Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 112


__ADS_3

“Untungnya mereka enggak gitu. Waktu itu ada anak teman bunda udah pada nikah, aku belum, tapi enggak diomongin. Aman-aman aja, malah sibuk mau dijodohin sama anaknya ini sama itu,”


Vano tertawa membayangkan Elvina dijodohkan dengan anak teman bundanya.


“Pertemanan kayaknya bakal terjaga banget itu kalau kamu nikah sama anak teman mama,”


“Iya, tapi nyatanya enggak jadi ‘kan. Banyak sih yang ganteng, yang udah banyak duit di usia muda karena dia sukses. Tapi bukan jodoh. Lagian ‘kan posisinya saat itu aku udah punya pacar,”


“Nggak jadi dijodohin, karena kamu cinta sama Rendra eh nikahnya sama aku,”


Elvina menganggukkan kepala. Tidak ada yang tahu jodoh. Ia justru berjodoh dengan dosennya yang ternyata menyimpan perasaan untuknya.


“Ini kok kita jadi bahas jodoh sih?”


“Seru juga, Sayang. Jadi di meja makan ada obrolan,”


“Tumben panggil sayang lagi?”


“Cie udah kangen aku panggil sayang. Aku tuh enggak mau panggil kamu sayang lagi karena aku ngerasa sayang sendirian, kamu nya enggak sayang aku,”


“Aku ‘kan memang biasanya panggil kamu dengan nama aja, kamu mau aku panggil kamu sayang juga?”


“Enggak, untuk apa? ‘Kan dalam hati memang belum sayang,”


*****

__ADS_1


“Kamu kemana aja? Lama banget datangnya! Katanya mau makan siang bareng,”


“Iya maaf, aku sibuk banget tadi. Ini aja usahain pulang sore, aku belum makan, El, makan yuk,”


“Enggak ah, makan nanti malam aja, aku udah terlanjur badmood nungguin kamu dari tadi,” ujar Elvina dengan ketus.


Vano menghembuskan napas kasar. Padahal Ia sudah rela pulang sore supaya bisa langsung makan dengan istrinya.


“Tapi aku udah lapar lho, El,”


“Ya udah makan aja sana,”


“Tapi aku maunya sama kamu,”


“Emang kamu udah makan siang?”


“Belum, anggap aja udah kenyang,”


“Lah mana bisa gitu? Kalau lapar ayo makan sama aku, nanti malam makan bareng lagi, Na,”


“Ih udah dibilang aku enggak mau, masih aja ngajak makan deh,”


Vano mencekal lengan istrinya yang akan masuk kamar. Ia tidak mau membiarkan Elvina menahan rasa laparnya, Ia juga tidak mau menahan keinginannya untuk segera makan. Ia juga sudah benar-benar lapar.


“Ayo lah makan sama aku bentar doang, masa enggak mau sih?”

__ADS_1


“Aku enggak lapar!”


Setelah bicara begitu, perut Elvina malah bersuara. Vano yang mendengar itu langsung tertawa. Mult dan perut tidak sinkron. Ketahuan bohong, jelas-jelas Elvina lapar, tapi malah mengaku tidak lapar.


“Ayo makan, kamu tuh udah lapar, aku juga begitu,”


Vano menarik lembut tangan istrinya untuk keluar. Elvina pikir mereka makan di rumah saja, tapi rupanya Vano mengajak makan di luar.


“Amih udah masak tuh,”


“Ya udah buat nanti malam, kalau emang enggak makan di luar lagi. Sekarang kita makan di luar aja, terserah kamu mau makan di mana,”


Mereka keluar dengan Vano yang masih mengenakan pakaian kerjanya. Akhirnya Ia berhasil mengajak Elvina makan bersama, walaupun sebutannya bukan makan siang lagi, tapi makan sore. Tak apa, yang penting Ia bisa membujuk istrinya itu yang tentu merasa kecewa karena mereka suda sepakat makan siang bersama, Ia menjemput Elvina di rumah, tapi nyatanya Ia tidak bisa datang karena kesibukannya.


“Eh—Vano,”


Jona baru saja tiba dan Ia tidak menduga kalau bisa bertemu dengan Elvina dan Vano yang akan keluar berdua.


Rahang Vano mengetat sempurna. Entah mau apalagi lelaki itu. Datang ke rumah pasti ada tujuannya dan itu tentu berhubungan dengan Elvina.


“Kamu janjian keluar sama dia? Hmm?”


“Enggak, aku aja enggak tau dia—“


“Itu buktinya dia datang,”

__ADS_1


__ADS_2