Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 104


__ADS_3

Elvina berjalan cepat dengan pandangan yang mulai memburam karena air mata yang berusaha Ia tahan lajunya.


Vano sudah menyakiti hatinya hari ini. Mengusir, tidak mengantarkannya pulang, kemudian membentaknya hanya karena menutup pintu ruangannya dengan kasar. Setelah itu Ia pikir Vano akan menghampirinya.


Sebelumnya, kalau Vano merasa telah berbuat kesalahan, Vano pasti mendekatinya, meminta maaf, dan membujuknya supaya tidak kesal lagi. Tapi ini tidak. Bahkan menampilkan sedikit batang hidungnya saja tidak sama sekali.


“Aku marah banget sama kamu, Mas. Aku semakin bisa lihat kalau kamu itu berubah. Kenapa sih? Kenapa kamu jadi begitu? Setelah pulang ke rumah setelah semingguan pergi, kamu jadi berubah kayak begitu dan aku benci banget. Malah jadi aku yang kelihatannya lemah!”


Elvina sepertinya tidak pernah dibuat sekusut ini oleh Ken. Biasanya Ia yang dominan, Vano yang dipaksa untuk memahaminya. Tapi kali ini justru seperti dibuat Vano menjadi terbalik.


Vano ingin Ia memahami bahwa Ia tidak suka dengan kedekatannya bersama Jona, Vano memaksanya supaya paham bahwa sekarang ini Vano tidak mau diganggu sampai-sampai Vano mengusirnya.


Elvina menghentikan taksi yang kebetulan melaju di depan kantor dimana Vano bekerja. Setelah itu Ia masuk ke dalam dan menyebutkan alamat rumahnya.


******


Sudah pukul sembilan malam Elvina belum melihat tanda-tanda suaminya pulang. Padahal Elvina sudah menunggunya sejak tadi. Bahkan Elvina berharap bisa makan malam bersama dan mereka bisa terlibat obrolan hangat lagi. Elvina ingin melupakan kejadian dimana Ia pernah diusir oleh suaminya sendiri dari kantornya. Lagipula, Ia pernah bersikap lebih kasar daripada Vano. Ia sadar akan hal itu maka tak mau memperpanjang nya lagi. Ia juga akan meminta maaf pada Vano yang barangkali berubah karena Ia punya salah.


“Bu, kenapa belum tidur atuh?”


“Nanti, Mih. Mas Vano belum pulang,”


“Aduh romantisnya nunggu suami pulang,”


Amih menggoda Elvina yang berkeinginan menantikan suaminya tiba di rumah. Elvina hanya membalasnya dengan senyum. Elvina sekarang ini tengah risau karena Vano belum juga pulang padahal sudah cukup malam. Biasanya paling terlambat pukul delapan malam, dan sore lebih sering sudah sampai di rumah. Sekarang sudah pukul sembilan lebih belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


“Saya istirahat duluan ya, Bu,”


“Iya, Mih, silahkan,”


Elvina memilih menunggu di ruang tamu sementara Amih bergegas ke tempatnya beristirahat.


Sudah pukul sembilan lewat dan semua pekerjaan telah rampung, maka tak ada yang ingin Amih lakukan selain tidur sebab matanya juga sudah terasa cukup berat.


Elvina duduk di ruang tamu sambil duduk di sofa. Sesekali Ia akan mengecek ponsel barangkali Vano mengirimkan pesan tentang keterlambatan pulang hari ini, tapi kenyataannya tidak ada pesan apapun dari suaminya itu.


“Mas Vano kemana sih? Jangan-jangan dia enggak pulang lagi kayak waktu itu,”


Elvina tiba-tiba berpikir bahwa suaminya sengaja tidak kembali lagi ke rumah seperti beberapa waktu lalu dimana Ia memilih hotel sebagai tempatnya menginap untuk satu minggu.


Elvina menghubungi Vano sudah lima kali tapi tak ada jawaban, Elvina juga mengirimi pesan dengan bunyi yang sama yaitu bertanya dimana keberadaan Vano, tapi tidak ada jawaban juga sama sekali.


“Harusnya kalau enggak pulang ya bilang dong. Biar gue tidur aja,”


“Mana gue udah enggak makan malam, keterlaluan banget dia,”


Elvina sampai menunda makan malamnya karena tadinya ingin makan dengan Vano tapi ternyata Vano malah terlambat pulang begini, atau jangan-jangan Vano memang tidak pulang. Entah mengapa dugaan Elvina seperti itu.


Menunggu Vamo tak kunjung pulang sampai menyentuh pukul sepuluh malam, akhirnya Elvina tertidur di sofa masih dengan keadaan duduk. Ia tak mampu lagi menahan rasa kantuknya.


Tiba lah di pukul sebelas malam Vano akhirnya menginjakkan kaki di rumahnya dengan wajah penat dan baju yang kusut.


“Pak, tumben pulang malam banget,” tanya security rumah yang juga sadar kalau malam ini Vano pulang cukup larut malam.


“Iya, baru selesai kerjaannya, saya masuk dulu ya,”


“Iya, Pak,”


Vano membuka pintu rumah yang nyatanya tidak dikunci. Ia tertegun ketika disambut dengan pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Ia mendapati sosok Elvina yang duduk di sofa ruang tamu dengan posisi duduk.


“Ini Elvina nungguin gue atau gimana? Kalau iya, gue senang banget,” gumamnya dalam hati seraya tersenyum tipis. Tanpa basa-basi Ia mendekati istrinya yang tertidur lelap sekali kelihatannya. Dengan kedua tangan yang dilipat di atas perut, Elvina pulas sekali tertidur meskipun posisinya duduk dan pasti itu membuat Ia tidak nyaman.


Vano menyampirkan beberapa helai rambut Anatha yang jatuh ke balik telinganya setelah itu Ken menyentuh pipi Elvina. Mereka habis terlibat perang dingin, lalu disambut dengan Elvina yang tertidur ketika menunggunya sampai rumah, itu adalah hal yang membahagiakan sekali bagi Vano.

__ADS_1


Sentuhan di pipi dan rasa dingin yang terasa menusuk kulit wajahnya membuat Elvina mengerjapkan matanya. Ia melenguh sebentar sambil terus mengumpulkan nyawa.


Melihat ada sosok yang Ia tunggu kedatangannya sejak tadi, Ia langsung menegakkan badannya.


“Kamu baru pulang?”


Elvina merasa bodoh karena masih saja bertanya padahal sudah jelas Ia bisa melihat Ken yang masih mengenakan pakaian kerjanya, tentu Vano baru pulang kerja. Tapi apa salahnya bertanya untuk lebih meyakinkan.


“Iya, aku baru pulang,”


“Kok malam banget pulangnya?” Tanya Elvina setelah melihat jam dinding. Vano benar-benar pulang larut dan tanpa kabar pula.


“Aku telepon dan kirim pesan enggak ada yang kamu respon satu pun,”


“Iya aku minta maaf, baru kelar kerjaan aku, Na,”


“Aku nungguin kamu dari tadi, sampai enggak makan malam karena tadinya mau makan malam sama kamu, eh enggak taunya kamu sampai rumah udah jam segini,”


Vano merasa tidak tega pada Elvina yang sampai tidak makan malam karena ingin makan malam dengannya tadi. Ia tak mau membiarkan Elvina tidur dengan perut yang lapar.


“Ayo makan sama aku,”


“Enggak ah, udah malam banget, aku males makan kalau udah jam segini,” kata Elvina seraya bergegas ke dapur untuk menyimpan lauk pauk yang sudah dingin dan tak membuatnya selera lagi untuk menyantapnya.


“Tapi aku lapar nih,”


“Siapa suruh enggak makan di kantor?”


“Aku juga tadinya mau makan sama kamu sih. Ngomong-ngomong aku senang kamu nungguin aku,”


“Karena aku mau kita baik-baik aja. Aku minta maaf kalau memang aku salah dan udah bikin kamu jadi berubah,”


“Hah? Berubah?”


“Yang kamu kenal itu maksudnya yang biasa kamu sakiti, enggak kamu hargai, yang sering kamu perlakukan buruk, gitu ya? Sorry, aku memang lagi berusaha untuk jadi diri aku yang enggak bego-bego banget karena cinta,” ujar Vano pada istrinya itu. Ia memang mencintai Elvina tapi Ia tidak mau kelihatan lemah lagi, tidak mau kelihatan bodoh lagi sementara Elvina berkebalikan dari itu semua.


“Lagipula perubahan aku ‘kan enggak terlalu ya? Paling jadi lebih cuek aja, aku udah berubah pun kamu masih aja enggak bisa hargai aku. Buktinya masih aja jalan sama Jona. Ya memang aku kasih izin, tapi aku enggak habis pikir gitu lho. Bisa-bisanya kamu tetap aja jalan sama dia sementara aku nih suami kamu udah jelas-jelas enggak akan suka istrinya jalan sama yang lain, tapi kamu ‘kan enggak terima kalau aku ngomong kayak begitu. Jadi ya udah, aku enggak akan bahas lagi. Aku juga capek ribut terus, aku pengin setelah pulang ke rumah kita damai-damai aja, tapi rupanya masih juga ada masalah,” ujar Vano panjang lebar.


“Jangan disimpan lauknya, aku udah makan dan kamu juga harus makan, tadi kamu nunggu aku mau makan bareng ‘kan? Jadi tunggu apalagi? Ayo makan bareng,” ucap Vano dengan tegas. Ia tidak mau Elvina mengelak ketika Ia ajak untuk makan malam bersama.


Elvina akhirnya tak jadi menyimpan semua lauk pauk, padahal tadi sudah sempat ada yang Ia simpan pada ujungnya Ia hidangkan lagi di meja makan.


Ketika meletakkan piring berisi makanan untuk Vano yang sudah Ia ambilkan, Elvina mengernyit ketika mendapati aroma lain dari tubuh suaminya. Bukan masam atau apa, tapi ini aroma parfum perempuan yang jelas bukan parfum miliknya.


Elvina langsung dibuat terdiam membeku. Vano yang melihat itu langsung menegurnya. “Kok berdiri? Ayo kita duduk, makan,” kata Vano pada istrinya yang Ia lihat tengah diam menatapnya datar.


Elvina duduk, Ia mengambil garpu dan sendok kemudian Ia mulai menyuapi makanan ke dalam mulut dengan pikiran yang masih berkelana tak tentu arah. Wajar kalau Ia merasa bingung. Entah darimana Vano dapat aroma parfum itu. Habis pelukan dengan siapa lelaki itu? Atau habis melakukan yang lain?


Elvina menggelengkan kepalanya. Seharusnya Ia tidak berpikiran buruk seperti itu. Dan lagipula kenapa Ia begitu cemas? Biasanya juga tak peduli.


Hal-hal positif Ia tanam dalam otak dan hatinya tapi tetap saja Ia tak bisa tenang. Dalam hati Ia terus bertanya-tanya soal parfum itu dan juga mengaitkannya dengan keterlambatan Vano pulang ke rumah.


Elvina berdehem dan menyentak sendok garpu nya di piring hingga menimbulkan denting yang cukup mengejutkan Vano.


“Kenapa sih? Ngagetin aja,”


Elvina berdehem sebelum benar-benar yakin untuk mencari tahu hal yang membuat Ia punya pikiran buruk terhadap suaminya sendiri.


“Kamu beneran kerjaannya baru selesai makanya baru pulang kerja? Atau karena hal lain?”


“Memang baru kelar, tadi aku ‘kan udah bilang sama kamu,”


“Okay, terus aku mau tanya,”

__ADS_1


Elvina menelan makanan yang masih ada di mulut, Ia meneguk air minum, barulah kembali angkat suara. Sementara Vano sudah menunggu hal apa yang akan ditanyakan istrinya.


“Aku bisa hirup aroma parfum perempuan di badan kamu dan itu jelas bukan parfum aku. Aku boleh tanya? Parfum siapa itu? Dan kenapa ada di badan kamu?” Tanya Elvina dengan tatapan menuntut jawaban. Nada bicara juga sudah kedengaran beda. Tidak memebntak, justru pelan tapi tajam menusuk. Harusnya kalau Vano memang macam-macam di belakangnya, Ken akan menampilkan gesture lain, dan Elvina pasti akan bisa melihatnya. Sekarang ini Elvina sedang mengamati dengan baik.


“Parfum perempuan?”


“Iya, jawab aku sekarang! Aku bisa tau kalau itu parfum perempuan, jelas banget harumnya itu khas parfum perempuan, Mas,”


Vano malah tersenyum mendengar itu. Ia tetap bersikap santai. Bahkan menyuap makanan lagi dengan lahapnya, tanpa menjawab apapun. Sikapnya yang masa bodo itu membuat Elvina naik pitam. Padahal Ia sudah bertanya baik-baik.


“Mas, jawab aku! Parfum siapa yang ada di badan kamu?”


“Kenapa sih? Curiga banget hanya karena karena parfum, tenang aja, aku enggak main-main di belakang kamu,”


Jawaban Vano yang seperti itu tidak membuat Elvina puas. Apalagi melihat wajah Vano yang kelewat santai.


“Jelas aja aku curiga. Kamu itu wangi parfum perempuan lain tau enggak?! Kamu sadar enggak sih? Atau memang sengaja ya? Pulang-pulang bawa aroma itu? Hah? Ih najis tau enggak!”


“Lho? Kok sewot? Sejak kapan kamu ngurusin hal-hal kayak begini, El? Hmm?”


Vano menyudahi makannya. Kini Ia melipat kedua tangannya di atas meja makan dan menatap Elvina dengan datar.


“Kamu cemburu atau gimana?”


“Bukan masalah cemburu atau apa! Wajar ‘kan kalau aku curiga?!”


“Wajar untuk istri yang cinta sama suaminya, tapi untuk kamu yang enggak cinta sama aku, kayaknya enggak wajar deh. Bukannya selama ini kamu selalu bilang ya, aku mau ngapain aja di luar sana terserah, karena itu urusan aku dan enggak ada sangkut pautnya sama kamu. Jadi kenapa sekarang kamu ngurusin hal ini? Hah?”


Elvina dengan napas memburu menatap Vano dengan tajam. Ia dibuat kalah telak dengan ucapan Vano. Memang benar yang dikatakan Ken barusan. Selama ini Ia tidak pernah mau tahu urusan Vano. Ia membebaskan Vano untuk melakukan hal apa saja di luaran sana, ia tidak peduli karena Ia tidak mencintai Vano.


“Masalahnya, kamu tuh pintar banget ngelarang aku untuk dekat sama orang, giliran—“


“Enggak, aku enggak larang. Silakan, aku bilang. Tapi yang aku harapkan, kamu hargai perasaan aku. Cuma itu, dan kamu selalu gagal lakuinnya. Kamu sejak awal memang enggak bisa menghargai perasaan aku, kamu enggak bisa menghargai keberadaan aku di hidup kamu. Jadi aku agak bingung sekarang, kenapa tiba-tiba jadi bersikap seperti istri yang cinta sama suami? Sebenarnya kita ini jadi pisah atau enggak?”


“Kok kamu jadi bahas pisah? Aku lagi enggak bahas itu, Mas! Kamu jangan berkelit dengan cari-cari pembahasan lain ya,”


“Aku enggak berkelit, aku memang enggak selingkuh! Aku enggak main di belakang kamu. Jadi tenang aja, jangan cemburu,” ujar Vano seraya tersenyum miring.


Ucapannya itu membuat Elvina menggertakkan giginya kesal. Ia tiba-tiba saja memukul meja makan hingga membuat Vano tersentak kaget.


“Aku enggak cemburu ya. Aku enggak peduli kamu mau selingkuh sekalipun, itu urusan kamu,”


“Ya terus kenapa aroma parfum aja bikin kamu jadi marah-marah kayak begini? Harusnya enggak perlu dong. ‘Kan bukan urusan kamu,”


“Kamu bohong sama aku dan itu yang enggak aku suka,”


“Oh kamu mau aku selingkuh dan aku jujur sama kamu? Begitu maksudnya?”


Elvina bangkit dari kursi dimana Ia duduk sejak tadi kemudian Ia meninggalkan Vano yang masih bertahan di ruang makan dengan kepala yang pening.


Baru juga pulang ke rumah, sudah langsung terlibat perdebatan dengan istrinya yang mempermasalahkan aroma parfum perempuan padahal katanya tidak mau peduli apapun tentangnya.


“Aneh, kenapa ribet banget soal parfum? Kalau pun memang ini parfum cewek lain terus kenapa? Dia ‘kan emang mau gue selingkuh kayaknya supaya dia bisa lepas dari gue. Tapi giliran gue bahas pisah dan gue mau ajukan duluan, dia marah enggak terima,”


Sepertinya Elvina tak mau menjadi orang yang ditinggal, melainkan orang yang meninggalkan. Maka dari itu Ia tidak mau Vano mengajukan perpisahan lebih dulu.


“Coba aja tadi dia bilang kalau dia cemburu, dia enggak mau gue selingkuh sama yang lain, gue senang banget, tapi kenyataannya dia memang cuma mau cari ribut aja makanya tanya soal parfum, bukan karena cemburu,”


Elvina membereskan bekas makannya dan juga Vano. Ia menyimpan lauk yang masih ada. Mengelap meja makan juga setelah membasuh peralatan makan yang kotor. Elvina sudah masuk ke kamar dengan hati yang mendidih, Ia bahkan ditinggalkan begitu saja di meja makan padahal katanya tadi ingin makan bersama.


“Gue capek sebenarnya. Capek ribut terus. Apalagi ribut sama orang yang gue sayang. Cuma dia selalu aja mancing gue. Entah kapan gue sama dia bisa benar-benar akur, kayak pasangan lain dan jalani pernikahan penuh cinta bukan penuh masalah kayak begini. Gue benar-benar muak!”


******

__ADS_1


__ADS_2