening Elvina tepatnya di tengah-tengah kedua alisnya.


“Kamu kenapa bukannya tidur sih?”


“Aku mau tidurin kamu dulu,”


“Hah?”


“Maksud aku, aku mau buat kamu tidur dulu. Begitu lah intinya,”


“Nggak usah, kamu tidur aja. Besok ‘kan mau kerja,”


“Nggak apa-apa kok, aku iseng sambil nunggu ngantuk,”


“Kamu itu udah ngantuk dari tadi, mending tidur deh,”


Elvina mengusir galak tangan suaminya agar tidak lagi mengusap keningnya. Vano akan bekerja besok pagi, harusnya sudah tidur sekarang. Ini malah tidak. Dia bicara terus, setelah itu malah bertingkah. Padahal Ia tidak minta pada Vano untuk mengusap keningnya.


*****


“Del, kamu sama Vano gimana? Masih baik-baik aja?”


Delila menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka oleh sang Ibu. Delila segera beranjak duduk, sebelumnya berbaring telungkup sambil menyelesaikan pekerjaannya.


“Kenapa, Bu?”


“Hubungan kamu sama Vano masih baik-baik aja ‘kan? Kamu ‘kan pernah cerita dekat sama Vano,”


“Iya aku ‘kan ceritanya cuma dekat aja, nggak ada hubungan apa-apa, Bu,”


“Lho, nggak ada hubungan apa-apa? Kok bisa? Bukannya—“


“Nggak bisa, Bu. Dia itu udah punya istri. Istrinya itu yang pernah datang ke rumah ini, dan kalau nggak salah ketemu juga kok sama Ibu waktu itu,”


“Jadi kenapa kalian dekat dong kalau begitu? Dia ‘kan udah punya istri, apa dia selingkuh sama kamu?”


“Nggak kok,”


“Ya terus kenapa kamu bilang kalau kalian berdua dekat? Tapi barusan kamu bilang lagi kalau Ken itu sebenarnya udah punya istri,”


“Iya memang udah punya istri. Jadi ceritanya, Elvina atau istri Vano itu nggak cinta sama Vano. Dia nggak pernah menghargai suaminya, intinya begitu, Bu. Nah Vano ini mau tes dia. Kebetulan aku sama Vano ini ‘kan memang berteman jadi dia bilang ke aku, supaya aku sama dia tuh lebih dekat, lebih akrab. Karena dia mau tau reaksi istrinya. Dia cemburu atau nggak. Awalnya aku nggak mau lah, masa iya aku dijadikan alat sama dia. Tapi karena dia pengen banget untuk tau reaksi istrinya, dia kayak udha putus asa gitu, Bu. Akhirnya ya udah, aku turutin permintaan dia, jadi semuanya itu atas skenario Vano,”


“Lagian kamu ada-ada aja sih. Ngapain mau nurutin maunya dia? Hah? Udah tau dia punya istri, masih aja—“


“Tapi ‘kan aku nggak enak nolaknya, Ibu. Jadi ya udah, aku turutin aja,”


Delila mendapat omelan dari ibunya setelah mendengar cerita tentang dirinya yang dekat dengan Vano karena skenario yang dibuat oleh Vano.


“Ibu nggak habis pikir sama kamu, Nak. Harusnya jangan mau. Kamu sama aja ngerusak rumah tangga mereka,”


“Tapi nggak kok, Bu. Malah Elvina sama Vano sekarang rukun, Elvina udah mengakui kalau dia itu cinta sama Vano, dia itu cemburu sama kedekatan aku dan Vano, Bu. Dia takut kehilangan Vano,”


“Pasti Elvina kesal banget sama kamu ya,”


Delila terkekeh dan Ia mengangguk membenarkan. Memang Elvina kesal sekali atau bahkan bisa dibilang benci. Karena Ia dianggap sebagai orang ketiga di dalam hubungan pernikahannya bersama Vano.


“Iya, dia berapa kali ngomong nggak enak ke aku,”


“Ya iyalah, jelas aja dia ngomong nggak enak ke kamu. Karena dia anggap kamu itu pengganggu, pelakor malah. Lagian sih, kayak nggak ada kerjaan aja si Vano itu bikin rencana kayak begitu. Akhirnya ngorbanin kamu ‘kan,”


“Ibu, Vano nggak salah. Aku emang mau bantu dia kok,”


“Apa yang pernah Elvina omongin ke kamu?”


“Macam-macam. Ya wajarlah, karena dia mau melampiaskan marahnya dia ‘kan. Aku disuruh untuk menjauh dari Vano karena Vano itu udah beristri, aku dibilang nggak punya harga diri, harusnya bisa cari yang lebih daripada Vano tapi aku malah mau jadi selingkuhannya Vano. Intinya begitulah, Bu,”


“Ya Allah, Del…Del….kenapa sih kamu bodoh banget? Elvina wajar aja ngomong begitu. Karena kamu memang salah, dan suaminya lebih salah lagi,”


“Maaf ya, Bu, udah bikin Ibu kesel sama aku,”


“Terus gimana hubungan kamu sama Elvina? Apa dia masih marah sama kamu?“


“Katanya Vano sih, udah nggak kok, Bu,”


“Kenapa sih kamu mau bantu Vano? Selain karena teman pasti ada alasan lain ‘kan, Del?”


“Nggak ada, Bu,”

__ADS_1


“Kamu jangan bohong sama Ibu,”


Delila terkejut begitu bahunya disentuh oleh sang ibu kemudian ibunya itu menatap Ia dengan tatapan tajam dan serius.


“Ibu, aku serius. Aku nggak bohong kok sama Ibu,”


“Kamu mau bantu Vano. Kamu mau dekat-dekat sama Vano sebenarnya karena kamu suka juga sama Vano? Bukan semata-mata mau bantu dia ya?”


Delila menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak, Bu. Aku nggak suka sama Vano, aku nggak menaruh perasaan apapun sama Vano kok, memang murni mau bantu dia aja, Bu,”


“Kamu jangan bohong sama Ibu, Del. Ibu ini tau dari tatapan mata kamu yang gugup, dan gesture kamu juga nggak bisa di bohongi,”


“Bu—“


“Dengar pesan ibu ya, kamu nggak boleh merusak kebahagiaan orang lain. Kamu itu perempuan, coba pinjam perasaan Elvina kalau seandainya suami kamu diambil sama perempuan lain, dirampas dengan kejamnya, gimana perasaan kamu? Sakit hati dan kecewa itu sudah pasti,”


Delila menundukkan kepalanya. Ia dibuat terdiam dengan nasihat yang disampaikan oleh ibu yang melahirkannya itu.


“Tapi aku beneran nggak suka sama Vano, aku nggak mau rebut Vano,”


“Ya bagus kalau memang begitu kenyataannya. Tapi yang Ibu lihat, kamu itu suka sama Vano. Tatapan mata kamu ke dia itu nggak bisa bohong. Ibu ‘kan beberapa kali liat Vano datang ke sini, kalian ngobrol, dan ibu bisa tau lewat tatapan kamu kalau kamu itu punya rasa lebih untuk Vano. Dan Ibu mau tanya sama kamu, apa Vano datang ke sini, Elvina tau?”


“Vano itu sengaja mancing Elvina supaya ngikutin dia. Jadi selama ini kalau Elvina ngikutin dia, Vano itu tau banget, Bu. Vano sengaja mancing Elvina supaya lihat kebersamaan aku dan Vano,”


“Astaga, Vano jahat juga ya,”


“Dia nggak jahat, Bu. Apa salahnya dia mau tau isi hati Elvina yang sebenarnya. Kalau nggak ada kejadian itu, mungkin Elvina nggak akan merasakan yang namanya cemburu. Vano akan tetap dengan perasaannya sementara Elvina tetap juga dengan kekerasan hatinya,”


“Tapi tetap ya, ibu nggak suka dengan cara kalian berdua Vano sebenarnya. Ibu ini seorang istri juga. Ibu tau betul bagaimana perasaan Elvina. Syukur-syukur dia nggak stres ngadepin suaminya yang dia pikir punya selingkuhan. Meskipun seandainya dia nggak cinta, nggak menghargai dan segala macamnya, tapi tetaplah yang namanya suami itu punya tempat khusus di hati dia yang sekeras batu sekalipun. Vano itu punya dia. Meskipun dia nggak cinta, tapi udah ada rasa saling memiliki, jadi menurut Ibu, Vano seharusnya nggak begitu,”


“Ya udahlah, Bu, semuanya juga udah berlalu. Lagian Elvina emang salah kok, seandainya aja dia bisa cinta sama Vano dan nggak mengabaikan Vano, dia juga nggak maulah ngelakuin itu, apalagi dia itu cinta sama Elvina dan apa yang dia lakuin itu memang melukai hatinya Elvina, cuma ya mau gimana? Mungkin emang Vano udah bingung. Daripada ribut terus, makan hati terus karena Elvina terjebak sama masa lalunya, mending begitu pikir Vano,”


“Elvina terjebak masa lalu? Maksudnya gimana?”


“Iya, kalau yang aku dengar dari cerita Vano sekilas soal Elvina, dia itu punya mantan. Dia masih cinta sama mantannya itu,”


“Terus kenapa nikah sama Vano?”


“Ya karena Vano suka sama dia, akhirnya terbentuklah kesalahan. Nah kesalahan itu apa? Mereka nikah disaat Elvina belum lupa sama masa lalunya, tapi Vano udah cinta sama Elvina itu kesalahan yang mereka buat. Jadi nikah, terpaksa Elvina ninggalin. Setelah nikah Elvina masih belum bisa move on dari mantannya yang padahal udah nikah juga. Ribet lah kisah mereka itu. Kalau nggak salah Vano ceritanya begitu,”


“Begitu rupanya. Vano udah capek mungkin ya, dia harus bersaing terus sama mantannya Elvina,”


“Iya kira-kira begitu deh, Bu,”


Ibunya Delila menghembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian tangannya bergerak mengusap lembut pipi Delila.


“Ya udah, apapun itu, kamu tetap nggak boleh belok-belok jadi orang jahat ya. Sekali lagi Ibu bilang, jangan jadi orang jahat, jangan jadi pengganggu kebahagiaan orang. Paham ‘kan?”


Delila menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ibunya itu beranjak akan keluar dari kamarnya tapi Delila memanggil yang akhirnya membuat wanita yang tak lagi muda itu menoleh pada anaknya.


“Berarti kalau seandainya aku benar punya perasaan sama Vano, aku harus hilangkan itu ya, Bu?”


“Iya dong, Nak. Itu harus, karena dia bukan milik kamu, jangan membuat keadaan jadi rumit. Banyak laki-laki lain yang bisa kamu miliki dan tentu dia juga belum jadi milik siapa-siapa. Jangan lanjutkan perasaan kamu itu, karena itu salah,”


“Iya, Ibu,”


*****


Elvina ingat kalau sebentar lagi suaminya itu berulang tahun. Dan Ia belum menyiapkan kado apapun untuk suaminya itu.


Akhirnya hari ini Ia memutuskan untuk pergi ke mall sekalian mengajak Amih juga. Supaya mereka berdua sama-sama mencari suasana lain. Di rumah terus bosan sekali.


“Aku bingung banget mau kasih kado apa, Mih,”


“Yang lagi diperlukan sama Pak Vano apa, Bu?”


“Hmm, bentar ya, aku tuh nggak ingat,”


Elvina melangkah sambil berpikir hadiah apa yang sekiranya tengah diperlukan oleh suaminya itu. Barangkali Vano pernah mengatakan bahwa Ia sedang perlu akan sesuatu berupa barang.


“Mata aku sakit. Kayaknya nih kacamata udah nggak cocok lagi kali ya. Soalnya biasanya nggak gampang sakit. Mana sekarang sering perih juga mata aku kalau liat gadget lama-lama,”


“Kamu udah umur tua, Mas,”


Elvina langsung mengingat momen itu. Ketika tidak sengaja Ia melintasi sebuah optik. “Mih, bentar-bentar. Kita beli kacamata aja deh kayaknya,”


“Kacamata apa, Bu?”


“Soalnya Vano itu udah ngerasa nggak cocok saka kacamata dia yang biasa. Katanya gampang sakit sama perih,”


“Tapi Ibu ingat Pak Vano minus berapa?”


Elvina menepuk pelan keningnya. Ia tentu tidak ingat minus mata suaminya, apalagi sekarang sudah bertambah sepertinya.


“Aku nggak tau sekarang berapa, Mih,”


“Emang kalau kacamata itu, Bu, harus ngajak orangnya supaya sekalian diperiksa matanya. Nggak bisa langsung beli aja tanpa tahun minus berapa,”


“Iya sih, Amih benar. Terus gimana dong?”


Elvina melanjutkan langkahnya yang sebelumnya berhenti tepat di depan optik. Amih kembali mengikutinya lagi.


“Gini aja, Bu, beli aja dulu barang yang nggak harus Pak Ken tau. Nah kacamata nyusul, jadi kado Ibu ada dua deh, gimana saran saya? Ibu setuju nggak?”


“Iya boleh aja, tapi masalahnya barang yang pertama nih apa? Ken udah punya semuanya. Jadi aku bingung mau beliin dia apa,” ujar Elvina sambil matanya melihat ke samping kanan dan kiri.


Banyak butik, store sepatu, dan lain-lain, tapi entah kenapa Elvina tidak tertarik masuk ke dalamnya.


“Game ps gitu, Bu,”


“Nggak deh, nggak bermanfaat buat dia,”


“Bermanfaat, Bu. ‘Kan buat hati suami senang. Soalnya belakangan ini Pak Vano lagi suka main PS ‘kan? Saya nggak paham kayak gitu-gitu, tapi Ibu beli yang paling bagusnya aja, maksud saya yang paling baru gitu. Pasti Pak Vani suka, jadi dia ada hiburan deh kalau di rumah,”


Elvina diam sebentar untuk berpikir. Tadinya Ia enggan membeli mainan seperti itu. Vano sudah dewasa, lagipula dia lebih sering sibuk di luar rumah. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Amih benar juga. Vano sedang gemar bermain itu belakangan ini. Dia bilang lagi pinjam punya Ajun. Elvina tidak kepikiran sampai ke sana. Suaminya pinjam punya orang untuk menyenangkan hati. Kenapa tidak Ia sediakan saja apa yang membuat suaminya senang? Daripada Ia juga bingung cari sesuatu untuk Vano.


“Iya deh, aku mau beli itu aja kali ya. Tapi aku nggak paham sama sekali soal begituan, aku aja nggak tau beli dimana. Kalau tas sepatu mah aku tau, tas sepatu aku maksudnya,”


Amih tertawa mendengar celetukan Elvina yang berkelakar. Tentu saja Elvina tahu dimana beli tas dan sepatu untuk dirinya sendiri. Sering sekali belanja, kalau tidak tahu malah heran.


“Emang harus tanya yang paham soal kayak gitu, Bu,”


“Aku tanya siapa coba? Ayah aku nggak suka main begituan kayaknya deh, ayah mah sukanya main di handphone aja, sejenis game online begitu,”


“Tanya keluarga yang hobi main begituan, Bu,”


“Siapa ya? Kayaknya nggak ada, udahlah cari tau sendiri aja,”


“Ibu, kayaknya semangat banget nih mau nyambut ulang tahun Pak Ken,”


“Emang keliatannya begitu, Mih?”


“Iya, saya liatnya Ibu paling semangat tahun ini nyambut ulang tahun Pak Ken,”


“Ini ulang tahun kedua dia jadi suami aku, Mih,”


“Iya, kalau yang lalu maaf ya, Bu. Ibu cenderung cuek aja gitu. Setelah Pak Vano ngomong, barulah Ibu sibuk cari kado. Kayaknya waktu itu Pak Vano yang ngingetin ‘kan, Bu? Nah kalau sekarang, Pak Vano belum ngomong apa-apa, bahkan terkesan cuek aja sama hari ulang tahunnya, tapi Ibu justru sebaliknya,”


“Sebenarnya nggak juga, Mih. Kalau yang semangat itu artinya aku nyiapin kado dari dua bulan lalu, ini ‘kan nggak. Dari beberapa hari sebelumnya aja,”


“Ya nggaklah, Bu. Saya bisa liat kok Ibu tuh beda untuk nyambut ulang tahun Pak Vano. Meskipun cari kadonya beberapa hari sebelumnya, bukan dari jauh-jauh bulan, tapi tetap aja keliatan semangatnya. Lagian ‘kan kado ulang tahun emang biasanya dicari kalau udah dekat-dekat, Bu. Jarang kayaknya yang dari jauh-jauh bulan, kecuali yang mau dibeli emang gede banget alias spektakuler semacam mobil dan lain-lain. Itu ‘kan perlu persiapan yang lebih lama,”


“Aku nggak beliin Vano mobil ah, dia udah punya mobil, lagian dia nanti kesel kalau aku abi-abisin duit untuk beli barang yang mahal tapi nggak begitu diperlukan,”


“Iya, Bu. Ngapain beli mobil? Pak Vano udah banyak duit bisa beli mobil sendiri. Justru yang kecil-kecil gitu lebih berharga, Bu, apalagi dari istri,”


“Iya okay, aku beli mainan yang lagi disuka Vano aja deh, berharap sih dia nggak ngetawain aku ya gara-gara aku beliin mainan,”


“Lho, kenapa diketawain, Bu? Justru Pak Vano bakal senang karena Ibu perhatian banget, sampai ke mainan yang lagi disuka sama Pak Vano aja Ibu tau,”


“Aku mau beli dompet juga kali ya buat dia,”


“Woah banyak juga kado Ibu ya, makanya saya bilang Ibu semangat banget di ulang tahun Pak Vano tahun ini, kalau tahun kemarin semangat juga sih tapi beda aja gitu,”


Elvina terkekeh pelan mendengar penuturan Amih dan dalam hati Ia bicara apa ada hubungannya rasa cinta yang Ia miliki dengan semangatnya Ia sekarang ini untuk menyambut Vano yang akan bertambah usianya dalam waktu beberapa hari lagi.


“Soalnya dompet dia itu-itu mulu, kalau nggak salah dia cuma punya tiga deh, ya masih bagus semua sih, tapi aku aja bosan lihatnya, masa dia nggak sih? Makanya aku pengen beli itu,”


“Laki-laki kadang memang begitu, Bu. Kalau nggak dibeliin istri, dia nggak bakalan beli. Ada uangnya tapi entah malas atau memang mau hemat, intinya mereka itu ogah-ogahan beli barang apalagi yang kecil semacam dompet begitu,”


“Kayaknya sih kalau Vano itu malas ya, dia orangnya suka pakai yang ada, nggak mau repot,”


“Iya begitulah kalau kebanyakan laki-laki, Bu. Saya nggak bilang semuanya tapi kebanyakan begitu, entah kenapa juga ya, mungkin karena mereka nggak suka belanja juga, Bu, ‘kan yang terkenal suka belanja ini itu ya perempuan. Tas manish pada bagus-bagus, eh udah beli lagi. Alasannya karena mau koleksi, warna ini itu belum ada. Padahal mah kalau laki-laki satu tas bisa dipakai disegala kondisi ya,”


“Ih Amih kok benar banget sih,”


Elvina menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa tersindir tapi tidak sakit hati. Memang perempuan begitu, tidak perlu bicara soal orang lain. Dirinya sendiri saja seperti itu.


“Soalnya saya sendiri juga begitu, Bu,”


“Kalau aku ya jangan ditanya lagi lah ya, aku juga begitu,”


Elvina mengajak Amih untuk mendatangi store tas, dompet, sepatu, dan ikat pinggang pria yang dominan berbahan kulit.


Elvina langsung memilih dompet yang sekiranya cocok untuk Ken dan lelaki itu suka. Percuma juga Ia mencari yang cocok tapi bukan selera Vano yang sukanya berwarna gelap, dan modelnya sederhana saja.

__ADS_1


Di toko itu tidak hanya menjual dompet sehingga membuat mata Elvina liar menatap yang lainnya. Ada tali pinggang yang membuatnya jatuh cinta, ada juga sepatu formal untuk laki-laki.


__ADS_2