
"Kok belum siap-siap sih? aku kirain udah rapi begitu aku pulang,"
Vano bingung karena ternyata sang istri belum bersiap juga padahal Ia sudah menduga kalau Elvina sudah siap dengan penampilannya yang rapi dan cantik begitu Ia tiba di rumah. Tapi ternyata masih mengenakan pakaian rumah.
"Ih, aku bingung pilih baju yang mana. Kamu bantuin aku dong,"
"Hah? kamu minta bantuan aku, Sayang? lah aku bingung soal gituan. Biasanya kamu jago kalau urusan fashion,"
"Tapi kali ini aku bingung, padahal cuma mau makan malam sama kamu aja ya,"
"Biarpun begitu tetap harus istimewa penampilan kamu, Sayang, soalnya mau makan malam sama aku yang lagi ulang tahun,"
"Emang masih ulang tahun? bukannya udah selesai?"
"Masih lah, orang masih tanggalnya kok, belum ganti hari,"
"Ya udah buruan nggak usah banyak omong. Kamu nggak mau mandi dan siap-siap?"
"Kamu aja belum juga kok,"
"Aku mah gampang. Tinggal ambil baju terus make up dan selesai deh,"
"Nggak se simpile itu. Kamu make up suka lama,"
"Nggak ah, aku nggak lama-lama,"
"Bener ya? awas aja kalau lama. Aku tinggal beneran,"
"Ya udah, berarti aku di rumah aja. Alhamdulillah nggak capek pergi-pergi,"
Elvina senang juga kalau rencana makan malam dengan suaminya gagal terlaksana. Ia akan diam saja di rumah. Sehingga tidak perlu lelah bersiap dan pergi hanya untuk menuruti keinginan Vano yang ingin makan malam dengannya.
"Eh nggak-nggak! aku cuma bercanda. Pokoknya kamu harus ikut sama aku, Sayang. Aku 'kan udah bilang dari awal, aku mau pergi sama kamu, masa kamu nolak sih?"
"Siapa yang bilang aku nolak? aku nggak nolak, Mas. Kamu sendiri yang bilang, kamu bakal ninggalin aku,"
"Iya itu kalau lama, makanya jangan lama-lama kalau dandan mau pergi tuh,"
Vano merangkum wajah sang istri kemudian Ia meninggalkan kecupan singkat di hidung Elvina dan segera beranjak menuju toilet.
__ADS_1
Vano mandi sementara Elvina mempercepat kegiatannya mencari-cari baju yang sekiranya tepat Ia gunakan untuk pergi sore ini dengan sang suami yag hari ini bertambah usianya.
Setelah dapat satu baju berwarna biru muda berupa blouse dan skirt yang tidak formal, Elvina segera mengganti pakaian yang sekarang Ia kenakan dengan pakaian yang sudah Ia pilih itu. Setelah berganti pakaian, Elvina langsung duduk di depan cermin meja riasnya untuk berhias diri sebentar.
"Sayang, udah kelar belum?"
Terdengar suara Vano dari dalam kamar mandi yang ingin mengetahui dia sudah selesai mempersiapkan dirinya atau belum. Ken takut istrinya masih sibuk memilih baju sementara Ia sebentar lagi akan selesai mandi. Seperti biasa, Ken tidak pernah lama kalau mandi.
"Udah, nggak usah cerewet kamu, Mas,"
"Santai, Sist. Aku takutnya kamu belum ketemu sama baju yang pas dan bentar lagi aku selesai mandi,"
"Okay, aku tunggu, cepetan ya!"
"Emang kamu udah siap, Sayang?"
"Ya belum sih, cuma nyuruh cepat aja supaya aku nggak nungggu lama-lama,"
"Takutnya aku yang nunggu kamu kelamaan, Sayang,"
"Nggak, aku aja udah siap nih,"
Elvina menggunakan parfum dan mengambil tas serta ponsel. Vano keluar dari kamar mandi dan kaget ternyata istrinya sudah siap. Benar-benar sudah siap bukan hanya omong kosong saja. Artinya tinggal Ia saja yang belum siap padahal tadi Ia sempat takut Elvina terlalu lama mempersiapkan dirinya.
"Aku cuma bikin muka aku supaya keliatan segar nggak pucat aja,"
"Kamu sakit?"
"Hah? nggak, emang kenapa? kamu kok tanya begitu?"
"Ya karena tadi kamu bilang supaya muka kamu nggak pucat. Emang muka kamu sempat pucat?"
"Itu hal biasa aja, Mas. Make up adalah penolong dan aku bersyukur bisa sedikit-sedikit soal make up walaupun nggak jago,"
"Aku senang banget deh kamu mau makan malam sama aku,"
"Emang aku pernah nolak ya?"
"Kayaknya sih nggak deh, Sayang,"
__ADS_1
"Kamu buruan pakai baju. Kepedean banget keluar pakai bathrobe aja,"
"Emang kenapa sih? aku 'kan seksi banget," ujar Vano dengan percaya diri.
"Seksi darimana? kamu terlalu percaya diri ya, Mas,"
"Seksi di mata kamu. Emang aku harus percaya diri, masalah ganteng atau jelek itu urusan belakangan, Sayang,"
Vano segera berganti pakaian dengan yang disiapkan sang istri. Elvina jahil menyiapkan kemeja batik untuk Vano. Ia yakin laki-laki itu pasti protes.
"Sayang,"
Benar dugaan Elvina, Vano pasti memanggilnya untuk melontarkan protes kepadanya.
"Sayang, aku disiapin baju batik emangnya mau ngapain? kita 'kan nggak ada acara formal ya, kita cuma makan berdua di luar, kenapa harus disiapin baju batik, Sayang?"
"Hargai apa yang udah disiapin sama istri,"
Sontak saja ucapan dari Elvina membuat Vano dilema sekali. Satu sisi Ia tidak mau mengenakan baju macam-macam karena hanya pergi berdua makan malam di luar. Tapi di lain sisi Ia memang harus menghargai apa yang sudah dipersiapkan istri untuknya karena biasanya istri tahu yang terbaik.
"Sayang, masa iya aku disuruh pakai baju formal? mana batik pula. Aku nggak mau deh, Sayang," ujar Vano yang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus menolak. Karena kemeja batik memang tidak tepat digunakan untuk saat ini.
"Nurut aja, Maa. Kamu mau hargain istri kamu atau nggak sih?"
"El, aku hargain banget pilihan kamu cuma biasanya kamu tuh nggak saltum begini alias salah kostum. Gini ya, kita 'kan cuma makan malam aja di luar kenapa harus pakai batik? nggak perlulah, Sayang. Pakai aja baju yang biasa,"
Elvina berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak. Vano tampaknya hilang cara untuk menolak. Dia kelihatan tertekan sendiri. Sebenarnya Vano tidak mau mengecewakan istri tapi Ia juga tidak mau tampil aneh. Tidak mungkin datang ke restoran atau rumah makan mengenakan baju batik. Kalau kebetulan batiknya dikenakan ketika kerja dan belum sempat ganti baju, itu tidak masalah. Kalau dia beda perkara. Sudah pulang ke rumah setelah bekerja seharian mengenakan baju yang formal setelah itu mandi dan bersiap pergi. Rasanya bosan juga pakai baju formal.
"Udah pakai batik yang aku siapin aja, aku malas ambil baju lagi untuk kamu,"
"Ya udah aku aja, Sayang,"
"Tuh, berarti tandanya kamu nggak hargain aku. Buktinya kamu nggak mau pakai baju batik yang udah aku siapin. Kamu jahat banget sih,"
"Sayang, tapi aku gerah kalau pakai kemeja batik kayak begini, kurang nyaman,"
"Ya ampun, padahal makan di tempat yang ada AC dan adem, kamu bilang gerah?"
Vano menganggukkan kepala. Salah satu alasan supaya Ia tidak dipaksa mengenakan baju batik dengan mengatakan bahwa Ia tidak merasa nyaman karena gerah, walaupun sebenarnya tidak tahu bagaimana suasana di restoran yang akan mereka kunjungi nanti, tapi kemungkinan besar apa yang disampaikan Elvina benar seratus persen. Tidak ada cerita restoran apapun itu tidak ada pendingin ruangan. Di tempat makan yang letaknya pinggir jalan sekalipun pasti ada kipasnya minimal.
__ADS_1
"Sayang, aku cari sendiri baju aku ya. Aku yang ambil sendiri kalau kamu malas ambil baju lagi untuk aku,"