
Vano masih saja menyimpan rasa kesal karena ucapan Elvina yang seolah-olah menyuruh Ia untuk mencari perempuan lain yang bisa memberikannya keturunan.
Vano tidak mungkin melakukan itu. Ia ingin hidup bersama Elvina sampai nyawanya putus dari raga nantinya. Kalau Ia mau mencari yang lain hanya demi anak, sudah Ia lakukan sejak awal Elvina tidak mencintainya. Sekarang mereka saling mencintai dan Vano berharap bisa seperti itu selamanya, walaupun diantara mereka tidak dihadirkan seorang anak, Vano tidak masalah sama sekali meskipun Ia akui bahwa keinginan untuk memiliki anak begitu besar.
Vano akan tetap bersama Elvina bagaimana pun keadaannya. Masih belum genap dua tahun, Elvina sudah bicara seperti itu. Bagaimana kalau mereka sudah nikah diatas lima tahun kemudian belum dikaruniai anak juga, besar kemungkinan Elvina akan mencarikan jodoh untuknya.
Sekarang saja pembicaraannya sudah ke arah sana, padahal baru beberapa waktu lalu dia hampir membunuh dirinya sendiri karena tidak terima Ken mengkhianatinya.
“Nggak habis pikir gue sama Elvina, langsung badmood buat kerja sekarang,”
Akhirnya lelaki itu pusing sendiri mengingat pembicaraannya bersama sang istri sebelum Ia berangkat bekerja.
“Dia pasti puas banget udah bikin gue uring-uringan pagi ini,”
Terlampau kesal dengan Elvina, Vano bahkan sampai menyelesaikan sarapannya dengan cepat kemudian pergi bekerja begitu saja tanpa pamit pada Elvina dan perempuan itu akhirnya protes.
“Mas, kamu nggak mau pamit dulu? Kok langsung pergi? Kamu kesal sama aku? Aku ‘kan cuma mau tau aja apa kamu mau tetap sama aku kalau aku ini nggak bisa punya anak? Emangnya kamu nggak minder? Semua teman kamu punya anak terus kamu belum punya juga. Makanya aku tanya, kamu ada keinginan untuk sama yang lain atau nggak? Barangkali aja—“
“Nggak usah ngomong lagi, Elvina, aku nggak mau dengar,” ujar Vano dengan lugas dan dingin kemudian Ia pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang melengkungkan bibirnya ke bawah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
Elvina sebenarnya terlalu takut Ken pergi meninggalkannya demi memiliki anak dari perempuan lain karena Ia sendiri sebagai istri Vano tidak mampu memberikan keturunan.
Melihat Vano yang begitu berharap bisa segera memiliki anak, Elvina selalu saja dibuat takut membuat Vano kecewa bila hasil cek testpack tidak sesuai harapan. Walaupun Vano mengatakan Ia tidak kecewa dan akan menerima apapun hasilnya, tapi tetap saja ada rasa tidak enak di hati Elvina karena lagi-lagi membuat sang suami merasakan kecewa. Vano memang mengatakan tidak masalah bila tidak diberikan anak, tapi dalam hati dia pasti kecewa setiap kali garis di testpack hanya ada satu.
*****
Vano pulang lebih cepat dari biasanya dan begitu Ia tiba di depan gerbang, Ia langsung disambut dengan sebuah mobil yang tidak Ia kenali siapa pemiliknya.
Kemudian Vano langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia disambut dengan Elvina yang tengah berbincang dengan seorang pria yang tak lain adalah Jona. Di tengah-tengah mereka, tepatnya di atas meja ada sebuah undangan.
“Vano, Jona ngundang kita ke anniversary orangtuanya, ini undangan—“
“Oh, kapan?”
Belum sempat Elvina menyudahi ucapannya, Vano sudah melontarkan pertanyaan seperti itu sambil Ia menerima uluran tangan Jona.
“Gue balik ya, El,”
“Iya, hati-hati, Jon. Insya Allah gue sama Vano bisa datang,”
“Okay, thanks ya,”
“Van gue balik dulu, thanks ya,”
Vano tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Jona tidak enak lama-lama di rumah Elvina dan Vano. Ia datang hanya untuk memberikan undangan saja. Ia bukannya lupa, Ia masih ingat betul bagaimana sinisnya tatapan Vano waktu itu ketika tahu Ia datang menjemput Elvina karena mereka ingin jalan-jalan, dan Elvina juga pernah bilang kalau Vano itu tipe orang yang suka cemburu.
Mamanya masih ingat sekali dengan kebaikan Elvina yang pernah menjadi pemilih hadiah Jona untuk sang mama, kemudian Elvina juga pernah menjenguk mama Jona. Kebaikan Elvina itu yang membuat sang mama ingin terus melibatkan Elvina dalam setiap acara yang Ia laksanakan.
“Nih undangannya. Usia pernikahan udah empat puluh tahun. Hebat banget ya, Mas. Kira-kira kita bisa begitu nggak ya,”
“Bisa aja, itu yang jadi isi doa aku selama ini,”
Vano akan beranjak ke kamar namun lengannya dicekal oleh sang istri. Elvina memicing menatap wajah suaminya itu.
“Muka kamu kenapa? Pulang-pulang kusut aja,”
“Capek,”
“Nggak karena cemburu ‘kan?“
“Awalnya iya, tapi waktu tau dia nganter undangan aku nggak cemburu lah. Gila aja kalau aku cemburu hanya karena dia datang kasih undangan. Kecuali kalau dia datangnya ngajakin kamu jalan, atau modus kasih makanan,”
“Eh kalau orang kasih makanan itu harusnya bersyukur dong, Mas, masa dibilang modus sih,”
“Ya menurut aku dia itu modus, Sayang,”
“Nggak dong, dia baik kasih makanan ke aku, dia bukan modus tau,”
“Dia ‘kan mantan kamu tuh,”
“Ya terus kenapa?”
“Kayaknya masih berharap balik sama kamu, waktu itu ya, kalau sekarang sih nggak tau,”
“Oh kalau waktu itu emang iya, tapi sekarang dia udah punya pacar, jangan asal ngomong lho, dia bukan jomblo lagi,”
“Kamu tau darimana?”
“Dia cerita ke aku, Mas,”
“Serius? Dia cerita apa aja ke kamu?”
“Ya itu, dia bilang kalau dia deket sama cewek, terus pedekate dulu lah untuk beberapa lama, setelah itu aku dapat kabar kalau dia sama cewek itu udah pacaran, ih nggak sabar liat dia nikah lho. Dulu dia tuh suka tebar pesona sama cewek, tapi sekarang kayaknya sih beneran udah berubah ya, semoga aja sama yang sekarang sampai tahap pernikahan,”
“Kamu yang semangat dia mau nikah ya?”
Vano menaiki satu persatu anak tangga disusul oleh sang istri di belakangnya. Vano ingin langsung istirahat tapi tidak bisa karena belum mandi. Entah kenapa badannya pegal-pegal semua.
“Kamu keliatan lesu banget kayaknya. Beneran capek banget ya?”
“Iya, pada pegal semua badan aku nih, kira-kira kenapa ya?”
“Ih kok sama, aku sejak tadi lagi lho, Ken,”
“Sama, jodoh berarti,”
Vano menanggalkan pakaian kerjanya setelah itu langsung bergegas masuk ke kamar mandi sementara Elvina mengambil baju yang akan dikenakan sang suami setelah Ia mandi nanti.
“Mas, setelah mandi kamu mau minum teh hangat nggak? Aku bikinin kalau kamu mau,”
“Nggak deh, eh iya deh,”
Elvina berdecak pelan karena jawaban suaminya yang tidak pasti. “Jadi mau atau nggak?” Tanya perempuan itu untuk memastikan.
“Iya mau, Ma, tolong bikinin ya,”
“Okay, aku bawa ke kamar nanti,”
“Terus mau apalagi?”
“Hmm telur dadar deh,”
“Telur dadar aja nggak sama nasi?”
“Nggak, El,”
__ADS_1
“Ya udah aku buatin ya,”
Elvina segera bergegas keluar dari kamar usai menjadi pelayan untuk sang suami. Menyiapkan baju sudah, saatnya menyiapkan hidangan yang bisa Vano santap nanti kalau sudah selesai membersihkan badannya.
Elvina membuatkan telur dadar dulu. Setelah itu barulah mengambil teh dan gula yang langsung dimasukkan ke dalam cangkir barulah Ia menuang air panas.
“Bu, untuk siapa?“
Ketika hendak keluar dari dapur, Elvina tidak sengaja bertemu dengan Amih yang bingung melihat Elvina membawa baki dengan satu piring berisi telur dadar dan juga satu cangkir teh yang uapnya masih menguar dari dalam cangkir.
“Buat Vano, Mih,”
“Itu telur nggak sama nasi, Bu?”
“Dia nggak mau,”
“Pak Vano ngidam ya, Bu?”
Elvina terkekeh mendengar pertanyaan Amih yang polos tapi kedengarannya penasaran sekali.
“Masa iya ngidam? Ya nggaklah, dia lagi kecapekan aja, Mih, terus minta ini deh,”
“Oalah, saya kira lagi ngidam, Bu, ya udah atuh, Ibu bawa aja sekarang ke kamar. Barangkali udah ditungguin,”
“Okay, aku naik dulu ya, Mih,”
“Iya, Bu. Saya aja yang bawa, Bu, takutnya Ibu susah naik tangga nya,”
“Nggak susah kok, aku bisa,”
“Pelan-pelan aja, Bu,”
Amih mengantarkan Elvina sampai lantai atas karena Ia terlampau khawatir Elvina ada kendala ketika membawa baki berisi makan dan minuman panas itu.
Setelah membuka pintu kamar sang majikan dan Elvina masuk ke dalam kamar, barulah Amih kenbali ke lantai dasar.
“Mas, ini udah jadi, kamu masih lama?”
“Nggak, aku lagi berendam dulu nih, tapi bentar lagi selesai kok,”
“Ya udah buruan, jangan lama-lama, nanti kalau udah dingin nggak enak lagi lho,”
“Iya, Sayang, ini aku bentar lagi kelar kok,” ujarnya.
Elvina memilih untuk berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan badannya yang juga terasa pegal sejak tadi.
Vano keluar dari kamar mandi dengan badan yang segar. Ia segera mengenakan pakaian setelah itu duduk di sofa yang menghadap jendela dan balkon untuk menikmati pemandangan sekaligus telur dadar juga teh hangat bikinan sang istri.
“Sayang, sini deh, kita ngobrol yuk,”
Elvina segera beranjak dari ranjang. Padahal malas sekali rasanya untuk beranjak dari tempat tidur tapi suaminya ingin mengajaknya berbincang.
“Iya, kenapa?”
“Jadi kapan acara anniversary orangtua Jona?”
“Minggu ini sih, kamu mau datang?”
“Ya kalau kamu datang, aku juga datang lah,”
“Aku kayaknya sih bakal datang, Insya Allah kalau nggak ada halangan,” ujar Elvina seraya menyandarkan badannya ke sofa sambil mengusap pinggangnya.
“Badan aku juga pada pegal-pegal,”
“Sama ya kayak aku, mau aku balurin minyak nggak?”
“Nanti aja kalau udah mau tidur,”
“Emang kenapa kamu pegal-pegal gitu? Kecapekan?”
“Nggak tau juga kenapa,”
“Terus itu kenapa pegang-pegang perut juga?”
“Agak nyeri,”
Elvina terkekeh seraya mengusap perut bagian bawahnya. Vano mengernyitkan kening penasaran.
“Kenapa, Sayang? Mau datang bulan kali ya?”
“Iya mungkin,”
“Atau hamil?”
“Nggak! Ih kamu obrolannya ke arah sana terus, aku nggak mau!”
“Hmm? Nggak mau apa?”
Vano langsung salah paham. Pikirnya Elvina tidak mau hamil lagi, seperti sebelumnya yang enggan sekali mengandung anaknya karena belum mencintainya sampai-sampai mengonsumsi pil kontrasepsi.
“Ya nggak mau bahas itu,”
“Oh, aku pikir nggak mau apa,”
“Emang apa? Kamu pikir aku nggak mau apa?”
“Nggak mau hamil lagi,”
“Kalau aku nggak mau hamil lagi nih, aku udah minum pil lagi, Mas. Kamu jangan lupa kalau aku ini udah nggak minum-minum itu lagi,”
“Iya aku nggak lupa. Aku seneng deh kamu mau denger kemauan aku,”
“Tapi kenyataannya setelah aku lepas dari itu, aku tetap aja belum punya,”
“Iya belum waktunya, Sayang. Sabar, kalau emang kata Allah kita bakal punya anak ya berarti tinggal tunggu waktu yang tepat aja, tapi kalaupun nggak juga aku nggak masalah sama sekali. Aku nggak minder sama teman-teman aku yang udah punya anak, aku santai aja. Anak itu ‘kan titipan, ya kalau Allah belum kasih kepercayaan ke kita untuk punya anak, nggak usah dijadikan beban. Banyak kok pasangan suami istri yang belum punya anak, atau bahkan nggak punya sama sekali tapi mereka tetap bisa hidup bahagia, kita juga pasti bisa, Sayang,”
“Tapi kamu ‘kan udah kepengen banget ya,”
“Pengen bukan berarti maksa. Aku kalau pengen ya nggak harus punya, dari aku kecil prinsip aku begitu aja, aku pengen sesuatu nih, tapi nggak harus punya, jadinya nggak beban di otak aku,”
“Beda sama aku dong. Aku ini kalau mau apa-apa keras banget. Merasa harus punya. Sebenernya itu nggak boleh ya, egois namanya. Tapi aku tipe orang yang kayak gitu,”
Vano tersenyum dan Ia mengacak lembut rambut sang istri yang baru saja mengatakan perbedaaan yang begitu mencolok diantara Elvina sendiri dan juga suaminya. Tapi Vano tidak masalah, perbedaan dalam pernikahan adalah hal yang sangat wajar terjadi.
“Mau nggak? Enak lho telur dadar aja tanpa nasi,”
__ADS_1
Vano mengambil piring kecil berisi telur dadar buatan sang istri. Kemudian Ia tawarkan pada Elvina yang langsung menggeleng.
“Enak, El, karena telurnya masih hangat,”
“Nggak ah, buat kamu aja,”
“Emang kenapa? Biasanya kamu suka, Sayang,”
“Nggak, bau amis,”
“Lah wajar, namanya juga telur, kalau ubi kamu bilang bau amis tuh baru aneh,”
“Ken, jangan sengaja dideketin ke hidung aku,”
Elvina memarahi Vano yang masih mendekatkan piring ke arah Elvina. Padahal Elvina sudah mengatakan bahwa Ia tidak mau, alias menolak tawaran sang suami.
“Udah kamu makan sendiri aja,”
“Beneran nggak mau?”
Elvina mengangguk, dan Vano langsung menyantap telur dadar itu dengan lahap hingga tak lama kemudian habis.
Vano terkejut begitu Elvina tiba-tiba saja berdiri sempurna dari sofa dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Suara Elvina yang mual di kamar mandi langsung membuat Vano bergegas menghampiri karena khawatir.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Gara-gara bau telur tadi nih,”
“Hah? Kamu serius? Ya Allah, maaf-maaf,”
Vano segera memijat tengkuk Elvina yang tengah membungkuk di depan wastafel mengeluarkan isi perutnya.
Vano langsung merasa bersalah karena tadi Ia menawarkan telur kepada Elvina bahkan terkesan memaksa juga supaya niatnya bisa makan berdua. Tapi ternyata Elvina benar-benar tidak suka dengan aroma telur itu sampai akhirnya muntah.
Tapi yang membuat Vano bingung adalah, selama ini Elvina tidak pernah ribut soal aroma telur. Baru sekarang dan itu aneh sekali menurut Vano.
“Kok tumben kamu protes soal bau amis telur? Tadi masaknya baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, tapi pas kamu deketin piring tadi, aku langsung mual,”
“Ya ampun, maaf ya, Sayang,”
“Ya nggak apa-apa, tapi jangan diulangin lagi, kalau aku bilang nggak mau ya berarti nggak mau, jangan ditawarin lagi,”
“Okay, aku minta maaf ya, Sayang, nggak bermaksud bikin kamu mual kayak begini,”
“Iya, aku paham kok, nggak apa-apa,”
Elvina sudah merasa lebih baik maka dari itu Ia bisa menyahuti ucapan Vano. Sesaat kemudian Elvina kembali menunduk dan mengeluarkan isi perutnya.
“Aduh, mual banget ya,”
“Aneh deh, El, biasanya kamu nggak sampai begini lho, hanya karena telur padahal. Kamu udah sering masak, bahkan suka juga sama yang namanya telur, tapi kok sekarang malah mual ya, Sayang,”
Setelah tidak ada lagi yang mendesak ingin dikeluarkan, Elvina langsung membasuh mulutnya dengan air kemudian Ia keluar dari kamar mandi dengan dipapah oleh sang suami yang benar-benar cemas dengan kondisinya.
“Istirahat ya, kamu mau minum teh hangat nggak? Biar mualnya hilang,”
“Nggak, aku nggak mau apa-apa, Ken,”
Vano mengangkat dengan lembut kaki sang istri yang masih terjuntai ke lantai, kemudian Ia letakkan di atas tempat tidur dengan posisi lurus.
Ia mengambilkan air putih untuk Elvina yang segera menggelengkan kepalanya menolak. “Ayo minum dulu, biar—“
“Nggak mau, aku nggak mau minum apa-apa,”
Vano menghela napas pelan. Elvina kalau sudah dalam mode keras kepala menyebalkan sekali. Padahal supaya mulutnya bersih, setelah muntah tadi, Vano ingin istrinya itu minum.
Vano berinisiatif untuk membalurkan minyak aromaterapi di perut, leher depan, dan tengkuk Elvina. Kemudian Ia juga membalurkannya di kening Elvina.
“Istirahat, Sayang. Kamu kayaknya kecapekan dan masuk angin deh,”
“Emang lagi pengen tumbang aja ini,”
“Iya makanya istirahat, jangan ngelakuin apa-apa dulu ya,”
“Okay,”
Elvina memejamkan matanya untuk istirahat sebentar sementara sang suami menekuk lututnya dan menumpunya di lantai. Ia berada tepat di samping sang istri.
“Sayang, kalau ada apa-apa, tolong langsung bilang sama aku ya,”
“Iya,”
“Kalau ada yang kamu perlu, dan kamu ngerasa sakit di badan, kamu langsung bilang ke aku, supaya kita langsung ke rumah sakit. Aku khawatir banget tiba-tiba kamu mual kayak tadi, padahal sebelumnya baik-baik aja,”
“Santai aja, Mas, aku baik-baik aja kok,”
“Ya gimana aku bisa santai, Sayang? Kamu nggak biasanya kayak begini. Hanya gara-gara aroma telur kamu langsung mual, tapi waktu masak nggak apa-apa ‘kan?”
Elvina menganggukkan kepalanya dan kembali mengatakan bahwa saat ini badannya sedang ingin tumbang, penyebab sebenarnya bukan telur.
Elvina terkekeh melihat Vano menatap ke arahnya dengan kening mengernyit khawatir. Elvina mendorong wajah Vano dengan telunjuknya.
“Kamu panik banget, santai aja,”
“Nggak, aku lagi mikir deh,”
“Mikir apa?”
“Apa iya kamu hamil, Sayang?”
“Mas, jangan mulai ya. Sedikit-sedikit bahas hamil, aku bosan ah,”
“Ya abisnya kamu aneh banget, El. Biasanya nggak pernah tuh mual-mual karena telur. Apa iya kamu lagi masuk angin aja? Bukan karena yang lain,”
“Iya karena masuk angin dan emang lagi waktunya sakit aja, Mas. Nggak usah terlalu kamu pikirin,”
Vano menggelengkan kepalanya pelan. Ia tetap saja tidak bisa berhenti memikirkan berbagai penyebab yang membuat Elvina merasakan mual.
“Kita periksa aja ya, biar jelas,”
“Vano jangan bikin aku tambah merasa bersalah deh, dengan kamu yang terus-terusan ngira aku hamil, atau suruh aku cek, aku ngerasa bersalah sama kamu,”
__ADS_1
“Lho, emang kenapa?”
“Ya karena itu tandanya kamu benar-benar berharap banget punya anak dari aku tapi sayangnya aku nggak bisa kasih, kamu paham nggak? Jangan suruh aku cek atau ini itu, aku nggak mau, nanti ujung-ujungnya dibikin kecewa,” ujar Elvina dan tanpa sadar air matanya mengalir ke pipi dan itu membuat Vano terkesiap.