
“Babay, hati-hati ya. Dijemput Pak supir? Kapan berani pulang bareng sama Febian nya?”
Davina melotot ke arah Arika yang baru saja meledeknya. Ia dan Fabian itu hanya dekat saja, kalau Ia sampai pulang bersama Fabian, apa kata orangtua dan abangnya nanti? Bisa-bisa Ia disidang, terutama oleh Vano.
“Jangan sebut-sebut Fabian deh, nanti orang yang dengar salah paham,”
“Emang siapa yang bakal salah paham?”
“Ya kalau misalnya Mama Papa gue dengar gimana? Atau abang gue yang dengar, apa yang bakal gue jelasin ke mereka?”
“Ya tinggal bilang lagi pedekate,”
“Dih sembarangan banget kalau ngomong. Bahaya lah kalau gue ngomong gitu,”
“Emang kenapa sih? Lo dilarang ya untuk pacaran?”
“Iya dong, Arika. Gue disuruh belajar, nggak boleh berlebihan sama cowok, bolehnya temenan aja,”
Ditemani oleh Arika yang juga sedang menunggu jemputan, akhirnya Davina tidak bingung mau melakukan apa karena ada teman mengobrol.
“Tapi lo naksir sama Fabian?”
“Ih nggak tau ah. Nggak usah bahas Fabian,”
“Cielah, yang lagi cinta monyet,”
“Lo juga ya,”
“Tapi gue udah jadian, Dav,”
“Ya udah iya, selamat deh kalau gitu,”
Tatapan Arika mengarah ke mobil papanya yang sudah datang menjemput. Ia langsung beranjak dari tempat duduk dan pamit pada temannya itu.
“Dav, gue duluan ya,”
“Okay hati-hati,”
“Yah nggak ada temen ngobrol lagi,”
“Tenang, masih ada handphone,” ujar Davina seraya mengedipkan salah satu matanya dan itu membuat Arika tertawa.
“Mudah-mudahan lo nggak lama lagi dijemputnya ya,”
“Iya, lo hati-hati,”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Bestie,”
Davina melambai pada Arika yang berjalan menjauh darinya tapi menyempatkan diri untuk melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil.
Davina mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Dan baru juga membuka kunci layar, tiba-tiba Ia mendengar klakson mobil. Tentu itu membuat perhatiannya teralihkan. Ia tidak jadi memainkan ponsel karena ternyata Ia sudah dijemput. Tapi bukan dijemput oleh supirnya melainkan Vano.
Davina membuka kursi depan, tepatnya di sebelah kemudi dan Ia kaget ketika melihat ada seseorang yang belum Ia kenal duduk di tempat yang biasa menjadi miliknya kalau Ia sedang pergi bersama Vano.
__ADS_1
Elvina langsung meninggalkan tempat itu karena Ia merasa tahu diri. Kursi itu bukan tempatnya, melainkan gadis cantik yang langsung menatapnya dengan mata terbelalak ketika mendapati dirinya duduk di sebelah Vano.
“Hai, aku duduk di belakang. Silahkan kamu duduk di sini ya,”
“Ayo masuk, Dek,”
Tidak ada yang menyuruh Elvina untuk pindah, termasuk Vano. Karena Vano tahu adiknya juga tidak akan keberatan semisal Elvina duduk di depan. Akan tetapi Elvina pindah atas inisiatifnya sendiri.
Begitu Davina duduk, Davina langsung menatap ke belakang, dimana Elvina sekarang duduk. “Ini yang Abang bilang itu?” Tanya Davina dengan penasaran.
Vano tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Dek, kenalin ini Elvina, mahasiswa Abang yang abang ceritain itu,”
Elvina langsung mengulurkan tangan ke arah Davina yang awalnya ragu, tapi karena melihat senyum ramah Elvina, akhirnya Ia langsung menyambut uluran tangan Elvina.
“Davina, adiknya Abang Vano,”
“Omay sekarang kita jalan ya,”
“Bentar, Abang kenapa nggak bilang kalau mau jemput aku?”
“Ya emang dadakan sih, tadinya mau pergi berdua sama Elvina tapi Elvina nya nggak mau akhirnya Abang ajak kamu, Dek,”
“Huh! Aku diikutsertakan karena nggak ada pilihan lain. Kalau nggak sama aku, Abang nggak akan bisa jalan sama Elvina, gitu ‘kan maksudnya?”
“Hahahaha, ya emang gitu sih kenyataan nya. Daripada nggak jadi pergi ‘kan, jadi Abang ajak kamu. Selain itu, Abang juga pengen kamu kenal sama Elvina,”
“Udah kenal, ‘kan Abang udah cerita tentang Elvina,”
Elvina menjadi pendengar yang baik ketika kakak dan adik di depannya itu terlibat pembicaraan yang topiknya adalah dirinya sendiri.
“Iya kamu udah kenal, tapi ‘kan belum pernah ketemu langsung,”
“Iya ini pertama kali,”
“Kamu mau kemana?”
“Ya terserah, aku ikut aja. Aku ‘kan cuma tamu di sini, bisa dibilang nyamuk lah. Aku ikut aja kemana Abang sama pacar Abang pergi,”
Elvina membelalakkan matanya. Pacar kata Davina? Astaga ya ampun, sekedar suka pada Vano saja belum. Bagaimana ceritanya bisa menjadi pacar? Davina sudah salah paham.
“El, kamu mau kemana?”
“Aku ikut Davina aja. Davina mau kemana? Mau ke mall?”
“Kok tanya aku?”
“Duh ribet ya kalau nanya perempuan, mana di mobil ini ada dua perempuan. Ya udah deh Abang aja yang nentuin,”
“Nah, itu bagus,”
Tidak sengaja Davina dan Elvina kompak menjawab Vano. Kekompakan mereka itu membuat Vano tertawa senang.
“Bisa kebetulan gitu ya jawabnya. Wah belum apa-apa udah bisa sehati aja nih kalian,”
“Elvina, sekarang semester berapa kalau boleh tau?”
__ADS_1
“Kamu ‘kan tau kalau Elvina lebih dewasa dari kamu, yakin mau manggil nama aja? Kalau mama papa dengar, kamu bisa diomelin lho, Dav,”
Vano mengingatkan adiknya bahwa memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kakak itu sangat baik sesuai dengan ajaran orangtua mereka. Dan selama ini baik Davina maupun dirinya sudah terbiasa akan hal itu. Tapi sepertinya kali ini Davina lupa.
“Oh iya, Kak El maksud aku,”
“Nggak apa-apa manggil aku nama aja, Dav. Kita ‘kan nggak beda jauh. Kamu kelas sebelas ‘kan?”
“Iya, El eh kak,”
“Nggak apa-apa, santai aja. Biar makin akrab panggil nama aja,”
“Tapi nanti aku diomelin sama Mama Papa, orang barusana aja Abang negur aku,”
“Ya karena emang biasanya kamu nggak lupa, Dek,”
“Iya maaf, Abang. Orang lupa wajarlah, masa—“
“Dav, biar kayak teman, panggilnya Elvina aja. Oh iya, tadi pertanyaan aku belum dijawab kamu beneran kelas sebelas ya? Kata Pak Vano tadi kamu masih kelas sebelas,”
“Iya benar, btw, kamu kok manggil Abang aku Pak sih? Emang Bang Vano bapak kamu?”
“Astaga, Davina,” Vano menggeram karena ucapan Davina yang sekarang malah membalik keadaan. Sebelumnya Ia menegur Davina supaya memanggil Elvina dengan sebutan ‘kakak’ walaupun Elvina bukan keluarga, masih asing bagi Davina tapi biasanya Davina tak mengenal siapa orang itu. Kali ini tumben Davina lupa dengan ajaran orangtuanya.
Setelah Vano yang menegur, sekarang gantian malah Davina yang menegur Elvina sebab Elvina memanggil abangnya dengan sebutan ‘Pak Vano’ itu terdengar aneh di telinga Davina yang mungkin lupa kalau status abangnya itu adalah dosen.
“Berhubung Pak Vano itu dosen aku, dan aku nggak mungkin manggil dengan nama aja. Makanya aku panggil Pak. Normalnya kalau manggil guru begitu ‘kan?”
“Oh iya aku lupa. Kamu ‘kan masih mahasiswi ya? Kamu mahasiswinya abang aku. Iya-iya, aku baru ingat, sorry,”
“Nggak apa-apa, aku maklum kok,”
“Semester berapa kamu, El?”
“Bentar lagi tujuh,”
“Gimana diajarin sama Abang aku, El?”
Vano langsung melirik Elvina dari kaca di depannya. Jujur Vano penasaran pandangan Elvina terhadap cara mengajarnya. Pertanyaan Davina sangat mewakili Vano yang penasaran. Tepat sekali Davina bertanya seperti itu. Selain penasaran dengan pandangan pribadi Elvina, Vano bisa jadikan jawaban Elvina sebagai pembelajaran bila memang ada yang kurang supaya diperbaiki.
“Menyenangkan, cepat paham sih kalau menurut aku,”
“Oh ya? Kamu muji abang karena lagi ada dia di sini atau gimana?”
Elvina terkekeh, Davina bertanya dan Ia menjawab jujur. Bukan karena sekarang ada Vano jadi Ia mau memuji Vano. Apa yang Ia katakan barusan memang fakta.
Vano kalau sudah mengajar mudah untuk dipahami, itu menurutnya. Penjelasan Vano tidak berbelit. Dan mungkin karena Vano terbilang dosen muda, suasana kelas jadi sangat cair karena Vano mengajar dengan santai, diselingi dengan canda sesekali.
“Kalau kamu nggak percaya nggak apa-apa, Davina,”
“Kamu tau nggak sih kalau Abang itu suka sama kamu dari lumayan lama lho, tanpa kamu tau,”
“Hmm iya, udah ngomong,”
“Terus kamu gimana?”
__ADS_1
“Ya nggak gimana-gimana, ‘kan mau kenal dulu,”