
"Harusnya kalau dia mau nyuri, tinggal nyuri aja. Kenapa harus nyakitin kamu sih? Ya Allah, saya mau pingsan tadi, El. Saya khawatir banget lihat kamu kesakitan dan nahan tangis,"
"Aku merasa kuat jadi aku enggak mau nangis. Tapi tetap aja aku nangis karena rasanya benar-bebar sakit, ngilu. Tangan aku mau lepas rasanya,"
Vano meringis pedih dan memeluk istrinya dengan erat. Ia merunduk untuk mencium lembut tangan Agatha yang diperban.
"Semoga cepat sembuh,"
"Aamiin, terimakasih ya, Mas,"
"Kewajiban saya, El. Enggak perlu bilang terimakasih. Sekarang yakin mau kembali ke hotel?"
Agatha menganggukkan kepalanya. Ia ingin beristirahat di hotel saja, daripada terlalu lama di rumah sakit. Yang terpenting, lukanya sudah mendapat penanganan yang baik.
"Mas, handphone aku gimana ya?"
"Enggak apa-apa, bisa beli lagi, yang penting keselamatan kamu, El. Kamu jangan mikirin handphone dulu disaat tangan kamu baru habis ditusuk,"
"Karena semuanya ada di sana, Mas. Tapi aku bersyukur aku enggak bawa dompet. Di sana banyak juga yang penting,"
__ADS_1
"Bisa diurus. Besok kamu udah punya handphone baru, tenang aja ya,"
“Tapi aku sayang banget sama handphone itu, Mas. Dokumen aku banyak di sana,”
“Ya udah ‘kan bisa kamu pindah ke handphone baru nanti, saya bantu kok,”
“Tapis emoga bisa semua ya dipindah ke handphone baru,”
“Nanti kalau tangan kamu udah mendingan kita pergi cari handphone sesuai sama apa yang kamu mau,”
“Nggak usah yang mahal-mahal. Kayak yang punya aku aja tuh,” ujar Elvina seraya menatap Vano.
“Duh akus ayang banget sama handphone aku itu, Mas. Aku baru beli handphone itu. Dibeliin ayah bunda, Mas. Haaaa dasar laki-laki kurang ajar! Brengsek banget dia. Bisa-bisanya dia ngambil handphone aku!”
Elvina merengek tidak terima dan tangisnya pecah sekarang. Ketika tangannya sakit Ia tidka menangis tapi memang sakitnya luar biasa. Sekarang Ia menangis karena kehilangan ponsel genggam yang dibeli oleh orangtuanya.
“El, udahlah jangan sedih. Besok saya beliin yang baru, walaupun tangan kamu belum membaik, kamu nggak perlu khawatir nanti saya aja yang beli handphone buat kamu ya,”
Vano mengusap kening istrinya. Kemudian Ia menghapus air mata sang istri dengan lembut.
__ADS_1
“Kenapa sih sampai nangis segala? Emang ada apaan di handphone itu? Harta karun? ‘Kan udah saya bilang, saya bakal beliin kamu handphone kamu yang baru. Jadi nggak usah sedih,”
“Ih bukan masalah harta karun atau apa, Mas. Aku nggak mau aja itu hilang. ‘Kan saya banget,”
“Kalau saya yang hilang belum tentu kamu begini, El,” gerutu Vano.
Kehilangan ponsel saja sampai segininya. Apdahal Ia sudah katakan bahwa ponsel yang hilang itu akan Ia ganti dnegan yang baru bahkan niat Vano ingin membeli yang lebih mahal.
“Ya sedih juga lah,”
“Masa? Saya nggak percaya?”
“Ya udah sana coba dulu. Kamu hilang, aku pasti sedih,”
“Oh jadi kamu mau saya hilang nih ceritanya? Hmm?”
Elvine terkekeh dengan hidungnya yang merah dan mata yang masih berkaca. Vano tersenyum senang karena istrinya sudah bisa tertawa.
“Nah gitu dong ketawa jangan nangis. Saya nggak suka liat kamu nangis. Nggak tenang hati saya, El,”
__ADS_1