Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 52


__ADS_3

“Mas, aku mau ke rumah Ayah Bunda nanti malam, nginap di sana boleh nggak?”


“Boleh dong. ‘Kan udah selesai ujian,”


“Yeayy makasih, Mas,”


“Iya sama-sama,”


Vano mengusap puncak kepala sang istri yang baru saja punya permintaan ingin ke rumah orangtuanya. Ternyata Elvina merindukan atah dan bundanya itu. Memang selama mereka menikah, belum pernah datang untuk menginap. Paling hanya sekedar melepas rindunya Elvina saja.


“Mau nginao berapa malam di sana?”


“Terserah kamu, Mas. Bolehinnya berapa malam?”


“Hmm terserah kamu aja deh,”


“Dua malam boleh nggak?”


“Boleh, saya nggak keberatan sama sekali,” ucap Vamo yang membuat Elvina tersenyum senang.


“Yeayy aku kangen banget sama Ayah Bunda, udah kangen juga sama kamar aku,”


Berhubung hari ini ujian terakhir Elvina sudah selesai dan dua hari ke depan memang akhir pekan jadi menurut Vano tak ada salahnya menginap di rumah mertua, anggap saja lagi staycation.


“Tapi Ayah Bunda nggak keberatan ‘kan nanggung saya?”


“Maksud Mas keberatan gimana?”


“Boleh nggak saya nginap?”


“Ya ampun, masa iya nggak boleh sih, Mas? Pasti boleh dong. Malah mereka sering banget nanyain kamu, Mas. Mereka juga sering nyuruh aku sama kamu nginap. Cuma aku bilang belum sempat,”


“Ya udah malam ini kita ke sana ya. Terserah kamu mau nginap berapa lama,”


“Kalau tersedah aku, kamu gimana mau ngajar, Mas?”


“Ya ‘kan bisa ngambil baju dan lain-lain di rumah dulu, baru habis itu ke kampus,” ujar Vano pada istrinya yang khawatir kalau mereka lebih lama dari dua malam malah merepotkan suaminya yang harus melaksanakan tugas sebagai dosen.


“Nggak deh, Mas. Cuma dua malam aja,”


“Ya udah terserah kamu,” ujar Vano.


“Tapi malam aja ya, Mas? Aku ‘kan mau nyiapin baju dulu,”


“Iya boleh,”


“Mas, aku mau bikin mie instan nanti pas sampai rumah, Mas mau nggak?”


“Mau,”


“Okay bareng ya,”


“Saya aja yang bikin, kamu ‘kan lagi mau nyiapin baju,”


“Nggak apa-apa, Mas. Tenang aja, aku bisa masak mie dulu baru deh abis itu siap-siapin baju,”


Mobil Vano berhasil tiba di rumah dengan keadaan selamat. Mereka langsung keluar dari mobil. Elvina berjalan lebih dulu sementara Vano mengambil laptop dan tasnya di kursi belakang lalu mengunci pintu mobil kemudian berjalan menyusul Elvina yang langsung disambut oleh Davina.


“Kakak,“


“Eh Davina, kenapa nih peluk aku? Ada apa, Dav?”


“Nggak apa-apa, takut kangen aja,”


“Lho emang kamu mau kemana? Kok ngomongnya gitu?” Tanya Elvina sambil melepaskan pelukan mereka dan Ia memegang kedua bahu Davina yang baru saja bicara seolah memberi kode bahwa Ia akan pergi.


“Aku mau nginap di rumah sepupu, Kak. Dua malam aja kok. Malam ini sama besok malam. Jangan kangen aku ya,” ujar Davina sambil menaik turunkan kedua alisnya dan tersenyum.


“Hah? Beneran?“


“Iya, nggak apa-apa ‘kan?”


“Ya…nggak apa-apa, Sayang. Baik-baik ya, jangan lupa aku ya,”


“Hahahah ya jali aku lupa sana Kak El, cuka bentar doang lagian, Kak,”


“Iya, hati-hati kalau gitu ya,”


“Jangan sedih gitu mukanya. Kamu sendiri ‘kan juga bakal nginap,” hibur Vano yang bisa melihat kalau istrinya itu sedih setelah tahu adik iparnya akan menginap. Yang biasanya menjadi teman di rumah, selaku bertemu, untuk semnetara waktu tidak ada pertemuan dulu di antara keteka berdua.


“Lho, emang Kak El sama Abang mau kemana? Mau nginap dimana maksud aku?”


“Di rumah Ayah sama Bunda aku, Dav,”


“Oh gitu, ya udah selamat staycation di rumah sendiri ya, Kak. Jangan lupain aku juga ya,”


“Nggak dong, mana mungkin aku lupain kamu,”


Elvina menjawil dagu adiknya itu dambil mengedipkan salah satu matanya. “Ya udah aku mau siap-siap dulu,”


“Okay, selamat bersiap-siap,”


Davina bergegas ke kamarnya begitupun Vano dan Elvina yang hanya meletakkan tas sekaligus ganti baju saja detelah itu langsung turun lagi ke lantai bawah karena ingin membuat mie instan.


Tidak sampai dua puluh menit Elvina kembali ke kamar dengan membawa satu baki yang di atasnya terdapat dua buah mangkuk berisi mie kuah plus telur.


“Mas, ini mie nya,”


“Makasih ya,”


“Sama-sama, Mas,”


Vano langsung mengambil alih baki yang dipegang oleh istrinya itu dan Ia bawa ke meja di sudut kamar.


“Harusnya kita makan di bawah aja, kamu nggak bilang mau bawa ini ke kamar. Ini ‘kan panas, El. Bahaya kalau tumpah kena kamu,”

__ADS_1


“Aman kok, Mas,”


“Lain kali jangan begitu. Kita bisa makan di meja makan atau kamu bisa ngomong ke saya,”


“Iya, Mas,”


“Makan di mana nih kita?”


“Balkon yuk, Mas,l


“Tapi panas, masih jam sebelas soalnya,”


“Oh iya ya. Okay jangan di balkon deh, di sofa kamar aja deh udah benar,”


Niatnya mau makan di balkon, tapi benar kata Vano di luar terik matahari masih cukup mengganggu.


Jadi akhirnya mereka putuskan untuk makan di sofa kamar yang berhadapan dengan meja. Tidak ada yang lebih nikmat daripada menikmati makanan bersama pasangan, di rumah, walaupun hanya dengan mie instan tapi rasanya bahagia sekali. Vano tidak tahu kalau setelah menikah, hal sederhana ini saja bisa menghadirkan kebahagiaan di hatinya.


“Mas, kita baru jam sebelas siang udah makan siang, pakai mie lagi,”


“Nggak apa-apa, kalau udah lapar amsa kau ditahan sampai jamnya makan siang, lagian dmang udah bentar lagi kok jamnya kita biasa makan siang.”


“Mama Papa di Bali jadi sampai lusa ya, Mas?”


“Iya, belum ada perubahan. Kalau berubah rencana pasti ngabarin saya,”


“Nggak enak ya kalau nggak ada Mama Papa, ditambah lagi Davina bakal pergi nginap, Mas,”


“Iya tapi kita ‘kan mau nginap juga,”


“Iya sih bener, tapi sepi gitu kalau misal besok kita pulang duluan daripada Mama Papa sama Davina,”


“Kita ‘kan dua malam, El. Ya berarti belum besok ‘kan pulangnya?”


“Eh iya, aku baru ingat, Mas,”


“Malam ini sama besok malam. Ya berarti belum besok pulangnya. Lusa pulangbaru pulang,”


“Iya, Mas,”


“Tapi kalau mau lebih juga nggak apa-apa kok,”


“Nggak, Mas. Bener lusa pagi aja. Abis itu kita belanja bulanan ya, Mas. Temenin aku bisa nggak?”


“Bisa, apa sih yang nggak bisa buat istri saya sendiri?”


Elvina tersenyum mendnegar ucapan Vano. Sudah sebaik itu, seperhatian itu, setampan dan semalan itu, tapi tetap saja Ia masih belum bisa mencintai Vano. Sampai Ia sendiri pun bingung.


Mereka menikmati mie instan sampai habis tak bersisa. Karena mungkin jarang makan mie instan, jadi sekalinya makan, rasanya rugi kalau mangkuk tidak sampai benar-benar kosong.


“Mas, kita emang nggak boleh apa dua hari sekali gitu makan mie. ‘Kan mie tuh enak banget, Mas,”


“Makanan yang instan-instan itu sebenarnya kurang baik untuk kesehatan. Tapi kalau masalah rasa, memang seringnya yang instan itu jauh lebih enak daripada yang nggak instan,”


“Iya bener. Udah instan, murah, enak, siapa sih yang nggak suka,”


“Makasih, Mas,”


Elvina yang tadinya ingin mencuci mangkuk, sendok, dan gelas tapi dilarang oleh suaminya itu.


Akhirnya Elvina memutuskan untuk duduk sebentar menunggu perutnya turun, barulah Ia bergegas menyiapkan pakaian untuk menginap di rumah orangtuanya.


Ditengah kesibukannya memilih pakaian, ponselnya bergetar dan ada panggilan masuk dari Ibu mertuanya. Tanpa menunggu waktu lama Ia menjawab panggilan itu.


“Assalamualaikum, Ma,”


“Waalaikumsalam, Sayang. Gimana ujiannya? Udah selesai?”


“Udah, Ma. Aku udah di rumah nih, Alhamdulillah,”


“Alhamdulillah lancar ujiannya?”


“Iya lancar, Ma. Oh iya Ma aku mau sekalian izin sama Mama. Aku sama Mas Vano mau nginap di rumah ayah bunda boleh nggak? Dua malam rencananya, Ma,”


“Ya amlun, boleh dong, Nak. Mau berapa lamapun di sana boleh-boleh aja. Mama ikut senang kalian nginap di sana. Pasti Ayah Bunda udah kangen banget terutama sama kamu,”


“Iya aku juga kangen banget makanya mau nginap,”


“Davina juga kau nginap di rumah sepupu. Jadi rumah kosong deh hahaha. Pada mencar semua. Nanti kita ngumpul lagi Insya Allah ya,”


“Iya, Mama Papa hati-hati ya,”


“Kalian juga yang di sana,”


“Iya, Ma,”


“Vano dimana?”


“Lagi di bawah nyuci mangkok bekas makan mie, Ma. Kami berdua abis makan mie,”


“Oalah hahaha bagus deh mandiri ya, nggak ngandelin istri aja,”


“Tadi mau aku aja yang nyuci eh malah dilarang. Akhirnya ya udah deh aku siapin buat baju aja buat nginap,”


“Salam buat ayah bunda ya, Nak,”


“Iya nani aku sampaikan, Ma,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Bertepatan dengan berakhirnya sambungan telepon antara Elvina dan Lisa, tiba-tiba Vano masuk ke dalam kamar.


“Telepon Mama? Sempat kedengeran dikit dari luar,”

__ADS_1


“Mama telepon aku, Mas. Aku udah bilang ke Mama kalau kita mau nginap di rumah ayah bunda dan Mama bolehin,”


“Ya pasti boleh lah, Mama nggak mungkin larang kamu. Justru Mama senang karena itu tandanya kita nggak lupa sama orangtua kita, masih sempetin nginap,”


“Iya, Mas,”


“Ada yang bisa saya bantu? Saya udah selesai nyuci,”


“Mas baku amat. Ada yang bisa saya bantu? Kayak customer service gitu, Mas,”


Vano dan Elvina sama-sama tertawa. Elvina pintar sekali menirukan suaminya ketika bicara tadi. Kalau dipikir-pikir memang persis customer service.


“Aku kalau misal ada kendala nih sama sesuatu, aku telepon customer service nah ngomongnya kayak Mas gitu, persis. Mas dulu kerja jadi customer service, Mas? Pekerjaaj yang nggak kalah kuliah lho itu. Suka kasih solusi untuk permasalahan yang dilaporin, terus sering jadi sasaran omelannya pelanggan ya, Mas,”


“Saya nggak pernah kerja jadi customer service, sok tau kamu ah,”


Vano menarik ujung hidung bangir istrinya itu yang langsung tertawa. Ternyata dugaan Elvina salah. Ia pikir suaminya pernah punya pengalaman bekerja di bidang itu.


“Aku pikir pernah lho, Mas. Soalnya Mas persis banget tadi pas ngomong ada yang bisa saya bantu?”


“Mentang-mentang mirip langsung dibilang pernah kerja di sana ya? Luar biasa, Elvina. Asal nebak dengan pedenya.”


“Hahahaha maaf deh kalau gitu. Tapi muka-muka kayak Mas emang cocok sih jadi bagian pelayanan gitu, soalnya sedap dipandang mata, ramah juga ‘kan,”


“Emang saya ramah? Emang tampang saya sedap di pandang mata? Saya ‘kan bukan makanan,”


“Ya emang Mas bukan makanan, Mas tuh manusia yang tampannya luar biasa,”


“Halah bisa aja,”


“Dih, nggak percaya?”


“Saya biasa aja,”


“Sini saya bantu tata di dalam tas,”


Elvina sudah selesai memilih pakaian, lalu Vano berinisiatif untuk menatanya di dalam koper.


“Mas bisa nggak? Ntar nggak rapi kalau Mas yanh nata,”


“Rapi lah, tenang aja. Saya bisa diandelin kok nanti liat aja,”


“Aku aja, Mas. Jangan Mas, mending Mas istirahat deh, daripada bantuin aku,”


“Istirahat terus,”


“Lah istirahat terus darimana? Yang bener itu, kerja terus. Mas ‘kan abis pulang dari kampus mendingan istirahat,”


“Kamu juga baru pulang dari kampus, sama aja kayak saya harusnya kamu juga istirahat lah,”


“Aku sih nggak capek ya, Mas,”


“Saya juga nggak capek,”


“Eh tapi kita baru makan, tidurnya ntar aja, lagian bentar lagi mau adzan,”


“Nah iya benar,”


Suara ketukan pintu membuat Elvina langsung bergegas mendekati pintu. Tadinya Elvina akan mengambil perlengkapan mandi namun Ia mengurungkan niatnya itu karena Ia harus menemui orang yang sudah mengetuk pintu kamarnya itu.


“Hai, Kak,”


“Hai, Dav, kenapa, Sayang?”


“Aku boleh minta tolong?”


“Minta tolong apa? Kalau aku bisa pasti aku bantu,”


“Tolong pilihin yang mana yang cocok aku bawa pergi,”


Davina langsung menunjukkan kedua baju yang ada di balik punggungnya kepada sang kakak ipar. Ia minta tolong supaya dipilihkan mana yang cocok untuk Ia bawa pergi.


“Ah Davina manja. Biasanya juga jago milih baju, sekarang mentang-mentang udah punya kakak, jadi sering minta tolong ke kakak deh,” ujar Vano menggoda adiknya yang langsung melemparkan tatapan sinis.


“Emang kenapa sih, Abang yang ganteng? Aku ‘kan minta tolongnya sama Kak El, bukan sama Abang,”


“Cie manua, cie usah punya kakak,”


“Berisik ah, orang cerewet nggak diajak,”


Vano terkekeh mendengar adiknya menggerutu. Lalu Davina kembali menatap pada Elvina.


“Yang mana menurut Kakak?”


“Hmm ini baju buat pergi ya?”


“Iya biat nonton konser besok,”


“Oh buat ngonser ternyata. Konser apa kalau boleh tau?”


“Boyband korea yang aku suka dong, Kak. Warna identik mereka sih biru. Makanya aku mau ada nuansa biru-birunya gitu,”


“Oh kamu bingung antara kaos oversized atau hoodie lengan pendek ya berarti?” Tanya Elvina setelah melihat dua baju yang telah dibawa oleh adik ioarnya itu dan Ia dimintai tolong utuk memilihkan.


“Kata aku sih kaos oversized aja, sekalian aku kasih saran bawahannya pakai boyfriend jeans bagus tuh. Simple tapi keren, oh iya jangan lupa pakai bucket hat,”


“Ah thank you banget buat sarannya, Kak!”


Davina mengucapkan terimakaish sambil memeluk Elvina sebentar setelah itu Davina kembali lagi ke kamarnya.


“Dek, jangan lupa sepatunya sneakers aja,”


Belum selesai Elvina menyampaikan saran tapi Davina yang sudah terlanjur senang langsung saja pergi, beruntungnya Davina masih dengar saran terakhir dari Elvina itu.


“Okay makasih, Kak,”

__ADS_1


“Iya sama-sama,”


__ADS_2