
“Ya udah aku aja yang ganti,”
“Kenapa? Aku nggak keberatan kok untuk gantinya,”
“Diam deh mending! Aku mau beresin pecahannya sekarang,”
Vano mengumpulkan serpihan kaca menjadi satu setelah itu Ia mencari kantong plastik untuk menjadi penampungnya lalu Ia letakkan ke dalam tempat sampah. Selain pecahan kaca, Vano juga turut mengangkat semua butir-butir nasi yang tumpah.
Lagi-lagi Vano memanggil petugas kebersihan untuk mengepel lantai yang berminyak dan lengket karena yang ditumpahkan Elvina adalah nasi goreng.
Elvina benar-benar menguji kesabaran Vano kali ini. Dia sudah memecahkan gelas yang kacanya Ia pakai untuk melukai tangannya sendiri, lalu barusan memecahkan piring berisi nasi goreng karena menolak makan.
Apa yang dilakukan Vano tadi tidak lepas dari perhatian Elvina. Harusnya Vano kesal dan mengusirnya dari hotel ini tapi entah kenapa lelaki itu masih saja membiarkannya di dalam kamar ini padahal bisanya hanya berbuat kekacauan saja.
“Kenapa lo nggak makan?” Tanya perempuan itu dengan ketus pada suaminya. Vano yang baru keluar dari kamar mandi membasuh tangan menoleh pada istrinya.
“Kok ngomongnya balik kayak gitu lagi? Nggak suka ah,”
“Suka-suka gue, mulut gue kenapa lo ngatur?! Gue udah nggak hargain lo lagi. Gue anggap lo orang lain aja sekarang,”
“Ih ya Allah, jahat banget masa begitu sih? Aku masih tetap suami kamu lho, Sayang,”
“Nggak lagi sekarang,”
“Masih, dan akan terus begitu,” lugas Vano.
__ADS_1
“Aku kayaknya nggak makan juga, soalnya kamu nggak mau makan,”
“Ya kenapa harus nunggu gue makan? ‘Kan gue udah bilang dari tadi, gue nggak akan makan kecuali kalau di rumah orangtua gue,”
“Makan sama aku yuk, satu piring berdua ‘kan enak, romantis juga,” Vano masih berusaha membujuk sang istri agar Ia mau makan.
“Nggak usah mau romantis-romantis. Gue nggak sudi,”
“Apa-apa nggak sudi,”
Vano merengut dan akhirnya duduk sendiri berhadapan dengan nasi goreng yang tersisa tinggal satu piring.
“Aku makan sendiri nih?”
“Hmm enak lho, El,” Vano memuji masakan yang tengah Ia makan sekarang. Sementara lawan bicaranya mengalihkan pandangan, tidak mau ke arah Vano.
“Bener-bener keras kepala banget dia. Kok bisa sih gue cinta banget sama perempuan ini,”
******
Dini bingung karena putrinya beberapa saat lalu sempat menghubungi nomornya tapi langsung mati dan begitu Ia hubungi balik tidak ada jawaban.
“Kenapa ini anak telepon aku? Kok giliran dihubungi balik malah nggak aktif,”
Dini mencoba sekali lagi dan panggilannya masih berada di luar jangkauan. Akhirnya timbul keinginan Dini untuk menghubungi menantunya, Vano. Ia tahu mereka berdua akan berlibur di hotel alias staycation.
__ADS_1
Begitu Ia menghubungi Vano, lelaki itu langsung menjawabnya. “Assalamualaikum halo, Bun,”
“Waalaikumsalam kenapa Elvina telepon bunda barusan?”
“Bunda tolong jemput aku sekarang di hotel, Bun. Aku mau pulang aja. Vano ketemuan sama Delila di hotel ini, Bun. Aku mau pulang tapi dilarang Vano—hmmp”
Elvina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya ditutup oleh Vano yang panik. Elvina mengadu seperti itu seolah-olah Ia sudah jahat sekali pada Elvina.
“Bun, Demi Allah aku nggak sengaja ketemu Delila yang kebetulan memang nginap di hotel ini jadi kami ngobrol sebentar terus kebetulan Elvina datang dan dia salah paham. Aku udah jelasin jujur tanpa bohong sama sekali, tapi dia tetap nggak percaya, Bun. Aku mohon mama percaya sama aku ya. Aku nggak mungkin—-“
“Apalagi sih yang kamu lakuin? Hah? Kamu kalau memang benar-benar udah mau lepas dari Elvina ya udah silahkan gugat aja. Kembalikan dia dengan baik-baik. Jangan kayak begini caranya,”
“Bun, aku nggak ada niat untuk macam-macam, aku berani sumpah. Dan aku juga nggak mau pisah sama Elvina. Dia udah cinta sama aku, Bun, itu yang aku tunggu-tunggu,”
“Iya terus kenapa kamu masih tega aja sama dia? Vano, dengar ya, selingkuh itu paling susah dimaafin dan dilupain. Masih mending kalau kesalahan yang lain. Bunda nggak mau anak bunda terluka karena diselingkuhi sama kamu. Udah cukuplah, Van. Jangan bikin masalah lagi,”
Vano menahan rasa sesaknya mendengar ucapan Dini. Padahal Ia sudah menjelaskan yang sebenar-benarnya tapi Dini sepertinya juga tidak percaya, sama seperti Elvina.
“Aku nggak selingkuh, Bun. Aku cinta sama Anatha dan mama tau persis soal itu ‘kan. Aku nggak akan main di belakang Elvina, Bun,”
“Bunda bakal datang jemput dia. Tolong kasih tau dimana kalian berada,”
Setelah itu panggilan terputus. Dini yang mengakhirinya secara sepihak. Ia akan menunggu kedatangan suaminya dulu barulah bergegas ke hotel. Mendengar Elvina meminta untuk dijemput, hatinya sebagai orang tua benar-benar tergores.
Elvina sampai minta dijemput artinya Vano memang sudah keterlaluan. Kasihan sekali anaknya itu. Barusan Vano mengatakan bahwa Elvina mencintainya tapi malah disakiti seperti itu. Seperti sengaja ingin membalas dendam karena sebelumnya Elvina pernah membuatnya sakit juga setelah rasa cintanya diabaikan oleh Elvina.
__ADS_1