Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 98


__ADS_3

Vano terkekeh merasa gemas dengan jawaban Kila yang tersenyum lebar menatapnya. Sekali lagi Vano mencium pipi Kila tak ketinggalan puncak hidungnya.


"Gemes, tinggal sama Om aja yuk,"


"Enggak, Om,"


"Kenapa?"


"Enggak mau, aku mau sama papa mama,"


"Ya udah, nanti om culik aja,"


"Enggak boleh dong, Om. Masa mau culik aku?"


Sesi perpisahan belum habis karena Ken yang membuat Kila kesal dan merengek. Tinggal Ajun lagi yang pusing memikirkan cara supaya anaknya tenang sementara Vano sudah berlari masuk ke dalam hotel.


"Bener-bener si Vano ya," gerutu Ajun.


Ajun menoleh pada anaknya dan mengusap pipi Kila dengan lembut. "Udah enggak usah dengar omongan-nya Om Ken. Memang begitu dia, suka iseng, Kila enggak bakalan diculik lah. Kalau Kila diculik, papa maju paling depan, okay?"


"Aku takut beneran diculik, Pa,"


Ajun ingin tertawa lepas rasanya tapi tidak tega bila melakukan itu. Kila polos sekali ketika mengatakannya. Ada rasa takut yang sungguhan ketika mendengar Vano akan menculiknya. Ia tidak ingin pisah dari mama dan papanya.


"Enggak lah, Kila nggak bakalan diculik, nggak usah takut. Tadi papa udah bilang 'kan? Papa bakap maju paling depan kalau Kila diculik sama Om Vano. Nanti Oma Vano papa marahi habi-habisan karena udah culik anaknya papa,"


"Harus itu, Pa. Om Vamo harus diomelin,"


*****


"Mih, Elvina sering pergi-pergi gitu ya? Entah sendiri atau sama temannya,"


"Enggak, Pak. Setelah kakinya udah agak baikan aja baru Ibu jalan-jalan,"

__ADS_1


"Oh gitu, terus kalau pergi sama teman berdua atau sering ramai-ramai?"


"Hmm sama teman biasanya, Pak. Nggak tau kalau ramai atau enggak nya,"


"Hmm terus sekarang dia lagi apa?"


Amih melirik lantai atas dimana Elvin masih ada di kamarnya. Amih kembali berujar pelan menyahuti majikannya.


"Enggak tau, Pak. Tapi lagi di kamar,"


"Oh, rencananya bentar lagi saya mau ke rumah ya, Mih,"


"Siap, Pak,"


Amih menghela napas lega mendengar penuturan Vano yang katanya akan pulang sekarang.


Ia senang dan semoga Vano benar ingin pulang dan Ia berharap reaksi Elvina nantinya tidak membuat suaminya kecewa. Kasihan juga Vano kalau Ia datang tapi istrinya seperti tidak peduli atau mengabaikan.


Ia mengetuk pintu kamar Elvina yang langsung dipersilakan masuk oleh perempuan itu.


"Kenapa, Mih?"


"Ibu, kata Pak Vano barusan, Pak Vano mau pulang nanti sebentar lagi,"


"Oh,"


Hanya begitu tanggapan Elvina. Amih saja sakit hati mendengarnya, apalagi Vano. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Vano nantinya.


"Ibu, enggak senang Pak Vano mau pulang?"


"Enggak sih, biasa aja. Tapi bagus lah dia mau pulang juga akhirnya,"


"Ibu harusnya senang, Bu. 'Kan suami ibu mau pulang. Terus, Ibu juga kayaknya udah kesepian banget enggak ada Pak Vano. Nanti Pak Vano pulang, jadi—-"

__ADS_1


"Kamu kok jadi ngomong begitu ke aku, Mih? Suka-suka aku lah mau kelihatan senang atau sedih sekali pun itu bukan urusan kamu. Memang begini respon aku, mau gimana? Apa aku harus lompat-lompat kegirangan terus jungkir balik gitu, Mih?"


"Eng—enggak, Bu,"


Amih tergagap karena omelan Elvina. Ia memang harus lebih sabar menghadapi Elvina. Ken saja bisa sabar. Ia harus mewajari sikap Elvina yang seperti itu. Kalau merasa ditekan, Elvina akan lebih galak.


"Udah sana keluar, Mih. Jangan ganggu aku, tolong,"


"Baik, Bu. Saya permisi keluar dulu,"


Elvina sedang sibuk dengan tontonannya di laptop dan Amih masuk hanya untuk memberi kabar bahwa Vano akan pulang. Ia tidak peduli sama sekali. Vano mau pulang lalu kembali tinggal di sini atau pulang hanya untuk mengambil baju sekali pun. Ia sangat tidak peduli dan tidak mau tahu apapun soal lelaki itu sejak dia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.


"Terserah kamu aja lah, Van. Aku enggak mau pusing mikirin kamu. Mau balik ya syukur, enggak balik juga enggak apa-apa. Intinya aku enggak salah lagi karena aku udah minta maaf dan nyuruh kamu pulang," gumamnya dalam hati kemudian kembali fokus menonton drama yang sejak tadi Ia saksikan seorang diri di dalam kamar usai bersih-bersih badan.


"Ibu, mau makan apa?"


Elvina menatap Amih yang kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menanyakan perkara Ia ingin makan apa.


"Enggak usah ganggu, Mih,"


"Supaya Ibu enggak sakit, makan dulu atuh,"


"Enggak usah, udah makan tadi,"


"Sama siapa, Bu?"


"Sama pacar, ya sama teman lah,"


"Astaghfirullah, jangan ngomong begitu, Bu. Omongan itu doa, masa ibu mau punya pacar?"


Elvina mengepalkan kedua tangannya merasa geram dengan Amih yang banyak bicara. Ia mengisyaratkan Amih untuk keluar dari kamarnya dengan mata melotot.


Amih buru-buru keluar dan menutup pintu kamar Elvina yang tidak ingin diganggu oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2