
“Aku benci sama Mas! Gara-gara Mas aku dimarahin sama Bunda,”
Setelah berkata seperti itu, Elvina langsung bergegas keluar dari kamar meninggalkan Vano yang tidak habis pikir. Elvina membawa tas kecilnya yang berisi dompet dan ponsel. Vano berdecak melihat kepergian istrinya itu dan Ia langsung memanggil Elvina dengan tegas.
“Elvina,”
“Kamu mau kemana?” Tanya Vano.
“Jangan ngikutin aku, Mas!”
Elvina tidak mengizinkan suaminya menyusul. Ia menoleh ke belakang dan menatap suaminya dengan tajam. Karena tahu Elvina perlu waktu, maka Vano biarkan perempuan itu pergi.
Vano heran pada Elvina. Bukannya sadar akan kesalahannya dan belajar untuk memperbaiki, Elvina malah menyalahkan suaminya.
Elvina menuduh suaminya itu telah laporan pada Dini tentang fakta bahwa Elvina masih menyimpan foto kenangan dirinya bersama sang mantan kekasih.
Padahal Vano sendiri tidak tahu apa-apa. Tadi selepas pulang dari tempat memancing, Vano langsung bergegas ke kamar, dan ternyata Ia disambut dengan Dini yang sedang memarahi putrinya. Oleh sebab itu Vano memilih untuk kembali ke lantai bawah. Ia memberikan wajtu untuk Dimi bicara empat mata dnegan Elvina, dan harapan Vano, Elvina bisa terbuka hatinya untuk lebih menghargai pernikahan mereka. Sebenarnya inti dari permasalahan mereka itu adalah ketidak mampuan Elvina menghargai pernikahan mereka. Kalau saja Elvina bisa lebih mengjargai, Elvina tidak akan terjebak dalam masa lalu, Elvina akan berusaha untuk mbalas perasaan suaminya ketimbang memikirkan mantannya terus.
Sepanjang diam di ruang keluarga Vano bertanya-tanya darimana Dini tahu kalau Elvina masih menyimpan foto-fotonya bersama Rendra. Karena Vano tidak laporan apapun. Walaupun kasihan melihat istrinya tadi dimarahi oleh bundanya, tapi Vano berharap dengan negitu Elvina bis aberubah jadi lebih baik. Belum bisa mencintai tidak apa-apa, asal Vano tidka dipaksa untuk bersaing dengan masa lalu istrinya sendiri, disaat posisi yang ditempati Rendra sekarang ini adalah posisi Vano yang seharusnya.
Vano mengira-ngira Dinis duah oergi dari kamar Elvina barulah Ia naik lagi ke lantai atas, dan tak snegaja bertemu dengan Dini. Ia bersyukur ada kesempatan untuk bicara empat mata dengan ibu mertuanya yang Ia ketahui mencemaskan pernikahan Ia dan Elvina.
Setelah itu Vano masuk ke dalam kamar dan Ka terkejut langsung disalahkan oleh istrinya sendiri. Ia dituduh melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak Ia lakukan. Kalau Ia mau laloran pada mertuanya, maka sudah Ia kakukan sejak lama. Tapi Ia tidak melakukan itu, karena menurutnya yang buruk-buruk dalam pernikahan tidak perlu sampai ke telinga orangtua apalagi orang lain. Kecuali kalau yang baik-baiknya atau yang membuat hati bahagia, Ia tidak sungkan untuk berbagi.
******
“Kamu mau kemana?”
“Mau pergi sebentar, Bun,”
Dini memicingkan kedua matanya ke arah Elvina yang tiba-tiba pamit kepadanya di ruang keluarga. Ia kaget ketika menonton, dihampiri oleh putri tunggalnya itu.
Elvina pamit ingin pergi sebnetar. Elvina perlu oenyegaran pikiran, dan hatinya pelru didinginkan. Ia akan kenbali setelah Ia baik-baik saja.
“Mau kemana?”
“Ada urusan tugas kuliah di rumah teman,” ujar Elvina yang jelas berdusta. Kalau Ia bilang ingin mencari ketemangan, pasti tidak akan diizinkan oleh bindanya itu.
Dini tidak akan membiarkan anaknya keluyuran tidak jelas semntara suaminya di sini.
“Kamu udah bilang sama Vano?”
“Udah, Bun,”
“Ya udah san apergi hati-hati
Elvina mencium tangan Dini setelah itu bergegas pergi menghampiri ojek online yang
sudah datang menunggunya.
*******
Setelah membeli topi dan parfum di sebuah mall yang tak jauh dari tenpat konser, waktunya Davina dan sepupunya, Vinka untuk datang ke tempat konser.
Vinka ingin menggunakan topi juga tadinya, supaya sama-sama menggunakan topi tapi ternyata topinya tertinggal di rumah, akhirnya Ia mengajak Davina untuk singgah ke mall dulu. Berat hati Davina mengiyakan. Kasihan kalau keinginan sepupunya itu tdiak terlenuhi ealaupun sebenarnya Davina takut terlambat. Setelah sepupunya beli topi, Kaki Davina malah gatal ingin singgah di tempat menjual parfum. Akhirnya Ia sempatkan waktu untuk singgah bersama Vinka. Hasil mereka ke mall adalah topi dan juga parfum.
“Kita telat ke konsernya deh ini,” ujar Davina smabil berjalan terburu-buru.
“Nggak, tenang aja. Orang masuk jam dua,” jawab Vinka.
Walaupun buru-buru, Vinka tetap bisa melihat suasana mall, sementara Davina fokus saja dengan langkahnya, sampai Vinka tidak sengaja melihat sosok yang tak asing di matanya.
“Eh eh! Bentar, itu kakak ipar kamu ‘kan? Itu kak Elvina kayaknya,”
Seketika Davina menghentikan langkahnya dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vinka. Orang yang ditunjuk oleh Vinka itu sudah berbelok dan membelakangi mereka shfingga Davina tidak sempat mengenali.
“Mana sih? Kamu salah liat kali,”
“Nggak ah, sebelum dia belok, aku liat mukanya kok,”
“Ya mungkin sama aja mukanya,”
“Hah masa iya?”
“Ya bisa aja, kamu pernah dengar nggak kalau kita sebenarnya punya tujuh kembaran di dunia ini? Ya percaya nggak percaya, tapi aku sering dengar begitu sih tapi nggak tau ya benar atau nggak. Aku sendiri pernah sih ketemu sama cewek yang menurut aku tih mirip banget sama aku, tapi cuma ketemu satu kali aja waktu itu,”
“Nggak-nggak, itu kayaknya beneran Kak El deh, coba aja nanti kamu tanya Bang Vano,”
“Tapi Bang Vano kok nggak keliatan kalau emang yang tadi itu Kak El?”
“Ya mungkin Bang Vano nggak ikut kali ya,”
“Ah nggak mungkin, kereka itu lagi di rumah orangtuanya Kak El tau, Vin,”
“Iya aku tau, kamu ‘kan udah ngasih tau itu semalam. Cuma itu kayaknya beneran Kak El deh, mungkin bang Vano nggak ikut atau Bang Vano masih di parkiran kali, terus Kak El duluan masuk mall deh,”
“Ah mana mungkin, Abang ‘kan selalu mau bareng istrinya, mau jagain istrinya takut kabur atau digondol maling kali,”
“Hahahaha julit banget sih mulutnya,”
*******
Elvina ingin menikmati waktu kesendiriannya ini dengan baik. Ia ingin melakukan apapun tanpa ada Vano di sampingnya. Tujuan eprtamanya adalah mall. Ia langsung ke food court untuk mengisi perutnya. Setelah itu Ia datang ke surganya sebagian besar perempuan yaitu tempat menjual skincare dan make up.
Elvina membeli serum untuk wajahnya karena kebetulan sudah mau habis. Disaat Ia sedang melihat-lihat, ada panggilan masuk dari suaminya dan Ia langsung menolak tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Ribet banget! Ngapain coba telepon-telepon!” gerutunya sambil menyimpan ponselnya di dalam tas lagi.
Elvina sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh suaminya bila Ia menerima panggilan dari Vano. Pasti Vano akan bertanya dimana keneradaannya? Dengan siapa Ia pergi? Pulang jam berapa! Smeua itu sudah bisa Elvina tebal, dan Elvina tidak akan menjawabnya. Ia akan buat Vano khawatir, sebagai hukuman untuknya yang telah laporan pada sang Bunda kalau Ia masih menyimpan kenangannya bersama Rendra.
******
Vano berdecak ketika panggilannya lagi-lagi ditolak. Vano khawatir dan bertanya-tanya kemana perginya Elvina. Jujur Ia tidak percaya Slvina ada urusan tugas kuliah.
Vano tadi dengar dari ibu mertuanya bahwa Elvina keluar karena ada urusan tugas kuliah. Dan Vano tidak semudah itu percaya. Vano yakin Elvina telah berbohong pada Bundanya.
Bahkan masalah berpamitan saja Elvina bohong. Elvina bilang apda Dini kalau dirinya sudah pamit pada Vano, padahal kenyataannya Elvina pergi begitu saja. Tapi demi menghindarkan Elvina dari amarah Dini lagi, Vano itakan ketika Dini ebrtanya benarkah Elvina sudah berpamitan kepadanya? Karena kalau Ia jawab yangs ejujur ya bahwa tadi Elvina marah-marah padanya, bahkan menuduh, tidak ada kata yang namanya pamit, Ia yakin Dinia kan marah kagi pada Elvina yang memang kali ini sudah keterlaluan.
Sudah ketahuan salah, bukannya mengaku salah dan merenungi kesalahannya itu sambil berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki. Yang terjadi justru adalah menyalahkan orang lain dan setelah itu pergi.
Disaat Vano sedang khawatir dnegan istrinya yang entah pergi kemana itu, tiba-tiba ada pesan masuk dari adiknya.
-Abang-
Vano tersenyum membaca pesan singkat adiknya. Tanpa menunggu waktu lama Ia membalas pesan Davina.
-Kenapa, Dek? Kangen sama Abang ya? Makanya kalau ketemu jangan suka ngajakin berantem, giliran nggak ketemu kangen ‘kan-
Tidak lama kemudian, ada panggilan masuk dari ornag yang sama, yaitu Davina. Vano langsung menerima panggilan dari adiknya itu.
“Halo, Bang,”
“Iya kenapa,”
“Ih aku bukan kangen sama abang ya! Jangan geer deh Abang,”
“Lho terus kenapa chat-chat Abang? Kangen sama Kek El?”
“Nah itu yang benar,”
Vano langsung mendengus. Posisinya benar-benar telah digantikan oleh istrinya. Seperti bukan Ia yang kakak kandung melainkan Elvina.
“Oh sekarang gitu ya? Jadi kenapa chat abang?
Minta uang? Berapa, Dek?”
“Ih bukan, Bang!”
“Terus apa?”
“Tadi Vinka bilang, dia ngeliat Kak El waktu aku sama Vinka di mall X. Emang bener Kak El ke sana? Sama Abang nggak sih? Kok tadi Vinka nggak liat Abang
“Hah? Kamu liat Kak El di sana?”
“Bukan aku, Bang, tapi Vinka,”
“Oh iya maksud Abang si Vinka liat El di sana? Sendirian?”
“Hmm iya,”
Daripada menjelaskan panjang lebar dan adiknya itu banyak tanya, lebih baik Vano benarkan saja apa yang ada di pikiran adiknya itu.
“Beneran?”
“Iya,”
“Ih kok nggak barengan sama Kak El sih masuknya? Tumben sendiri-sendiri. Biasanya juga mau bareng mulu sama Kak El,”
“Iya dia ydha nggak sanaran masuk duluan,”
“Ya udah kalau gitu aku tutup teleponnya. Tapi Abang sama Kak El nggak berantem ‘kam?”
“Nggak lah, masa berantem? Abang sama Kak El baik-baik aja, Dek,” ujar Vano yang tidak mau membuat adiknya khawatir.
“Ya udah bagus, bye Abang,”
Sambungan telepon berakhir. Akhirnya Vano tahu dari adiknya kalau Elvina ada di sebuah mall. Vano langsung bersiap untuk menghampiri istrinya itu. Ia khawatir, setidaknya kalau tidak bisa membersamai, Ia bisa menjaga istrinya dengan menciptakan jarak supaya Elvina yang sedang marah padanya tidak merasa risih.
Vano langsung membawa ponsel, dompet, dan juga kunci mobilnya. Ia beegegas ke langai dasar, ternyata di teras rumah ayah mertuanya baru saja menerima paket milik istrinya.
“Yah, aku pergi sebentar ya,”
“Oh iya hati-hati, oulang ke sini lagi ‘kan?”
“Iya Insya Allah, Yah. Masih boleh ‘kan nginap di sini?”
“Ah kamu kok ngomong begitu sih? Ya boleh lah, mau tinggal dibsini juga boleh,”
“Makasih ya, Yah,”
“Sama-sama, balik ke sini lagi ya, jangan lupa lho. Maish belum reka ayah kalau kamu pulang sekarang,”
“Iya, Yah. Aku pamit ya, Yah, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”
“Siap, Yah,”
Vano langsung melajukan mobilnya menghampiri mall yang tadi sudah disebutkan oleh adiknya dimana sang adik dapat informasi dari sepupu mereka kalau dia melihat keberadaan Elvina.
“Semoga ketemu, walaupun kayaknya mustahil karena mall itu luas banget,” gumam Vano sambil melajukan mobil dengan kecepatan normal. Ia berharap kedatangannya ke sana tidak sia-sia. Ia ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja meadaannay. Walaupun Ia mungkin tidak bisa mendekat tapi setidaknya Ia bisa menjaga Elvina dari kejauhan.
__ADS_1
******
“Apa kata Bang Vano, Dav?”
“Iya beneran itu Kak El. Bang Vano nya lagi di parkiran,”
“Tuh ‘kan beneran, tapi kenapa mencar-mencar gitu? Kamu sendiri bilang kalau Bang Vano selalu mau deketan sama Kak El”
“Katanya Bang Vano, Kak El udha mau buru-buru masuk mall jadi ya gitu deh, kita kira tadi nggak ada Bang Vano ya, dan aku semoat mikir kalau kamu salah liat,”
“Iya ternyata beneran Kak El ‘kan? Ah kamu nggak percaya sih. Mataku tuh nggak mungkin salah, udah pasti benar seratus persen,”
“Iya deh yang punya mata elang,”
“Hahahaha ngeledek banget,”
“Aku kepo makanya aku tanya aja ke Abang,”
*******
“Vano kemana? Kok Bunda liat mobilnya nggak ada, Yah,”
Dini keluar sore-sore untuk menyiram tanaman dan Ia baru sadar mobil menantunya tak ada di garasi. Ia langsung bertanya pada suaminya yang mungkin tau ksmana perginya Vano.
“Vano tadi pamit pergi sama Ayah tapi nggak tau deh kemana, nyusul Elvina kali,”
“Dari kapan? Udah lama?”
“Pas Ayah ambil paket Bunda tadi, Bunda tidur,”
“Oh, taoi mereka belum pulang ‘kan?”
“El sama Vano? Nggak lah, Bun. Mereka belum pulang sekarang kok. Orang Vano nya aja nggak bawa apa-apa tadi. Paling nyusul El kali, El juga pergi ‘kan sebelumnya?”
“Iya dan belum pulang juga anak itu,”
Dini keluar lagi untuk melaksanakan niat awalnya yaitu menyiram tanaman. Sementara suaminya sedang membaca koran di ruang keluarga.
“Semoga mereka baik-baik aja deh,”
Dini tiba-tiba khawatir dengan hubungan Elvina dan suaminya. Entah akan membaik atau tidak pasca Ia bicara pada anaknya tadi.
******
Vano berayukur sekali bisa mengikuti kemanapun istrinya pergi. Tadi Ia tak sengaja melihat Elvina keluar dari tempat belanja skun care dan make up. Vano langsung sigap mengikuti langkah Elvina ke toko baju.
Vano seperti penguntit saja mengikuti istrinya kemana-mana, tapi biarpun begitu Ia senang karena Ia bisa memastikan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah dari toko baju, Elvina mendatangi gerai es krim. Vano masuk juga ke dalam sana. Ia membeli satu cup dan tapi tidak fokus Ia nikmati karena Ia lebih memilih untuk mengamati Elvina yang sejauh ini tidak merasa curiga sedikitpun.
Setelah menikmati es krim, Elvina bergegas ke toko buku. Vano benar-bsnar sabar mengikuti istrinya itu. Ingin sekali membersamai Elvina, tapi rasanya tidak mungkin. Karena kemungkinan besar Ia akan diusir oleh Elvina dan mungkin saja mereka ada berdebat di mall itu. Vano menghindari hal itu makanya lebih baik menjadi penguntit saja.
Selepas membeli novel, barulah Elvina keluar dari mall. Suaminya masih mengikuti dengan jarak yang lumayan jauh demi menghindari kecurigaan Elvina, dan gerak gerik Vano juga tidak menggambarkan kalau Ia sedang mengikuti seseorang.
Sesaat setelah melewati pintu mall, tiba-tiba Vano melihat Elvina disapa oleh seorang laki-laki yang tak asing di mata Vano.
Vano kenal dengan lelaki itu. Bagaimana tidak kenap kalau hampir setiap hari Ia lihat istrinya mengamati foto lelaki itu.
“Hai, El,”
“Oh hai,”
“Kamu sendirian aja?”
“Iya, kenapa?”
“Makan bareng?”
”Oh maaf, aku udah makan. Sekarang mau pulang,” ujar Elvina pada Rendra yang kali ini tak sengaja bertemu dengannya.
“Aku antar ya?”
“Nggak usah, Rendra. Aku mau pulang naik ojek online aja,”
“El, jangan di depan pintu gini orang mau lalu lalang, kita agak minggir bentar,” ujar Rendra seraya meraih lengan Elvina supaya menyingkir dari pintu keluar. Walaupun pintunya luas, banyak ruang untuk orang lain berlalu lalang tapi tetap saja Rendra takut kehadiran mereka menghalangi orang lain.
“El, aku udah pernah bilang sama kamu, kita bisa jadi teman. Kamu masih benci sama aku ya, El?”
Elvina menahan keinginan untuk berteriak di depan wajah Rendra menyampaikan bahwa selama ini Ia masih belum bisa melupakan Rendra. Mata Elvina berkaca menatap Rendra yang sirundung rasa bersalah.
“Maafin aku pernah nyakitin kamu, jangan benci aku ya,”
“Kamu minta aku untuk nggak benci kamu setelah kamu selingkuh dari aku dan tiba-tiba mutusin aku? Iya? Kamu egois banget, Ren,”
Rendra menunduk dan menghela napas kasar. Kemudian Ia menatap Elvina dengan dalam. “Aku minta maaf, El. Aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan benci aku lagi ya, kita bisa ‘kan berteman? Aku nggak mau kita tiap ketemu kayak orang yang nggak kenal,”
“Lho, bukannya emang yang baik kayak gitu ya? Kita ‘kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi lebih baik kalau ketemu ya seolah nggak kenal aja,”
Vano masih mengamati istrinya dari kejauhan. Walaupun harus menahan perih di hatinya karena melihat Elvina bersama mantan kekasihnya tapi Vano memilih tetap mengawasi Elvina.
“Ngeliat kayak gini aja udah sakit banget hati saya, El,” batin Vano.
Sayangnya Vano tidak bisa mendengar pembicaraan antara istrinya dan juga sang mantan kekasih. Tapi setidaknya Ia bis alihat kalau mereka maish terlibat pembicaraan sebelum akhirnya Ia lihat Elvina pergi meninggalkan Rendra yang nampak wajahnya nampak putus asa.
“Maksud laki-laki itu apa sih? Dia udah ninggalin el, nyakitin El dengan cara selingkuh tapi dia masih pura-pura baik kayak gitu,”
__ADS_1
batin Vano seraya menyusul Elvina dengan langkah santainya, tidka meninbulkan kecurigaan siapapun, termasuk Rendra yang sudah masuk ke dalam mall tapi beruntungnya tidak berpapasan dengan Vano yang mungkin tidak bisa menahan emosinya ketika mereka tak sengaja berpapasan, yang sudah pasti Vano akan melemparkan tatapan sinis, kalau memberinya tinju, terasa mustahil untuk Vano yang ingin menjaga nama baiknya di muka umum seperti ini.
Vano lihat istrinya sibuk dengan ponsel, Vano tebak Elvina ingin memesan ojek online. Setelah Elvina naik ke atas motor barulah Vano buru-buru masuk ke dalam mobil dan mengikuti laju motor yang membawa istrinya itu.