Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 110


__ADS_3

Mobil Vano yang Ia ikuti ternyata benar melaju ke tempat lain, bukan kantor Vano. Hal itu membuat Elvina puas sekali karena Ia berhasil membuktikan kebohongan Vano.


Ia masih terus mengikuti mobil Vano yang ternyata melaju ke sebuah ruang terbuka sejenis taman. Ia sengaja memastikan jarak antara dirinya dan Vano masih aman. Ia melihat Vano yang keluar dari mobil dengan tergesa, kemudian Ia ikut keluar juga dari mobil untuk melihat lebih jelas.


Elvina terpaksa bermain kucing-kucingan seperti ini demi mencari tahu apakah benar suaminya telah berselingkuh atau itu hanya perasaannya saja.


Ia membulatkan matanya ketika melihat Vano duduk di kursi besi panjang tepat di sebelah seorang perempuan. Ia tidak bisa melihat jelas wajah perempuan itu karena posisi mereka berdua membelakanginya.


“Siapa perempuan itu? Apa dia Dalila? Jadi Mas Vano bohong. Bilangnya mau ke kantor enggak taunya malah ke sini dan ketemu sama perempuan lain. Kayaknya apa yang ada di otak gue bener deh. Mas Vano itu selingkuh di belakang gue,”


Elvina bisa lihat VNo dan perempuan itu mengobrol dan beberapa saat kemudian lengan VNo merangkul bahu si perempuan.


“Bukan main ya ternyata. Posesif dan cemburuan gue luar biasa banget, tapi dia sendiri kayak begini kelakuannya. Mas Vano keterlaluan!”


Elvina tidak akan pergi sebelum Vano pergi meninggalkan kursi itu. Ia akan mengamati seberapa lama suaminya itu berbincang dengan perempuan yang tidak Ia kenali itu.


Elvina masih berdiri di balik sebuah mobil. Ia akan menjadi mata-mata Vano hari ini. Keinginannya untuk membongkar kebohongan Vani yang lainnya begitu besar.


Elvina memicingkan mata ketika melihat Vano dan perempuan itu beranjak dari kursi. Sesaat sebelum perempuan itu pergi, Vano sempat mengusap kepala si perempuan. Elvina yang menyaksikan itu tersenyum sinis dan beruntungnya Ia kepikiran untuk memotret sebagai bukti kalau seandainya Vano mengelak ketika Ia tanya nanti. Tentu Elvina akan memaksa Vano jujur secara halus. Ia akan bertanya baik-baik pada Vano dulu awalnya kemudian kalau Vano tidak mau jujur, akan Ia serahkan buktinya.


“Mas…Mas rupanya kamu brengsek banget ya. Katanya cinta banget sama aku, nyatanya ini apa? Main belakang. Benar-benar kurang ajar!”


Setelah melepas perempuan asing itu pergi, Vano bergegas ke mobilnya. Elvina pun turut menyusul. Elvina mengikuti suaminya lagi yang sudah melajukan mobil kali ini entah kemana tujuannya.


Elvina menyadari bahwa arah laju mobil Vano adalah ke kantornya namun Ia ingin memastikan. Barangkali ada tujuan selain kantor selepas bertemu dengan perempuan tadi yang diperlakukan dengan lembutnya oleh Vano.


Vano rupanya benar-benar ke kantor. Kali ini dugaan Elvina yang berpikir bahwa Vano pergi ke tempat lain tidak benar.


Sebenarnya Elvina ingin menghampiri lelaki itu dan langsung mencecarnya agar jujur namun tempatnya tidak tepat. Di kantor adalah tempatnya orang untuk bekerja bukan membahas hal pribadi apalagi kaitannya dengan rumah tangga. Memang akan lebih baik bila dibahas di rumah. Ia akan membuat Vano mengakui bahwa Ia benar telah berselingkuh di belakangnya. Elvina juga takut hilang kendali ketika mencecar Vano nanti. Ia takut emosinya naik karena Vano yang pasti akan menutupi kebohongannya sendiri. Kalau Ia tak mampu mengendalikan emosi, Ia yang akan malu sendiri.


******


“Tadi siang kamu langsung berangkat ke kantor? Enggak mampir-mampir dulu ya?”


“Enggak,”


Vano hanya menjawab singkat sambil mulutnya mengunyah pisang goreng buatan Elvina. Setelah mandi memang enaknya makan yang hangat-hangat.


“El, tolong bikinin susu hangat bisa enggak?”


Elvina menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari meja pantry untuk menuruti keinginan suaminya yang minta dibuatkan susu hangat oleh dirinya.


“Amih kemana? Enggak kelihatan dia,”


“Lagi kurang enak badan, jadi dari siang aku suruh istirahat aja,”


“Oalah pantesan enggak kelihatan dari tadi,”


“Lah orang kamu juga baru pulang,”


Elvina mengambil cangkir dan susu vanilla. Kemudian Ia menuang susu vanila bubuk itu ie dalam cangkir dan menyeduhnya dengan air panas. Ia aduk kemudian ditambahkan dengan sedikit air biasa sebab suaminya minta hangat, bukan panas.


“Pakai gula enggak?”


“Enggak usah,”


“Hmm udah aku duga,”


“Ngapain masih tanya kalau begitu?”


“Ya untuk memastikan aja,”


Elvina mengambil piring kecil sebagai alas cangkir kemudian Ia membawanya ke hadapan sang suami yang sudah menunggu tak sabaran.


“Udah nyangkut nih pisangnya,”

__ADS_1


Tanpa basa-basi Vank meneguk susu hangat itu dan setelah bibirnya lepas dari cangkir Ia menggelengkan kepalanya.


“Mantap,” ujarnya seraya mengacungkan ibu jari.


Elvina memutar bola matanya halus. Vano bisa bersikap biasa saja padahal Ia sudah berbohong beberapa kali hari ini.


“Beneran kamu langsung ke kantor ya?”


“Iya, kenapa sih? Kok tanya itu terus,”


“Oh soalnya karena udah siang makanya langsung ke kantor?”


“Iya, ‘kan aku pamitnya begitu tadi,”


Elvina menganggukkan kepalanya dengan bibir tersenyum sambil tangannya merogoh saku celana yang Ia kenakan untuk mengambil ponselnya dari dalam sana.


Jarinya menari sebentar di atas layar ponsel setelah itu Ia meletakkan ponselnya di atas meja, tepatnya di depan Vano.


Kini Vano bisa melihat sebuah foto yang menampilkan sepasang manusia perempuan dan laki-laki membelakangi kamera.


“Bisa jelasin ini ke aku enggak? Aku minta kamu jujur, cuma itu aja kok,” ujar Elvina dengan senyumnya. Ia puas melihat wajah kaku Vano setelah melihat fotonya terpampang nyata ada di ponsel Elvina.


Vano ketahuan berbohong sekarang. Dan Ia kelihatan bingung mau bicara apa pada istrinya itu.


“Ayo, tolong jelaskan ke aku. Di foto itu kamu ‘kan?”


“Jelas kamu lah, orang aku yang fotoin,” imbuh Elvina seraya terkekeh.


Elvina menggeser layar dan menampilkan foto dengan suasana dan objek yang serupa. Elvina tak hanya sekali memotret ketika Vano dan perempuan itu berdiri tepatnya sesaat sebelum perempuan itu pergi meninggalkan Vano.


“Mas, jawab! Kamu jangan diam aja,”


“Kamu ngikutin aku?”


“Ya, kenapa? Ada masalah dengan itu? Aku istri kamu jadi harusnya kalaupun kamu diikuti, enggak masalah ‘kan?”


Salah satu alis Elvina terangkat ketika Vano berdesis tajam di depan wajahnya ketika mengatakan bahwa Ia tidak suka diikuti oleh Elvina.


Padahal Elvina menganggap bahwa itu hal yang wajar. Ia mengikuti pun ada sebabnya karena Ia punya rasa curiga terhadap Vano. Dan ternyata kecurigaannya itu benar. Vano memang bohong dan sedang dekat dengan perempuan lain.


“Kenapa? Jadi ketauan kalau kamu enggak sebaik itu ya? Ketauan dong kalau kamu aslinya brengsek, bajingan? Heh?”


“Jaga ucapan kamu ya! Nggak sopan ngomong kayak gitu ke aku!”


“Lho? Aku ngomong sesuai kenyataan. Kamu selalu bilang kalau kamu cinta sama aku, kamu bakal setia, tapi kenyatannya apa? Mulut kamu itu enggak bisa dipercaya lagi!”


“Kenapa sekarang kamu jadi begini? Perasaan dulu bodo amat deh, aku curiga kamu udah mulai cinta sama aku, El,”


“Jangan mengalihkan topik pembicaraan, bisa nggak? Yang sekarang aku bahas ini adalah kebohongan kamu dan perselingkuhan kamu sama perempuan itu!”


“Aku enggak selingkuh! Udah berapa kali aku bilang,”


Elvina memukul meja hingga cangkir di depan Vano bergerak dan sendok yang ada di dalamnya beradu dengan cangkir hingga menciptakan suara yang nyaring.


“Udah ketauan, masih aja bohong!”


“Aku jujur, aku memang enggak bohong kok, dan aku enggak selingkuh. Soal cinta? Aku masih cinta sama kamu dan aku masih setia sama kamu,”


“Halah omong kosong macam apa itu?! Hah?! Udah jelas-jelas ketauan kalau kamu ketemuan sama perempuan lain, dan kamu bohong ke aku. Kamu bilang bakal langsung ke kantor tapi ternyata kamu malah ketemuan sama perempuan itu. Sayangnya, aku enggak sebodoh yang kamu pikirkan. Aku ikuti kamu dan Tuhan tunjukin semua kebohongan kamu,”


“Terserah deh kalau enggak percaya,”


Vano akan beranjak namun lengannya dicekal oleh Elvina yang belum mengizinkan Vano pergi tanpa jawaban yang membuatnya yakin dan bisa percaya.


“Kamu bohong ‘kan sama aku?”

__ADS_1


“Aku jujur, Elvina,”


Vano akhirnya duduk lagi setelah mengusir tangan Elvina yang mem cekal lengannya hingga Ia terpaksa duduk lagi.


“Kamu selingkuh!”


“Ya kalaupun aku selingkuh emangnya kenapa? Bukannya selama ini kamu malah nyuruh aku untuk pergi dari hidup kamu, nyuruh aku cari yang lain, dan enggak pernah hargai aku? Hah? Jadi harusnya kamu enggak begini dong,”


“Tapi yang enggak aku suka adalah kamu bohong! Kamu ngaku enggak selingkuh, padahal apa susahnya ngaku. Kamu juga ngekang aku tapi nyatanya kamu punya yang lain,”


“Kapan aku ngekang kamu? Aku persilakan kamu jalan sama yang lain tapi aku berharap nya, kamu bisa berpikir ulang kalau mau jalan sama yang lain karena sejujurnya aku enggak suka. Tapi kalau seandainya kamu enggak terima sama ketidak sukaan aku itu, ya enggak masalah. Tetap lakukan aja sesuka hati kamu. Boleh kok jalan sama yang lain, dekat sama yang lain. Asal kamu enggak malu aja. Karena status kamu ‘kan udah jadi istri orang,”


“Tolong ya, Elvina, jangan bikin hubungan kita jadi makin rumit. Jadi diri kamu yang biasanya aja, karena jujur aku sudah semakin nyaman dengan ketidakpedulian kamu, dibanding kamu marah-marah enggak jelas begini karena tau aku jalan sama yang lain. Padahal lagi-lagi aku tegaskan, aku enggak selingkuh, dan kalau kamu tanya siapa perempuan itu? Dia teman aku,”


“Mana ada teman mesra-mesraan kayak kalian. Nggak Ada! Aku sama Jona aja enggak begitu kok,”


“Mesra gimana sih? Hah?”


“Kamu pikir aku buta ya? Aku bisa lihat sebelum dia pamit, kamu elus kepala dia, aku juga bisa lihat kalau kalian akrab banget, kayak udah kenal lama dan lebih dari sekedar teman. Jadi jangan coba-coba membodohi aku deh. Aku enggak bisa kamu bodohi gitu aja, Mas, mungkin perempuan lain bisa, tapi kalau aku enggak akan bisa!”


“Ya udah terserah kamu ya. Aku capek jelasin ke kamu. Karena percuma aja, kamu tetap punya pikiran yang buruk ke aku, kamu tetap aja nuduh aku,”


“Mas tunggu dulu! Aku belum selesai bicara, Mas!”


Vano tetap saja berjalan meninggalkan Elvina yang masih mendidih dari ujung kepala sampai kaki.


Elvina mendorong kasar cangkir yang digunakan Vano tadi, dan juga piring berisi pisang goreng hingga semuanya jatuh ke bawah dan itu berhasil membuat langkah Vano terhenti.


Vano menoleh ke arahnya tak habis pikir. Elvina benar-benar keterlaluan melampiaskan emosinya sampai mengorbankan barang rumah begitu.


Vano mencengkram pergelangan tangan Elvina yang tengah menangkup wajahnya hingga Elvina terkejut. Ia pikir Vano sudah beranjak ke kamar.


Ia meremang ketika melihat tatapan tajam Vamo dan rahangnya yang mengetat hingga bentuknya kian tegas. Vano menggertakkan giginya marah dan kian mencengkram pergelangan tangan Elvina.


“Kamu keterlaluan ya. Enggak seharusnya kamu emosi begini kalau kamu memang enggak cinta sama aku,”


“Aku emang enggak cinta sama kamu, Mas!”


“YA UDAH JANGAN BEGINI! BERHENTI UNTUK MARAH-MARAH ENGGAK JELAS!”


Vano melepaskan cengkramannya dengan kasar. Elvina yang memancingnya bersikap seperti itu. Ia sebenarnya tidak ingin tapi Elvina harus diberi pelajaran supaya sikapnya tidak seperti ini lagi. Ia sudah memberikan penjelasan tapi Elvina tetap saja menuduhnya, berpikir buruk tentangnya.


Elvina membeku di tempatnya. Ia benar-benar tidak menyangka Vano akan membalasnya dengan emosi juga. Bukan malah diyakinkan, Vano justru marah-marah.


Vano pergi setelah menumpahkan semua emosi yang meletup di dada karena menyaksikan Elvina yang tidak henti menuduhnya kemudian marah sampai barang juga jadi sasaran.


Elvina menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menatap kekacauan yang sudah Ia perbuat dan merasa menyesal. Karena pada akhirnya Ia yang harus membereskan. Tidak mungkin Amih. Karena Amih lagi sakit.


“Marah-marah tapi bantuin enggak. Dasar tukang selingkuh! Pembohong!” Ia mengecam sikap Vank yang setelah marah padanya malah pergi begitu saja, bukannya membantu Ia membereskan pecahan-pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai.


“Mana tangan gue dicengkram, sakit banget lagi,”


Elvina sempat melirik pergelangan tangannya yang dicengkram oleh suaminya. Tadi Vano emosi ketika melakukannya dan jujur itu cukup menyakitkan ketika semakin lama Vano semakin menambah tekanan pada pergelangan tangannya.


Elvina membereskan semuanya seorang diri karena memang Ia yang berbuat. Setelah itu Ia memilih untuk diam di lantai bawah. Ia enggan bertemu dengan Ken ketika mereka baru saja meluapkan emosi masing-masing. Daripada berujung bertengkar lagi dan Ia sudah lelah, lebih baik Ia mencari tempat lain untuk berdiam diri ketimbang di kamar dan akhirnya malah bertemu dengan suaminya yang juga keterlaluan. Bisa-bisanya dia melakukan kekerasan fisik. Meskipun bukan menampar atau menendang, tapi tetap saja Vano telah menyakitinya.


Elvina mengusap beberapa kali pergelangan tangannya yang mungkin sebentar lagi akan memar dibagian jejak jari Vano.


“Kayaknya gue bakalan diam di sini aja deh, gue tidur di sini lebih baik daripada di kamar,”


Elvina membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia melamun untuk beberapa menit lamanya. Ia tak habis pikir kenapa rumah tangga nya seperti ini. Hampir setiap hari diisi dengan pertengkaran. Kemudian Ia membandingkan pernikahannya dengan pernikahan orang lain, oh bukan orang lain lebih tepatnya, tapi adiknya sendiri yang kelihatan dari luar akur-akur saja. Entah kapan Ia dan Vano bisa seperti itu. Pernikahan diisi dengan kedamaian dan saling mencintai.


Tadinya Ia sudah yakin untuk belajar mencintai Ken. Tapi begitu tahu Vano telah berselingkuh, Ia berpikir ulang untuk itu.


Meskipun Vano tidak mengakui apa yang Ia tuduhkan tapi mana ada teman dengan gestur mesra seperti Vano dan perempuan tadi. Ia bisa melihat perbedaan dari teman dengan kekasih. Elvina yakin Vano punya hubungan istimewa dengan perempuan tadi dan sayangnya Ia tidak tahu siapa nama perempuan itu. Apakah Dalila yang menghubungi Vano dini hari, atau justru perempuan lain.

__ADS_1


“Gimana caranya gue cari tau ya, supaya gue bisa bungkam mulut dia dengan apa yang gue tau nantinya. Gue yakin itu selingkuhan dia,”


******


__ADS_2