Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 133


__ADS_3

"Kamu ngadu apa sama Bunda? Hah? Kamu benar-benar deh, El. Kenapa sih bikin aku salah terus di mata ayah bunda kamu?"


Vano melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan kasar dan Ia menatap Elvina yang duduk di tepi ranjang menatapnya dengan datar, benar-benar tidak terlihat rasa bersalah dalam diri Elvina sudah membuat nama baik suaminya buruk lagi di depan orangtuanya.


"Kamu ngomong apa sama ayah bunda kamu? Jawab, Elvina!"


"Aku ngomong kalau kamu selingkuh, benar-benar selingkuh, bukan cuma kecurigaan aku aja, Mas,"


Vano mengusap wajahnya dengan kasar kemudian Ia bertolak pinggang dan mendekat pada istrinya itu sehingga posisinya sekarang adalah berdiri berhadapan dengan Elvina.


"Kamu ngadu kayak gitu ke ayah bunda? Kok kamu jahat banget sih?"


"Karena aku udah nggak tahan lagi sama kebohongan kamu, Mas! Tadi jelas-jelas dia kirim kamu chat dan ngajakin ketemuan.


"Itu sebabnya kamu nangis ya? Kamu sandiwara di depan ayah bunda supaya mereka percaya sama kamu dan nyalahin aku,"


Plak


Elvina mendaratkan tangannya dengan mulus di atas pipi sang suami yang telah menganggap bahwa Ia sudah memainkan sebuah persandiwaraan demi menarik perhatian kedua orangtuanya dan nama Vano yang buruk di mata mereka.


"Ah kamu curang mainnya tamparan. Aku 'kan jadi susah balas," geram Vano dengan kedua tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya.


"Kamu memang pantas dinilai buruk. Karena memang kamu nggak sebaik itu, Mas. Kamu itu aslinya busuk. Biar siapapun tau kalau kamu bukan laki-laki baik yang seperti mereka pikirkan selama ini,"


"Kamu jahat banget, Elvina. Kamu selalu aja pengen keliatan baik di mata orang, giliran aku kamu buat sebaliknya. Apa dasarnya kamu nuduh aku selingkuh?! Hah? Karena aku ketemuan sama perempuan lain? Memang itu bisa disimpulkan kalau aku benar-benar selingkuh? Kamu aja ketemuam sama Jona bebas kok, aku tuduh kamu selingkuh nggak?" Tanya Vano seraya bersedekap dada menantang Elvina untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


Ia tidak suka Elvina yang apa-apa melapor pada kedua orangtuanya seolah Ia adalah suami paling buruk sedunia, sementara Elvina sendiri tidak pernah bercermin.


"Aku sama Jona itu beda! Kami memang benar-benar murni berteman. Dia nggak sering ngajakin aku ketemuan, telepon aku, atau chat aku. Tapi kalau dia ke kamu apa? Selalu aja tiap hari aku liat nama dia di layar handphone kamu. Masih mau bilang nggak selingkuh? Kalau gitu namanya apa dong? Berteman? Mana ada berteman sampai tiap hari saling berkabar. Terus chat dia selalu kamu hapus padahal aku yakin kalau nggak dihapus udah banyak banget bukti kalau kamu selingkuh. Kalau memang kalian nggak ada apa-apa kenapa chat dia yang sebelumnya selalu dihapus?"


"Ya untuk apa juga aku simpan?"


"Lho, harusnya disimpan aja dong. Jadi aku nggak mikir negatif, kalau memang kamu benar nggak selingkuh. Tapi kalau kamu nyatanya selingkuh ya wajar sih kalau dihapus-hapus gitu, tandanya memang ada yang disembunyikan dari aku. Aduh Mas...Mas... aku ini nggak bisa dibohongi,"


"Ya emang siapa yang bohongin kamu coba? Udah deh nggak usah bolak balik omongan aku. Intinya melawan lagi dan bikin aku salah terus,"


"Heh aku udah lama ya nahan-nahan supaya nggak cerita sama orangtua aku, tapi lama kelamaan aku nggak tahan karena kamu bohong terus. Kamu jadiin aku orang yang bodoh, Mas. Kamu yang kahat sebenarnya di sini, bukan aku! Kamu dan Delila lebih telatnya, kalian itu sama-sama penjahat!"


"Terus aja ngomong sembarangan sesuka hati kamu,"


Elvina menoleh ketika ponselnya bergetar. Tanpa basa-basi Ia menjawab panggilan yang masuk dari papanya.


"Halo, Yah,"


"Akhirnya gimana? Vano benar ketemuan sama selingkuhan yang dimaksud itu?"


"Nggak, aku liatnya dia emang beli makan, dia juga bilang begitu tadi, nggak bakalan mau ngaku lah kalaupun benar ketemuan, Yah. Entah ya kalau sebelum aku datang, mereka udah ketemuan,"ujar Elvina pada ayahnya di seberang sana seraya melirik Vani yang menatap penasaran ke arahnya yang tengah bicara dengan Arman, ayahnya. Vano tahu Elvina sedang membicarakan dirinya.


"Oh jadi tadi dia ngikutin gue," batin Vano. Rupanya Elvina berbohong. Perempuan itu bukan ke minimarket karena mencari sesuatu yang ingin dibeli, melainkan memata-matai dirinya yang pergi tadi dengan tujuan beli makanan. Memang benar beli makan, tapi malah tidak jadi makan karena sudah ada masalah ini. Menurut Vano lebih penting membahas ini ketimbang mengisi perutnya.


"Kamu jangan langsung menyimpulkan. Barangkali itu hanya temannya Vano. Bukan maksud ayah nggak percaya sama kamu dan malah bela Vano ya, El. Cuma 'kan apa-apa itu harus benar-benar dibicarakan. Nah kalau Vano udah bilang nggak, berarti memang dia nggak selingkuh. Kalau dia selingkuh dan dia tau kalau kamu udah tau soal perselingkuhan dia, harusnya dia takut dan mundur. Ini 'kan nggak, tetap aja ada di samping kamu,"


"Itu mungkin karena pacarnya nggak mau diajakin nikah kali, Yah. Makanya dia tetap sama aku, kalau pacarnya udah siap nikah, aku nya yang ditinggalin,"


Alis Vano langsung naik menukik tajam begitu mendengar ucapan istrinya itu. Kenapa malah makin kemana-mana bicaranya, sampai Vano pusing sendiri dengan segala pikiran yang ada di kepala istrinya. Bisa-bisanya Elvina berpikir bahwa Ia akan meninggalkan Elvina.


"Kalau aku mau ninggalin kamu, aku udah lakuin itu dari dulu aja, kalau aku mau selingkuh, udah aku lakuin dari dulu,"


"Diam kamu! Aku nggak minta kamu ngomong ya!"


"Lah yang kamu omongin sekarang ini 'kan aku, otomatis aku berhak ngomong lah, Sayang,"


"Nggak! Kamu nggak berhak ngomong lagi karena yang keluar dari mulut kamu itu cuma kebohongan aja. Aku nggak percaya lagi sama kamu, tau nggak!"


"Ya udah kalau nggak percaya, terserah,"


Arman yang mendengar perdebatan mereka akhirnya menggelengkan kepalanya pelan. Entah kapan mereka berdua itu bisa akur. Apa tidak pusing bertengkar terus ya? Ia yang pusing jadinya.


Vano merebut ponsel Elvina, Ia akan mengambil alih pembicaraan. Biar Ia yang bicara pada ayah mertuanya itu. Ia akan memberi penjelasan sekaligus membela diri.


"Yah, aku nggak seperti yang dituduhkan Elvina. Kalau aku mau macam-macam, aku keluar aja dari rumah, Yah. Nyatanya aku tetap di sini sama Elvina. Ayah percaya sama aku 'kan, Yah?"


"Tadi kamu ketemu sama siapa, Van?"


"Nggak ketemu sama siapa-siapa, Yah. Aku cuma beli makanan aja tadi. Aku nggak selingkuh. Elvina ini emang berulang kali nuduh aku, Yah,"


"Allah tau meskipun manusia nggak tau, Van. Kamu harus hati-hati dengan ucapan kamu ya,"


"Yah, Demi Allah aku nggak pernah selingkuh. Ayah tau 'kan gimana perasaan aku ke Elvina? Aku nggak akan macam-macam, Yah,"


Elvina kembali merebut ponselnya dari tangan Vano. Tapi suaminya itu melotot tidak mengizinkan.


"Apaan sih! Sebentar dulu, aku lagi ngomong sama ayah," ujar Vano pada istrinya itu.


"Nggak ada yang perlu diomongin lagi, Mas! Kamu jangan nyebelin deh! Ayah nggak akan percaya sama kamu!"sentak Elvina dengan ketus setelah itu Ia merampas paksa ponselnya dari tangan Vano dan itu berhasil. Kini ponsel kembali ke tangannya.


"El, jujur ayah nggak yakin lho sama apa yang kamu omongon itu. Karena ayah tau gimana Vano ke kamu. Rasanya nggak mungkin dia mau macam-macam di belakang kamu, El,"


"Aduh, Yah. Kenapa sih jadi nggak percaya anak sendiri? Yang anak aku itu siapa sebenarnya?"


"Dua-duanya anak ayah. Dan ayah bakal ngomong apa kata hati ayah. Vano nggak selingkuh, seperti apa yang dia bilang, kalau mau selingkuh udah dari kapan tau dia ngelakuin itu, El. Kamu dari dulu 'kan bukan main sama dia, sekarang aja udah agak mendingan 'kan? Tapi apa? Dia tetap sabar ngadepin kamu. Itu patut dihargai lho. Laki-laki yang lain aja belum tentu bisa kayak Vano,"


"Aku juga patut dihargai, Yah. Belum tentu ada perempuan kayak aku yang mau sama dia,"


"Lah ngomongnya makin ngelantur," ujar Vano yang mengundang pelototan sinis dari Elvina.


"Iya memang dia udah hargai kamu banget 'kan? Dari dulu sampai sekarang nggak berubah tuh,"


"Ya udah deh kalau ayah nggak percaya. Aku mending cerita sama bunda aja,"


"Bukan ayah nggak percaya. Dan kamu jangan bandingkan mama sama ayah. Kita berdua sama aja. Kalau yang ayah liat kayak gitu, ayah nggak yakin kalau Vano selingkuh, hati ayah nggak yakin, El," ujar Sakti dengan cara bicara yang tenang.


"Ya udahlah, Yah. Aku tutup teleponnya, percuma juga ngomong sama Ayah, karena ayah nggak percaya sama aku,"


Elvina mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang ayah setelah itu Ia menatap suaminya yang sepertinya masih mau memperpanjang masalah.


"Kenapa kamu matiin? Apa kata ayah? Ayah percaya sama aku 'kan?"


"Nggak tuh, jangan kepedean,"


Kenyataannya memang Arman lebih percaya Vano daripada Elvina. Dan Elvina sebagai putri Arman kesal bukan main. Hanya saja Ia tidak bisa protes. Ayahny punya pendapat sendiri. Entah kenapa Arman malah tidak percaya dengannya padahal Ia sudah memberikan bukti.


"Ayah pasti lebih percaya sama aku 'kan? Iyalah, orang aku benar-benar jujur kok. Ayah tau aku orangnya gimana,"


Vano mengerlingkan matanya. Elvina yang melihat itu langsung mengepalkan kedua tangannya.


Entah kenapa Vano malah kelihatan santai sekali. Dia seolah tidak terpengaruh dengan pengaduan Elvina terhadap orangtuanya.


*****


"Ayah, kenapa kayaknya yakin banget sih kalau Mas Vano itu nggak selingkuh,"


"Kata siapa Ayah yakin?"


"Ya keliatan dari sikap Ayah yang biasa aja padahal sekarang ini anak ayah lagi disakitin lho, kok santai aja? Harusnya langsung samperin Vano dan ngomong berdua sama dia,"


"Ayah tau gimana Vano. Kalau dia terbukti macam-macam, mama tenang aja, bakal ayah kasih pelajaran untuk dia,"


"Kurang bukti apalagi, Yah?"


"Iya, tapi ayah itu bisa liat kalau memang dia bohong. Ayah 'kan baru aja pergi sama dia jadi bisa liat gimana gerak-gerik dia. Kalau dia selingkuh, pasti ada yang beda dari dia ke Elvina. Sementara yang ayah liat nggak beda sama sekali,"


"Ya ayah 'kan nggak satu rumah sama dia! Jadi gimana mau tau dia berubah atau nggak? Gimana caranya papa tau dia nggak selingkuh?"


"Itu dugaan Ayah, Bun. Beda dugaan sama Elvina. Tanpa Bunda tau, ayah itu punya mata-mata lho, jadi bisa tau gimana keadaan anak-anak ayah," ujar Arman dengan datar yang membuat Dini penasaran.


Arman menutup pembicaraan mereka dengan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Dini yang langsung bertanya-tanya.


"Ayah udah cari tau? Kok bisa?"


Dini menyusul suaminya keluar dari kamar. Ia mencari-cari keberadaan Arman yang cepat sekali menghilangnya.


"Ayah, kemana sih?"


Dini mendatangi ruang keluarga, ruang tamu, dapur, tapi suaminya itu tidak ada. Ia coba ke taman rumah, ternyata di sanalah suaminya itu.


Ia akan menghampiri, namun Ia dengar Arman tengah bicara dengan seseorang di telepon, terpaksa Ia menghentikan langkahnya.


"Kamu serius 'kan dengan ucapan kamu waktu itu? Kamu nggak benar-benar selingkuh ya?"


Dini memicing dengan kening mengernyit mendengar ucapan suaminya.


"Ayah ngomong sama Vano ya?"


Dini mendekat supaya lebih jelas mendengar pembicaraan suaminya. Namun sayang begitu Ia mendekat, pembicaraan selesai. Ponselnya tidak lagi melekat di telinganya.


Arman beranjak dari kursi taman dan Ia tersentak kaget begitu melihat keberadaan sosok sang istri yang entah sejak kapan ada di sini.


"Ayah ngomong sama siapa? Vano ya?"


"Iya, Bun,"


"Ngomongin apa?"


Arman memastikan istrinya tidak mendengar pembicaraannya dengan Vano barusan.


"Ya soal tadi, apalagi? Ayah 'kan mau bertindak,"


"Terus apa kata dia?"


"Dia masih nggak mengakui kalau dia itu selingkuh, dan orang ayah emang liatnya mereka normal-normal aja,"


"Orang ayah siapa?"


Arman menggelengkan kepalanya. Intinya Ia menyuruh orang lain untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Vano itu benar.


"Temuin Vano, Yah. Ngomong sama dia,"


"Tadi ayah udah ngomong sama dia, Bun,"


"Kasihan Elvina itu, Pa. Meskipun dia belum tentu udah cinta sama Vano, tapi tetap aja pasti sakit hati begitu tau suaminya selingkuh,"


"Masalahnya Elvina ini gampang banget menyimpulkan dan dia nggak mikir apa akibatnya. Pasti berantem terus, Bun, karena Vano nggak merasa bersalah dan Elvina nggak selesai nuduh terus, wajar aja kalau berantem terus,"


******


"Aku jadi ya ke hotel untuk rapat nanti,"


Elvina menganggukkan kepalanya tanpa menyahuti Vano yang baru saja mengatakan soal rencananya hari ini.


"Hotel mana?"


"Lupa aku dimana, nanti aku bareng-bareng berangkatnya sama orang kantor,"


"Jauh banget rapat aja di hotel,"


"Lah ini bukan pertama kalinya, El. Cuma memang biasanya di Jakarta aja, jarang yang di luar kota, tapi kali ini 'kan termasuk dekat, cuma di puncak aja,"


Elvina melahap makanannya dengan malas-malasan karena jujur pagi ini selera makannya terganggu. Ia inginnya makan ayam pedas yang benar-benar pedas, tadinya mau pesan online tapi belum buka dan Vano juga melarang.


"Kamu mau sakit atau gimana sih? Pagi-pagi udah mau makan yang pedas, kayak nggak ada makanan lain aja. Nanti kalau sakit siapa yang repot?!"


Gantian Vano yang mengucapkan kata-kata itu. Biasanya Elvina. Alhasil Elvina tahu gimana tersinggungnya ketika Vano berkata seperti itu.


Keinginannya adalah makanan yang pedas tapi malah dilarang dan mendengar kata-kata tajam dari Vano.


"Makan yang benar dong, Elvina,"


"Ini udah benar, kurang benar apa lagi sih?"


"Kamu kayak nggak nafsu gitu makannya, makan yang nafsu dong, tandanya bersyukur, muka juga jangan ketekuk di depan makanan,"


"Siapa yang nekuk muka? Orang nggak kok,"


"Tapi tetap keliatan beda dari biasanya, keliatan kesal. Karena tadi aku larang beli makanan yang pedas? Hmm?"


"Iya udah tau begitu masih aja nanya,"


"Kenapa kesal? 'Kan itu untuk kesehatan kamu juga. Masa iya pagi-pagi sarapan mau langsung makan yang pedas, malah tadi bilangnya mau pedas banget, yang benar aja kamu nih, mau sakit ya?"


"Kalau aku sakit juga nggak usah kamu urus, ribet banget kamu ya,"


"Ya nggak mungkin dong aku nggak ngurusin kamu. Aku ini 'kan suami kamu,"


"Ya ngapain kalau repot?!"


"Emang ngerepotin, kamu aja kalau ngurus aku sakit suka bikin kamu repot 'kan? Kamu sering banget bilang begitu,"


"Oh jadi balas dendam, aku tersinggung lho,"


"Ya sama, padahal ngurusin pasangan sakit mah hal yang wajar dan itu kewajiban, nggak ada istilah ngerepotin, tapi kamu emang jahat banget mulutnya,"


Vano membasuh tangannya usai memberikan jatah perutnya pagi ini. Setelah itu Ia kembali ke meja makan mengambil air minum.


"Aku berangkat ya,"


Elvina menganggukkan kepalanya. Vano menengadahkan tangannya pada Elvina yang membuat perempuan itu bingung.


"Mau apa maksudnya?"


"Kamu nggak mau cium tangan?"


"Oh kirain kamu minta uang jajan,"


Elvina segera meraih tangan suaminya belum sempat mencium punggung tangan Vano, Vano lebih dulu mencium tangan sang istri kemudian barulah Ia mengarahkan tangannya ke bibir Elvina yang tengah terperangah dengan perlakuan aneh suaminya itu.


"Kenapa jadi cium tangan aku juga?"


"Ya nggak apa-apa, sebagai permintaan maaf karena tadi udah bikin aku kesal. Aku berangkat kerja, jangan kesal-kesal lagi ya,"


Vano mengacak lembut rambut sang istri. Setelah itu Ia juga mencium kening Elvina sebelum ia bergegas pergi.


"Kayaknya udah lama juga dia nggak cium kening gue, mungkin karena belakangan ini berantem terus kali ya," gumam Elvina di dalam hatinya.


Elvina mengekori suaminya yang berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir dengan gagah di garasi rumah.


"Eh ngikutin aku keluar? Emang makan kamu udah habis?"


"Belum, nanti aku lanjut lagi,"


"Harusnya nggak usah antar aku keluar, lanjut makan aja,"


"Ya nggak apa-apa,"


"Eh iya aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Na,"


Vano hampir saja lupa menyampaikan perihal rencananya nanti pada Elvina. Beruntungnya ingat untuk menyampaikan itu sebelum Ia berangkat.


"Nanti kamu ke hotel tempat aku rapat ya, kita staycation bentar besok atau lusa pulang,"


"Harus banget?"


"Iyalah, harus, aku udah niat banget ngajakin kamu, hitung-hitung kita liburan dadakan,"


"Terus nanti aku dimana selama kamu rapat?"


"Aku udah booking nanti kamu tinggal check in aja sementara aku masih rapat ya,"


"Oh ya udah kasih tau alamatnya,"


"Iya nanti aku kirim alamatnya, aku sendiri juga lupa nama hotelnya," ujar pria itu pada istrinya.


"Bisa-bisanya lupa tempat dimana rapat,"


"Ya 'kan aku nggak pergi sendiri, El, ada dari kantor juga,"


"Ya udah jangan lupa kasih tau aku alamatnya ya, nanti aku ke sana, sore ya?"


"Iya kalau bisa jangan terlalu sore,"


Elvina menganggukkan kepalanya seraya berusaha mengingat-ingat pesan dari suaminya itu agar Ia tidak lupa bersiap ke hotel dimana suaminya rapat karena mereka akan berlibur sebentar dan kata Vano juga jangan terlalu sore.


"Hati-hati ya perginya nanti, kalau udah jalan sebisa mungkin kabarin aku,"


"Okay, nanti aku bilang,"


"Diantar aja sama driver, kamu nggak usah bawa mobil karena nanti 'kan pulangnya bareng sama aku dan naik mobil aku," ujar Vano yang lagi-lagi diangguki patuh oleh Elvina.


Vano mengusap lembut pipi istrinya setelah itu Ia bergegas masuk ke dalam mobil.


"Mas, tapi kamu nggak ajak siapa-siapa 'kan?"


Vano akan menutup pintu, tapi karena mendengar ucapan istrinya itu, alhasil Ia tidak jadi melakukannya.


"Maksudnya gimana? Emang kamu ngiranya aku bakal ajak siapa?"


"Ya kali aja kamu ngajak Delila juga,"


Sontak saja ucapan Elvina mengundang tawa Vano yang lepas. Ia mengajak Elvina berlibur sebentar meskipun hanya ke hotel tetap saja punya tujuan. Ia ingin hubungannya dengan Elvina membaik. Elvina masih saja kelihatan kesal dengannya ditambah lagi Arman tidak ada di pihaknya yang merupakan anak kandung Arman.


Elvina sadar kalau papanya itu lebih percaya dengan Vano daripada dirinya yang jelas-jelas sudah memberikan semua bukti yang Ia punya demi meyakinkan bahwa apa yang Ia katakan tentang Vano itu adalah sebuah kebenaran, bukan hanya sekedar fitnah saja.


Elvina masuk ke dalam rumah dan melanjutkan sarapannya lagi. Dan kali ini keinginan untuk makan ayam yang super pedas hadir lagi. Tidak ada Vano jadi Ia merasa bisa memesan ayam pedas itu kalau memang tokonya sudah buka.


Tapi sayangnya begitu Elvina lihat lagi tokonya di aplikasi online, masih belum buka juga.


"Mih, makan sama aku yuk,"


"Saya mau minum teh dulu, Bu,”


"Iya boleh, di meja makan sini aja sama aku,"

__ADS_1


"Okay siap, Bu,"


Amih langsung membawa teh dan juga cake ke meja makan menemani Elvina yang masih belum habis juga sarapannya.


"Ibu kok nggak habis-habis sih makannya?"


"Nggak, masih agak kenyang sebenarnya, tadi pagi banget 'kan aku makan kue, dan sebenarnya sekarang ini aku pengen makan ayam pedas bukan soto,"


"Tapi Ibu yang mau soto 'kan,"


"Iya sih, cuma aku mau ayam pedas juga jadi digabung gitu lho, Mih. Sayangnya Vano nggak bolehin, katanya masih pagi nanti aku sakit perut,"


"Kalau mau nanti siang aja, Bu. Lagipula sotonya itu 'kan udah saya kasihin ayam,"


"Hmm tapi aku pengen yang pedas,"


"Ibu ngidam apa gimana?"


"Ya nggaklah, aku emang lagi mau makan pedas aja, dan makan sekarang kurang berselera bukan karena nggak enak tapi karena aku masih kenyang sebenarnya cuma,"


"Tapi Ibu tetap ya sarapan sama Pak Vano, mau temenin Pak Vano makan. Bagus banget begitu, Bu, jadi suaminya nggak makan sendirian, kadang 'kan di meja makan juga suka ada obrolan yang bikin hubungan jadi hangat,"


"Iya nggak tau kenapa tadi aku malah ikut Vano makan ya, harusnya jangan dulu,"


"Ya nggak apa-apa, Bu, sekalian temenin Pak Vano makan,"


"Tapi aku jadi makin kenyang,"


"Ya udah kalau nggak habis, jangan dipaksain, Bu, nanti kalau emang udah lapar tinggal makan lagi,"


"Tapi udah tinggal dikit lagi,"


"Ibu emang kalau makan selalu dikit sebenarnya,"


Elvina tidak sampai hati membuang makanan yang sudah Ia buat bersama Amih tadi pagi. Bukan kenyang yang jadi masalah utama tapi karena kurang berselera,"


"Eh iya, Mih, nanti sore aku mau pergi. Jadi Ken ngajakin aku staycation di hotel paling lama lusa udah pulang, aku disuruh datang nanti sore ke hotel tempat dia rapat hari ini, aku tinggal dulu bentar ya, Mih,"


"Oh iya siap, Bu. Saya bakal pastiin rumah dalam keadaan aman,"


"Iya makasih ya, Mih. Sebenarnya agak males juga liburan dadakan gitu biarpun cuma nginap aja di hotel dan cuma sehari atau dua hari,"


"Ya nggak apa-apa, Bu. Pak Vano mungkin butuh liburan supaya pikirannya tenang, dan Ibu juga begitu. Jadi bagus kalau diajakin liburan, Bu,"


"Tapi kenapa ya perasaan aku nggak enak,"


"Hah? Maksudnya gimana, Bu?"


"Ya nggak tau, aku ngerasa kayak bakal dapat hal buruk setelah dari sana,"


"Jangan ngomong begitu, Bu. Insya Allah Tuhan jaga Ibu dan Pak Vano dengan baik,"


*****


Menjelang siang Elvina bergegas menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke hotel. Tadi Vano tidak bawa baju apapun selain yang ada di badannya, artinya Ia juga harus membelikan baju untuk pria itu.


Hampir saja Ia lupa datang membawa baju. Vano sendiri mana ingat ke arah sana. Padahal itu penting sekali. Bagaimana ceritanya mereka menginap di hotel tidak membawa baju? Tidak ganti selama dua hari itu hal mustahil, kalau beli malah kerja dua kali dan keluar uang lagi. Elvina semakin pintar hitung-hitungan sekarang. Kalau liburan hanya sekedar staycation saja tidak perlulah beli baju segala, bawa saja yang ada di rumah.


Setelah menyiapkan bajunya dan sang suami dengan travel bag yang ukurannya tidak terlalu besar, Elvina menghentak badannya ke atas ranjang kemudian berguling-guling. Ia merasa pegal karena cukup lama juga berdiri memilih baju kemudian menatanya di dalam travel bag. Ken mana tahu urusan seperti itu. Vano terima jadi saja. Liburan dua hari saja sibuk, apalagi kalau lebih dari itu dan tempatnya juga jauh.


Elvina hampir saja tertidur karena terlena dengan rasa kantuknya, tapi tidak jadi tidur karena ada telepon masuk yang ternyata dari Vano.


“Hmm,” Elvina hanya bergumam saja menjawab Vano yang menyapa dengan hangat seperti biasanya.


“Halo, El, kamu lagi ngapain?”


“Mau tidur,”


“Aku lupa bilang ke kamu, jangan lupa bawa baju ya, kita ‘kan mau nginap di hotel,”


“Telat! Aku sudah ingat duluan dari tadi, kamu baru ngasih tau sekarang,”


Vano tertawa di seberang sana karena mendengar gerutuan istrinya itu. Ia memang baru ingat, jadi mau diapakan? Ia terlalu fokus pada liburannya bukan persiapannya.


“Jadi gimana? Udah kamu siapin?”


“Ya udahlah, barusan aja selesai,”


“Pilihan baju untuk aku bagus ‘kan, El? Style aku nanti kece ‘kan?”


“Nggak usah cerewet, aku sampai pegal milihnya, saking bingung mau bawa apa,”


“Jangan bawa baju koko, Sayang,”


“Siapa juga yang mau baju koko? Kamu pikir aku nggak tau fashion apa? Hah? Biasanya selama ini gimana? Aku pernah bikin kamu malu sama baju baju-baju kamu?”


“Ya nggak sih, pilihan kamu emang selalu tepat, aku bercanda aja tadi, jangan sewot dong, masa mau liburan sewot sih?”


“Udah ya ngobrolnya, aku mau tidur sebentar sebelum berangkat,”


“Okay, aku tunggu ya. Kamu langsung masuk kamar aja nomor kamar ‘kan udah aku kirimin tadi,”


“Iya okay, aku paham,”


Elvina dan Vano selesai bicara setelah itu Elvina kembali memejamkan matanya yang sempat terbuka lagi tadi karena menerima telepon dari suaminya yang mengingatkan Ia soal baju sebagai persiapan liburan mereka di hotel. Walaupun hanya di hotel, Elvina tentu tidak akan mengabaikan penampilan. Pakaiannya dan Vano tidak ada yang jelek, hanya tinggal memilih saja mana yang pantas dan tidak untuk dikenakan dalam setiap kondisi.


Dan nanti sepertinya Vano akan mengajaknya pergi juga. Tidak mungkin mereka hanya di hotel saja. Mereka sudah sering staycation dan pasti akan ada pergi sesekali dari hotel untuk melihat suasana di luarnya.


******


“Ayah, sekarang mama mau ke rumahnya Elvina. Semoga aja ketemu Vano,”


Arman menatap istrinya yang baru saja mengantarkan makanan ke kantornya dan punya rencana mengunjungi rumah putri sulungnya dengan tujuan menemui Vano.


“Memang mau ngapain sih? Udahlah jangan ganggu mereka, Bun, udah adem ayem begitu,”


Dini menggelengkan kepalanya. Sejak Elvina mengatakan bahwa Vano itu selingkuh, Dini ingin sekali bertemu dengan Vano secara langsung, Ia tidak puas kalau hanya bicara dengan Vano melalui sambungan telepon.


Ia ingin bicara langsung pada Vano dan menanyakan kebenaran soal ucapannya Elvina.


Kalau di telepon Vano tentu saja mengatakan tidak. Kalau bertemu langsung barangkali Ia bisa menilai sendiri Vano jujur atau tidak.


Kasihan anaknya kalau dipermainkan seperti itu. Nyatanya selingkuh tapi selalu mengelak, kalau begitu sama saja membodohi Elvina yang jelas-jelas sudah punya buktinya. Mana mungkin Elvina merekayasa bukti-bukti itu.


“Nggak bisa, El. Bunda mau coba bicara sama dia, Elvina itu kasian, dia kelihatannya udah mulai menerima Vano tapi malah diselingkuhi begitu,”


“Bunda nggak percaya sama ayah? Ayah lebih tau,”


“Kenapa sih ayah yakin banget kalau Vano memang nggak main-main?”


“Udah ayah bilang, ayah itu suruh orang supaya cari tau sendiri, dan ayah memang udah tau juga dari Vano,”


“Maksudnya apa? Bunda nggak ngerti,”


Arman menggelengkan kepalanya. Kemudian Ia tidak terpaku lagi dengan laptop. Kini Ia menatap istrinya dengan dalam.


“Intinya Vano dan Elvina itu tau gimana caranya menyelesaikan permasalahan mereka, kita nggak perlu—“


“Yah, tapi Elvina ‘kan udah cerita sama kita, otomatis dia minta bantuan kita, Yah. Mungkin dia mau kita ngomong sama Vano,”


“Iya tapi ‘kan udah ngomong juga berapa kali itu, Vano juga udah papa sidang sebenarnya. Udah, nggak perlu ikut campur lagi,”


“Jangan hanya disidang aja, kalau udah selingkuh mending pisah aja. Menurut bubda kesalahan yang paling susah dimaafin dalam rumah tangga itu ya selingkuh,”


“Lah orang anaknya aja nggak ngomongin itu lagi kok. Artinya Elvina memang nggak mau lagi pisah sama Vano. Dan bisa jadi karena dia sendiri nggak yakin Vano selingkuh, makanya dia nggak ngomongin soal perpisahan lagi. Elvina itu udah nggak bahas-bahas perceraian dia sama Vano lho, bunda sadar nggak? walaupun kata Elvina, selingkuh,”


“Elvina udah mulai cinta sama Vano ya, Yah?”


“Sepertinya iya,”


“Nah itu dia, kasian banget Elvina kalau dia udah cinta dan benar-benar mau mempertahankan rumah tangganya tapi Vano malah ngelakuin hal jahat itu di belakang dia,”


“Ya daripada kita yang mutusin, kita tunggu Elvina aja, dia maunya gimana. Kalau memang menurut dia, Vano benar-benar selingkuh dan dia nggak mau lagi sama Vano tinggal bilang aja sama Vano untuk pisah. Kenyataannya dia tetap sama Vano. Antara dia udah cinta sama Vano dan mau mempertahankan pernikahan, atau dia sendiri nggak yakin Vano selingkuh,”


“Bunda mau ke rumah dia pokoknya, bunda pamit dulu ya, Yah. Itu makanan jangan lupa dihabiskan,”


“Iya tenang aja, pasti habis dalam sekali suap,”


“Ya ampun lebay banget ayah nih,”


Arman tertawa dan Ia mengulurkan tangannya karena Dini ingin mencium tangannya sebelum pergi.


“Hati-hati ya, nggak usah terlalu ikut campur, mereka juga punya pilihan dan udah dewasa,”


“Iya, mana cuma mau ngobrol langsung aja sama Vano, barangkali Vano ada,”


“Kayaknya dia masih kerja,”


“Semoga aja udah pulang,”


“Bunda ingat ya, jangan terlalu nekan Vano, ataupun Elvina, kita memang orangtua tapi nggak boleh terlalu ikut campur. Jangan langsung menuduh Vano yang aneh-aneh dan akhirnya bikin hubungan Vano sama Elvina nanti makin nggak baik,”


“Ya udah, tapi ingat pesan ayah tadi ya,”


Dini menganggukkan kepalanya dengan perasaan sedikit kesal karena sang suami yang berpikir bahwa dia akan ikut campur terlalu jauh.


Begitu Dini keluar dari ruangannya, Arman menggelengkan kepalanya pelan. Dini tidak percaya dengan dirinya yang sudah yakin kalau Vano memang tidak mungkin macam-macam.


*****


“Sepi banget nggak ada Ibu ya, biasanya suka ngobrol bareng eh sekarang saya ditinggal,”


Amih bergumam seraya duduk di ruang tengah menonton televisi. Benar-benar tidak enak kalau rumah sepi. Sebenarnya hari-hari sebelumnya juga sepi tapi masih ada Elvina yang menjadi temannya di dalam rumah. Tapi kalau Elvina pergi seperti ini, Ia kehilangan sekali. Terasa sangat sepi. Padahal ketika melepas Elvina pergi ke hotel dengan tujuan berlibur dengan suaminya, Ia senang sekali. Giliran sudah ditinggal kebalikannya karena kesepian.


Suara bel rumah membuat Amih langsung beranjak dari sofa. Entah siapa yang datang bertamu. Padahal tuan rumahnya sedang tidak ada.


“Apa ada barang yang ketinggalan makanya si Ibu pulang lagi ya? Ah tapi kayaknya nggak deh,”


Gumam Amih sembari berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang menjelang sore ini.


Begitu pintu dibuka Amih langsung dihadapkan dengan Dini, bundanya Elvina yang tersenyum hangat kepadanya.


“Eh Ibu Dini,” sapa Amih seraya membalas senyum ibu dari majikannya itu.


“Assalamualaikum, Elvina dan Vano ada ya?”


“Waalaikumsalam, Kebetulan Ibu sama Pak Vano lagi nggak ada, Bu, mereka liburan di hotel tempatnya Pak Vano rapat sekarang kalau nggak salah,”


“Oh staycation rupanya. Sejak kapan, Mih?”


“Baru aja Ibu berangkat. Soalnya kata Pak Vano jangan terlalu sore ke sana, eh barusan udah jalan karena takut macet juga, Bu. Silahkan masuk, Bu, mau minum apa, Bu?”


“Oh begitu ya, okay saya pamit dulu kalau begitu. Nggak usah repot-repot, Mih. Titip rumah mereka ya, Mih,”


“Siap, Bu. Hati-hati di jalan,”


“Iya terimakasih,”


Dini harus menelan kekecewaan karena tidak jadi bertemu dengan mereka berdua, terutama Vano. Ternyata mereka berdua pergi berlibur dan Ia tidak tahu sama sekali. Mungkin nanti kalau Elvina sudah tiba di sana, Elvina akan mengabarinya.


******


Benar perkiraan Elvina, perjalanannya menuju hotel dihadang dengan kemacetan yang kali ini disebabkan oleh pelebaran jalan. Ada alat-alat besar di bahu jalan dan juga sebagian jalan ditutup, alhasil terjadi kemacetan.


“Sejak kapan ada pelebaran jalan begini ya?”


“Udah dari minggu lalu, Mba,” ujar supir mobil yang diorder Elvina melalui aplikasi online. Sesuai apa yang dikatakan suaminya, Ia tidak membawa mobil karena nanti pulang bersama Vano dan menggunakan mobil Vano. Maka dari itu Ia berangkat ke hotel bukan dengan mobilnya sendiri.


“Oh begitu, baru tau saya, karena jarang keluar rumah juga kayaknya,”


“Tapi nanti malam udah hilang deh macetnya, bersih,”


“Mungkin karena orang-orang udah pada istirahat ya, Pak,”


“Iya benar, Mba,”


Setelah sabar menghadapi kemacetan, akhirnya mobil berhasil jalan dengan lancar hingga tiba di hotel besar dan modern yang menjadi tempat Vano melakukan rapat dan nanti Elvina dan Vano akan menginap di sana.


“Terimakasih ya, Pak,” ujar Elvina seraya menyerahkan uang tunai yang sudah Ia persiapkan sejak tadi.


“Iya sama-sama,”


Elvina keluar dari mobil dan pengemudi membuka pintu bagasi mobil untuk mengambil travel bag milik Elvina.


Elvina membawa travel bag dorongnya ke dalam dan mobil yang mengantar Elvina sudah melaju meninggalkan kawasan hotel.


Sebelum ke kamar yang menjadi tujuan, Elvina duduk dulu di lobi untuk memberitahu bahwa Ia sudah sampai. Ia tidak berani telepon karena Vano sedang melakukan rapat. Akhirnya Ia kirim pesan saja. Dan tidak langsung dibaca.


“Ya udahlah, langsung ke kamar aja,” batin Elvina seraya bangkit dari kursi tempatnya duduk tadi.


Elvina segera ke meja resepsionis untuk check in. Setelah itu Ia diantar menuju kamar yang telah dipesan oleh sang suami untuk mereka menginap satu atau dua hari ke depan.


Tiba di depan kamar, Elvina membelalakkan matanya karena bertemu dengan orang yang Ia benci. Entah sejak kapan, intinya orang itu paling Ia benci untuk saat ini, tidak lain adalah


Delila dan tengah berhadapan dengan suaminya. Mereka berdua berdiri di depan pintu kamar.


Petugas hotel pergi, sementara mereka bertiga langsung adu pandang. Delila kelihatan gugup, begitupun Vano sementara Elvina jelas saja sinis.


“Kamu bilang kamu nggak ngajak siapa-siapa ke sini, terus dia kenapa di sini?”


Keduanya diam, tidak bisa berkata-kata sementara emosi dalam diri Elvina sudah menggebu-gebu minta dikeluarkan sekarang juga. Ia marah karena Vano seperti sengaja menyatukan Ia dengan Delila. Padahal sebelumnya Ia telah memastikan pada Vani bahwa hanya mereka berdua tanpa siapapun, kenyataannya Vano berbohong.


“Kalian ngapain berduaan di sini? Habis dari dalam terus karena tau aku mau datang makanya keluar? Iya?!”


Elvina langsung maju mendekat pada Delila. Vano yang tidak mau terjadi perdebatan langsung menahan lengan istrinya. Elvina segera mendorong Vano kemudian menamparnya. Benar-benar menampar di depan Delila. Elvina tidak sungkan karena menurutnya Vano memang pantas diberikan pelajaran.


“Kamu juga perlu saya tampar ya?”


“Elvina! Masuk ke dalam!”


“Kenapa aku harus masuk? Aku belum puas kasih pelajaran ke kamu, bahkan ke perempuan ini juga belum,”


Elvina sempat menarik rambut Delila hingga memekik kesakitan. Vano yang melihat itu langsung panik. Ia segera membantu Delila untuk lepas dari jeratan Elvina dan beruntungnya berhasil.


Ia mengisyaratkan Delila untuk pergi sebelum pertengkaran mereka mengundang petugas hotel datang dan mengusir mereka.


Setelah Delila pergi Elvina pun akan pergi. Ia tidak sudi berlibur dengan Vano yang jelas-jelas turut membawa perempuan lain ke hotel yang katanya untuk mereka menginap.


Jadi karena ini firasatnya buruk sesaat sebelum Ia berangkat, sampai Ia mengatakannya pada Amih dan Amih melarangnya untuk berpikiran negatif. Ternyata saat ini Ia menyaksikan secara langsung bahwa Vano tidak semata-mata ingin berlibur dengannya, melainkan dengan perempuan itu juga. Bahkan sudah lebih dulu Delila yang datang dan entah apa yang sudah mereka lakukan selama Ia belum sampai di hotel itu.


“Hei kamu mau kemana?”


“Aku mau pulang! Kamu pikir aku bakal tetap mau staycation sama kamu?! Hmm? jangan harap!” sentak Elvina seraya menghempas tangan Vano yang menahan lengannya agar tidak pergi. Harusnya tadi Ia di rumah saja, sehingga tidak perlu melihat kebersamaan mereka yang memancing emosinya untuk datang.


"Elvina, jangan begini dong! Kamu harus dengar dulu penjelasan aku. Aku sama dia nggak ngapa-ngapain kebetulan dia juga ada kerjaan di sini dan--"


"STOP! NGGAK USAH NGOMONG APA-APA LAGI. GUE MUAK DENGAR LO NGOMONG!"


Van membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar Elvina yang membentaknya.


Elvina akan mendaratkan tangannya di wajah Vano namun Vano berhasil menahan tangan istrinya itu. Kalau saja barusan berhasil mendarat di wajah, terhitung sudah dua kali Ia mendapatkan tamparan dari Elvina.


"Aku jelasin semuanya. Kami nggak sengaja ketemu. Ayo masuk dulu, kamu jangan marah-marah begini. Malu tau, El. Lagian ada cctv juga nanti kita di samperin sama petugas hotel, ini 'kan masih di depan pintu kamar. Kalau memang mau berdebat di dalam kamar aja,"


Vano menarik tangan Elvina agar mau masuk ke dalam kamar mereka namun Elvina menghempasnya. Elvina tetap akan pergi. Ia tidak ada keinginan sedikitpun untuk melanjutkan yang namanya staycation. Suasana hatinya benar-benar buruk sekarang. Ia ingin pulang saja. Menyendiri di kamar lebih baik daripada harus melihat wajah Vano yang sudah terlalu dalam menyakitinya.


"Elvina!"


Vano memanggil Elvina yang sudah melangkah pergi. Vano mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menahan Elvina.


Ketika sudah dekat dengan posisi Elvina saat ini, tanpa aba-aba Vano meraih Elvina ke dalam gendongannya. Tidak ada cara lain. Daripada Elvina terus menerus memberikan penolakan dan juga membentaknya hingga membuat keributan nantinya, lebih baik Ia bawa paksa Elvina ke dalam kamar yang sudah Ia booking sebelumnya.


Beruntungnya di sekeliling mereka tadi tidak ramai orang sehingga tidak ada yang mengamati mereka tapi tetap saja Vano takut menciptakan kegiatan yang akhirnya membuat tamu lain merasa terganggu. Sepertinya kamera pengintai aktif dan bisa menangkap aktivitas mereka tapi Vano berharap tidak ada pengawas kamera cctv dan tidak ada petugas yang datang ke kamarnya sekarang sebab Ia benar-benar ingin fokus menyelesaikan kesalahpahaman yang ada.


Vano mengunci pintu kamar dan menyimpan kunci dengan aman di dalam saku celana. Sehingga Elvina tidak bisa membukanya.


Elvina berusaha membuka pintu dengan tidak sabaran tapi tetap tidak berhasil. Yang ada justru mengundang tawa Vano.


"Kamu bisa dimarahin lho kalau sampai pintu itu rusak,"


"Brengsek! Buka pintunya sekarang! Aku mau pulang!"


"Nggak, aku harus jelasin sama kamu supaya kamu nggak salah paham lagi dan kita berantem lagi. Masa kita liburan malah berantem sih?"


"BUKA PINTUNYA! BUKA GUE BILANG BUKA!"


"Elvina, tolong jangan begini. Dengar ya, kebetulan Delila itu nginap di kamar yang nggak jauh dari sini. Dia ketemu aku yang baru mau keluar dari kamar habis taruh tas setelah rapat. Nah dia nyamperin aku. Jadi kami nggak ada niat apa-apa di sini. Semuanya nggak seperti yang ada di otak kamu itu. Kami berdua nggak ngelakuin apapun, memang benar-benar nggak sengaja ketemu. Dia udah mau pulang sementara kita baru mau nginap,"


"Lo pikir gue orang bodoh?!"


"Ya ampun, seriusan aku nggak bohong sama kamu dan nggak mau bodoh-bodohi kamu juga. Memang aku sama dia nggak sengaja ketemu, El. Kamu jangan mikir macam-macam apalagi sampai ngiranya dia udah masuk kamar ini terus ngelakuin sesuatu di luar batas sama aku. Ya nggak mungkinlah, ceritanya beneran kayak gitu, Sayang. Jangan salah paham ya, aku mohon,"


"Buka pintunya, Vani! Lebih baik gue pulang aja. Gue nggak nyaman di sini. Lo selalu bohongin gue,"


"Astaga, aku nggak bohongin kamu, El. Aku jujur kalau aku sama dia memang nggak ada apa-apa dan tadi kita nggak sengaja ketemu. Tolong kamu percaya sama aku, Sayang,"


"Aku mau pulang!"


Elvina menangis. Ia benar-benar menangis. Air matanya mengalir deras dan detik itu juga batin Vano dibuat terguncang dengan rasa bersalah.


Ia ingin meraih Elvina ke dalam pelukan tapi Elvina langsung menjauh darinya. Ia bahkan didorong oleh Elvina agar menjauh.


Padahal niat Vano adalah menenangkan istrinya itu tapi reaksi Elvina malah seperti itu. Sekarang Vano bingung harus bagaimana. Ia sudah menjelaskan semuanya dengan jujur pada Elvina tapi Elvina malah menangis pilu begini yang artinya Elvina tidak juga percaya padanya.


"Sayang, jangan nangis dong. Aku nggak bohong, serius, kamu harus percaya sama aku. Mana mungkin aku ajak dia. Aku memang pengennya liburan sama kamu aja, nggak ada niat untuk libatkan orang lain. Aku minta maaf udah bikin kamu nangis kayak begini, tapi aku berani sumpah, aku jujur, Sayang. Berhenti nangisnya, tolong. Aku ngerasa bersalah banget,"


"Aku nyesal datang ke sini tau nggak?! Lebih baik aku di rumah. Aku nurutin keinginan kamu yang pengen liburan tapi apa yang aku liat barusan? Kamu itu udah sering kedapatan bohong! Aku susah lagi percaya sama kamu. Apa buktinya kalau memang kamu dan dia nggak ngapa-ngapain? Hah?apa buktinya kalau memang kamu jujur?"


"Na, aku udah jelasin semuanya tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Aku mohon percaya sama aku," ujar Vano dengan sorot mata sendunya menandakan bahwa Ia memang benar-benar memohon kepercayaan dari istrinya.


Elvina kembali berusaha untuk membuka pintu dengan tangis yang belum juga berhenti. Elvina tidak meraung-raung, tapi justru isak tangisnya itu membuat hati Vano berdenyut pedih.

__ADS_1


Vano langsung memeluk Elvina dari belakang. Ia merengkuh Elvina dengan begitu erat berharap Elvina tidak bisa melepaskannya.


"Aku nggak mungkin bohongin kamu, aku nggak mungkin macam-macam di belakang kamu. Jadi kamu harus percaya,"


"Lepas, Mas! Aku mau pulang aja, aku nggak ada mood lagi untuk nginap di sini, apalagi ini bekas dia 'kan?"


"Ya Allah, Sayang, kamu ngomong apa sih? Bekas apa? Udah aku bilang, dia nggak masuk sini, kita nggak sengaja ketemu dan itupun di luar aja. Tadi 'kan kamu liat sendiri aku sama dia di luar,"


"Ya barangkali aja sebelumnya dari kamar,"


"Kamu jangan nuduh begitu dong, aku nggak akan bawa dia masuk sini lah. Ini tempat kita berdua. Sampai kapanpun aku nggak akan bawa perempuan lain ke tempat tidur atau ke kamar, El. Aku nggak sebrengsek itu,"


"Aku mau pulang, aku mau pulang,"


Elvina mengulangi kalimatnya. Itu yang Ia inginkan saat ini sehingga Ia katakan berulang kali.


"Nggak boleh, kamu di sini aja. Kalaupun kamu pulang, aku juga ikut pulang. Dan aku mau kita pulang dengan keadaan baik-baik aja tanpa ada kesalahpahaman lagi. Gimana kalau kita liat cctv sekarang? Pasti cctv 'kan aktif, di sana kamu bakal iat ucapan aku dari tadi benar atau nggak. Aku sama sekali nggak bawa dia masuk ke sini, apalagi ngelakuin hal di luar batas seperti yang ada di kepala kamu,"


Elvina lebih berusaha keras agar pelukannya dan Vano terlepas- dan kali ini Ia berhasil. Vano tidak lagi merengkuhnya.


Hal yang tidak terduga oleh Vano adalah istrinya itu bergegas memecahkan satu gelas berisi air putih yang telah disiapkan oleh pihak hotel.


Setelah gelas pecah dan serpihan kaca gelas berserakan di lantai, Elvina langsung mengambil salah satu serpihan kaca itu dan mendekatkannya ke tangan.


Vano yang melihat itu langsung membelalakkan matanya dan berseru panik. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Elvina melakukannya.


"ELVINA! KAMU JANGAN GILA!"


Vano begitu mencintai istrinya dan Ia tidak mau Elvina mati sia-sia hanya karena kesalahpahaman yang sepele.


Elvina tidak gila, tapi Ia terlalu sakit hati dengan Vano yang sudah berulang kali menusuknya dari belakang.


Ia datang ke sini dengan niat baik ingin memenuhi keinginan Vano yang katanya mau berlibur, tapi tiba-tiba Ia disambut dengan pemandangan yang tidak pernah ingin Ia lihat sampai kapanpun. Dia bersama perempuan lain di hotel yang kata Vano akan menjadi tempat mereka menginap.


Vano berusaha merampas kaca yang dipegang Elvina. Tapi tidak berhasil malah Elvina sengaja melukai tangannya sendiri hingga mengeluarkan darah. Baru kali ini Elvina meluapkan emosi tapi dengan melukai dirinya sendiri. Mungkin sudah terlalu lelah merasa dikhianati oleh Vano, terjadilah seperti itu.


"Elvina!"


Tidak cukup sekali, Elvina akan melakukannya di tempat lain, sebelumnya ada di atas nadi, tapi kali ini Ia ingin tepat di nadi. Elvina sudah diliputi dengan setan yang menyuruhnya untuk mati saja daripada harga dirinya diinjak-injak terus oleh Vano. Ia sebagai istri beberapa kali disuguhkan dengan pertemuan antara suaminya dengan perempuan lain, dan puncaknya sekarang, mereka kembali bertemu di hotel. Sungguh, Elvina tidak percaya sama sekali dengan penjelasan Vano.


Vano mendorong kasar tangan Elvina yang memegang kaca hingga kaca itu terbuang dan berbenturan dengan pintu kamar mandi. Sekencang itu gerakan Vano menjauhkan kaca yang Elvina pegang.


Vano memeluk Istrinya dengan perasaan cemas luar biasa. Ia bahkan menangis di bahu Elvina. Dan berkali-kali mencium pelipis Elvina. Ada rasa lega Ia bisa menyelamatkan Elvina dari maut yang dia undang sendiri.


"Elvina tolong jangan bodoh, El. Kamu mau mati sia-sia hanya karena masalah sepele? Hah?"


Elvina mendorong badan Vano dengan kuat hingga pelukan mereka berhasil terlepas. "Kamu bilang sepele?! Kamu udah sering bohongin aku, brengsek! Kamu selalu bikin aku keliatan bodoh! Gimana aku bisa percaya kata-kata kamu barusan?! Hah?!"


"Sayang, tolong percaya sama aku, kamu boleh tanya langsung sama Delila kalau kamu nggak percaya?"


"Aku tanya dia dan aku makin keliatan bodoh! Jelas aja kalian udah kerja sama 'kan?! Kamu bilang tadi silahkan liat cctv? Bisa aja itu juga udah dibikin sedemikian rupa sama kamu supaya seolah-olah kamu itu benar!"


"Nggak sama sekali, memang aku nggak ngapa-ngapain sama Delila, Ya Allah, kamu kenapa nggak percaya banget sih? Aku harus apa dong supaya kamu percaya, Sayang?"


"AKU CINTA SAMA KAMU TAPI KAMU KAYAK GINI SAMA AKU, MAS!"


Vano membeku di tempat. Ia yang akan kembali meriah Elvina ke dalam pelukannya dibuat terkejut dengan pengakuan Elvina barusan.


Apa Ia tidak salah dengar? Apa sistem pendengarannya masih berfungsi dengan baik? Berbagai macam pertanyaan yang merupakan bentuk dari ketidak yakinan Vano atas pengakuan Elvina hadir di kepala Vano sekarang.


Elvina mengatakannya sambil masih menangis. Dia mengakui kalau dia mencintai suaminya, dan itu yang ditunggu-tunggu oleh Vano hampir dua tahun semenjak mereka bersama.


Elvina sudah mencintai Vano entah sejak kapan pastinya. Yang jelas setiap Vano ketahuan berbohong demi menjaga hubungan gelapnya bersama perempuan lain, Elvina sakit hati sekali. Elvina merasa tidak dihargai dan ditusuk dari belakang. Vano menyuruhnya untuk melupakan masa lalu, sekarang Ia sudah bisa melakukannya. Ia mencintai Vano tapi malah dibalas dengan perselingkuhan Vano.


"Apa? Kamu cinta sama aku?"


Elvina menghapus jejak air matanya di seluruh bagian pipinya kemudian tanpa menjawab pertanyaan Vano, Ia berjalan menuju pintu.


Elvina tetap ingin pulang. Ia tidak mau berlibur di sini apalagi dengan Vano yang sudah jahat padanya.


"Buka pintunya!"


Elvina bahkan memukul-mukul pintu dan turut menggunakan tangannya yang berdarah.


Vano yang melihat itu langsung meraih tangan Elvina dan membujuknya untuk tenang di dalam kamar.


"Lebih baik kita obati tangan kamu aja, Sayang. Daripada kamu minta pulang sendiri, aku ngggak akan turuti,"


"Lepasin!"


"TANGAN KAMU LUKA, ELVINA!"


Vano membentak Elvina agar perempuan itu sadar ada yang lebih penting sekarang ketimbang amarahnya. Luka yang ada di tangan Elvina lebih penting untuk segera diobati. Vano tahu Elvina marah, luar biasa marah bahkan, tapi luka yang berdarah-darah itu harus segera diobati sekarang juga.


"Aku nggak mau diobati apapun, aku cuma mau pulang sendiri! Aku nggak sudi sama kamu di sini,"


"Dengar aku ya, luka kamu harus diobati sekarang! Tolong nurut apa kata aku, El,"


Vano menarik lembut tangan Elvina untuk duduk di ranjang. Sempat berontak tapi pada akhirnya Elvina mengikuti apa kata suaminya itu.


Ia duduk di ranjang sementara Vano mengambilkan kotak berisi obat-obatab yang entah dimana. Ia mencari-cari dengan cepat karena panik dan takut Elvina merasa semakin sakit.


Tapi akhirnya Ia berhasil menemukan apa yang Ia cari itu di dekat televisi. Tanpa banyak bicara Vano langsung meraih kotak itu dengan cepat kemudian duduk dengan lutut yang menopang di hadapan Elvina yang duduk di tepi ranjang.


"Eh iya, aku ambil air hangat dulu ya untuk bersihin darahnya, semoga apa yang aku lakuin ini benar, Sayang, yang penting kamu nggak kesakitan lagi,"


Vano lupa bahwa darah-darah yang mengalir di tangan Elvina itu harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum diobati. Vano segera mengambil air hangat di kamar mandi dan juga handuk kecil yang juga disediakan di dalam sana. Setelah itu Ia kembali menghampiri Elvina yang hanya diam saja tanpa mengatakan apapun dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Padahal Vano yakin Elvina kesakitan sekali, atau merasakan perih yang luar biasa, tapi anehnya raut wajah Elvina tidak menampilkan kesakitan itu.


Vano mencium singkat kening Elvina kemudian berjongkok lagi fokus dengan luka istrinya.


Ia melakukan pengobatan sederhana yang Ia tahu dengan sangat hati-hati, tidak mau menambahkan rasa sakit untuk istrinya. Ia tidak tahu bagaimana penanganan yang benar tapi Ia sedang berusaha untuk mencobanya.


Ia bersihkan dengan air hangat, kemudian Ia berikan obat luka. Luka yang dibuat Elvina itu sebuah garis lurus di atas nadi tangan. Tidak begitu panjang garisnya tapi darahnya yang keluar lumayan banyak karena memang sedalam itu Elvina menekannya.


Vano menutupnya dengan perban setelah itu Ia menatap Elvina. "Kita ke rumah sakit aja?" Pikir Vano yang penting sudah dilakukan pertolongan pertama dan kalau Elvina bersedia ke rumah sakit supaya ditangani dengan lebih tepat, Ia tidak keberatan sama sekali.


Elvina hanya diam tanpa mengatakan apapun pada suaminya yang bertanya. Vano menghela napas berusaha sabar. Suasana hati Elvina sedang tidak baik-baik saja dan Ia harus memaklumi itu.


"Sayang, ke rumah sakit mau ya?"


Elvina hanya menggelengkan kepalanya singkat. Vano yang mendapatkan jawaban itu masih belum yakin.


"Biar aku tenang, takutnya infeksi atau apa,"


"Kalau ujung-ujungnya ke rumah sakit untuk apa kamu obatin barusan?!"


"Maksud aku supaya darahnya hilang dulu, aku kasih pertolongan pertama dulu, nah kalau udah bersih kayak gini 'kan enak juga bawanya ke rumah sakit, soalnya itu darah masih keluar pasti,"


"Nggak usah, biarin aja aku kehabisan darah terus mati," ujar Elvina dengan pikiran sempitnya. Vano langsung berdecak pelan. Ia tidak suka mendengar ucapan Elvina yang terlalu meremehkan nyawa.


"Ke rumah sakit aja yuk,"


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau Ken! Kamu jangan ngomong berulang-ulang dong," sentak Elvina dengan emosi yang masih belum pudar.


Vano menghembuskan napasnya pelan setelah itu Ia mengangguk pasrah. Elvina tidak mau diajak ke rumah sakit, yang ada dia dimarah-marahi.


"Ya udah sekarang kamu ganti baju, biar istirahat,"


"Istirahat dimana? 'Kan aku udah bilang aku nggak mau di sini,"


"Ya udah kamu mau pindah hotel aja apa gimana?"


Kalau Elvina ingin seperti itu, Ken tidak akan menolak. Ia akan turuti yang penting Elvina bisa tenang tidak berontak lagi meminta pulang.


"Aku nggak mau kemana-mana sama kamu! Aku mau pulang sendiri aja,"


"Sayang, jangan marah-marah terus. Suara kamu itu udah mulai habis lho karena dari tadi bentak aku dan nangis,"


"Aku ambil baju kamu ya biar kamu ganti dan kamu istirahat. Tolong kali ini dengerin aku, Elvina. Kamu jangan bantah,"


Vano mengambil pakaian di koper yang Elvina bawa, setelah itu Ia menyerahkannya pada Elvina yang tidak mau menerima. Ia biarkan saja tangan suaminya terulur memberikan baju.


"Apa perlu aku yang gantiin baju kamu, Sayang?"


Elvina kembali hanya diam. Vano menghela napas lagi. Sudah diam tadi saat diobati, disuruh ganti baju juga diam, sekarang Ia bingung. Apa sebaiknya Ia benar-benar menggantikan baju Elvina? Mengingat tangannya pun sedang sakit. Pasti akan sulit kalau hanya memakai baju menggunakan satu tangan.


"Ya udah, diamnya kamu itu aku anggap sebagai persetujuan aku gantiin kamu baju, okay?"


Vano merunduk akan mengangkat ujung bagian bawah baju yang Elvina kenakan dan detik itu juga Elvina melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Apaan sih?! Aku nggak mau!"


"Ya udah langsung tidur aja kalau gitu, tapi emangnya kamu nyaman pakai baju ini dari luar terus ini juga—-" Vano mengusap kening Elvina yang basah dan anak rambutnya yang lengket di kening.


"——kamu keringatan, El, lebih nyaman ganti baju,"


Elvina langsung merampas baju di tangan Vano setelah itu Ia bergegas ke kamar mandi. Vano yang melihat itu tersenyum. Ia senang karena istrinya mau mendengarkan kata-katanya kali ini.


Ia berdiri di depan pintu kamar mandi. Jujur Vano trauma melihat Elvina berulah seperti tadi sehingga Ia tidak mau membiarkan Elvina tanpa pengawasannya. Ia takut Elvina kembali mengulangi yang tadi.


"Sayang, jangan lama-lama ya," kata Vano pada istrinya itu. Terdengar suara air dan itu membuat Vano sedikit tenang, walaupun Elvina tidak menyahutinya.


"Sayang, setelah itu keluar ya,"


Masih tidak ada jawaban dan suara aliran air terhenti. Ia mulai cemas. Takutnya Elvina melakukan sesuatu di kamar mandi yang membahayakan nyawanya lagi.


Ia mengetuk pintu kamar mandi dan ketika Elvina marah karena merasa diusik karena Vano cerewet, barulah Vano tenang.


"Kamu bisa diam nggak?!" Sentak Elvina. Sekalipun dibentak oleh Elvina, tapi Vano bersyukur karena Elvina mau menyahutinya.


Setelah bunyi kunci kamar mandi diputar, Vano merasa lega, apalagi ketika melihat Elvina keluar dengan baju yang berbeda dari sebelumnya.


Ia meraih baju kotor Elvina setelah itu Ia biarkan saja di lantai dekat dengan koper. Dan Elvina duduk di tepi ranjang.


"Kok nggak tidur? Kamu tidur aja, biar kepala kamu nggak pusing, kayaknya kalau habis nangis kepala suka pusing,"


Vano seperti bicara dengan patung karena hanya Ia saja yang mengeluarkan suara sementara Elvina banyak diam, sekalinya mengeluarkan suara hanya untuk menjawabnya dengan galak.


"Aku mau ganti baju dulu," ujar Vano seraya menurunkan celananya. Tidak sengaja kunci pintu kamar jatuh ke lantai, Elvina langsung menatapnya dan akan meraih itu karena keinginannya untuk pulang benar-benar sangat mendesak, tapi sayangnya Vano sudah lebih dulu meraihnya bahkan dengan menyebalkannya dia menyimpan di saku celana pendek yang yang menjadi **********.


"Kamu berani ngambil, El?" Tantang Vano dengan senyum jenakanya. Sakunya ada di bagian depan dan Elvina merotasikan bola matanya.


Vano yakin Elvina tidak akan berani. Tapi tidak disangka Elvina justru maju mendekat dan Vano yang dibuat panik. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh diluar dugaan, Ia pikir Elvina tidak berani mengambil kunci kamar di dalam saku celana pendek yang menjadi dalaman Vano sebelum menggunakan celana kerjanya. Kalau sakunya ada di samping Vano yakin Elvina tidak ragu mengambilnya, tapi masalahnya saku ada di bagian depan. Ia yakin Elvina tidak akan berani meraihnya tapi justru diluar dugaan.


"Kamu mau pegang-pegang itu aku ya, El? Alesannya aja mau ngambil kunci,"


"Bukan dipegang! Tapi mau aku tendang!"


"Awsshh ngilu," ringis Vano di dalam kamar mandi mendengar ucapan istrinya yang kedengaran serius.


"Jadi tadi kamu deketin aku karena mau nendang?"


"Iya, tanpa aku sentuh pakai tangan, aku bisa ambil kunci itu dan bikin masa depan kamu sakit!"


Vano bergidik ngilu membayangkan bila istrinya berhasil melakukan itu tadi. Punya anak juga belum, sudah dibuat macam-macam masa depannya itu, kasihan sekali nasibnya. Mana yang berbuat adalah Elvina, pabriknya.


"Kalau masa depan aku kenapa-napa, kamu nggak punya anak dari aku dong,"


"Itu lebih baik!"


"Jangan ngomong gitu dong, Sayang. Ucapan itu doa lho,"


Elvina tidak menyahuti lagi ucapan suaminya. Ia anggap saja tidak ada yang bicara. Kalau diladeni, Vano makin menjadi-jadi. Sementara Ia masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya.


"Sial! Tadi padahal kunci pintu udah jatuh, nggak sempat diambil udah keburu dia duluan yang ngambil," erang Elvina dengan kesalnya. Sementara Vano ada di kamar mandi, Elvina menjelajahi kamar. Barangkali ada kunci cadangan yang bisa Ia gunakan untuk membuka pintu kamar mereka.


Ia serius dnegan ucapannya. Tidak mau sama sekali menginap di hotel. Ia lebih memilih untuk tidur di rumah saja, tanpa perlu ada yang namanya staycation. Mana bisa liburan dengan suasana hati yang hancur begini. Seharusnya liburan itu senang dan tenang. Ini justru kebalikannya.


"Duh, kok nggak ada ya,"


Vano membuka pintu kamar mandi, melihat Elvina berdiri di dekat meja televisi, Ia berseru panik.


"Heh kamu ngapain?! Mau bunuh diri lagi?! Iya?!"


"Aku cari kunci kamar,"


"Nggak akan ada, orang sama aku. Kamu jangan dekat-dekat beling itu, Elvina!"


Vano segera meraih tangan istrinya yang tidak sakit untuk kemudian Ia dorong supaya duduk di tepi ranjang.


"Aku mau beresin ini yang udah kamu pecahin, kamu diam aja,"


Vano hampir saja lupa membersihkan serpihan kaca gelas yang telah dipecahkan oleh istrinya. Tapi beruntungnya selama Ia di kamar mandi, Elvina tidak macam-macam lagi, yang dia cari justru kunci kamar, bukan maut lagi.


"Vano, gue mau pulang! Tolong buka pintunya! Gue nggak mau liburan di sini sama lo! Najis tau nggak?!"


"Kok ngomongnya gitu? Emang aku najis kenapa?"


"Gue nggak sudi sama bekas orang,"


"Ya ampun, Sayang, mulut kamu jahat banget ngomongnya ya, aku sampai sakit hati dengernya lho,"


"Gue mau pulang, gue nggak mau di sini, gue mau pulang ke rumah orangtua gue,"


"Tuh 'kan, memang udah aku duga, kamu bakal pulang ke rumah mama papa dan ngadu yang nggak-nggak,"


"Yang nggak-nggak gimana?! Hah?! Apa yang keluar dari mulut gue nantinya itu jujur! Nggak gue tambah atau gue kurangi,"


"Sayang, tolong ya jangan kayak gini sikap kamu, aku mau kita damai,"


Vano meladeni istrinya sambil tangannya bekerja mengangkat pecahan gelas yang yang tadi sengaja dipecahkan oleh sang istri. Vano kumpulkan menjadi satu ke dalam kantung plastik setelah itu Ia buang ke dalam tempat sampah, dan Ia memanggil petugas kebersihan untuk mengepel lantai kamarnya yang basah.


Setelah lantai kamar bersih baik dari pecahan gelas maupun air yang tumpah, Vano langsung bergegas ke atas tempat tidur untuk istirahat.


"Lebih baik kita tidur aja yuk, daripada ribut terus,"


"Lo nggak ngerti ucapan gue ya?! Hah? Gue mau pulang ke rumah orangtua gue!"


"Elvina! Kamu ngomongnya yang bener dong,"


"Kenapa?!"


"Kok jadi songong begitu sih?"


"Pulang! Gue nggak jadi nurutin kemauan lo yang mau liburan, intinya gue mau pulang, gue nggak mau liat muka lo lagi,"


"Ini sekarang masih liat muka aku,"


Vano bangun dari baringannya setelah itu Ia sengaja menempatkan wajahnya tepat di depan mata Elvina.


Perempuan itu langsung saja menampar wajah Vano karena Vano malah memancing tingkah amarahnya semakin naik.


"Awsssh sakit, Sayang,"


"Siapa suruh lo begitu?!"


"Kok ngomongnya lo gue sih? Aku 'kan nggak suka,"


"Nggak peduli,"


"Aku mau tanya, yang tadi itu beneran nggak sih? Apa kamu asal ngomong aja?"


Elvina melirik suaminya dengan sinis. Elvina tidak tahu yang tadi apa maksud ucapan Vano. Saat Vano menyentuh bahunya agar mereka duduk berhadapan, Ia langsung menjauh.


"Kamu beneran cinta sama aku, El? Kalau beneran itu keluar dari hati kamu, sumpah aku senang banget. Akhirnya yang aku tunggu-tunggu datang juga. Penantian aku berakhir,"


Vano tidak mendapatkan jawaban apapun dari mulut Anatha yang baru beberapa saat lalu mengaku bahwa Ia mencintai Vano. Pengakuannya itu membuat Vano terkejut bukan main, bahkan sampai membeku beberapa detik dengan detak jantung yang tidak beraturan.


"Sayang, kok nggak jawab?"


Vano kini berpindah, Ia berjongkok di hadapan Elvina yang masih duduk di tepi ranjang dengan mulut terbungkam.


"Kamu cinta sama aku?"


Lagi-lagi Elvina masih diam. Padahal Vano perlu diyakinkan sekali lagi, barangkali yang tadi adalah sebuah kesalahan dari telinganya, atau justru dari mulut Elvina yang tidak benar-benar menyampaikannya dari hati.


"Elvina, kamu beneran cinta sama aku? Kamu balas cinta aku, El? Berarti aku nggak cinta bertepuk sebelah tangan lagi dong? Iya? Jawab dong, El. Aku mau senang akhirnya nggak jadi karena kamu nggak ada jawaban gini, kamu cuma ngomong sekali. Coba ngomong sekali lagi, aku mau kamu ulangi, biar aku lebih yakin,"


"Awas minggir! Aku mau tidur di sofa aja,"


"Kok tidur di sofa? Ada ranjang yang nyaman, empuk, luas, kok kamu malah milih di sofa sih, Sayang? Nggak boleh, di ranjang pokoknya!"


"Suka-suka aku! Jangan ngatur kalau kamu mau aku tetap di sini,"


Elvina beranjak pindah ke sofa. Ia akan berbaring di sana. Vano melarangnya pulang dengan menyimpan kunci kamar, pilihannya adalah sofa untuk istirahat.


"Emang kenapa sih kalau tidur di ranjang sama aku? Hmm?"


"Aku nggak mau,"


"Kenapa? Kamu masih mikir kalau ranjang ini udah dipakai sama dia? Astaga, kapan sih berhenti mikir aku selingkuh? Udah dibilangin aku nggak selingkuh apalagi bawa-bawa perempuan lain ke ruang pribadi kita berdua, aku punya otak, El,"


"Pokoknya aku mau di sini! Udah deh nggak usah banyak omong, aku pusing mau tidur,"


Vano mengikuti Elvina yang berjalan ke sofa dan langsung berbaring miring membelakangi Vano yang berdiri dengan rasa sesak di dadanya melihat Elvina lebih memilih tidur di sofa ketimbang di ranjang bersamanya.


"Kalau gue tidur di sini nggak muat, tapi kalau gue tidur di ranjang, gue tega banget sama Elvina,"


Akhirnya Vano memilih untuk tidur di lantai, tepat di bawah sofa yang digunakan Elvina. Ia mengambil bed cover untuk dijadikan sebagai alas tidurnya.


Ia berbaring miring menghadap punggung Elvina yang tidur seperti bayi meringkuk. "Kakinya lurusin, nanti pegal lho,"


"Berisik!"


Terdengar suara Elvina yang serak dan bergetar. Vano langsung duduk dan berusaha membalik badan Elvina.


Ia ingin memastikan Elvina menangis atau tidak, kalau menurut pendengarannya memang Elvina kembali menangis padahal setelah keluar dari kamar mandi tadi, wajah Elvina tidak dipenuhi dengan jejak air mata lagi karena memang Elvina membasuh wajahnya sekalian berganti pakaian.


Sekarang Vano lihat wajahnya basah lagi oleh air mata begitu Vano berhasil memutar badan Elvina.


"Ya Allah, nangis lagi, kamu cengeng banget sih, Na, aku harus apa dong? Aku udah jujur banget sama kamu, udah minta maaf, udah ngomong baik-baik juga, tapi kamu nya masih aja nangis. Aku bingung, Sayang,"

__ADS_1


__ADS_2