
“Kalau aku beli tiga buah barang ada dompet, tali pinggang, sama sepatu, nggak apa-apa ‘kan ya? Abisnya nggak kuat banegt liatnya, ya ampun. Bagus-bagus banget sih,”
“Ya nggak apa-apa, Bu. Ulang tahun setahun sekali,”
“Iya, apalagi aku nggak pernah kasih hadiah kalau dia nggak ulang tahun,” ringis Elvina merasa malu mengakui hal itu.
“Nggak ah, Ibu suka beliin ini itu juga untuk Pak Vano, kayak misal baju. Pak Vano itu serahin fashion nya ke Ibu,”
“Tapi nggak sesering perempuan lain di luar sana lho, Mih,”
“Ibu, apalah arti hadiah, kalau tiap hari adanya ibu aja udah bikin Pak Vano senang. Ibu itu hadiah paling indah dari Tuhan,”
“Duh, Amih, jangan begitu deh. Aku ‘kan jadi mau terbang ini,”
Amih tertawa menutup mulutnya supaya tidak meledak. Di tempat umum Ia tidak mau membuat malu dengan tertawa agak kencang.
“Ini yang warna cokelat gelap ada nggak?”
Elvina ingat dompet Vano itu warna hitam semuanya. Ia ingin memberikan yang warnanya berbeda. Yang dipajang kebanyakan adalah warna hitam dan cokelat terang. Ia minta yang cokelat gelap kalau ada.
__ADS_1
“Kalau yang model itu, nggak ada cokelat gelap, Bu. Model lainnya ada,”
“Boleh saya liat?”
“Ini, Bu,”
Pramuniaga memperlihatkan dompet dengan model lain yang memiliki warna cokelat gelap.
“Oh iya, ini bagus juga, saya mau ini deh,”
Elvina langsung tertarik, malah menurutnya lebih bagus yang baru saja dipilihnya itu, ketimbang yang sebelumnya.
Elvina juga memilih ikat pinggang dan sepatu pantofel untuk suaminya. Ia berharap semua pilihannya itu disukai oleh Vano. Ia sudah berusaha untuk mencari yang sesuai dengan selera Vano.
“Nggak, Bu. Suami saya mah nggak cocok pake barang dari toko ini, kemahalan, nggak sesuai isi dompet,”
“Ih nggak boleh ngomong begitu. Semua barang di jne bisa dipakai sama siapa aja. Ayo pilih, Mih. Nanti sekalian aku bayar,”
“Nggak usah, Bu, sebelumnya makasih, suami saya nggak perlu barang-barang begini,”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, ‘kan nggak tiap hari juga belanja, pilih aja,”
“Ibu udah sering belanjain saya, nggak usah, Bu. Beneran deh, saya udah sering ngabisin duit ibu. Lebih baik duitnya dipakai untuk hal yang lebih penting aja, Bu, ketimbang belanjain saya. Setiap ngajak saya ke mal, Ibu pasti belanjain saya,”
“Amih, nolak rezeki itu nggak baik lho. Masa iya Amih cuma nganterin aja, nggak beli apa-apa,”
“Ya nggak masalah, Bu. Saya mah nggak usah dibelanjain kayak gitu, Bu. Kerja di rumah Ibu aja udah seneng banget, berasa rumah sendiri,” ujar Amih seraya terkekeh. Ia masih bersikeras menolak Elvina yang ingin membelanjakan dirinya. Bukannya apa-apa, Elvina sudah sering mengeluarkan uang untuk membelikannya ini itu. Elvina itu baik sekali meskipun terkadang dia menjadi sosok istri yang menyebalkan. Sampai Amih yang tidak enak hati karena perempuan itu terlalu baik.
“Pantas aja jodoh, orang sama-sama baik. Suka bener berbagi,” ujar Amih.
“Mih, ayo pilih, jangan sungkan. Mana yang kira-kira dibutuhkan sama suami kamu, Mih? Pilih aja ayo,”
“Udah bayar aja, Bu, ayo,”
“Nanti dulu, kamu harus pilih dulu baru setelah itu aku bayar,”
“Ya Allah, Bu… saya nggak enak, udah sering ngerepotin banget,”
“Ya nggaklah, masa ngerepotin sih? Kalau gitu apa bedanya sama aku dong? Aku juga sering banget tuh ngerepotin. Buruan pilih, terserah Amih mau beli apa, jangan sungkan ya,”
__ADS_1
“Iya, Bu, makasih banyak,”
Amih tidak diberikan kesempatan untuk menolak, yang ada justru dipaksa untuk menerima kebaikan Elvina yang tidak pernah bosan berbagi.