Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 101


__ADS_3

Elvina langsung bergegas ke kamar untuk mengambil ponselnya usai melepas kepergian Vano, bahkan Ia sampai meninggalkan sarapannya yang belum habis. Ia harus segera bertanya pada Jona mengenai tujuan Jona yang datang pagi-pagi ke rumah.


Elvina membawa ponselnya ke meja makan sebab Ia ingin melanjutkan sarapannya yang sebenarnya belum selesai.


Di tangga Ia sambil menghubungi Jona yang ada-ada saja perangainya pagi-pagi sudah membuat Ken sinis dengannya.


"Wajar enggak sih Mas Vano sinis kayak tadi? Soalnya emang Jona ini aneh. Tiba-tiba datang enggak kasih kabar sama sekali,"


Elvina tiba di ruang makan dan langsung duduk menghadap sarapannya tapi belum lanjut makan karena masih menunggu Jona menjawab panggilannya.


Ketika panggilan keduanya dijawab, Elvina langsung tersenyum lega. Jona segera menyapanya hangat seperti biasa.


"Halo, El,"


"Eh, El, sorry ya gue ganggu nih. Tadi gue datang ke rumah lo niatnya mau ngajakin lo cari kado buat nyokap gue,"


"Bukannya udah gue kasih saran di chat semalam?"


"Iya cuma gue masih bingung. Lo cuma bilang tas aja, sementara tas 'kan banyak, Elvina,"


"Ya udah lo perhatikan aja tipe tas yang disukai sama nyokap lo itu apa? Yang formal gitu atau non formal. 'Kan banyak tuh macam-macam tas, tinggal lo pilih deh. Lo 'kan punya duit pasti lah enggak keberatan mau ngeluarin sebanyak apa juga untuk hadiah nyokap lo,"


"Nah itu dia, gue udah beli mahal-mahal nanti terus kalau nyokap gue enggak suka gimana?"


"Pasti suka lah, Jon. 'Kan yang beliin anaknya, gimana sih?"


"Oh jadi lo enggak bisa bantu gue pilihin ya? Lo lagi sibuk ya?"


"Bukan enggak bisa, cuma gue harus izin dulu sama suami gue. Enggak bisa janji ya,"


Baru juga membaik, Elvina tidak ingin hubungannya dengan Vano kembali memanas. Lagipula Ia sudah janji pada Vano untuk tidak mencari masalah.


"Oh ya udah coba izin aja sama suami lo dulu, tapi emang suami lo udah balik? Kata lo lagi pergi 'kan? Makanya gue juga berani ngajak lo karena gue pikir suami lo lagi enggak ada ini, jadi enggak bakal ada yang cemburu," ujar Jona seraya terkekeh. Tidak tahu saja Ia kalau Vano pernah melihat sosoknya yang pergi bersama Elvina.


"Suami gue udah balik,"


"Ya udah coba izin aja, enggak baik pergi tanpa izin suami, aseekk. Gue tutup teleponnya ya?"


"Jangan ngira suami gue enggak cemburu ya, Jon. Bisa ribet urusannya kalau dia udah cemburu. Biasa lah, dia itu udah cinta mati sama gue, makanya takut banget kehilangan gue,"


"Enggak usah terlalu kepedean gitu, ditinggalin aja mampus lo,"


"Dih enggak bakal. Yang ada juga gue kali yang ninggalin dia duluan,"


Vano memulai pembahasan soal perceraian saja, Elvina tidak terima sedikitpun. Apalagi kalau Vano yang meninggalkannya lebih dulu. Elvina itu terbiasa dominan dan selalu yakin bahwa lelaki yang mencintainya itu tak akan pernah bisa meninggalkannya.


"Ya udah, bye. Jangan lupa minta izin ya!"


"Yoi, nanti gue kabari lagi,"


Elvina meletakkan ponselnya di atas meja makan kemudian Ia kembali menyantap makan paginya yang masih tersisa sedikit lagi.


"Mih, nanti aku mau pergi ya,"


Amih yang kebetulan akan mengangkat peralatan makan milik Vano untuk Ia basuh langsung menoleh pada Elvina yang bicara padanya.


"Pergi, Bu?"


"Iya sama teman, cuma belum pasti sih, soalnya aku harus ngomong dulu sama Mas Vano, nanti kalau nggak ngomong ribet urusannya, dia 'kan rempong,"


"Iya, Bu,"


"Belum tentu jadi pergi tapi yang penting aku udah pamit sama kamu,"


"Kalau boleh tau mau pergi kemana, Bu?"


"Sama Jona, cari kado untuk mamanya yang mau ulang tahun,"


"Oh Pak Jona yang tadi datang ke sini ya, Bu? Ternyata datang karena mau ngajakin pergi? Benar kata Pak Vano berarti ya,"


"Iya, cuma dia enggak bilang dari awal kalau mau ngajakin cari kado, tiba-tiba udah di rumah aja, akhirnya Mas Vano jadi mikir yang aneh pasti, apalagi Mas Vano pernah ketemu juga sama Jona waktu itu,"


"Itu cuma teman jadi Pak Vano pasti paham, Bu,"


"Buktinya tadi dia kelihatan agak kesal, dia itu tau kalau Jona memang akrab banget sama aku,"


"Iya akrab sama teman 'kan memang harus, Bu,"


"Mas Vano belum tentu memaklumi. Apalagi kalau dia tau sebenarnya Jona itu mantan aku juga, ya walaupun memang cinta monyet sih,"


"Oalah jadi Pak Jona itu mantannya ibu ya? Baru tau saya nih,"


"Memang baru Amih yang aku kasih tau, Mas Vano belum tau sama sekali, karena emang belum sempat aja aku cerita ke dia,"


"Enggak usah cerita kalau malah bikin ibu sama Pak Vano berdebat, saran saya begitu,"


Elvina terkekeh karena Amih menasihatinya pasti Amih tahu betul tentang dirinya dan Vano. Sebentar-sebentar ada masalah, dan puncaknya kemarin Vano tidak pulang berhari-hari. Amih tidak suka melihat mereka jauh. Ia senang kalau majikannya terus bersama dengan keadaan yang damai, tanpa ada masalah yang bisa menciptakan pertengkaran.


"Aku nggak bisa bayangin kalau enggak ada kamu, Mih. Kamu itu bisa jadi teman, orangtua, pokoknya lengkap deh. Aku bersyukur bisa kenal kamu, Mih,"


"Saya apalagi, Bu. Biarpun Ibu kadang galak, egois, keras kepala, tapi saya tau hati ibu baik,"


Elvina tertawa karena cuma Amih yang berani menyebut semua kekurangannya yang membuat Ia terlihat menyebalkan di mata siapapun.


"Terimakasih udah di samping aku, aku jadi enggak kesepian. Aku kadang kesepian makanya jadi suka enggak betah di rumah,"

__ADS_1


"Makanya program anak coba, Bu. Biar bisa hamil lagi,"


"Enggak ah, aku enggak mau punya anak,"


"Hah?"


Amih sampai terperangah mendengar ucapan Elvina. Serius Elvina yang berkata seperti itu? Elvina sudah menikah, dan biasanya kalau perempuan sudah menikah memiliki keinginan yang besar untuk mempunyai keturunan, tapi Elvina dengan terang-terangan mengungkapkan ketidak inginannya.


"Iya, aku enggak mau punya anak,"


"Kenapa, Bu? Bukannya kalau udah nikah malah mau punya anak ya? Supaya rumah jadi rame, terus pernikahan lebih berwarna dan keluarga terasa lengkap,"


"Iya, cuma aku enggak mau, Mih. Oh mungkin bukan enggak mau tapi belum mau kali ya,"


"Nah kalau begitu kedengaran agak wajar, Bu, saya enggak begitu kaget dengarnya, karena memang ada pasangan yang mau nunda karena satu dan lain hal, contohnya lagi mau pacaran dulu berdua, karena pacaran setelah nikah lebih nikmat. Ibu sama Pak Vano mau pacaran dulu ya? Makanya belum mau punya anak?"


Elvina hanya terkekeh saja menanggapi ucapan Amih. Selama Ia belum bisa menerima Vano di dalam hatinya atau mencintai lelaki itu, Ia tidak siap memiliki anak dengan Vano.


"Ya udah puas-puasin aja dulu pacaran berdua, Bu. Nanti kalau udah punya anak, pasti jarang banget bisa pacaran,"


"Hadeh kamu nih ngomongin anak terus deh. Aku bosan ah, enggak mau bahas anak lagi,"


"Maaf kalau ibu enggak nyaman," ucap Amih seraya terkekeh. Ia segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda barusan yaitu membasuh peralatan makan milik Vano yang tadi gunakan Vamo untuk sarapan.


Elvina menyudahi makannya lantas Ia bergegas ke kamar untuk menghubungi Vano. Sebelum Ia memberi kabar pada Jona mengenai jadi atau tidaknya Ia menemani Jona untuk cari kado, Ia harus menghubungi Vano terlebih dahulu untuk meminta izin.


"Halo, Mas,"


"Iya, kenapa?"


"Kamu udah sampai kampus atau masih di rumah teman?"


"Masih di rumah teman,"


"Oh ya udah deh, aku telepon lagi nanti ya, setelah udah di kampus tolong kasih tau aku,"


"Hmm okay,"


Usai mendengar jawaban singkat Vano, Elvina menyudahi sambungan telepon mereka. Vano nanti tidak nyaman bila Ia bicara di telepon mengenai Jona. Karena sekarang ini Vano sedang berada di rumah temannya. Takutnya mereka tengah berbincang, namanya juga sedang bertamu, pasti Vano diajak berbicara dulu.


Elvina harus menunggu sampai Vano memberitahu bahwa Vano sudah tiba di kantor. Sekarang sambil menunggu Vano menghubunginya, Elvina memutuskan untuk menata tempat tidurnya yang tidak rapi setelah itu Ia langsung berbaring setelah rapi.


Mungkin menunggu Vano akan tidak terasa lama bila Ia membuka-buka sosial media. Akhirnya Ia melakukan itu.


Setelah Vano memberitahu lewat pesan bahwa Ia sudah di kampus, Ia langsung menghubungi Vano yang segera dijawab oleh pria itu.


"Kenapa tunggu aku sampai kampus dulu? Ada yang mau kamu omongin ke aku?"


"Iya, aku mau keluar sebentar boleh enggak?"


"Beneran? Enggak marah 'kan?"


"Enggak lah, asal aku tau kamu pergi kemana, aku enggak bakal marah atau larang, memang kamu mau pergi kemana?"


"Mall aja paling,"


"Okay, hati-hati ya. Cuma sendiri aja? Atau ajak Amih? Atau sama teman-teman kamu?"


"Sama Jona, kira-kira boleh enggak?"


"Ngomong sama Jona pas udah belakangan ya,"


Elvina terkekeh mendapat sindiran halus itu dari Vano yang kesal sebab tak sejak awal istrinya mengatakan bahwa Ia ingin pergi dengan Jona.


"Jadi enggak boleh nih?"


"Boleh, terserah mau pergi kemana dan sama siapa, lagian kamu juga udah ngabarin aku. Pergi lah, tapi hati-hati,"


"Seriusan? Kamu enggak cemburu?"


"Buat apa cemburu?"


"Hah? Jadi kamu enggak cemburu lagi, Mas?"


"Ya enggak penting juga cemburu, orang kamu aja enggak peduli kok mau aku cemburu atau enggak. Udah dulu ya, aku mau mulai kerja nih,"


"Iya, aku bakalan pergi sama Jona berarti boleh ya?" Tanya Elvina guna memastikan. Jangan sampai nanti Vano berubah pikiran dan Ia keburu sudah jalan.


"Iya, Elvina,"


"Okay, bye,"


Vano mendengus pelan. Rupanya karena mau minta izin untuk pergi dengan Jona, pantas Elvina telepon pagi dan terkesan tiba-tiba.


"Ternyata bener Jona datang ke rumah karena mau ngajakin jalan. Ah udah lah, terserah kamu, Elvina. Mau gimana pun, aku udah malas ngomong, nanti jadinya malah ribut,"


Walaupun Elvina sudah mengatakan bahwa Jona itu temannya tapi tetap rasa cemburu di hatinya itu masih ada.


Tapi kalau Ia larang, Elvina belum tentu bisa terima, nanti yang ada malah timbul perdebatan, Elvina menganggap bahwa Ia melarang ini itu, mengekang, egois, dan segala macamnya. Jadi selagi Elvina berkabar, Ia sebisa mungkin tidak mau mempermasalahkan Elvina mau kemana. Yang terpenting baginya adalah tahu tempat tujuan Elvina. Sehingga Ia tidak merasa cemas.


****


Elvina menunggu kedatangan Jona di halaman depan rumah. Jona mengatakan ingin menjemputnya dan mereka langsung ke mall.


Tidak lama Elvina duduk, Jona datang dengan mobil hitamnya. Jona sengaja tidak memarkirkan mobil di dalam garasi melainkan di luar gerbang rumah Elvina. Jona keluar dari mobil dan Elvina langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Lo udah lama nunggu?"


"Enggak,"


"Ya udah ayo kita berangkat, biar enggak lama-lama carinya,"


Elvina pamit pada penjaga rumah setelah itu Ia masuk ke dalam mobil Jona. Penjaga rumah bertanya-tanya dalam hati.


"Itu kayaknya teman Ibu ya? Mau pergi kemana itu?"


"Ah harusnya nggak boleh penasaran," ujarnya lagi seraya menggelengkan kepalanya pelan.


****


"Jadi aman nih ya kalau gue pergi sama lo? Udah dipastikan dapat izin dari suami lo 'kan?"


"Aman lah, kalau gue enggak dapat izin, gue enggak bakalan naik mobil lo ini, Jon,"


"Lo jujur ke suami lo kalau mau jalan sama gue?"


"Jujur kok, dan dia langsung kasih izin,"


"Enggak kelihatan cemburu?"


"Dia cemburu terus sebenarnya, cuma santai aja,"


"Berarti nggak beneran cemburu kali itu, enggak cinta sama lo lagi mungkin,"


"Ya elah, ada-ada aja ini anak kalau ngomong,"


Jona tertawa setelah membuat Elvina ketar-ketir tapi nyatanya Elvina santai saja. Vano selalu cemburu dengan siapapun Ia akrab tapi sepertinya kali ini lebih cuek dari biasanya, entah karena apa.


"Sampai kapanpun Mas Vano bakal tetap cinta sama gue, Jon,"


"Lo sendiri gimana?"


"Gimana apanya nih?"


"Cinta doi juga enggak?"


"Iya namanya suami, masa enggak cinta sih?"


"Duh, meleleh dah,"


Kalau Elvina mengatakan yang sesungguhnya, entah bagaimana reaksi Jona. Sewajarnya suami istri itu saling mencintai maka Ia menjawab seperti itu walaupun kenyataannya masih dalam proses.


Tak ada obrolan lagi diantara mereka. Mobil Jona tiba di area parkir mall. Mereka langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall.


"Lah kok pada belum buka,"


"Orang baru jam sembilan, biasanya jam berapa sih? Gue jarang ke mall,"


"Biasanya jam sepuluh, kita tunggu aja dulu,"


"Gue belum sarapan nih, kita sarapan aja dulu, gimana?"


"Gue udah tadi di rumah, lo aja yang sarapan,"


"Ya udah lo ikut gue lah,"


Elvina mengangguk setuju. Ia membebaskan Jona untuk memilih makanan apa. Sementara Jona malah minta pendapatnya.


"Kalau bubur ayam aja, gimana?"


"Kita keluar lagi berarti ya? Buat cari bubur,"


"Iya,"


Keduanya meninggalkan mall yang masih sepi untuk mencari sarapan bubur ayam. Elvina sudah sarapan, Jona yang ternyata belum sarapan. Daripada bosan menunggu, Jona pikir lebih baik mengisi perutnya.


Mereka berjalan sedikit ke sisi kanan mall yang ternyata ada penjual bubur, tapi lumayan ramai pembeli. Jona dan Elvina terlalu malas mencari penjual bubur yang lain, akhirnya mereka beli di sana.


"Lo duduk aja, beneran enggak mau makan?"


"Enggak usah, lo aja,"


Jona menyuruh Elvina untuk duduk di dalam warung tenda bubur. Sementara Jona sendiri mengantre untuk membeli bubur. Hanya ada dua orang yang tengah dilayani selain Jona.


Setelah melayani mereka berdua, giliran Jona yang dibuatkan bubur. Jona hanya memesan satu porsi saja karena Elvina bilang tadi sudah sarapan.


Setelah buburnya jadi, Jona membawanya ke meja dimana Elvina berada. Ia memesan dua minuman untuknya dan juga Elvina.


"Lo beneran enggak mau nih? Kayaknya enak lho,"


"Enggak ah, gue udah sarapan di rumah tadi,"


"Ya udah tuh minum dong jeruk hangatnya, masa bubur enggak mau terus minum juga enggak mau,"


Elvina mengangguk dan segera menyeruput minuman jeruk hangat yang disediakan untuknya atas pesanan Jona.


"Coba deh,"


Elvina menggeleng ketika sebuah sendok mengarah ke mulutnya. Jona ingin Elvina ikut mencicipi karena rasanya agak canggung hanya makan sendirian, akan tetapi Elvina menggeleng.


"Udah enggak suap-suapin gue deh, nanti ada yang foto terus sampai ke suami gue, baru tau rasa lo,"

__ADS_1


Jona tertawa karena kelakar Elvina yang rasanya tidak akan mungkin terjadi. Tapi kalaupun iya, tidak masalah. Ia hanya ingin Elvina mencicipi buburnya saja.


__ADS_2