
“Mas, kita jadi pindah?”
“Jadi, ‘kan semua udah siap. Emang menurut kamu apalagi yang kurang?“
Di dalam perjalanan menuju rumah orangtua Vano, Elvina baru ingat rencana Vano setelah mereka pulang dari Bali. Dan kali ini Ia membahasnya karena kebetulan mereka sudah pulang.
“Ya nggak ada sih, cuma—nggak kecepatan ya, Mas? Enak nggak sama Mama Papa?”
“Ya emang kenapa? Mereka nggak masalah. Walaupun berat, tapi ‘kan mereka paham kalau kita mau hidup mandiri berdua aja,”
“Ya udah aku setuju, Mas,”
Vano langsung menggenggam tangan Elvina yang saat ini menatap keluar jendela. Entah kenapa Vano merasa Elvina keberatan bila diboyong dalam waktu dekat ini ke rumah yang sudah Vano persiapkan untuk mereka.
__ADS_1
“Kamu keberatan ya, El?”
“Hmm?”
Elvina menolehkan kepalanya lalu menatap sang suami dengan sorot mata yang bingung. “Nggak kok, Mas,”
“Tapi kayak keberatan gitu?”
“Nggak lah, Mas. Aku ikut apa kata Mas aja. Cuma aku udah ngebayangin nanti sepinya hidup cuma berdua. Kira-kira kita bakal kesepian nggak ya?”
“Iya, tapi ‘kan biasanya kita sama orangtua, sekarang kita bakal berdua aja, Mas. Aku yakin bisa sih cuma ngebayanginnya tuh udah hampa duluan,”
Katakanlah Elvina berlebihan. Tapi selama hidup Elvina selalu bersama orangtuanya, Ia adalah anak tunggal jadi apa-apa didampingi. Ketika harus hidup mandiri hanya dengan pasangan seperti ini, yang jelas masih Ia anggap orang asing karena baru menikah dan Ia belum bisa mencintai Vano, sebenarnya berat untuk Elvina.
__ADS_1
Apalagi Elvina masih tergolong muda, baru dua puluh satu tahun, jadi sisi manjanya itu sudah pasti masih ada. Ditambah lagi keluarga Vano itu sangat menerimanya dengan tangan terbuka sehingga Ia benar-benar merasa nyaman tinggal di rumah suaminya. Setidaknya walaupun pisah dengan orangtuanya, masih ada orangtua Vano yang sudah Ia anggap sebagai orangtuanya juga.
“Iya saya paham kok. Kamu masih belum bisa hidup lepas dari bayang-bayang orangtua, tapi kita harus belajar. Masa kita harus sama orangtua terus, nggak mungkin ‘kan? Mereka sih setuju banget kita nggak pindah, cuma saya pengen benar-benar hidup berdua sama kamu aja. Tapi kalau kamu memang seandainya keberatan, ya udah nggak apa-apa. Kita undur dulu sampai kamu benar-benar siap,”
Sebenarnya Vano sudah ingin sekali tinggal terpisah dengan Elvina dan Ia juga sudah bicarakan soal ini pada istrinya itu. Elvina menyetujui tapi kali ini nampaknya keberatan.
Wajar Elvina berubah pikiran. Mungkin setelah dipikir-pikir hidup hanya berdua itu memang tidak semenyenangkan bila tinggal bersama orangtua, itu karena mereka belum mencobanya. Vano yakin seiring berjalannya waktu pasti Ia dan Elvina akan terbiasa.
Tapi kalau seandainya Elvina enggan untuk mencoba tinggal terpisah dari orangtua, Vano tidak masalah. Vano tidak akan memaksakan kehendak.
“Nggak apa-apa deh, Mas. Seru ‘kan belajar hal baru,”
“Kamu masih labil banget,”
__ADS_1
“Maaf, Mas. Aku bimbang nggak masalah ‘kan? Namanya juga mau pisah sama orangtua. Harusnya kamu bersyukur aku tuh susah ninggalin rumah kamu, itu artinya apa? Mama, Papa, Davina, dan semua asisten di sana bikin aku nyaman, rasanya kayak tinggal sama keluarga kandung sendiri. Jadi pas mau ninggalin berat rasanya.”
“Kamu emang apa-apa berat, ninggalin masa lalu aja berat,”