
“Kamu benar-benar keterlaluan, Elvina!”
Elvina kaget ketika tiba-tiba Bundanya masuk kamar dan langsung marah. Dini menatap anaknya dengan mata tajam dan rahang mengeras.
“Bunda kenapa? Aku nggak ngerti,”
Dini langsung meletakkan buku di atas tempat tidur anaknya. Elvina membelalakkan kedua matanya kaget.
Ia tidak menyangka buku berisi foto-fotonya bersama Rendra ada di tangan Dini. Padahal tersimpan rapi di lemari buku-bukunya.
“Bun, ini bunda dapat darimana?”
“Kamu nggak perlu tau Bunda dapat itu darimana. Bunda ‘kan udah bilang sebum kamu nikah bersihin semua kenangan kamu sama Rendra, jangan ada satupun yang tersisa. Karena kamu itu udah mau jadi istri orang. Ternyata apa? Kamu masih simpan foto-foto kamu sama mantan kamu itu. Kamu pernah bayangin nggak sih perasaannya Vano gimana setelah liat foto-foto itu? Hmm?”
“Jadi ini Mas Vano yang ngasih tau?”
“Nggak! Kamu jangan nuduh Vano,”
Elvina menggertakkan giginya kesal. Ia tidak percaya dnegan jawaban bundanya barusan. Ia yakin Vano lah yang sudah memberikan album foto itu kepada Dini yang akhirnya membuat Dini marah kepadanya.
“Kenapa kamu masih simpan foto-foto kamu sama Rendra?”
“Karena aku nggak bisa, Bun,”
“Nggak bisa apa?”
“Nggak bisa buang kenangan aku sama Rendra, aku masih belum bisa lupain dia, Bunda. Aku—“
“Hei kamu sadar nggak sih kalau kamu itu udah nyakitin suami kamu sendiri? Kamu nggak pernah pinjam perasaan dia? Bayangin kalau kamu ada di posisi Vano liat foto-foto istri sama mantannya,”
“Mas Vano tau kok kalau aku sampai sekarang masih belum bisa move on,”
“Jadi sampai sekarang kamu belum bisa lupain Rendra bahkan setelah kamu nikah, setslah kamu bulan madu, setelah liat gimana baiknya Vano ke kamu? Iya?”
Elvina menghembuskan napas kasar. Ia sulit mengakuinya karena memang kalau Ia mengakui, itu artinya Ia sangat jahat pada Vano. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Sudah hampir lima bulan menikah Ia masih belum bisa melupakan Rendra.
“Jawab, Elvina!”
“Iya, Bun. Aku nggak bisa lupain Rendra, aku belum bisa cinta sama Mas Vano, Bun,”
“Astaghfirullah. Tapi Vano nggak pernah cerita apa-apa lho sama Bunda ataupun Ayah. Artinya selama ini dia nyimpan semuanya sendiri,”
“Tapi Mas Vano paham kok. Dia mau nunggu, dia mau kaish akuw aktu untuk belajar cinta sama dia,”
“Ya mau sampai kapan dia nunggu?!”
Elvina tersentak ketika nada bicara Dini naik. Dini jarang sekali marah, apalagi sampai mengeluarkan nada tinggi seperti ini. Kalau Dini sudah marah, artinya penyebab dia marah sudah keterlaluan.
Dini benar-benar tidak menyangka kalau pernikahan Elvina dan Vano tidak sebahagia kelihatannya. Vano menyimpan sendiri kenyataan bahwa istrinya sampai sekarang masih belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Dini tidak bisa membayangkan bagaimana terlukanya Vano yang harus bersaing dengan laki-laki yang harusnya dibenci oleh Elvina.
__ADS_1
Alih-alih dibenci, justru Elvina malah belum bisa menghilangkan perasaannya untuk laki-laki yang sudah menyakitinya itu.
“Kamu itu nggak punya hati dan pikiran ya? Kamu sama aja nggak menghargai suami kamu, kalau kamu masih belum bisa lupain Rendra. Kamu nyakitin suami kamu sendiri demi laki-laki yang udah bikin kamu sedih, bikin kamu kacau. Kamu bakal nyesal, El. Dengar ucapan Bunda ini. Kamu bakal nyesal udah nyia-nyian Vano,”
Elvina mendengar kata menyesal sempat membeku beberapa saat. Seketika memori-memorinya tentang Vano berputar di kepala.
Bagaimana baiknya Vano, sabarnya Vano, langsung membuat Elvina sadar kalau Ia memang sudah sejahat itu pada suaminya. Tapi Ia sulit mengendalikan perasaannya sendiri. Ia juga tidak tahu mau sampai kapan nama Rendra tertulis di pikiran di hatinya, yang dimana seharusnya posisi itu ditempati oleh Vano yang statusnya adalah suami.
“Aku bahkan masih suka ngeliatin fotonya Rendra di hamdphone aku, Ma. Beberapa kali keliatan sama Mas Vano,” aku Elvina dengan pelan dan sambil menunduk.
“Astaga, kamu udah menodai pernikahan kamu sendiri kalau gitu, El. Kamu tau nggak perbuatan kamu itu udah termasuk selingkuk. Kamu mikirin laki-laki lain, kamu masih cinta sama dia, masih suka ngeliatin foto dia, disaat kamu udah punya suami. Pernikahan yang seharusnya suci, yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan, malah kamu nodai, malah kamu bikin sebagai sumber rasa sakitnya Vano,”
“Bunda, tapi aku nggak selingkuh. Aku nggak komunikasi sama Rendra kok. Nggak ngapa-ngapain sama dia juga. Dia udah sibuk sama pasangan dia itu dan aku juga sibuk sama hidup aku yang baru,”
“Tetap aja, selagi otak dan hati kamu itu isinya laki-laki lain, Bunda anggap kamu udah mengkhianati pernikahan kamu sendiri. Kamu seharusnya bisa hargain Vano! Setidaknya kalau belum bisa cinta dama dia, kamu jangan nyakitin dia dengan kenyataan kalau kamu itu belum mkve on dong!”
“Ya kenyataannya emang begitu, Ma. Aku nggak bisa tutupi, dan Mas Vano juga udah tau kok. Dia ‘kan dari sebelum nikah udah tau kalau aku punya mantan yang belum bisa aku lupain. Mas Vano bilang cinta bisa datang karena terbiasa dan dia tetap mau nikahin aku ya itu artinya dia udah siap dengan segala risiko yang bakal terjadi, termasuk salah satunya aku yang masih belum move on dari mantan aku sampai detik ini. Aku emang keliatannya bahagia-bahagia aja sama Mas Vano, tapi sebenarnya nggak juga, Ma. Berat hidup sama orang yang nggak aku cinta, Bun,”
“Astaghfirullah kamu sadar sama ucapan kamu sendiri? Bunda bisa liat lho gimana usahanya Vano untuk bikin kamu jatuh cinta, gimana baiknya dia, gimana menghargainya dia ke kamu dan keluarga kita, tapi kok kamu bisa-bisanya sih tega kayak gitu ke Vano? Jangan mentang-mentang dia cinta sama kamu, terus kamu jadi merasa bisa seenak hati nyakitin hati dia ya. Ingat, El, dia juga manusia. Ada rasa lelah, ada rasa bosan. Kalau dia udah lelah nggak dihargai sama kamu, usaha dia untuk dapat hati kamu diabaikan gitu aja, ya udah jangan salahin dia kalau dia milih untuk pergi cari kebahagiaannya sendiri. Kamu jangan nyesal!” Ucap Dini sambil menunjuk wajah anaknya terus dan itu membuat Elvina semakin takut. Bundanya benar-bsnar marah sekarang.
“Keterlaluan kamu ya! Bunda nggak suka cara kamu yang kayak gini. Halus semua foto-foto dia di handphone kamu, berhenti stalking akun sosmed dia, buang semua foto-foto masa kalian pacaran ini! Gimana mau lupa orang semuanya masih kamu simpan. Kamu nggak ada usaha untuk mau ngelupain dia!”
Dini sengaja mengambil album foto Elvina dan Rendra disaat Elvina sedang berada di kamar mandi tadi, dan Vano menemani Arman memancing.
Dini sudah berniat untuk bicara pada anaknya itu setelah Ia menyaksikan sendiri Vano melihat foto-foto Elvina dan Rendra. Ia benar-benar merasa tidak tega harus menyaksikan kesedihan dalam diri Vano.
Ia meminjam perasaan Vano ketika harus mengetahui kalau pasangan sendiri masih menyimpan kenangan-kenangannya bersama mantan kekasih. Pasti rasanya sesak sekali.
“Astaghfirullah, kamu udah pulang ternyata? Sejak kapan?”
“Barusan kok, Bun. Aku mau ngomong sama Bunda sebentar,”
Tidak sengaja Dini bertemu dengan menantunya ketika Dini akan turun ke lantai dasar. Dini mebgangguk ketika menantunya itu ingin bicara padanya.
“Bun, maaf sebelumnya jalau aku lancang ngomong ini ke Bunda. Aku minta sama Bunda, jangan khawatir soal pernikahan aku dan Elvina. Kami baik-baik aja kok, Bun. Aku tau Bunda sayangs ama aku makanya tadi ngomong kayak gitu ke Elvina, tapi Elvina sebenarnya nggak salah kok, Bun. Memang daria wal aku ‘kan udah tau kalau misalnya Elvina itu masih cinta sama mantan pacaranya. Disaat aku mutusin untuk nikah sama Elvina, itu artinya aku harus siap kenyataan kalau aku nikah sama perempuan yang belum lepas dari bayangan masa lalunya, dan aku udah janji sama diri aku sendiri untuk berusaha ambil hatinya Elvina. Aku yakin Elvina bakal cinta sama aku, dan lupain mantannya itu, Bun. tapi belum sekarang. Elvina masih perlu waktu, aku mohon Bunda sanar dulu ya,”
Dini berkaca mendengar perkataan Vano yang dengan lembut meminta pengertiannya supaya tidak meluap-luap lagi pada Elvina, lebih bersabar menghadapi kenyataan kalau Elvina memang belum bisa mencintai suaminya sendiri.
Menantunya sudah sebaik ini, tapi entah kenapa putri tunggalnya itu malah menyia-nyiakan Vano.
“Vano, Bunda minta maaf untuk semua ini. Maafin Elvina ya belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu. Bunda udah bicara sama El semoga aja dia terbuka hati dan pikirannya. Bunda cuma pengen pernikahan kalian baik-baik aja, damai, nggak ada masalah apapun, dan kalian sama-sama bahagia. Udah, cuma itu harapan Bunda,”
“Iya, pernikahan kami akan seperti yang Bunda harapkan. Doain aja ya, Bun,”
Dini menepuk singkat bahu menantu satu-satunya itu. “Bunda mohon sama kamu, lebih sabar lagi ya untuk hadapin El, maaf kalau kesannya Bunda egois, tapi Bunda harap kalian bisa sama-sama terus dan saling kasih kebahagiaan. Tapi kalau memang seandainya kamu merasa lelah sama Elvina, kamu bisa bicarakan itu sama Ayah Bunda, jangan sakiti El ya, Nak, walaupun dia pernah nyakitin kamu. Bisa kamu kembalikan El pada kami kalau memang kamu nyerah,”
“Bunda, jangan ngomong begitu. Ini baru awal. Pernikahan aku sama El masih beberapa bulan aja, mana mungkin aku nyerah. Aku nggak akan nyerah, Bun. Jadi Bunda tenang aja,”
“Bunda pesimis El bisa balas perasaan kamu dan lupain mantannya itu. Karena otak sama hatinya kayak udah dikunci mati. Bunda juga nggak habis pikir kenapa dia bisa secinta itu sama laki-laki yang bahkan udah selingkuh dari dia, bikin dia kacau. Dan sekarang ini udah kamu yang bisa jadi obatnya, tapi dia malah milih untuk abai,”
__ADS_1
“Belum waktunya aja, Bun,”
“Ya semoga aja kamu bisa bahagia ya sama El, karena yang Bunda liat, kamu udah berusaha untuk kasih kebahagiaan untuk El. Sekali lagi Bunda minta maaf karena anak bunda udah bilin kamu kecewa, udah bikin kamu terluka terus,”
“Nggak kok, Bun. Jangan ngomong kayak gitu. Bunda ataupun El nggak ada yang salah. Sekarang aku tenangin El dulu y, Bun. Aku yakin El masih kaget banget setelah tadi ditegur sama Bunda, atau mungkin sekarang dia lagi nangis,”
“Ya biarin aja lah biar El mikir kesalahan dia apa dan dia bisa berubah,”
Setelah berkata seperti itu Dini pergi dan Vano bergegas ke kamar. Ia lihat istrinya sedang mengamati foto-fotonya bersama Rendra. Dan entah apa yang ada di pikiran perempuan itu sekarang.
“El,“
Vano menghampiri istrinya itu dengan langkah pelan supaya tidak mengejutkan Elvina yang langsung mengangkat kepalanya menatap Vano yang baru saja masuk kamar.
“El, kamu—“
“Mas ‘kan yang udah kaporan sama Bunda kalau aku masih nyimpan foto aku sama Rendra?!” Tanya Elvina dnegan suara penuh penekanan dan tatapan marah Ia layangkan untuk Vano.
“Apa? Saya yang laporan? Kamu nuduh saya, El?”
“Halah Mas nggak usah bohong deh!”
Tiba-tiba Elvina berdiri dan melempar album foto itu ke atas tempat tidur. Sekarang Ia menunjuk Vano dengan ekspresi marah yang belum hilang juga.
“Kamu ‘kan yang udah laporan sama Bunda kalau aku masih simpan foto aku dan Rendra? Iya ‘kan?!”
Vano menurunkan telunjuk Elvina sambil tersenyum. Ia tidak mau menghadapi Elvina dengan emosi juga karena kalau sama-same emosi malah berujung merugikan.
“Bukan saya yang laporan ke Bunda. Sumpah saya nggak tau apa-apa, El,”
“Jangan bohong, Mas! Bunda baru aja marahin aku. Harusnya Bunda nggak tau kalau aku masih simpan kenangan aku sama Rendra karena Bunda nggak pernah pegang-pegang lemari buku aku,”
“Ya mungkin Bunda—“
“Mas jangan bohong! Mas yang laporan. Ngaku aja kamu, Mas,”
Elvina berseru marah sambil mendorong dada Vano yang benar-benar sedang berusaha untuk menahan emosinya. Ia tidak salah tapi disalahkan. Sebagai manusia biasa tentulah Ia tidak terima. Tapi yang dihadapinya saat ini adalah perempuan yang Ia cintai, perempuan yang sudah Ia pinang dengan cara baik-baik, jadi harus Ia pelrukan juga dengan cara yang baik.
“Terserah ya kamu mau percaya atau nggak. Yang jelas, Saya nggak pernah ngomong apalun ke orangtua kita ataupun orangtua kamu. Saya nggak pernah cerita soal pernikahan kita ke mereka karena menurut saya, mereka nggak perlu tau hal-hal nggak enak yang ada dalam pernikahan kita, kecuali kalau hal yang membahagiakan kita wajib berbagi sama mereka,”
“Ya terus kenapa Bunda tau aku masih simpan foto itu, Mas?!“
“Saya nggak tau, Elvina. Coba kamu tanya langsung sama Bunda,”
“Mana mungkin bunda ngomong. Bunda pasti ngelindungin kamu, Mas!”
“Astaga, harus berapa kali saya bilang, saya nggak pernah laporan soal foto itu ke Bunda,”
“Tapi Bunda nggak mungkin tiba-tiba tau aku masih simpan foto aku sama Rendra. Pasti kamu yang udah ngasih tau ke Bunda dan kamu minta Bunda untuk marahin aku. Iya ‘kan?!”
__ADS_1
“Cukup ya kamu nuduh saya!” Kali ini Vano bersuara tegas. Ia harus membantah dengan tegas bahwa Ia tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh Elvina.