
Negitu Vano, ternyata isi dari bingkisan yang diterima oleh istrinya itu adalah baju tidur dan juga sebuah jam tangan.
“Elvina,”
Vano langsung menatap istrinya dengan kedua mata memicing. Elvina yang merasa kalau tatapan suaminya itu penuh arti.
“Mas—Mas, itu dari siapa? Aku nggak tau,”
“Lah kok kamu nanya saya? Ya harusnya saya dong yang tanya ke kamu. Saya mana tau ini pemberian siapa,”
“Tapi sumpah aku nggak tau apa-apa, Mas. Jangan nuduh aku gitu dong tatapannya. Aku nggak tau itu siapa yang ngasih,”
“Ya terus siapa si B itu? Masa iya sih kamu bggak kenal? Dia ngaish ini untuk kamu tandnaya dia kenal sama kamu, El,”
“Ya tapi aku nggak tau, Mas. Aku nggak tau siapa B itu. Kalau nggak pakai inisial mungkin aku tau. Tapi ini ‘kan dia pakai inisial. Ih nggak jelas tuh orang. Aku nggak kenal dia siapa,”
“Jangan bohong, El. Dia teman kamu kali, atau mantan kamu juga mungkin,”
“Ih aku nggak—“
“Coba diingat dulu,”
Elvina berdecak ketika suaminya menyuruh Ia untuk mengingat-ingat dosok inisial B ini. Ia akan bingung kalau hanya diberi kode menggunakan satu huruf saja.
__ADS_1
“Mas, aku hidup di dunia ini udah dua ouluh dua tahun. Dan aku tau atau kenal orang yang namanya inisial B tuh banyak. Tapi aku nggak ingat dan nggak tau dia orang yang mana. Paham ‘kan maksud aku?“
“Ya coba kamu tebak dulu,”
“Ih aku nggak bisa nebak-nebak, Mas. Kamu jangan gitu ah,”
“Ya udah tuh dipake baju tidurnya,” ujar Vano seraya meletakkan bingkisan untuk istrinya si atas ranjang.
Elvina langsung meraihnya dan Ia simpan di dalam laci nakas. Hal itu membuat suaminya kebingungan.
“Lho kok nggak dipakai?”
“Nggak kau, aku kalau punya baju baru maunya dicuci dulu baru dipakai,”
“Ya udah terus kenapa nggak ditarok di tempat cucian?”
“Ya tapi ‘kan itu buat kamu,”
“Nggak mau aku pakai, Mas. Biarin aja dibilang nggak menghargai atau apa intinya aku nggak mau pakai,”
“Kenapa sih? Harusnya pakai aja lah,”
“Nggak mau aku. Karena asal-usul hadiah itu nggak jelas. Daripada kenapa-napa mending aku boarin aja deh, nggak usah aku pakai,”
__ADS_1
“Teud mau kamu apain dong?”
“Ya aku dimpan aja, nanti kalau ada ornagnya aku balikin,”
Vano langsung tertawa mendnegar ucaan istrinya. Diberikan hadiah malah mau dikembalikan. Padahal pengirimnya saja tidak jelas siapa. Elvina benar-benar melucu.
“Kok ketawa kamu, Mas?”
“Ya gimana saya nggak ketawa? Itu ‘kan buat kamu,”
“Iya aku tau, tapi aku—“
“Ya kamu emangnya tau siapa pengirim bingkisan itu? Hmm? Terus gimana cara ngembaliinnya, El?”
“Aku juga bingung sih, tapi ya udahlah biarin aja. Aku dimoaj, nggak udah aku pakai. Jujur aku takut sekarang, Mas,” ujar Elvina yang tiba-tiba merangkul lengan suaminya dan Elvina menatap sang suami dnegan dorot mata cemas.
“Takut kenapa?”
“Ya jangan-jangan ada bahaya yang lagi mendekat ke aku,”
Vano tersenyum tipis kemudian merangkul istrinya sambil mengusap bahu Elvina dnegan lembut.
“Kamu nggak pelru khawatir. Itu nggak akan terjadi. Saya ‘kan penjaga kamu, selain Allah,”
__ADS_1
“Ya tapi kalau misalnya aku lagi nggak pas sama kamu gimana, Mas? Aku takut di apa-apain, Mas. Soalnya aku tuh nggak pernah dapat hadiah yang pengirimnya nggak jelas cuma pakai inisial nama aja,”
“Ya mungkin dia penggemar rahasia kamu,”