
“Habis darimana sih? Udah mau maghrib gini baru sampai dumah, beneran ada urusan tugasa kuliah atau ngurusin yang lain kamu, El?”
Begitu sampai kediaman orangtuanya, Elvina langsung disambut oleh sang bunda yang bertanya dengan nada menyindir.
Elvina tiba di rumah hampir adzan maghrib. Padahal tadi berangkat hari masih sangat terang.
“Terus suami kamu mana? Kok belum keliatan?” Tanya Dini pada anaknya yang langsung bingung. Ia tidak tahu menahu soal suaminya. Entah kenapa Bunda malah bertanya kepadanya.
“Iya suami kamu mana, El?”
“Aku nggak tau, Yah, Bun. Aku ‘kan nggak pergi sama Mas Vano. Emang Maa Vano pergi juga ya? Perasaan tadi pas aku mau berangkat, dia ada di rumah deh,”
“Ya kalau Vano ada di rumah, Bunda atau ayah nggak bakal nanyain,” ujar Dini yang masih kesal saja bawannya kepada Elvina karena Elvina sudah mempermainkan pernikahan, mengotori perniakahannya juga.
“Telepon coba,”
Elvina terlalu gengsi untuk menghubungi suaminya itu. Tapi kalau Ia memikirkan gengsi maka akan habis Ia dinasehati oleh kedua orangtuanya.
Akhirnya terpaksa Elvina mengambil ponsel di dalam tas yang sejak tadi Ia bawa sekama Ia menjelajah mall.
“Kamu habis belanja ya kayaknya? Itu bawa apaan tuh?”
“Iya aku emang belanja juga tadi, Bun,”
“Oh ya udah buruan temsppn suami kamu itu, kenapa dia belum sampai di rumah. Padahal Bunda pikir dia nyusul kamu,”
“Mana mungkin Mas Vano nyusul aku orang dia aja nggak tau aku kemana, aku ‘kan nggak pamit sama dia,”
“Apa?! Jadi kamu nggak pamit sama Vano? Lah kata kamu tadi kamu udah pamit sama dia? Dan dia juga udah bilang iya waktu Bunda tanya benar atau nggak kamu udah pamit sama dia,”
Elvina mengutuk dirinya sendiri yang telah kelepasan menjelaskan pada Bunda dan ayahnya bahwa sebenarnya Ia pergi tanpa pamit pada Vano. Tapi barusan Dini bilang Vano mengiyakan ketika Dini ingin memastikan Elvina benar pamit atau tidak.
Elvina langsung memikirkan maksud suaminya menutupi kenyataan yang sebenarnya. Apa mungkin untuk membelanya? Elvina langsung menunduk, kalau memang begitu tujuan Vano, Elvina benar-bsnar heran kena0/ suaminya masih mau membela dirinya sementara tadi Ia sudah kasar pada Vano.
“Tuh ‘kan, tanpa ada yang ngasih tau, kamu ngaku kalau kamu itu bohong! Sebenarnya kamu nggak pamit tapi Vano bilang kamu pamit. Artinya apa? Dia nutupin kelakukan kamu yang nggak baik itu. Bisa-bisanya pergi nggak panit padahal tadi ada suami kamu. Benar-bsnar nggak ada sikap menghargai banget kamu, El. Kenapa begitu sih? Hmm? Memang Ayah Bunda ngajarin kamu ya untuk nggak menghargai suami?”
Elvina menghembuskan malas kasar dan akan naik ke lantai atas namun duara tegas mamanya membuat Ia mau tidak mau tidak jadi ke kamar.
“Jangan pergi dulu! Telepon itu suami kamu,”
“Udah tadi, Bun tapi nggak diangkat,” ujar Elvina yang baru sekali menghubungi suaminya. Tak ada jawaban sampai panggilan berakhir dengan sendirinya.
“Ya terus hubungin lah, jangan cuma satu kali aja,”
“Ya udah aku hubungin di kamar aja—“
“Nggak! Di sini aja,”
“Ayah bingung ya, El. Masalah kamu sama Vano apa sebenarnya? Kok jadi kayak gini? Kamu nggak pamit, terus kamu bohong lagi,”
“Aku lagi kesal sama Mas Vano, Yah,” aku Elvina pada ayahnya, yang nampak belum tau apa-apa soal kenangan masa lalu yang masih Ia simpan dengan baik.
“Kesal kenapa, El? Tolong kamu jelasin sama Ayah apa kesalahan yang usah Vano perbuat sampai kamu kesal sama dia?”
“Ayah, Elvina itu masih simpan foto-foto dia sama mantannya. Mama marahi dia. Tapi kayaknya nggak terima terus suaminya deh yang disalahin,”
Padahal Dini hanya menebak tapi berhasil benar. Sini semakin yakin tebakannya itu benar karena melihat ekspresi kaget Elvina. Sepertinya Elvina tidak menyangka kalau Bundanya tahu dan entah tahu darimana.
“Benar ya kamu malah nyalahin Vano setelah Bunda marahin tadi? Bunda lagi nebak aja ini, tapi kayaknya bener deh soalnya Bunda tau gimana gerak gerik kamu kalau lagi bohong atau sebaliknya walaupun tanpa ngomong ke Bunda,” ujar Dini seraya menatap lekat mata anaknya yang buru-buru mengalihkan. Karena Bundanya itu pintar sekali membaca makna dari tatapannya.
__ADS_1
“Kamu nyalahin dia karena kamu ngira dia yang udah ngadu ke Bunda soal foto-foto itu ya?“
Dini terkekeh sambil menggelengkan kepalanya tidak menyangka kalau anaknya diam dan itu tandanya apa yang Ia katakan benar seratus persen.
“Kamu salah besar,” ujar Dini dengan lugas pada anaknya supaya tidak ada kesalahpahaman lagi di antara Elvina dan Vano. Dini tidak mau anaknya menyalahkan Vano atas hal yang tidak Vano lakukan.
“Begini ya, Bunda nggak sengaja liat di Vano lagi merhatiin koleksi buku-buku kamu. Bunda perhatiin Vano dari belakang dan Vano nggak sadar kalau Bunda lagi merhatiin apa yang dia lakuin. Sampai akhirnya dia nggak sengaja liat foto-foto kamu sama Rendra. Bunda bisa tau gimana perasaan dia, El. Bunda bayangin kalau Bunda ada di posisi Vano, pasti sakit banget setelah tau kalau pasangan sendiri masih simpan foto sama masa lalunya dari situ Bunda udah punya niat untuk ambil album foto itu supaya kamu nggak bisa ngelak nantinya. Setelah kalian nggak ada di kamar barulah Bunda ambil album foto itu dan Bunda simpan. Supaya bisa jadi bukti, kamu nggak akan ngeyel kalau udah Bunda kasih buktinya. Jadi bukan Vano yang laporan sama Bunda. Kamu salah kalau nuduh dia, El!”
“Bunda bohong ‘kan? Bunda cuma mau lindungin Mas Vano aja? Aku yakin Mas Vano yang ngadu ke Bunda kalau aku masih simpan foto-foto aku sama Rendra, dan Mas Vano juga yang pasti minta Bunda supaya marahin aku, iya ‘kan?”
Dini menggelengkan ksoalanya tidak habis pikir. Bisa-bisanya Elvina masih menuduh Vano padahal Ia sudah bercerita jujur tentang asal muasal Ia tahu Elvina masih menyimpan foto bersama mantan kekasihnya.
“Kamu nggak boleh ya nuduh Vano sembarangan kayak begitu, Elvina!”
Arman langsung menegur anaknya dengan suara yang lantang. “Udah Bunda jelasin tadi, dan kamu nggak percaya?”
“Nggak, Yah,” jawab Elvina dengan berani.
“Kamu itu salah! Harusnya kamu nggak menyalahkan orang lain untuk nutupin kesalahan kamu sendiri. Nggak ada rasa sesal sedikitpun dalam diri kamu? Sadar nggak sih kamu udah mempermainkan pernikahan kamu sendiri? Hmm? Kamu harusnya akui kesalahan kamu, tenungi apa yang udah kamu perbuat itu dan janji sama diri kamu sendiri untuk nggak pernah ngulangin kesalahan yang sama, bukan malah nyalahin suami kamu begitu dong,”
“Kamu harusnya malu, El. Vano udah sebaik itu sama kamu, tapi kamu malah nyia-nyiain dia. Udah dikasih kesempatan, dikasih ruang untuk move on tapi nggak mau berusaha! Kalau kamu ada usaha untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu kamu itu, nggak akan ada yang namanya kamu masih simpan foto dia, masih suka merhatiin dia di sosmednya, itu bukan usaha untuk move on, tapi usaha untuk menyalahi takdir tau nggak?! Takdir kamu ya udah nikah sama Vano, kenapa malah jadi mikirin mantan terus? Udah berapa kali sih Bunda bilang, dia itu udah nyakitin kamu, udah bikin kamu kacau. Dia nggak berhak dapat perasaan apapun dari kamu, El,” ujar Dini berapi-api. Dini tidak bisa menahan rasa kesalnya, ditambah lagi suasana ya telat sekali.
“Pokoknya nanti kamu harus minta amaf sama Vano, nggak boleh bantah ayah!”
“Iya, Yah,”
“Udah dibuang itu semua kenangan kamu sama Rendra?”
“Bunda, aku nggak bisa, itu aja udah aku sortir banget. Aku nggak mau kehilangan—“
“Kamu masih nggak mau kehilangan kenangan kamu sama Rendra?”
Dini dan Arman marah sekali mendnegar jawaban tegas Elvina. Entah apa isi kepala dan hati Elvina itu. Setelah menikah, bukannya fokus dengan pernikahannya malah masih saja memikirkan kenangan masa lalu.
“Kenangan busuk kamu itu jangan diingat-ingat lagi, kenapa? Karena yang namanya udah busuk, itu cocoknya berakhir di tempat sampah, paham nggak?”
Ujar Dini dengan mata yang menatap tajam ke arah Elvina, wajahnya datar, dengan rahang yang mengetat.
“Assalamualaikum,”
Vano datang dan berhasil membuat suasana yang semula tegang menjadi perlahan mencair. Tiga orang yang barusan terlibat pembicaraan langsung kompak menjawab salam Vano.
“Waalaikumsalam,”
“Maaf aku baru pulang, Yah, Bun,”
“Darimana, Van?”
“Dari—aku abis menjalankan kewajiban,”
“Oh ngajar? Kamu ada jadwal ngajar ya tadi?” Tanya Arman pada menantunya. Mendengar kata kewajiban, pikiran Arman langsung tertuju pada profesi menantunya yang merupakan seorang dosen.
“Bukan, Yah,”
“Terus kewajiban apa, Nak?” Tanya Arman lagi.
“Kewajiban sebagai suami, Yah,” jawab Vano sambil menatap ke arah Elvina yang keningnya mengernyit bingung.
“Gimana maksudnya? Elvina baru pulang nih, kami pikir kamu—“
__ADS_1
“Maaf, aku ngikuti Elvina dari tadi. Aku terpaksa ngelakuin itu karena kalau aku samperin, aku takut dia marah dan dia ngusir aku. Tapi aku harus mastiin dia baik-baik aja disaat dia lagi kesal sama aku, aku takut dia ngelakuin hal yang nggak-nggak makanya aku ngikutin Elvina di mall tadi dari mulai Elvina keluar dari toko make up sampai pulang,”
Elvina kelihatan terkejut sekali mendengar penjelasan suaminya yang ternyata menjadi penguntitnya sejak Ia di mall.
“Kamu ngapain sih jadi penguntit aku?”
“Cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Walaupun kamu kesal sama saya, tetap aja kamu itu tanggung jawab saya,”
“Ya emang kamu pikir aku bakal nyelakain diri aku sendiri gitu kalau aku kesal sama kamu, Mas?”
“Ya bisa aja, namanya juga masih muda, masih labil, pikiran lagi nggak nentu. Jadi saya mau mastiin kamu baik-baik aja makanya saya ngikutin kamu,”
“Terus kamu tau darimana kalau aku di mall itu?”
“Sepupu saya nggak sengaja luat kamu, dan dia cerita ke Davina, terus Davina infoin ke saya tadi. Pas dengar info dari Davina, saya merasa senang banget. Akhirnya saya bis anyusulin kamu. Karena jujur setslah kamu nutusin buat pergi, saya mau nyusulin kamu tapis aya nggak tau harus kemana.”
“Liat ‘kan segimana pedulinya dia ke kamu? Disaat kamu lagi benci sama dia seklaipun, dia tetap mau jagain kamu, mastiin kamu baik-baik aja. Sekarang terserah sama kamu ya!” Desis Dini pada anaknya setelah itu berlalu meninggalkan Elvina yang langsung menunduk.
“Lanjutin aja kesalahan kamu itu, El, sampai kamu puas, dan kamu nyesal,”
Arman juga pergi setelah meninggalkan pesan yang tajam menusuk untuk anak satu-satunya itu.
Setelah kedua orangtuanya pergi, Elvina menatap Vano sebentar sebelum akhirnya Elvina bergegas ke kamar dnegan hati yang sesak.
“Aku juga mau lupain semuanya, tapi nggak bisa! Nggak segampang itu untuk hapus kenangan aku sama Rendra!” Batin Elvina smabil menaiki anak tangga dengan emosi di dadanya.
“Elvina,”
Vano menyusul istrinya yang cepat sekali menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar juga kasar.
“Kamu kenapa sih?”
Di tengah-tengah kamarnya Elvina menangis dan itu membuat Vano terkejut luar biasa. Dnegan cepat Vano merengkuh istrinya itu memberikannya ketenangan dengan usapan lembut di punggungnya.
“Kamu kenapa?”
“Aku minta maaf,”
“Untuk apa? kamu nggak salah kok,”
Elvina langsung melepaskan pelukan mereka dan menatap Vano dengan berlinang air mata. “Kamu masih bilang aku nggak salah, Mas? Aku sadar diri kalau aku salah udah marah-marah ke kamu tadi, dan orangtua aku juga tau kalau aku salah. Mereka suruh aku untuk minta maaf. Tapi permintaan maaf aku ini tulus dari hati aku,”
“Tapi disuruh dulu sama Ayah bunda itu beneran tulus nggak?” Tanya Vano sambil tersenyum dan menghapus jejak air mata istrinya.
“Aku tulus, Mas. Aku minta maaf sama kamu,”
“Iya, saya maafin,”
“Tapi aku nggak bisa nurutin apa kata ayah bunda soal aku yang harus lupain Rendra dan buang semua kenangan aku sama dia. Nggak gampang, Mas. Aku nggak bisa,”
Vamo menghembuskan napasnya dengan kasar, setelah itu tersenyum menatap istrinya. Ia mengangguk sebelum menjawab “Iya nggak apa-apa itu ‘kan urusan hati kamu, saya nggak bisa paksa,”
“Aku minta maaf belum bisa cinta sama kamu, Mas, aku juga belum bisa jadi istri yang baik,”
“Kamu nggak usah ngomong begitu. Kamu nggak salah kok. Udah ya, jangan dibahas lagi. Sekarang kita baik-baik aja. Dan tolong halus air mata kamu ini karena saya paling nggak bisa liat perempuan nangis,” ujar Vano seraya membersihkan jejak air mata istrinya sampai benar-benar tak ada sisa sedikitpun.
“Kamu nggak boleh nangis, El, apalagi nangsi di depan saya,” pesan Vano seraya merengkuh istrinya dnegan erat lagi. Ia mencium puncak keoala perempuan yang Ia ikuti sejka tadi di mall hanya untuk memastikannya baik-baik saja.
Ia begitu mencintai dan menyayangi perempuan dalam rengkuhannya ini, tidak peduli dihargai atau tidak perasaannya. Tapi memang beginilah dirinya kalau sudah jatuh cinta sedalam-dalamya. Tidak ada yang bisa menghentikannya, selain rasa lelahnya sendiri. Tapi Vano berharap Ia tidak akan pernah lelah untuk mencintai Elvina sekalipun tanpa balasan.
__ADS_1