
“Kok enggak ajak Vano sih? Bukannya udah pulang ya? ‘Kan udah sore, El,”
Elvina berpikir suaminya akan pulang tengah malam lagi jadi lebih baik Ia ke rumah orangtuanya. Nanti kalau sudah jam delapan rencananya ia akan pulang.
“Mas Vano kayaknya pulang malam makanya aku ke sini. Soalnya aku kesepian di rumah, Bin,”
“Oh jadi nanti Vano jemput kamu di sini?”
Elvina menggeleng, belum tahu jawaban apa yang akan Ia lontarkan. Kemarin waktu minta jemput setelah jalan dengan Jona, Vano menolak mentah-mentah. Kalau Ia minta tolong jemput nanti, entah Vano bersedia atau tidak, tapi sepertinya tidak karena semalam mereka habis adu mulut juga.
“Kamu sama Vamo gimana? Baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, Bun. Doakan aku sama Mas Vano terus ya, Bun,”
“Pasti dong, El,”
Elvina tidak menyampaikan apa yang baru terjadi diantaranya dengan Vano. Bundanya sudah senang mendengar jawabannya tadi bahwa Ia dan Vano baik-baik saja.
“Udah akur sama Vano ya, Kak? Akur-akur lah, enggak capek ribut terus? Kamu udah berubah jadi lebih baik ‘kan setelah Vano pulang?”
“Justru Mas Vano yang kayaknya berubah, Bun,”
Elvina kelepasan bicara seperti itu. Mulutnya gatal ingin menceritakan bahwa Vano berubah jadi cuek belakangan ini.
“Maksud kamu gimana?”
“Ya—-iya, Bun,”
“Iya apa? Berubah gimana?”
“Kalau yang aku lihat dia kayak bukan Mas Vano yang biasanya aja. Lebih cuek, terus galak juga lagi,”
“Lho kok begitu? Kamu buat salah apalagi memangnya?”
“Ma, kenapa sih selalu aku yang dianggap punya salah?”
Elvina lelah dianggap bersalah terus entah oleh Vano, oleh orangtuanya sendiri, oleh Elvina juga begitu.
“Ya karena biasanya kamu yang cari-cari masalah ‘kan, El?”
“Tapi setelah pulang itu, Mas Vano memang berubah kayak yang aku bilang tadi,”
“Ya mungkin dia enggak mau terangan-terangan lagi nunjukkin perasaan dia karena kamu selama ini bodo amat, makanya sekarang dia cuek,”
“Ya harusnya enggak gitu, Bun. Aku ini lagi belajar untuk berubah, supaya bisa balas perasaan dia, bisa menghargai dia. Eh dia nya malah berubah jadi begitu,”
“Harusnya kamu berusaha untuk bikin dia kembali kayak dulu lagi. Mungkin kalau kamu udah cinta sama dia, semuanya bakal kembali lagi kayak dulu. Vano ini lagi memulihkan perasaannya sendiri, Elvina. Udah berkali-kali kamu bikin kecewa soalnya,”
Dini mengusap kepala anaknya dengan lembut. Melihat wajah murung Elvina terbit ide Dini untuk membuat anaknya terhibur.
“Mau karaoke sama bunda enggak?”
“Hah? Karaoke, Bun? Tumben bunda ngajakin aku karaoke? Dimana?”
Elvina terkekeh mendengar ajakan bundanya yang kedengaran menggelitik perut. Sebab tak biasanya Dini mengajak Ia untuk karaoke. Biasanya juga diajak masak atau jalan-jalan ke mall saja.
“Karaoke dimana? Terserah kamu aja lah. Rumah ayo, mall juga ayo,”
“Enggak deh, Bun. Aku enggak tertarik,”
“Yah, padahal bunda mau hibur kamu lho. Biar enggak mikirin Vano terus. Kayaknya perubahan Vano itu udah cukup bikin kamu kepikiran ya?”
Elvina mengangguk jujur sebab Vano tidak biasanya seperti itu. Bahkan yang Elvina sadari sekali adalah Vano tak pernah lagi memanggilnya sayang. Sikapnya juga cuek tak seperti biasanya, Ia pun pernah diusir dari ruangannya Vano, belum lagi soal parfum perempuan yang Ia dapati dari badan Vano.
“Ayo kita senang-senang, El,”
“Enggak, Bun. Masak aja yuk, masak apa aja terserah mama deh,”
Ketimbang karaoke, Elvina lebih memilih masak. Tak perlu kemana-mana, dan hasilnya bisa dinikmati.
“Oh mau masak? Masak apa? Atau kita bikin kue aja yuk. Yang gampang aja dan yang kamu suka,”
Elvina menganggukkan kepalanya setuju. Ia akan dengan senang hati mencicipi kue hasil buatannya dengan sang bunda nanti.
“Bikin bolu pisang aja deh. Pisang banyak tuh stoknya,”
Elvina ikut saja apa kata bundanya, yang penting bikin kue judulnya. Yang menakar semua bahan adalah Dini sementara bagian mengaduknya adalah Elvina.
Elvina belum sehebat itu membuat kue sendiri tanpa bantuan bundanya atau internet. Di rumah sudah menggunakan bantuan internet saja masih belum memuaskan hasilnya.
“Itu belum lama ngaduknya, jangan berhenti dulu, El,”
__ADS_1
Elvina kembali menghidupkan alat mixer yang sempat Ia hentikan kerjanya karena Ia pikir sudah selesai mengaduk nya.
“Manti kamu bawa pulang ke rumah hasilnya ya,”
“Makan di sini aja, Bun,”
“Enggak apa-apa dibawa pulang ke rumah biar Vano cobain juga,”
“Masakan aku semalam aja hampir enggak dimakan sama dia, karena pulang malam. Mungkin kue ini juga akan sama nasibnya,”
*****
“Elvina kemana? Di kamar ya?”
Vano pulang pukul setengah enam sore, jauh lebih cepat dari semalam yang pulang tengah malam.
“Ibu lagi ke rumah mama papa nya, Pak,”
“Oh, udah lama?”
“Iya lumayan, kata ibu tadi pengin pulang jam delapan mungkin, soalnya ‘kan semalam Pak Ken pulang malam, jadi daripada kesepian dan bosan di rumah Ibu pikir mending ke rumah orangtuanya, tadi kata Ibu begitu,”
Vano mengangguk setelah Amih memberi penjelasan kepadanya. Ia kembali merasa bersalah karena semalam itu pulang malam sekali disaat Elvina sudah menunggunya dan bahkan menunda makan malam karena berencana ingin makan malam dengannya. Lalu setelah itu Ia juga meladeni Elvina hingga akhirnya mereka terlibat perang dingin hingga pagi tadi sebelum Ia pergi bekerja. Ia yang memang tidak mau kelihatan bodoh dan lemah lagi karena cinta memilih untuk mengikuti apa yang sudah Elvina rancang. Elvina ingin cuek-cuekkan dengannya, maka Ia turuti.
“Pak Vano mau nyusul Ibu?”
“Iya,”
Sesaat Vano menatap pakaiannya. Ia merasa akan lebih baik kalau Ia mandi dan ganti baju dulu baru menjemput Elvina yang Ia duga laporan ke mama papanya mengenai permasalahan di antara mereka. Biarlah Elvina laporan mama papanya mungkin akan menyalahkan dirinya karena baru mendengar penjelasan dari sisi Elvina saja. Ia hanya membela dirinya sendiri yang dituduh selingkuh oleh Elvina, apa itu salah?
*****
“Kamu kok datang ke sini?”
Kedatangan Vano membuat Elvina yang kebetulan menyambut kedatangannya merasa bingung. Vano tidak bilang apa-apa kalau dia mau menghampiri Elvina di rumah orangtuanya.
“Enggak senang aku datang?”
“Bukan gitu, sewot aja,”
Elvina menyuruh suaminya duduk dan menanyakan ingin minum apa. Tapi Vano menggelengkan kepala dan Ia mengamati suasana sekitar.
“Ada, lagi pada shalat,”
“Kamu kenapa enggak shalat?”
“Tadi datang tamu bulanan. Kamu udah shalat belum?”
“Nih mau shalat,”
Vano beranjak dari sofa tempatnya duduk beberapa saat tadi untuk bergegas melaksanakan ibadah.
“Kamu mau nginap di sini?”
“Enggak, memang kenapa?”
“Oh aku pikir mau nginap. Aku juga mau ikut nginap kalau kamu nginap di sini,”
“Kayaknya enggak deh,”
Vano berlalu meninggalkan Elvina yang memilih untuk beranjak ke meja makan menunggu orangtuanya dan juga Vano untuk makan malam.
Sementara Vano datang ke mushalla di dalam rumah Dini dan juga Arman untuk menunaikan ibadah maghrib nya.
“Lho ada Vano ternyata. Kapan datang, Van? Udah lama?”
“Baru, Yah,”
“Nginap lah di sini ya,”
“Kalau Elvina mau nginap, aku juga mau,” ujar Vano sebelum bersiap shalat. Mertuanya sudah selesai shalat, sementara Ia baru akan memulai.
“Ya udah shalat dulu, ayah tunggu di meja makan ya,”
“Iya, Yah, nanti aku nyusul,”
“Iya kita makan malam sama ada yang mau papa bicarakan sama kamu,”
Melihat Vano menatapnya dengan tatapan menegang, Arman terkekeh. Ada apa dengan ucapannya? Vano kelihatan tegang sekali mendengar Ia akan bicara sesuatu.
“Santai aja, Van. Ayah enggak mau ngomelin kamu kok, tegang banget,”
__ADS_1
Vano terkekeh pelan. Ternyata raut wajahnya membuat Arman tahu bagaimana ketegangannya setelah Arman berkata akan ada hal yang ingin dibicarakan padanya.
*****
Karena ayahnya terus membujuk agar Ia menginap, dan memang Ia juga sudah lama tidak menginap di rumah orangtuanya, maka Elvina memilih untuk tidak pulang dulu ke rumahnya malam ini, melainkan bermalam di rumah orangtuanya.
Vano, suaminya juga mengikuti jejaknya, Vano sudah bilang sebelumnya kalau Ia akan mengikuti Elvina. Kalau memang Elvina mau pulang, Ia akan pulang, tapi kalau seandainya Elvina ingin menginap dulu di rumah orangtuanya, Ia pun tidak keberatan.
Sambil menunggu rasa kantuk, mereka duduk di ruang keluarga menikmati siaran televisi sambil menikmati popcorn. Suasananya sudah persis seperti bioskop, hanya saja di bioskop gelap, kalau di sana justru terang.
“Eh ngomong-ngomong ini ‘kan latar filmnya Bandung ya, mama tiba-tiba keingat Rendra. Kalau enggak salah dia berangkat malam ini ya, Yah? Tadi nggak sengaja ketemu dia dan dia cerita,”
Dini pergi dari sisi samping suaminya untuk bicara dengan Elvina. Ia tidak ingin mengganggu suami, anak, dan menantunya yang tengah menikmati film.
“Rendra ke Bandung, Yah?”
Tidak hanya Elvina, ternyata Vano juga penasaran soal Rendra yang kata Dini pergi ke Bandung. Maka dari itu Vano bertanya pada ayah mertuanya.
“Iya ada touring sama teman-teman futsalnya,”
“Terus Agatha enggak ikut?” Kini Elvina yang bertanya pada ayahnya. Elvina penasaran istri dari mantannya itu ikut atau tidak.
“Enggak lah, El. Orang lagi hamil begitu, mana mungkin dibolehin sama Rendra,”
“Touring, Yah? Berarti Agatha ditinggal?”
“Iya, Van. Itu juga setelah dia berkali-kali tanya ke Agatha untuk mastiin Agatha keberatan atau enggak dia tinggal. Eh Agatha nya santai aja. Dia bolehin, malah nyuruh Rendra pergi, katanya mumpung masih bisa keluar-keluar. Rendra juga udah tanya sama mama papa, sebelumnya ke orangtua Rendra sendiri. Kami sih terserah Agatha aja, kalau Agatha bolehin, ya pasti kami bolehin juga,”
“Tapi Agatha enggak keberatan juga ya, soalnya dia ‘kan lagi hamil,”
“Ya karena mungkin dia mikir nantinya Rendra ‘kan bakalan lebih jarang lagi pergi-pergi ngabisin waktu sama temannya. Selagi bisa sekarang kenapa enggak ‘kan? Dia enggak mau terlalu ngekang suaminya. Apalagi dia tau kalau touring itu salah satu hal yang Rendra suka,”
“Vano sukanya apa? Pergi sama teman-teman juga?”
Vano terkejut mendapat pertanyaan itu dari ayah mertuanya. Sedang membahas Rendra, tiba-tiba sekarang berbelok ke arahnya.
“Mas Vano mah semuanya suka. Jalan sama teman suka, jalan sama aku suka, jalan sendiri juga suka, itu buktinya seminggu enggak pulang-pulang bisa, Yah. Berarti dia suka,”
Vano mendelik ke arah istrinya. Yang ditanya siapa, tapi yang menjawab siapa. Jawaban Elvina juga seolah menyudutkannya.
Tapi beruntung ucapan Armab membuat suasana jadi tenang dan damai meskipun sebelumnya Elvina seperti memantik api amarah di dada Vano.
Memang karena siapa Vano pergi dari rumah sampai satu minggu? Karena Elvina! Elvina yang diam-diam punya niat berpisah dengannya tanpa berkata apapun padanya, lalu Ia dibuat terus menerus mengalah, siapa yang betah di rumah? Sementara di hotel Ia hidup nyaman dan tenang walaupun memang tak dipungkiri Ia tidak bisa benar-benar tenang karena memikirkan Elvina.
“Enggak apa-apa kalau sesekali Vano mau begitu. ‘Kan niatnya enggak mau yang macam-macam, hanya untuk menenangkan diri, mencairkan suasana yang panas diantara kalian. Daripada berdekatan tapi malah ribut, mending jauhan untuk sementara waktu, benar ‘kan? Enggak baik ribut terus,”
“Tuh, dengar enggak?” Sahut Vano dengan senyuman miringnya pada Elvina. Semoga saja Elvina mencerna dengan baik ucapan papanya.
“Dengar! Aku nih punya telinga dua dan syukurnya masih normal, jadi aku dengar,”
“Nah itu yang enggak baik. Ngomong kok ketus banget, siapa teman kamu bicara sekarang, Elvina? Suami kamu bukan?”
Elvina terhenyak dibuat Arman. Ayahnya itu ternyata melihat Ia memutar bola matanya dan juga menyahuti Vano dengan juteknya, maka dari itu Arman menegurnya.
“Iya maaf, Yah,”
“Jangan minta maaf sama Ayah lah. Bikin salahnya sama siapa?”
Elvina menggertakkan giginya kesal. Entah kenapa tontonan mereka sekarang malah terabaikan, dan Ia justru dituntut untuk minta maaf dengan Vank. Erghh! Tidak penting sekali. Biasanya Ia tidak pernah minta maaf kalau sudah berujar jutek seperti tadi pada Vano.
Vano melipat bibirnya ke dalam, Ia menahan tawa karena melihat Elvina yang jadi sasaran nasihat papanya, kelihatan Elvina menahan kesal. Apalagi setelah diminta ayahnya untuk meminta maaf.
“Okay, sorry,”
“Lah? Begitu aja?”
“Ya terus aku harus gimana, Yah? Sujud di kaki Mas Vano gitu?”
“Ya enggak gitu dong. Minta maaf itu baik-baik, bukan kayak ngajak ribut. Mana mukanya judes banget lagi,”
Elvina menggertakkan giginya marah. Ekspresi wajahnya saja dipermasalahkan oleh papanya. Kali ini Ia benar-benar dibuat mati kutu.
“Maaf, Mas Vano,” ujarnya mengulangi permintaan maaf. Kali ini lebih sopan dari sebelumnya.
Pantas saja Vano kelihatan sudah lelah dengan Elvina dan hubungan mereka berdua, Elvina yang membuatnya seperti itu. Wajar kalau Vano berontak sesekali. Ia tidak mau Elvina terus menerus memancing kesabarannya habis. Satu sisi Vano ingin lebih sabar bertahan dengan Elvina, di lain sisi Ia juga ingin Elvina berubah menjadi lebih baik lagi, bisa lebih menghargainya itu yang paling penting. Sekalipun Elvina mungkin belum bisa membalas perasaan Vano, tapi paling tidak, keberadaan Vano bisa dihargai dengan sangat baik oleh Elvina.
“Bunda sama atah tuh berharap kalian damai-damai aja, enggak ada perdebatan lagi. Bisa hidup tenang gitu lho. Ini kayaknya mah enggak, roman-romannya masih suka berantem setelah Vano pulang. Ada masalah lagi enggak? Coba cerita sama ayah,”
“Enggak ada, Yah. Baik-baik aja kok,” ujar Vano seraya tersenyum. Ucapan adalah doa, jadi Ia berharap kalimatnya barusan menjadi kenyataannya, selamanya Ia baik-baik saja dengan Elvina.
“Ah syukurlah kalau begitu,”
__ADS_1