Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 20


__ADS_3

“Papa, aku boleh pacarannya umur berapa?”


“Emang kenapa? Udah ada yang ngajakin kamu pacaran? SMA aja belum lulus, udah ada yang berani ngajak kamu pacaran? Ya Allah, dia aja uang jajan, sama biaya sekolah masih minta ke orang tua. Sok-sokan ngajakin anak perempuan orang pacaran. Ck! Anak zaman sekarang ya, bener-bener deh,”


“Ih aku ‘kan cuma nanya satu kalimat, tapi Papa langsung ngomong panjang lebar,”


Beni berdecak mendengar protes anaknya. Ya wajar saja Ia bicara panjang lebar. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Davina itu seolah mengisyaratkan bahwa Davina ingin secepatnya pacaran. Ia menduga sudah ada yang mengajak Davina untuk punya hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi Davina masih ragu.


“Jangan dulu kalau untuk sekarang ya, Nak,”


“Iya aku tau, Pa. Tapi kapan bolehnya?”


“Ya kalau bisa nggak usah pacaran deh, langsung nikah aja abis saling kenal satu sama lain, kenal keluarga, udah sama-sama yakin, ngapain harus pacaran segala?”


“Papa mama aja pacaran ‘kan waktu SMA?”


“Papa sama Mama pacaran cuma bentar aja karena Papa sibuk bantuin Om Papa megang rumah makan nya pas Papa masih SMA, terus putus, tapi tetap dekat, komunikasi tetap baik. Eh berlanjut sampai kuliah, punya komitmen mau bareng-bareng sampai waktunya Papa lamar Mama. Nah lulus kuliah, Papa langsung kerja, dan pas udah ada modal nikahin Mama,”


“Ya berarti ‘kan Papa Mama juga pacaran pas SMA,”


“Iya, dan itu nggak baik sebenarnya, karena apa? Nggak fokus belajar. Setelah putus ya, kami tetap dekat, dan itu rasanya lebih nyaman. Karena nggak terikat sama yang namanya hubungan pacaran, temenan aja gitu sebutannya tapi ya dekat karena emang saling suka. Cuma karena Papa pengen fokus untuk bantuin Om Papa, dan Mama juga mau fokus belajar. Emang kenapa kamu tanya soal itu, beneran mau pacaran sekarang? Hmm? Emang siapa yang udah ngajakin?”


“Nggak, aku cuma nanya,”


“Yang benar, biasa kalau nanya tuh ada maksudnya, Dek,”


“Ya ampun, nggak kok, Pa. Aku cuma nanya, kira-kira kapan aku boleh pacaran?”


“Ya kalau bisa nggak usah pacaran. Kenali dia sama keluarganya, terus yakinin diri masing-masing mau serius atau nggak, kalau udah yakin, ya udah langsung nikah deh. Tapi itu nanti ya, kalau udah waktunya,”


“Ya waktunya kapan, Pa?”


“Yang jelas bukan sekarang, karena kamu masih SMA. Kalau lagi kuliah terus tiba-tiba jodoh udah datang, ya udah nggak masalah. Papa nggak larang, tapi tetap selesaikan pendidikan kamu, jangan nanggung,”


“Oh maksud Papa, kayak El gitu ya? Dia ‘kan lagi kuliah tuh terus tiba-tiba ada yang ngajak serius,”

__ADS_1


“Ya bisa dibilang begitu. Nggak apa-apa ‘kan udah kuliah, nggak SMA lagi, setidaknya udah lebih matang lah, nggak muda-muda banget. Dan itupun sambil lanjut ‘kan, kalau kamu siap. Kalau kamu nggak siap ya berarti nunda dulu untuk menikahnya, terserah kamu, itu pilihan kamu,”


“Cerita aja dulu, siapa yang lagi deketin? Papa nggak marah,”


“Iya paling cuma Papa samperin terus Papa jotos, iya ‘kan?”


Beni tertawa mendengar kalimat anaknya yang punya prasangka buruk kalau Ia bercerita tentang itu. Padahal Beni hanya ingin tahu saja sebenarnya Davina itu sedang dekat dengan siapa? Dan apakah lelaki itu yang menjadi alasan Davina bertanya soal kapan Ia bisa pacaran?


******


“Ayah, Bunda, aku udah ambil keputusan,”


Di tengah makan malam, tiba-tiba Elvina membuat kedua orangtuanya bingung karena mendengar ucapannya itu.


Setelah Elvina pikir-pikir, memang sebaiknya Ia coba membuka hati untuk laki-laki lain, barangkali dengan begitu Ia bisa cepat pulih dari luka di masa lalu. Dan Ia ingin memberikan kesempatan itu untuk dosennya sendiri yang sudah berkata di depan orang tuanya bahwa dia ingin mengajak Elvina ke jenjang yang lebih serius, dan dia tidak masalah bila Elvina harus belajar dulu mencintainya.


“Keputusan apa, Nak?”


“Aku mau serius sama Pak Vano, tapi aku belajar untuk terima dia dulu ya, aku nggak mau langsung nikah dalam waktu dekat. Aku pengen nyaman dulu sama dia, barangkali rasa cinta itu datang,”


“Bagus kalau begitu. Memang udah seharusnya kamu buka hati, orang yang kamu pikirin aja udah bahagia sama yang lain, terus kenapa kamu harus mentok di dia mulu, Nak? Ya bagus kalau kamu udah mulai sadar. Bunda senang dengarnya. Bunda yakin, Vano juga senang dengarnya. Dia ‘kan memang nggak maksa kamu untuk nikah dalam waktu dekat, tapi dia pengen kamu belajar untuk menerima dia, kalau kamu mau, dia juga berharap kamu bisa belajar balas perasaannya. Dia kasih kesempatan untuk itu kok, dia memahami kalau kamu memang perlu waktu,”


*****


“Abang, kenapa sendirian di teras? Abang lagi galau ya?”


Davina menghampiri Vano yang sedang menyendiri di teras rumah mereka sambil menikmati secangkir kopi dan merokok.


“Ih abang kok ngerokok? Abang pagi galau beneran ya?”


“Ssttt jangan kencang-kencang kalau ngomong, Dek. Nanti didengar sama Papa Mama, Abang diomelin ngerokok,”


“Ya lagian tumben pegang rokok, kapan belinya tuh? Dan beli dimana?”


“Udah beberapa hari yang lalu, baru dibuka sekarang. Nggak lagi galau, lagi kepengen aja, Dek. Kamu ngapain ke sini? Udah sana masuk,”

__ADS_1


Vano menyuruh adiknya masuk ke dalam rumah supaya tidak mengganggunya yang lagi menyendiri, menikmati angin malam sambil menyesap tembakau.


Davina sangat jarang melihat Vano merokok karena sesungguhnya Vano memang bukan orang yang kecanduan dengan tembakau itu. Yang Ia tahu, kalau Vano sedang kepikiran dengan sesuatu, atau tidak baik-baik saja, barulah Vano menyentuh benda kecil berasap itu.


“Abang yakin baik-baik aja? Jangan dipendam sendiri lho. Lagi ada masalah di kampus kah?”


Alih-alih menuruti titah kakaknya untuk masuk ke dalam rumah, Davina justru duduk berhadapan dengan abangnya.


“Nggak ada, udah sana masuk. Ngapain sih di sini? Ntar jadi perokok pasif, bahayanya lebih dari perokok aktif lho,”


“Ya ‘kan cuma sesekali doang. Walaupun aku sebenarnya nggak suka banget cium asap rokok tapi aku penasaran Abang kenapa? Kayak lagi ngelamun tadi,”


“Ya biasalah, lagi capek aja. Pengen tenang pikirannya, ya udah begini deh. Sendirian di teras malam-malam, minum kopi, ngerokok,”


“Lagi ada masalah di kampus?”


“Nggak, sejauh ini aman-aman aja,”


“Apa masalah sama El?”


“Nggak juga. Abang lagi pengen menyendiri aja, Dek. Nggak bisa tidur juga jadi ya udah ke sini deh,”


“Capek ya jadi dewasa, Bang? Capek kerja, capek mikirin masa depan, capek mikirin jodoh, iya aku paham, makanya aku belum siap jadi dewasa kayak abang,”


“Hahahaha sok tau kamu ah,”


“Lho kok sok tau? Aku emang tau, jadi dewasa itu emang melelahkan. Nanti kalau abang udah punya istri, lebih capek lagi lho, nambah lagi beban, Abang udah siap?”


“Siap lah, ‘kan udah dipikirin dulu sebelum berani ngomong. Ini Abang emang lagi capek aja karena minggu ini lumayan padat, dan lagi pengen menyendiri,”


“Bukan karena galauin El ‘kan?”


“Nggak, kenapa harus galau karena El?”


“Ya karena dia belum mau diseriusin sama Abang lah,”

__ADS_1


__ADS_2