Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 62


__ADS_3

“Kenapa baru pulang jam segini? Saya telpeon nggak diangkat-angkat lagi, kamu tau nggak kalau saya khawatir? Hmm?”


Elvina baru sampai rumah pukul smebilan malam dan itu sudah malam sekali menurut Vano yang tak pernah mendapati istrinya pulang di jam seperti ini, disaat penghuni rumah tidur, Vano justru menunggu istrinya di halaman depan rumah. Ia ingin memastikan istrinya baik-baik saja secara cepat jadi kalau Elvina sudah sampai, Ia bisa langsung lihat keadaan istrinya itu.


“Aku minta maaf, Mas. Aku dmangs alah. Jadi tadi tuh—“


“Kamu memang salah. Tau ‘kan kesalahan kanu apa? Pertama, Saya minta kamu kanarin saya kalau udah mau pulang tapi ternyata kamu nggak ngelakuin itu. Yang kedua, saya hubungin kamu tapi kamu nggak ada tanggapan. Ketiga, kamu pulang jam berapa ini, Elvina? Jam sembilan menurut saya bukan waktu yang wajar untuk seorang eoremluan bersuami pulang ke rumah,”


Elvina menundukkan kepalanya semakin merasa bersalah setelah semua poin kesalahannya disebutkan oleh sang suami.


“Kamu mau bebas okay saya izinkan. Saya nggak larang kamu untuk pergi kemanapun, dan sama siapapun selagi itu nggak menyalahi aturan ya, nggak berkaitan dengan hal negatif. Tapi tolong, kamu itu istri saya, sebelum jadi istri aja hidup kamu ada aturannya ‘kan? Apalagi setelah jadi istri. Saya cuma minta kamu untuk sering-sering kasih kamar ke saya, kalau saya telepon atau kirim pesan tolong secepatnya dibalas, yang terakhir saya minta tolong pulangnya jangan terlalu sore. Lho kok ini malah udah malam baru pulang,”


“Iya aku minta maaf, Mas. Aku terlalu nyaman di rumah teman aku bahkan sampai ketiduran abis nonton drama korea, teman-teman aku juga gitu, Mas. Jadi itu sebabnya aku pulang telat banget malam ini. Aku minta maaf ya, Mas,”


“Terus kalau saya maafin kamu, kira-kira kamu bakal ulangi kesalahan kamu itu atau nggak?”


“Nggak, aku janji nggak akan ulangi kesalahan aku lagi, Mas,”


“Lamu bisa jamin nggak?”


Elvina menganggukkan kepalanya cepat. Ia bisa jamin hal itu, sekarang yang penting Vano luluh dulu, tidak kesal lagi padanya dan mereka bisa segera masuk ke dalam kamar.


“Ya udah ayo masuk,”


Elvina tersenyum senang mendnegar ucapan suaminya. Ia tidak ditegur di depan pintu rumah lagi, sekarang Ia sudah dipersilahkan masuk oleh suaminya.


“Langsung masuk kamar, bersih-bersih terus tidur,” ujar Vano dengan tegas pada istrinya itu.


“Iya, Mas,”


Mereka tiba di kamar, Vano segera mengunci pintu kamar, dan istrinya itu bergegas ke kamar mandi untuk memberishkan badannya. Vano menunggu Elvina di ata stempat tidur. Ia bekum puas menginterogasi Elvina jarena tadi Ia mebih pada menegur bukan bertanya hal apa saja yang sudah Elvina lakukan di rumah temannya. Tadi memang Elvina sempat menjelaskan bahwa dirinya ketiduran akibat menonton drama korea, tapi penjelasan itu masih kurang bagi Vano. Dan Ia akan tanyakan itu pada istrinya.


Lima belas menit Elvina di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Elvina sudah mengenakan baju tidurnya, penampilan segar Elvina membuat Vano ikut seger melihatnya ketimbang tadi, mata penat Elvina tak bisa dibohongi, sekarang menurut Vano sudah jauh lebih baik.


“Mas kok belum tidur?”


“Karena saya belum puas tanya-tanya ke kamu,”

__ADS_1


“Tanya apa, Mas?”


“Ya banyak hal. Saya mau tau kenapa kamu bisa ketiduran?”


“Ya karena aku ngantuk, Mas,”


“Kenapa nggak tjdur di rumah aja, Elvina? Kenapa harus tidur di rumah orang? Hmm?”


“Aku ‘kan tadi udah bilang, Mas. Aku sama teman-teman aku nonton drama korea, terus kami ketiduran deh,”


“Lho, jadi tv yang nonton kalian bukan kalian yang nonton tv?”


“Iya Mas benar, hehehe. Sekali lagi aku minta maaf banget sama Mas, tolong jangan marah ya,”


“Kamu nggak boleh ya seenaknya kayak gini lagi, El. Ingat kita ini hidup di dunia yang banyak aturannya, kalau kamu nggak bisa diatur yang mendingan hidup di hutan tuh, nggak ada yang ngatur kamu. Apa susahnya sih dengerin omongan saya? Kalau saya bilang pulang jangan terlalu sore ya patuhi, padahal tadi kamu bilang bentar lagi pulang tapi kenyataannya smapai malam nggak pulang-pulang, mana susah banget dihubungin,”


“Iya aku minta maaf, Mas,”


“Udah saya maafin tapi bukan berarti saya berhenti ya nasehatin kamu kayak begini,”


“Tapi aku mau tidur,”


“Tapi tetap aja Mas serem kalau udah kayak gitu,”


“Harusnya setelah masuk waktu sore kamu pualng, padahal saya udah pesenin jangan terlalu sore eh malah sampai rumah tengah malam. Kamu gimana sih?”


“Tadi tuh aku udah pengen pulang tapi teman-teman aku ngajakin aku nonton drama korea jadi aku nggak bisa nolak, Mas. Aku minta maaf ya,”


“Saya nggak mau tau ya, kamu nggak boleh lagi kayak begini,”


“Siap, Mas,”


“Teman-teman yang tadi aama kamu perempuan semua?”


“Iya perempuan semua kok, Mas. Kalau nggak percaya tanya aja sendiri ke Shela. Sekalian Mas tanya bener atau nggak aku di rumah dia ketiduran? Tapi perlu Mas tau ya, dia juga ketiduran lho tadi. Terus dia panik karena belum antar aku pulang akhirnya dia langsung buru-buru ngajakin aku pulang. Dia kayaknya takut sama Mas,”


“Ya iyalah, karena dia yang bakal kena sama saya kalau kamu sampai kenapa-napa. Makanya itu kamu jangan egois mikirin diri kamu sendiri, teman kamu itu pikirin. Kalau aja dia buru-buru antar kamu terus kalian kenapa-napa gimana? Saya yang hancur, dam teman kamu bakal keseret dalam masalah,”

__ADS_1


“Ya udah lah, Mas. Toh aku juga udah di rumah kok, jadi Mas jangan marah dong,”


“Kamu gampang banget ya ngomong kayak begitu. Saya heran deh sama kamu. Kamu nggak sadar ya kesalahan kamu cukup besar malam ini?”


“Iya aku tau, Mas, tapi ‘kan—“


“Ya udah sekarang kita akhiri aja obrolan ini karena kayaknya kamu udah nggak nyaman,”


“Ih Mas kok ngomong gitu sih? Aku minta maaf! Mas jangan marah dong,”


“Saya nggak marah lho padahal, kamu salah paham terus sama saya,”


“Kamu marah sama aku, Mas,”


“Terserah kamu kalau anggapnya saya marah ya udah itu hak kamu tapi sebenarnya saya itu nggak marah, justru karena saya sayang sama kamu, saya nggak mau kamu kenapa-napa. Bayangin deh udah jam sembilan malam kamu baru sampai rumah, sementara kamu tau sendiri ‘kan dunia makin gila tiap harinya, apalagi sebagian besar perempuan merasa kalau nggak ada lagi tempat aman untuk mereka, apa kamu nggak berpikir hal yang sama kayak mereka?”


“Nggak, aku ‘kan pasrah aja sama percipta kalau aku kenapa-napa ya udah emang udah takdir aku,”


“Jangan ngomong kayak gitu, kamu bisa cegah bahaya datang ke kamu kalau kamu berusaha salah satu usaha nya apa? Ya itu tadi, sebisa mungkin jangan pulang malam, kalau bukan karena keperluan yang benar-benar mendesak,”


“Ya udah iya-iya aku janji nggak akan ulangin kesalahan ini lagi. Mas udah belum nasehatin aku nya? Aku pengen tidur nih,”


“Ya udah tidur lah,”


“Beneran?”


“Iya tidur, Elvina,”


“Yeayy makasih ya, Mas,”


Elvina segera memejamkan matanya. Akhirnya Ia bisa lepas dari nasehat panjang lebar Vano seputar kesalahan yang sudah Ia lakukan.


Vano mengusap puncak kepala istrinya kemudian Ia merengkuh Elvina yang langsung membuat Elvina tersentak.


“Ih bilang dong kalau mau peluk, Mas, jangan tiba-tiba meluk. Aku ‘kan udah mau tidur akhirnya kaget deh hara-gara Mas,”


“Iya maaf. Udah jangan ngomong lagi deh kamu, mendingan tidur sekarang,”

__ADS_1


Elvina langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia juga sudah mengantuk sekali sebenarnya, hanya saja barusan Ia dibuat kaget oleh suaminya yang tiba-tiba memeluknya.


“Maafin aaya kalau tadi mungkin saya usah ngeliarin kata-kata yang bikin kamu sakit hsti. Maaf ya, El. Saya cuma nggak mau kamu kenapa-napa dan supaya kamu belajar dari kesalahan juga,”


__ADS_2