
“Lagian kamu ribet ya. Tinggal sarapan aja di hotel. Ada yang gampang tapi kamu malah cari yang susah. Kalau sarapan dari hotel kita nggak harus cari-cari di luar begini. Masih sepi, belum ada yang jualan. Kamu sok-sokan mau merakyat deh, Mas, segala ke pasar, udah kayak emak-emak aja,”
Elvina sedang dalam mode cerewet sekarang. Ia kesal karena perutnya sudah lapar minta diisi segera tapi karena belum ada yang berjualan di sekitar hotel dan pasar tradisional, akhirnya terpaksa menunda sarapan dulu.
“Ya Allah, Sayang, lagian ini baru jam setengah enam lebih, sabar ya. Pasti banyak yang jualan di sekitar sini, ini karena masih pagi banget,”
“Tapi aku sudah lapar tau!“
“Yang semalam udah nggak kerasa ya, El?”
“Apanya sih?”
“Nasi goreng yang semalam udah nggak ada lagi di perut?”
“Ya itu ‘kan semalam, aku laparnya sekarang. Kalau yang udah berlalu jangan diingat lagi,”
“Wuidih, udah kayak masa lalu dong,”
Mereka memutuskan untuk ke pasar karena ternyata hotel dekat dengan pasar tradisional juga. Yang Ada di pasar itu baru sayur mayur dan buah saja. Kata salah satu penjual sayur, biasanya sebentar lagi datang para penjual makanan. Hanya saja Elvina memang tidak sabaran.
“Kamu mau apa nanti?”
“Ya adanya apa itu yang nanti aku makan,”
“Pasti banyak jualan di sini, Sayang, tapi belum keluar aja para penjualnya. Mungkin tradisi di pasar ini begitu. Jualan keluar ada jam-jamnya,”
Vano dan Elvina akhirnya menunggu di depan gerbang pasar dimana tersedia bangku. Sambil menunggu jajanan pasar, Vano mengeluarkan ponselnya.
Lebih baik Ia mengirimkan pesan untuk Delila sambil menunggu makanan datang. Beda dengan Vano yang memilih bermain ponsel, Elvina justru beranjak padahal baru beberapa detik duduk. Perempuan itu melihat-lihat sayuran dan bahan makanan lain. Jiwa ibu rumah tangga merasuki Elvina setiap kali datang ke pasar.
-Del, sorry ya untuk kejadian kemarin. Aku minta maaf atas nama pribadi dan Elvina-
“Mas, itu bubur ayam udah datang, ketupat sayur juga, nasi uduk, udah pada datang tuh,” Elvina mengabsensi makanan-makanan yang sudah sampai di pasar.
“Ayo beli, kamu jangan hapean mulu makanya. Aku udah lapar nih,” ujar Elvina mengomeli suaminya yang masih saja duduk menatap ponsel.
“Iya-iya, ini aku bangun,”
Vano segera beranjak berdiri. Kemudian menyusul langkah kaki istrinya yang menghampiri penjual bubur ayam.
“Kamu mau makan bubur, Sayang?”
“Iya, aku maunya bubur, kamu mau apa?”
“Aku sama aja kayak kamu,”
“Aku pikir mau lontong sayur, Mas,”
“Nggak ah, aku nggak mau lontong sayur, bubur ayam aja,” ujarnya.
Elvina dan Vano segera duduk begitu tiba di warung tenda bubur. Dan tidak lama kemudian datang penjual menanyakan porsi yang mereka inginkan.
“Dua porsi nggak pakai sayur dan kacang ya, Pak. Terus minumnya teh hangat aja,”
“Siap, ditunggu sebentar ya,”
Elvina dan Vano duduk dengan tenang menunggu kedatangan pesanan mereka. “Sayang, tadi aku udah hubungi Delila untuk minta maaf ke dia, cuma lewat chat aja, Sayang,”
“Coba aku lihat, boleh ‘kan?”
“Boleh kok, nih liat aja,”
Vano menyerahkan ponselnya kepada Elvina supaya Elvina bisa melihat isi pesannya untuk Delila.
“Oh, begini aja? Nggak ada yang lain?”
“Nggak ada, cuma itu aja, emang kenapa?”
“Ya kali aja ada yang lain,”
“Nggak ada, cuma minta maaf aja,”
“Kamu telepon dia juga?”
“Nggak ada, liat aja di riwayat panggilan aku,”
Elvina yang semula akan mengembalikan ponsel Ken, tidak jadi melakukannya karena ingin melihat riwayat panggilan suaminya.
Ternyata Vano memang tidak menelpon Delila. Setelah melihat itu, Elvina mengembalikan ponsel itu pada si pemilik.
“Aku senang deh kamu begini, Sayang,”
“Maksud kamu?”
“Iya aku senang, jadi gini rasanya dicemburui sama orang yang dicinta dan mencintai kita,”
Bubur pesanan mereka datang dan mereka langsung bersantap dengan lahap usai berdoa. Begitu dicicip, ternyata buburnya lezat.
“Kamu nggak belanja apa-apa tadi ya? Cuma liat aja?”
“Nggaklah, ngapain belanja di sini? Belanja aja di rumah, emangnya aku di hotel mau masak,”
“Jangan, di hotel puas-puasin istirahat aja. Tidur, makan, tidur lagi. Begitu aja terus. Soalnya di rumah udah jadi ibu rumah tangga lagi,”
__ADS_1
“Pokoknya sepulang dari hotel, aku mau ketemu dia,”
Vano menganggukkan kepalanya. Elvina benar-benar menginginkan pertemuannya dengan Delila, dan Vano tidak bisa melarang. Nanti kalau Ia melarang, Elvina jadi salah paham. Dikiranya, masih ada hal yang Ia tutup-tutupi dari Elvina. Tapi jujur Ia bingung hal apa yang ingin dibicarakan oleh Elvina pada Delila, semoga saja tidak ada perdebatan.
******
“Sayang, baju aku kurang ya?”
“Ya lagian sih kamu berenang pake baju, harusnya lepas baju aja, padahal aku udah bawa cukup baju,”
Elvina menggerutu karena suaminya yang kekurangan baju karena ulah dia sendiri yang berenang mengenakan baju, biasanya juga tidak begitu. Sepulang dari beli sarapan, berenang, sore juga berenang. Akhirnya baju habis, padahal Elvina sudah membawa jumlah baju yang tepat sebab Ia sudah memperkirakan.
“Terus gimana?”
“Ya udah pake baju aku tuh, ada sisa satu kaos,”
“Boleh pake itu?”
“Ya pake aja asal kamu mau,”
“Motif cewek?”
Elvina bergegas mengambilnya dari koper kemudian Ia menyerahkannya pada Vano supaya Vano bisa melihat langsung bagaimana motifnya.
“Oalah cuma garis-garis doang, ya udah deh aku pake itu. Aku mandi dulu,”
Vano menutup pintu kamar mandi kemudian bergegas mandi sebelum berangkat pulang ke rumah. Waktunya untuk staycation sudah habis saatnya kembali ke rumah dengan perasaan baru. Vano berbunga-bunga sekali pulang ke rumah usai liburan dengan Elvina dan mengetahui perasaan Elvina terhadapnya.
Elvina mencintainya, semoga nanti sampai di rumah kehidupan mereka rukun-rukun saja tanpa adanya perdebatan lagi.
******
Begitu tiba di rumah usai staycation di sebuah hotel luar ibukota, Elvina langsung bergegas ke rumah Delila sementara Vano memilih untuk tidur lagi. Lelaki itu nampaknya belum puas istirahat. Selagi masih dalam waktu libur, Vano menggunakan kesempatan dengan baik untuk banyak istirahat. Esok Ia sudah bekerja kembali.
“Selamat sore, Pak, Delila ada ya?”
“Mba Delila ada, baru aja pulang. Mau ketemu?”
“Iya, bapak udah kenal saya ‘kan ya? Waktu itu udah pernah ke sini soalnya,”
“Oh iya, kenal kok, Mba Elvina ‘kan?”
Elvina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Security di rumah Delila sudah hafal kenal dengan dirinya jadi Ia aman, tidak banyak ditanya-tanya lagi. Security langsung masuk mempersilahkan Elvina untuk masuk.
“Saya kasih tau Mba Delila dulu ya,”
“Iya, terimakasih ya, Pak,”
“Sama-sama,”
Ketika Elvina duduk dalam diam, terdengar suara seseorang berdehem. Elvina terkejut mendapati keberadaan seorang wanita yang usianya tidak begitu muda lagi mendekat ke arahnya.
“Halo, siapa ya?”
“Oh, saya Elvina, Bu,”
“Hmm, Saya Rika, mamanya Delila. Ada perlu apa ke sini?”
Elvina kelihatan bimbang ingin menjawab apa. Sepertinya yang tahu masalahnya hanya Delila saja sementara orangtuanya tidak.
“Delila mana sih? Masa iya gue ceritain ke nyokapnya kalau dia itu pernah deketin Ken? Dan bikin gue berantem terus sama Ken,”
“Elvina, kok diam aja?”
“Hmm cuma mau ngobrol sebentar aja, Tante,”
“Oh, ya udah tunggu aja dulu, dia lagi dipanggil. Kamu mau minum apa?”
“Nggak usah, Tante, terimakasih sebelumnya,”
“Ah masa iya nggak dikasih minum? Ya udah kalau gitu minumnya terserah Tante aja ya?”
Elvina sudah mencoba untuk memberikan penolakan tapi percuma. Jadi Ia mengangguk saja, terserah mamanya Delila mau membuat apa.
Mamanya Delila kembali lagi ke dapur. Tadi Ia sempat meninggalkan dapur karena penasaran setelah mendengar ada tamu yang ingin bertemu dengan putrinya. Maka dari itu Ia bergegas ke ruang tamu.
Delila datang ke ruang tamu dan langsung duduk di depan Elvina yang menatapnya lebih bersahabat, beda dengan tatapan ketika Ia baru pertama kali bertemu dengan Delila.
“Apa yang mau dibicarakan?”
“Sebelumnya maaf udah ganggu waktu kamu. Kedatangan saya ke sini tujuannya untuk minta maaf secara langsung. Saya udah tau semuanya karena Vano udah jelaskan semuanya ke saya,”
“Hmm baguslah kalau begitu, jadi kamu nggak salah paham lagi,”
“Tapi saya mau tanya sama kamu,”
Delila mengangkat satu alisnya menatap Elvina dengan dalam dan sorot mata yang bertanya-tanya.
“Kamu mau tanya apa?”
“Kamu nggak benar-benar menaruh hati ke suami saya ‘kan? Perempuan biasanya lebih mudah menggunakan perasaan,”
“Nggak, kamu tenang aja,”
__ADS_1
“Apa saya bisa percaya sama kamu?”
“Kalau mau percaya silahkan, tapi kalau nggak mau percaya juga nggak masalah. Saya nggak bisa maksa kamu untuk percaya sama saya tapi yang jelas saya nggak menaruh perasaan apapun untuk Vano, walaupun memang saya nyaman berteman sama dia,”
“Nah itu dia yang saya takutkan. Kamu nyaman sama suami saya?”
“Memang salah ya kalau saya nyaman berteman sama dia? Nggak boleh? Ya sudah kalau begitu saya akan coba untuk—“
“Tolong sadar diri aja ya, saya nggak mau banyak bicara,” lugas Elvina setelah itu Ia beranjak dari tempat duduknya sekarang.
“Saya pamit pulang dulu, terimakasih atas waktunya, oh iya, saya nggak larang siapapun untuk berteman sama Vano hanya saja akan lebih baik saling tau status masing-masing,”
Elvina sudah bicara tegas di awal. Ia tidak mau ada drama suaminya disukai oleh perempuan lain ketika Ia sudah mencintai Vano dan tidak mau kehilangan Vano yang sudah Ia miliki sejak awal.
****
“Eh, Anatha kemana? Kok dia nggak ada?”
Vano terbangun dan langsung menyadari ketidak hadiran istrinya yang sebelumnya berbaring di sebelahnya sesaat sebelum Ia terlelap tidur.
Vano segera beranjak duduk dan mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari-cari sosok istrinya.
Vano ke balkon, barangkali Elvina ada di sana tapi ternyata tidak ada, kemudian Vano ke kamar mandi juga dan Elvina masih belum Ia temukan.
“Kemana kamu, Sayang? Kok tau-tau udah nggak ada aja,”
Vano bergegas keluar dari kamar untuk mencari istrinya yang barangkali sedang makan atau mengobrol dengan Amih di lantai bawah.
“Mih, Elvina kemana?”
Vano hanya menemukan Amih saja yang sedang membasuh tangan di wastafel dapur. Wanita itu menoleh dan langsung memberi jawaban.
“Lagi pergi katanya cuma sebentar, Pak,”
“Oh, kemana? Dia nggak bilang?”
“Nggak, Pak. Tapi Ibu bilang cuma sebentar aja. Kalau Pak Vano nanya, saya suruh jawab begitu,”
“Kemana ya? Kok nggak bilang dulu sebelumnya,”
Vano bergegas ke halaman depan rumah. Elvina pulang nanti, Ia akan langsung menyambutnya dengan pertanyaan kemana dan kenapa pergi disaat Ia tidur, harusnya menunggu Ia bangun dulu baru pergi.
“Apa dia ke rumahnya Delila ya? Kok feeling gue begitu? Hadeh, kalau bener ke sana mudah-mudahan aja nggak ribut deh. ‘Kan dia udah tau semuanya,”
*****
Elvina keluar dari mobil setelah tiba di dekat sebuah gerobak kue rangi. Ia ingin membeli makanan itu sebelum pulang.
Kue rangi adalah salah satu yang Elvina gemari apalagi bila dimakan ketika masih hangat. Tapi sayangnya jajanan itu sudah jarang sekali terlihat.
“Mumpung ada, beli ah,” pikir Elvina tadi begitu melihat makanan itu.
Kebetulan sepi pembeli juga. Begitu Ia datangi, bapak penjual yang tengah membaca koran langsung bangun dan tersenyum padanya.
“Pak, beli sepuluh ya,”
“Alhamdulillah banyak banget, Neng, baru ada yang beli nih,”
“Oh iya? Alhamdulillah kalau begitu. Saya suka soalnya, Pak. Dan udah jarang juga ketemu kue rangi,”
“Iya udah langka, Neng. Kalah sama makanan-makanan kekinian,”
“Tapi nggak ada yang bisa gantikan kue ini sih, saya suka banget,”
Elvina juga bukan orang yang tidak mengikuti trend-trend makanan. Tapi kalau Ia boleh jujur, sebanyak apapun makanan zaman sekarang juga Ia sukai, tidak ada yang bisa menandingi kue rangi itu.
Kue rangi terbuat dari tepung sagu atau tepung kanji dan juga kelapa parut yang dipanggang tanpa minyak di dalam sebuah cetakan khusus. Ketika disajikan biasanya disiram dengan campuran gula merah dan sedikit tepung kanji agar kental.
Sepuluh porsi sudah dibuatkan untuk Elvina. Ia langsung membayar setelah itu membawanya masuk ke dalam mobil.
“Mas Vano semoga aja suka sama kue ini, gue lupa dia suka atau nggak,”
Elvina segera melajukan mobilnya ke rumah untuk pulang. Ia berharap Vano belum bangun supaya tidak banyak tanya soal kepergiannya.
Elvina memainkan klakson begitu tiba di rumah. Ia lihat suaminya langsung menghampiri mobilnya. Mesin mobil belum mati, Vano sudah mengetuk pintu mobil Elvina minta dibukakan.
Elvina tersenyum setelah membuka pintu mobil. Vano mencubit pipinya dengan gemas. “Ngapain kamu mainin klakson?”
“Iseng, kamu kok di luar?”
“Iya aku nungguin kamu. Eh kamu darimana sih? Kok tau-tau udah pergi aja? Nggak pamit sama aku,”
“Tapi cuma bentar aja kok,”
“Iya kamu kemana?”
“Aku ke rumah Delila, habis ngomong sama dia,”
“Tuh ‘kan, udah aku duga. Apa yang diobrolin?”
“Ada deh, kamu penasaran banget sih,”
“Kok nggak mau jujur sama aku?”
__ADS_1
“Cuma minta dia untuk sadar sama status kamu aja,”