
“Siapa?”
“Itu kayak—kayak—Rendra, Mas,”
“Rendra mantan kamu maksudnya?”
“Iya,”
Vano berdecak pelan. Ia tidak senang ketika bersama dirinya, Elvina malah membawa-bawa nama mantan kekasihnya.
“Salah liat kali,” ujar Vano seraya melajukan mobil lagi karena mobil di depannya yang tadi tiba-tiba berhenti sekarang sudah melanjutkan perjalanan lagi.
“Nggak, Mas. Itu kayaknya dia deh. Kok dia bisa ada di Bali ya?”
“Mana saya tau. Saya bukan personal asistennya yang suka ngikut kemana-mana dia pergi,” jawab Vano yang langsung mengundang tatapan heran Elvina.
__ADS_1
“Ya udah, Mas. Jangan ketus gitu ngomongnya. Aku ‘kan cuma bingung aja gitu kok bisa ada Rendra di sini?”
“Saya nggak ketus, biasa aja. Kamu yang sensi anggap saya ketus,”
“Jelas-jelas Mas ketus sama aku. Kenapa? Mas cemburu? Orang aku nggak ngapa-ngapain kok, cuma sadar aja kalau yang barusan itu Rendra,”
Vano menghembuskan napas kasar. Ia tidak boleh terpancing emosi. Karena kalau Ia marah, lalu Elvina juga marah. Maka bisa terjadi pertengkaran dan itu sebisa mungkin Ia hindari.
“Mas dengar ya, aku tuh tadi cuma ngeh aja kalau yang aku liat barusan Rendra. Mas langsung sewot kayak gitu. Emang kenapa sih? Maksud aku, kenapa cemburu? Aku ‘kan nggak ngapa-ngapain,”
“Ya memang saya nggak berhak cemburu ‘kan?“
“Mas kok ngomong kayak gitu? Aku salah lagi?”
“Lho, yang salah justru saya. Saya yang harusnya minta maaf. Saya nggak berhak cemburu jarena dari awal saya udah tau semuanya. Saya udah tau risiko nikah sama orang yang belum lepas dari masa lalunya jadi saya nggak boleh cemburu, nggak boleh ngeluh. Sayangnya, saya suka lupa sama dua hal itu. Jadi maklum ya, saya minta maaf,”
__ADS_1
Elvina menundukkan kepalanya mengamati jari jemarinya yang saling bertaut. Mungkin seharusnya lain kali kalau Ia melihat atau bahkan bertatap muka dengan Rendra, Ia tidak perlu mengatakannya di depan Vano.
Karena itu menyakiti hati Vano, dan Elvina kerap tak menyadari itu. Terkadang sesuka hati mengamati foto Rendra, disaat sedang bersama suaminya. Vano hanya menghela napas pelan. Karena Ia merasa tidak punya hak untuk meluapkan rasa cemburu. Inilah risiko kalau menikah dengan orang yang belum bisa membalas perasaan cinta, dan masih terjebak dalam masa lalunya.
“Saya harus lebih sabar lagi bimbing Elvina supaya benar-benar bisa terima saya di dalam hidupnya dan lupa sama mantan pacarnya itu. Tekad saya sejak awal begitu. Saya mau berjuang, ya walaupun cuma sendirian. Saya yakin dan percaya cinta bisa datang karena terbiasa bersama,” batin Vano yang tak lagi mengeluarkan suara apapun, begitu juga dengan Elvina.
Sampai akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Vano tiba di toko besar yang menjual banyak variasi buah tangan khas Bali.
Vano langsung keluar dari mobil dan tidak lupa membukakan pintu untuk istrinya yang sedang membuka sabuk pengaman, dan juga menguncir rambutnya sebentar.
“Makasih, Mas,” ujar Elvina setelah turun dari mobil.
Vano menganggukkan kepalanya. Ia menggerakkan kepalanya ke arah pintu masuk toko mengisyaratkan Elvina supaya masuk.
“Mas, tunggu sebentar,”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku minta maaf kalau bikin Mas kesal ya. Tapi Mas harus maklum karena aku masih cinta sama Rendra. Walaupun begitu, aku lagi belajar kok, Mas. Aku lagi belajar untuk cinta sama Mas,”