Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 46


__ADS_3

“Kak El temenin aku yuk,”


Davina yang sudah menunggu-nunggu kepulangan Elvina dari kampus langsung menghampiri Elvina begitu Elvina menapakkan kakinya di lantai ruang tamu.


“Kemana, Dav?”


“Nyalon, Mama nggak bisa temenin karena ada arisan,”


“Boleh-boleh aku perlu ganti baju nggak?”


Davina menatap penampilan kakak iparnya yang baru pulang dari kampus. Hari ini Elvina hanya mengenakan celana jeans kulot berwarna putih dan juga kaos berwarna merah muda yang membuat Elvina kelihatan segar dan makin muda.


“Kamu pakai itu aja, Kak, nggak perlu ganti,”


“Okay ayo langsung pergi aja kalau gitu.”


“Nanti dulu, jangan masing pergi-pergi aja kamu. Inget ‘kan besok masih ada ujian? Hmm? Kamu harus belajar, El. Jangan sampai besok kamu ngelamun lagi tapi ngelamunnya karena nggak paham sama soal dan nggak tau mau jawab apa,”


“Iya iya nanti aku belajar, Mas. Sekarang aku temenin Davina dulu sebentar,”


“Saya antar,”

__ADS_1


“Nggak, Abang! Ih apa sih kok diantar-antar? Kalau ada Abang ribet ah. Nanti ngajakin pulang mulu,”


Davina sudah ditemani oleh Elvina jadi tidak mau lagi ada abangnya. Karena Davina sudah hafal netul kebiasaan abangnya itu. Suka ridak sabaran menunggu Ia belanja, ke salon, atau lain sebagainya.


“Hei kamu lupa ya kalau sebelum ada Elvina, kamu itu pergi sama Abang, Dek. Lupa ingatan atau gimana?”


“Iya aku tau, Bang. Tapi kali ini aku maunya pergi sama Elvina aja. Sejak ada Elvina, aku nggak mau ke mana-mana sama Abang lagi, titik,”


Vano geleng-geleng kepala mendnegar ucapan adiknya itu. Jadi sekarang posisinya sudah digantikan oleh Elvina.


Padahal sebelum ada Elvina, Ia yang suka diajak pergi oleh Davina. Itupun memang terpaksa sebenarnya karena Davina tidak tahu harus mengajak siapa lagi kalau misal mamanya kebetulan tidak bisa menemaninya pergi.


“Ya udah hati-hati, naik apa kalian?”


“Pak Iman ada tuh di pos, minta tolong Pak Iman aja sana,”


“Nggak ah, naik mobil driver online aja ya, Kak?”


Elvina menganggukkan kepalanya tidak masalah. Ia menggunakan transportasi apa saja senang.


“Iya naik apa aja ayo, aku naik motor pun ayo, naik getek ayo,”

__ADS_1


“Tapi sayangnya getek nggak ada di sini, Kak,”


“Iya jadi mau naik apa aja boleh,”


“Diantar Pak Iman aja seklaian minta tungguin sampai selesai,”


“Ih jangan kasian Pak Iman mendingan beliau di rumah aja. Lebih praktis naik mobil aplikasi online,”


Vano berdecak kesal. Adiknya tetap tidak mau mendengarkan sarannya jadi Ia biarkan saja. Istrinya juga ayo-ayo saja.


“Aku pesan dulu ya, Kak,”


“Iya jangan lupa pesannya mobil ya jangan motor,”


“Siap, Kak,”


Davina segera berkutat dengan ponsel untuk mencari driver mobil online. Tidak mau diantar oleh driver rumah, hanya ingin berdua dengan Elvina, Vano tebak adiknya benar-benar mau memghabiskan waktu bersama Elvina.


“Kalian rencananya mau kemana aja?”


“Ya intinya mau girls time, Bang. Udah deh Abang nggak usah kepo. Aku jagain kok istrinya,”

__ADS_1


Vano mendengus kesal. Yang ditanya apa, jawabannya beda. Vano hanya penasaran Davina mau mengajak Elvina pergi kemana saja? Apa hanya ke salon atau justru ke tempat-tempat lain juga? Karena biasanya Davina itu kalau sudah pergi ke mall tidak bilangnya dari rumah ingin ke satu tempat misalnya salon, tapi ternyata setelah sampai di mall ada tujuan lain sehingga yang harusnya cepat pulang malah jadi lama.


__ADS_2