Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 41


__ADS_3

Ketika Rendra berbalik dengan membawa belanjaan yang sudah ditotal harganya, Rendra terkejut melihat Elvina dan mereka berdua spontan beradu tatap.


“Eh—hai Elvina,”


Elvina memilih bungkam dan maju lebih mendekat ke kasir mengabaikan Rendra yang menyapanya dan Vano yang melihat itu senang sekali.


“Nah begitu dong, jangan takut ketemu sama masa lalu,” batin Vano yang benar-benar merasa puas Elvina tak acuh, hanya bertatapan beberapa detik setelah itu pura-pura tidak kenal sampai akhirnya Rendra bergegas pergi bersama kekasihnya itu.


“Saya senang kamu bersikap seperti tadi,”


“Maksud kamu, Mas?”


“Ya, sikap kamu tepat. Hadapin dia dengan mendongakkan kepala, bukan malah menunduk. Karena kalau kamu menunduk dia bakal tau kamu belum bisa lupain dia dan dia bisa besar kepala. Dia harus liat kamu bisa bahagia tanpa dia,“ bisik Vano sambil mengusap kepala belakang istrinya dan mengecupnya singkat.

__ADS_1


Elvina memutar badannya menjadi berhadapan dengan sang suami, tak lagi menghadap meja kasir.


“Mas, menurut Mas, apa yang aku lakuin ini benar?”


“Iya, kamu nggak boleh terlihat menyedihkan, telihat cemburu di mata dia. Karena apa? Dia bisa besar kepala, dia bisa tepuk dada karena berhasil buat perempuan seberharga kamu susah move on,”


Elvina menghembuskan napas kasar. Apa yang dikatakan oleh Vano benar. Tapi ketika tadi harus bersikap pura-pura tidak kenal, sejujurnya Elvina sulit sekali. Bukan itu yang Ia inginkan.


“Mas senang, aku sedih, Mas,”


“Kenapa gimana sih, Mas? Aku sedih lah harus pura-pura nggak kenal sama dia sementara dia masih ada di sini,” ujar Elvina sambil menunjuk ke hatinya. Vamo sampai membeku mendengar pengakuan istrinya yang ternyata bukan dari hati bersikap seperti tadi pada Rendra padahal itu yang Vano inginkan. Setidaknya Elvina terlihat tidak menyedihkan di mata mantan kekasihnya itu.


“Nggak ada yang nyuruh kamu untuk bersikap seperti tadi. saya juga kaget sebenarnya. Tapi akting kamu bagus, lanjutin aja,”

__ADS_1


“Tapi aku sedih, Mas. Aku pengen nyapa dia sebenarnya tadi,”


“Ya terus kenapa nggak kamu lakuin?”


“Nggak—nggak tau, aku langsung aja bersikap kayak gitu, aku juga nggak tau kenapa langsung buang muka pas dia nyapa aku,”


“Ya udah berarti memang setengah dari diri kamu mau lupain dia tapi setengahnya lagi nggak mau,”


“Aku belum bisa move on, Mas. Aku—“


“Iya, Elvina. Saya tau kok, kamu memang belum bisa ngelupain masa lalu kamu. Udahlah nggak usah dibahas lagi. Toh dia juga udah nggak ada. Kalau mau nyapa dia, lari aja sekarang, mungkin dia masih di parkiran,” ujar Vano yang sebenarnya setengah hati. Di lubuk hatinya yang paling dalam Ia tidak ingin istrinya melakukan apa yang Ia katakan barusan. Tapi di lain sisi Ia juga kesal melihat Elvina menyesali sikapnya tadi padahal menurutnya sudah benar. Untuk apa lagi basa-basi, karena mereka sudah berakhir.


Vano bisa melihat tatapan ragu di mata Elvina. Hati Vano tergores, apalagi ketika Elvina tiba-tiba berlari keluar tentu dnegan tujuan menemui Rendra.

__ADS_1


Vano menghembuskan napas kasar lalu menggelengkan kepalanya sambil bergumam “Kamu benar-benar sudah menggilai dia, El. Saya nggak tau sampai kapan saya bertahan di atas prinsip saya yang mau buat kamu jatuh cinta sama saya. Semoga saya kuat untuk terus berjuang mempertahankan apa yang sudah kita mulai ini,”


__ADS_2