Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 114


__ADS_3

“Huek,"


Sejak tadi Elvina menikmati durian yang dibawakan suaminya, tapi ketika durian akan habis, Ia justru mau muntah.


"Ya Allah, Ibu kenapa?"


Elvina langsung berlari ke dapur untuk membuang yang mendesak diperutnya. Tapi durian yang Elvina makan hanya keluar sedikit saja.


Elvina langsung menghembuskan napas lega begitu ada yang berhasil Ia keluarkan dari perutnya karena sedari tadi sudah mendesak.


"Kayaknya aku kebanyakan makan duren nih," ujar Elvina pada Amih yang segera membasuh tangannya di kamar mandi yang ada di dekat tangga lalu kemudian mengambil minyak aromaterapi dan Ia balurkan di tengkuk Elvina.


"Ya udah jangan dilanjut berarti, Bu. Daripada nanti mual lagi,"


"Iya emang aku nggak mau makan itu lagi, Mih. Aku udah kenyang banget,"


"Saya pikir Ibu nggak doyan lagi sama duren, kayak telur sama tempe kemarin,"


"Nggak kok, Mih. Aku masih doyan, cuma kayaknya udah kebanyakan deh,"


"Ah padahal menurut saya nggak tuh, Bu. Biasa aja, nggak banyak Ibu makannya,"


"Udah kenyang, Mih. Kalau emang masih ada, habisin aja ya, Mih,"


"Iya kalau Ibu emang benar-benar nggak mau lagi,"


"Nggak kok, Mih. Aku udah kenyang. Aku mau istirahat aja,"


"Ya udah saya antar ke kamar ya, Bu,"


Elvina mengangguk, setelah muntah tadi, Ia agak lemas dan pusing. Hanya saja Ia tidak mau mengatakan itu pada Amih karena takut Amih, asisten rumah tangganya itu khawatir.


"Perlu ke rumah sakit, Bu? biar saya kasih tau Pak Ken,"

__ADS_1


"Nggak usah, Mih. Aku baik-baik aja kok, cuma kekenyangan aja barusan,"


"Ya udah Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Berarti Ibu istirahat aja ya, kalau butuh apa-apa tinggal panggil saya, mudah-mudahan nggak mual lagi,"


"Iya aamiin,"


Belum diberitahu soal lemas dan kepalanya yang sakit saja, Amih sudah mau memberitahu Vano. Elvina tidak mau kemana-mana selain tempat tidur. Itupun tempat tidur di rumah bukan tempat tidur di rumah sakit.


Setelah mengantar Elvina di kamar dan memastikan Elvina tidur nyaman, Amih segera keluar dari kamar.


"Mih, bentar deh. Kayaknya air minum aku udah habis, aku minta tolong isiin ya, Mih,"


"Oh iya siap, Bu,"


Amih segera meraih gelas Elvina sebelum Ia benar-benar meninggalkan kamar majikannya itu. Kemudian Ia bawa ke lantai bawah untuk Ia isi hingga penuh dan Ia bawa lagi ke kamar majikannya itu.


"Ini minumnya ya, Bu,"


"Sama-sama, Bu. Saya keluar dulu ya, Bu," pamit Amih sebelum mengayun langkahnya meninggalkan Elvina yang berbaring di atas tempat tidur kamarnya.


Elvina menganggukkan kepalanya membiarkan Amih meninggalkan dirinya di kamar.


Elvina segera memejamkan mata untuk tertidur sebentar, barangkali dengan begitu pusing yang dirasakan olehnya bisa hilang.


Tak perlu menunggu waktu lama, Elvina sudah terpejam. Matanya menutup tanpa celah dan deru napasnya juga sudah teratur sekali menandakan bahwa Ia sudah mulai terlelap.


Karena Elvina tidur, akhirnya Elvina tidak mengurusi ponselnya lagi maka dari itu ketika suaminya menghubungi ingin bertanya bagaimana rasa durian yang Ia bawa dan apakah sudah habis atau belum, Elvina tidak bisa menjawabnya karena Ia tidur.


Akhirnya Vano menghubungi Amih karena Ia khawatir sudah tiga kali Elvina tidak menjawab teleponnya terus.


Amih yang tengah membereskan bekas makan durian di meja makan langsung menghentikan kegiatannya untuk menjawab panggilan Vano.


"Assalamualaikum, Mih,"

__ADS_1


"Waalaikumsalam, iya ada apa, Pak Vano?"


"Elvina dimana ya? kok dia nggak angkat-angkat telepon saya ya, Mih?"


"Oh Ibu mungkin udah tidur, Pak,"


"Tidur? tumben, terus durennya belum dimakan dong?"


"Udah, Pak. Belum habis durennya, Ibu muntah, terus saya suruh istirahat. Kayaknya sekarang udah tidur,"


"Hah? muntah, Mih? beneran kamu?"


"Iya beneran, Pak. Ibu muntah, kata Ibu kekenyangan makan duren,"


"Ya Allah, terus gimana? dia ngeluh yang lain nggak? kok tumben ya muntah gara-gara makan duren,"


"Katanya karena terlalu kenyang makan duren, padahal kalau kata saya nggak juga, Pak. Ibu belum banyak makan duren kok,"


"Ya udah deh, makasih ya, Mih. yang penting dia nggak apa 'kan?"


"Nggak apa-apa, Pak. Ibu aman, sekarang kayaknya udah tidur makanya udah nggak angkat telepon Pak Ken lagi,"


"Okay kalau begitu makasih ya, Mih,"


"Sama-sama, Pak,"


Kalau bukan dari Amih, Vano tidak akan tahu kalau istrinya mengalami mual muntah setelah menyantap buah durian.


Vano memang patut mempertahankan Amih di rumahnya sampai batas dimana Amih merasa tak nyaman lagi di rumah, atau memang Amih yang tidak mau bertahan. Karena Amih itu benar-benar bisa diandalkan. Ketika Vano dibuat cemas dengan Elvina karena Elvina tidak menjawab panggilannya ada Amih yang bersedia memberikan penjelasan sehingga Ia bisa sedikit merasa tenang.


"Kok aneh ya. Abis makan duren malah muntah. Biasanya nggak begitu," gumam Vano setelah sambungan teleponnya bersama Amih berakhir.


"Aduh, ada-ada aja kamu, El. Bikin aku khawatir aja, gara-gara duren aku jadi khawatir gini. Padahal biasanya nggak pernah muntah-muntah karena duren. Makin hari makin aneh aja. Kemarin tempe, kemarinnya lagi telur, sekarang duren. Nanti apalagi yang bikin Elvina mual, yang biasanya nggak pernah mual gara-gara itu, eh sekarang tiba-tiba beda,"

__ADS_1


__ADS_2