
“Kamu dimarahin sama Papa kamu karena pergi sama aku ya?”
Setelah Davina bicara dengan papanya melalui sambungan video call, Elvina langsung bertanya pada Davina. Dan Davina tertawa sebelum menjawab.
“Ya mana mungkin diomelin gara gara jalan sama kamu. Malah Papa keliatannya lega tadi pas tau aku beneran pergi sama kamu ke toko buku. Papa ngiranya aku tuh pacaran, makanya video call untuk kasih bukti kalau aku emang di toko buku dan sama kamu,”
“Tapi kamu udah bilang ke Mama Papa kamu ‘kan?”
“Ke Papa nggak, karena aku takut ganggu Papa kerja, jadi aku izinnya ke Mama dan Mama bolehin. Mungkin Mama lupa kali ngomong ke Pak Indra kalau nggak usah jemput aku karena aku sama kamu jadi Pak Indra ke sekolah nggak ketemu aku dan laporan deh ke Papa,”
“Wah Alhamdulillah dapat orangtua yang perhatian begitu, Dav. Kamu harus bersyukur ya, selagi nggak mengekang, kita harus senang orangtua perhatian dan tegas ke kita,”
__ADS_1
“Ih aku merasa dikekang tau, tapi sedikit,”
“Kenapa merasa begitu? Papa Mama kamu larang kamu keluar rumah? Nggak bolehin kamu kemana-mana kalau udah pulang sekolah? Selalu marahin kamu kalau telat pulang sekolah?”
“Jawabannya nggak semua,”
“Terus kenapa?”
Boleh sih kemana-mana sepulang sekolah asal izin, dan tujuannya jelas, nggak aneh-aneh, tapi ‘kan aku pengen gitu kayak teman aku yang kalau aku liat tuh lebih bebas daripada aku,”
“Jangan ngomong gitu, Dav. Banyak lho yang pengen ada di posisi kamu, banyak anak-anak yang pengen diperhatiin luar biasa sama orangtuanya. Mama Papa kamu itu sayang sama kamu, kamu ‘kan anak perempuan, anak bungsu lagi, jadi emang mesti dijagain banget. Aku juga kayak kamu kok. Aku bersyukur malah. Mereka perhatian ke kita sebagai anak, karena mereka sayang, mereka nggak mau kita kenapa-napa. Jadi dijagain banget. Aku rasa kalau masih boleh kemana-mana selagi izin, itu termasuk wajar. ‘Kan selama kita hidup pasti ada aturan yang membatasi kita, apalagi kita sebagai anak yang masih ada orangtua,”
__ADS_1
Davina tersenyum menatap Elvina yang baru saja menasehatinya dengan kalimat bijaksananya. Tatapan dalamnya tu membuat Emvina mengernyitkan kening.
“Kenapa kamu ngeliatin aku gitu, Dav?”
“Nggak apa-apa, aku merasa kamu jadi mirip kayak Abang ya. Abang juga sering banget nasehatin aku. Nanti aku jadi adik ipar kamu, bakal nambah deh penasehat aku,”
Elvina menatap Davina dengan raut wajah tidak enak. Ia berpikir telah menyinggung hati Davina. Dengan cepat, Ia langsung mengambil tindakan yaitu meminta maaf.
“Maaf ya, Dav, kalau kamu tersinggung sama omongan aku. Aku cuma pengen kamu nggak menganggap kalau perhatian orangtua kamu itu sebuah kekangan. Aku pengen kamu bersyukur, karena banyak anak yang pengen ada di posisi kamu. Sebenarnya kamu itu nggak dikekang kok, tapi kamu dinagain dengan baik. Orangtua kamu, abang kamu pengen kamu baik-baik aja, kamu ‘kan princess nya mereka,”
“Ah bisa-bisanya kamu tau sebutan mereka untuk aku. Mereka anggap aku princess nya mereka,”
__ADS_1
“Iya pasti karena kamu anak satu-satunya perempuan, dan kamu bungsu. Kamu punya orangtua dan abang yang sayang banget sama kamu jadi mereka bakal sekuat tenaga jagain kamu, memastikan kamu aman. Kelayakan untuk kamu diusahakan, Keselamatan kamu terjamin, pergaulan kamu diperhatikan, masa depan kamu juga udah dipikirin sama mereka. Pokoknya apapun itu untuk kamu, pasti diusahakan yang terbaik deh,”