Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 60


__ADS_3

“Saya jemput nanti ya,”


“Aku mau pergi ke rumah teman aku nanti boleh nggak, Mas?”


“Jadi nggak mau saya jemput?”


“Nggak usah, aku mau main di rumah teman sebentar,”


“Udah ada kesepakatan sebelumnya?”


“Udah kok, dia ngajakin aku sama yang lainnya. Dia ulang tahun dan dia mau kumpul di rumah dia, Mas,”


“Siapa nama teman kamu? Saya minta nomor teleponnya boleh ya?”


Vano merasa perlu tahu siapa teman istrinya itu. Supaya lebih mudah saja memonitoring istrinya nanti. Kalau senadainya Elvina tidak bisa dihubungi, Ia bisa menghubungi nomor telepon teman Elvina itu.


“Namanya Shela,”


“Saya minta nomor telepon dia,”


“Hah? Minta nomor telepon teman aku?”


“Ya iyalah masa saya minta nomor telepon kamu? Nggak mungkin. Saya ‘kan udah punya nomor telepon kamu,”


“Ngapain sih, Mas?”


“Kamu nggak percaya sama aku? Emang harus ya aku ngasih nomor telepon teman aku ke kamu, Mas?”


“Ya biar saya gampang cek kamu, Elvina. Kalau kamu tiba-tiba nggak bisa dihubungi, jadi saya bisa hubungi teman kamu itu. Hanya untuk mastiin aja kalau kamu baik-baik aja. Jangan salah paham dong. Saya bukan nggak percaya sama kamu. Saya cuma mau mastiin kamu baik-baik aja,”


“Ya udah ntar aku kasih,”


“Sekarang aja sebelum kamu keluar dari mobil,” ujar Vano yang tidak ingin Elvina lupa memberikan nomor telepon temannya itu. Kalau ditunda-tunda bisa lupa.


“Ya udah deh sekarang aja,”


Alhirnya Elvina belum jadi keluar dari mobil. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kemudian Ia mencari nomor telepon Shela setelahnya Ia berikan kepada sang suami yang aegera menyimpannya di dalam daftar kontak ponselnya.


“Nah, kalau kayak begini enak untuk cek kamu nya. Okay selamat kuliah, nanti kalau misalnya perlu jemputan saya jangan sungkan bilang,”


“Aku mau pulang sama teman-teman aku aja, Mas boleh langsung ke rumah aklau udah ngajar ya,”


“Saya jemput aja sih,”


“Ih kenapa maksa?”


“Ya biar saya tenang,”


“Nggak usah, Mas. Aku diantar sama teman aku nanti,”


“Teman kamu? Siapa yang bakal antar kamu?”


“Shela,”


“Oh Shela yang mau antar kamu?”


“Iya,”


“Yang ngajakin kamu ke rumahnya itu ‘kan?”


“Iya betul, dia yang ngajakin ke rumah dan dia juga bilang bakal antar aku pulang. Jadi Mas nggak perlu jemput aku. Lagian ya, Mas, jarak rumah Shela tuh nggak jauh kok,”


“Ya udah kalau gitu. Tapi kabarin ya kalau udah sampai sana dan udah mau pulang,”


“Iya, aku selalu ngabarin, emang selama ini gimana?”

__ADS_1


“Kamu harus diingatkan dulu baru deh ngabarin,”


Elvina terkkeeh mendengar Vano menyindirnya. Kemudian Ia mengusap lengan Vano sekilas. Menengakan Vano sambil berkata “Iya nanti aku kabarin ya, Mas,”


“Saya tunggu,”


“Okay siap,”


Elvina keluar dari mobil setelah mencium tangan suaminya. Kemudian disusul oleh Vano yang tentunya beda tujuan dengan istrinya. Elvina ke kelas, sementara Ia ke ruangan dosen.


******


“Nyar jadi ya ke rumah gue,”


“Iya jadi, udah izin kok,”


“Izin sama siapa? Ah elah, nggak single nggak nikah, lo mah rajin izin emang,”


“Ya harus dong, Shel,”


Begitu Elvina duduk, Shela langsung memghampiri Elvina dan memastikan Elvina jadi datang ke rumahnya.


“Jadi lo udah izin sama suami lo ‘kan?”


“Iya udah kok, dan gue diizinin,”


“Asik dikasih izin hahaha,”


“Ya pastilah, Mas Vano nggak akan mungkin ngekang gue,”


“Kalau ngekang namanya egois dong,”


“Sejauh ini sih nggak, ya semoga aja gitu terus,”


“Lo nya egois nggak?”


“Heh, kok diam?”


“Gue egois atau nggak?”


“Iya gue tanya itu,”


“Hmm nggak sih kayaknya. Sejauh ini aman-mana aja,”


“Lah kok kayaknya? Yang benar aja jawabnya, El,”


“Iya nggak kok, gue nggak egois,”


“Ya baguslah kalau begitu,”


“Ya udah kita tidur yuk,”


“Hah? Kok tidur? Kuliah woy, malah tidur,”


“Hahahaha bercanda, Sayang. Hangan baper gitu dong,”


“Ih sayang-sayang,”


“Lo sering ya dipanggil sayang sama Pak Vano? Eh kita ngobrol random yuk. Mumpung belum datang itu dosennya,” ujar Shela seraya nenarik salahs atu kurai dupaya duduk dekat dnegan Elvina.


“Nggak lah, mana pernah,”


“Nah kalau lo sendiri?”


“Nggak pernah juga,”

__ADS_1


“Yeee sama aja ternyata,”


“Hahahaha emang kaku kami berdua,”


Elvina mengingat-ingat apakah pernah Ia dan Vano saling memanggil mesra satu sama lain. Ternyata menurut ingatannya baik ia ataupun Vano tidak pernah memanggil mesra satu sama lain. Hanya nama saja.


“Berarti nggak mesra dong?”


“Hmm biasa aja sih,”


“Jangan kaku-kaku, ntar jadinya kaku selamanya,”


“Ya harus gimana dong?“


“Ya jangan kaku, panggil mesra dong suaminya,”


“Ya masalahnya gue nggak biasa, Mas Vano juga sama. Nggak ada panggilan mesra juga nggak apa-apa sih. Panggil nama okay juga,”


“Eh Pak Vano itu sikaonya sama nggak sih kalau di rumah?”


“Apa yang lo liat di kampus ya itu yang gue liat di rumah. Cuma bedanya di rumah lebih banyak interaksis ama gue aja, kalau sikap sih sama aja,”


“Nggak ada beda?”


“Ya paling itu tadi, lebih sering interaksi sama gue, terus dia perhatian ke gue kalau di kampus ‘kan perhatiannya ya buat semua mahasiswa dia nggak bisa buat gue semuanya, terus—-dia baik banget deh pokoknya,”


“Ah jadi pengen nikah,”


“Ya udah nikah gih buruan, gue dukung,”


“Dukung-dukung aja lo! Calonnya dimana dulu nih? Nggak ada!”


“Mau gue cariin nggak? Gue bantuin deh,”


“Yang spek modelan kayak Pak Vano nggak ada, El?”


“Hahaha nggak tau ya dapat lagi atau nggak,”


“Carinya dimana sih?”


“Lah, dia mah nggak dicari emang tiba-tiba nongol aja itu,”


“Cariin dong yang mirip Pak Vano,”


“Apanya yang mirip? Mukanya? Karir? Pendidikan?”


“Ya semuanya lah, gila! Masa gue pilih-pilih? Gue mau spek model Pak Vano, karir, gantengnya, semua sama deh pokoknya,”


“Ya udah jadi gue dulu kali,”


“Ya gimana jadi lo? Caranya gimana coba?”


“Hahahaha bercanda. Gue juga nggak tau kenapa dia mau sama gue,”


“Harus kayak gimana sih supaya dapat dosen?”


“Ih nggak tau, lo selama ini liatnya gue gimana?”


Shela langsung menatap Elvina dari atas sampai bawah kemudian menggelengkan kepalanya. “Lo nggak gimana-gimana sih, biasa aja. Ya berarti emang udah jodohnya aja kali ya,”


“Nah itu dia,”


“Ntar lulus kuliah cari ah yang spek Pak Vano kali aja ada yang nyangkut,”


“Daging kali ah, nyangkut di gigi,”

__ADS_1


“Hahahaha,” Shela mendorong bahu Elvina yang mencibirnya.


__ADS_2