Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 80


__ADS_3

“Mas, aku masa tiba-tiba dapat kiriman dari orang inisialnya B. Siapa ya kira-kira, Mas? Kok aku takut ya?”


Vano langsung meninggalkan ranjang dan laptop yang sedang Ia pangku begitu mendengar ucapan sang istri yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa satu bingkisan.


“Dari orang nggak dikenal maksud kamu?” Tanya Vano seraya meraih bingkisan yang ada di tangan istrinya.


“Ya kata si kurir pengantarnya itu dari Mas B. Udah itu doang dia bilangnya,”


“Coba kamu buka,”


“Kamu aja, Mas. Aku takut, jangan-jangan itu sesuatu yang aku takutin,”


Elvina langsung mengambil langkah mundur. Alih-alih membuka sendiri bingkisan itu, Elvina menyuruh suaminya saja yang melakukan itu. Ia tidak berqni membuka bingkisan karena takut isinya sesuatu yang membuat Ia takut.


“Lah kamu ajdiin saya tumbal nih ceritanya?”


Di tengah ketegangan yang terjadi, Vano malah memancing istrinya tertawa. Elvina langsung menepuk lengan suaminya yang bertanya dengan polos.


“Nggak gitu, Mas!”


“Ya terus? Kamu nyuruhs aya yang buka bingkisan ini karena kamu takut, nah kamu suruhs aya yang buka. Artinya kamu numbalin saya ‘kan?”

__ADS_1


“Ih aku takut, Mas. Aku nggak ada niat mau jadiin kamu tumbal tapi aku cuma mau minta tolong, kamu aja yang buka bingkisan itu. Aku nggak berani takutnya isi bangkai binatang atau apa gitu yang bikin aku takut,”


Vano terkekeh dan mengusap puncak kepala Elvina singkat. Ia menenangkan Elvina yang kelihatan cemas.


“Nggak usah takut, biar saya yang buka ya,”


“Yeayy makasih, Mas. Semoga kamu berani ya,”


“Berani, saya yakin ini isinya nggak aneh-aneh. Tadi agak cemas juga sih dikit tapi demi kamu saya hilangin cemas itu dan sekarang saya berani,”


“Ya udah buruan buka bingkisan itu aku nggak sabar pengen liat isinya. Apa isi yang bagus atau justru—-hih jangan sampai,”


“Kalau senadainya ini isi bayi gimana, El?”


Vano tersenyum melihat kecemasan di wajah Elvina semakin bertambah. Ia langsung memarik puncak hidung sang istri.


“Ya doalnya zaman sekarang udah makin banyak orang yang tega. Jangankan nitipin bayi ke irang lain yang nggak dikenal, orang ngabisin nyawa orang aja udah gampang banget di zaman yang udah modern ini. Ngeri banget, kita perlu waspada terus karena kejahatan dimana-mana,”


“Mas, orng yang nitipin bayi ke orang lain itu mungkin dia emang udah benar-benar nggak bisa ngurus bayinya karena ekonomi, atau karena al lain yang bikin dia terlaksa nitipin bayinya ke orang lain yaw alaupun kasian banget sih sama bayinya,”


“Ya pasti ada alasan, tapi dari awal kenapa menghadirkan bayi? Tahan nafsu aja, beres,”

__ADS_1


Elvina mencubit lengan Vano yang pembahasannya jadi kemana-mana. “Kadang ada yang suka kebobolan lho, Mas,”


“Ya udah sekarang kita buka bingkisan ini dkanpa ajdi bahas yang lain sih?”


“Ya orang kamu duluan yang bahas begituan. Dih kamu nggak jelas banget,”


“Bismillah ya, Mas, aku doain semoga bingkisan itu bukan yang aneh-aneh isinya,”


“Aamiin, doakan suamimu ini,” ujar Vano sambil keriah tangan Slvina dan menggenggamnya sebentar. Perlakuan Vano itu mengundang tawa Elvina.


“Lebay banget sih, orang cuma buka bingkisan,”


“Ya saya agak deg-degan ini makanya cari pengalihan dnegan cara bercanda sama kamu,”


“Mudah-mudahan itu isinya surat cinta kek biar bikin hati senang atau surat tahan deh itu kebih senang lagi,”


“Kamu berharap ini surat cinta dari siapa? Hah?” Tanya Vano sambil membuka bingkisan dmegan tidak sabaran.


“Ya nggak berharap dapat surat cinta dari siapa-siapa sih,”


“Terus kenapa tiba-tiba kepikiran dapat surat cinta,”

__ADS_1


“Ya mending dapat surat cinta dong, Mas, daripada dapat yang aneh-aneh,”


__ADS_2