
Vano keluar lagi dari mobil untuk kemudian berdiri berhadapan dengan Elvina. Ia bersedekap tangan memandang Elvina dengan rahang mengetat.
"Begini gimana? Bukannya kamu yang mau aku menjauh? Hmm?"
"Aku udah minta maaf!" Teriak Elvina dengan lantang di depan wajah pria itu.
"Kamu minta maaf karena disuruh siapa lagi? Ayah kamu? Bunda? Atau—"
"Aku minta maaf karena memang aku mau minta maaf bukan karena orang lain,"
"Kamu kenapa jadi begini, El? Kamu mulai takut kehilangan aku ya?" Dengan senyum miring Vano menatap Elvina yang deru napasnya belum teratur kembali usai berteriak lantang barusan.
Kedua tangan Elvina mengepal dengan kuat. Gerahamnya saling beradu satu sama lain, Ia juga memberikan tatapan yang tajam untuk Vano.
"Kamu jangan kepedean ya, Mas!”
"Terus kenapa larang aku pergi dari rumah lagi dan kamu enggak mau pisah dari aku?"
"Bukan enggak mau, tapi bukan sekarang waktunya,"
"Kapan?"
"Aku masih berusaha belajar untuk mencintai kamu, Mas,"
"Halah omong kosong macam apa itu, Elvina? Kamu selalu ngomong kalau kamu itu mau belajar terima aku, kamu mau belajar cinta sama aku, tapi kenyataannya enggak sama sekali sampai sekarang. Aku udah kasih waktu ke kamu selama satu tahun lamanya tapi nggak ada tanda-tanda sama sekali, jadi aku harus gimana? Tunggu kamu lagi? Waktu aku banyak yang terbuang sia-sia karena kamu, El. Dan aku udah capek, dari tadi aku ngomong begitu 'kan?"
"Tunggu sebentar, Mas. Aku pun nggak mau terus menerus cinta sama orang lain yang bukan suami aku sendiri tapi aku kesulitan melakukan itu, harusnya kamu paham dong,"
"Aku selalu paham, kurang pengertian apa lagi aku ini, Elvina?"
"Aku minta waktu sama kamu,"
"Aku kasih, bahkan satu tahun kita berjalan aku selalu sabar nunggu kamu. Tapi kamu selalu terpaut sama masa lalu kamu, dan aku jenuh, El. Selain karena aku lelah, aku pun jenuh dengan semuanya,"
"Oh jadi begitu? Tapi aku yakin alasannya bukan karena lelah sama aku, kamu udah ada perempuan lain makanya pengin banget ninggalin rumah lagi dan mau cerai sama aku,"
"Tuduh aku terus sampai kamu puas. Terserah kamu, aku udah bilang tadi, kalau aku enggak akan peduli sama pemikiran buruk kamu tentang aku. Itu hak kamu, aku enggak akan larang sekalipun aku sakit hati karena kamu tuduh aku selingkuh padahal jelas-jelas enggak sama sekali. Kamu itu udah keterlaluan banget enggak menghargai aku,"
Vano kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan Elvina yang mengerang kesal. "Ken, aku udah minta maaf, kenapa sikap kamu masih begini?"
"Kamu aja enggak pernah tulus minta maaf sama aku, Elvina,"
"Sekarang aku benar-benar tulus. Aku minta maaf untuk semua salah aku. Dan aku minta kamu enggak usah pergi lagi,"
"Kenapa? Kamu takut kehilangan aku? Tadi aku tanya begitu kamu enggak jawab,"
"Enggak, karena aku belum siap aja untuk hidup sendiri,"
"Selama ini apa? Kamu kelihatan senang aja hidup tanpa aku, kamu enjoy menikmati hidup kamu. Bahkan tanya soal aku ke Amih aja enggak pernah. Padahal kamu bisa tanya soal aku ke dia karena aku pun selalu tanya tentang kamu ke dia, sejujurnya aku masih sayang banget sama kamu, aku mesti tau semua soal kamu. Tapi kamu enggak ngelakuin hal serupa, seolah kamu memang udah senang aja enggak ada aku di samping kamu. Itu tandanya kamu memang benar-benar enggak peduli sama aku, kamu enggak mau aku ada di hidup kamu lagi. Iya 'kan? Jadi tunggu apa lagi? Lebih baik wujudkan aja keinginan kamu itu,"
"Apa?"
"Kamu mau pisah 'kan?"
"Enggak mau pisah kalau sekarang!"
"Aneh! Entah apa mau kamu, enggak jelas! Dulu bukan main meronta-ronta enggak mau sama aku, pengin sendiri aja. Eh sekarang berubah pikiran rupanya. Tapi aku minta alasan yang jelas malah enggak dikasih. Ya udahlah, suka-suka kamu aja, El,"
Vano akan melajukan mobil namun Elvina berdiri tepat di depan mobil suaminya sengaja menghalangi niat Vano yang akan melaju cepat meninggalkan rumah.
Elvina memukul kap depan mobil suaminya dengan kencang dan itu cukup membuat Vano terkejut. Mobilnya aman-aman saja, yang dicemaskan oleh Vano justru tangan istrinya.
Vano dengan cepat keluar dari mobil untuk memarahi Elvina yang bertindak diluar dugaannya barusan.
"Kamu gila ya?! Hah?!"
"Aku udah minta maaf sama kamu, aku udah minta kamu jangan pergi, tapi kamu masih aja keras kepala. Kurang apa lagi? Aku udah mohon-mohon sama kamu, Mas!"
"Mohon-mohon? Kapan? Aku enggak ingat. Atau kamu yang ngarang? Dari tadi yang ada kamu itu marah, bukannya mohon-mohon ke aku, Elvina,"
"Kamu mau aku gimana, Mas?"
"Jangan ngarang deh. Mohon-mohon darimana?"
"Okay! Kamu mau aku ngelakuin itu sekarang?"
"Enggak! Enggak sama sekali, tapi aku enggak suka kamu yang selalu aja drama queen. Udah sana masuk ke rumah, aku mau pergi, jangan halangi aku lagi,"
"Aku enggak kasih izin kamu pergi,"
"Ya kenapa? Kasih tau alasannya kenapa? Siapa yang suruh kamu ngelakuin semua ini, Anatha? Apa papa kamu? Artinya kamu enggak benar-benar mau aku pulang ya?"
"Enggak ada yang suruh aku! Kenapa kamu selalu mikir begitu sih?"
"Karena biasanya begitu,"
"Aku memang tulus minta maaf sama kamu dan aku enggak mau kamu pergi,"
Vano menghembuskan napasnya kasar. Kemudian Vano pergi begitu saja meninggalkan Elvina yang kebingungan. Vano bukan pergi dengan mobilnya melainkan ke dalam rumah.
Elvina kembali menyusul lelaki itu. Kali ini Elvina menambah persediaan stok kesabarannya demi meladeni Vano yang sangat menguras emosinya.
"Sekarang aku minta kamu duduk, dan kita bicarakan lagi soal kita dengan kepala yang dingin, enggak perlu ada emosi,"
"Apa lagi yang mau dibicarakan? Semua udah jelas, aku udah minta maaf dan aku enggak mau kalau kamu pergi," Elvina mengulangi kalimat itu sejak tadi.
"Kamu mau begitu? Terus gimana dengan rencana kamu selanjutnya?"
"Ya enggak gimana-gimana, Ken. Kita hidup kayak biasanya aja,"
"Aku enggak akan kembali ke sini kalau sikap kamu masih kayak sebelumnya, yang enggak pernah menghargai aku, dan terfokus sama masa lalu kamu,"
"Iya aku akan coba berubah,"
"Cuma mau mencoba? Enggak mau diusahakan?"
"Iya, aku bakal berusaha untuk merubah semua sikap buruk aku, Mas,"
"Tadi kamu nuduh aku, Elvina. Kamu nuduh kalau aku ini punya selingkuhan. Coba kamu pikir deh, gimana perasaan aku setelah kamu ngelakuin itu ke aku,"
"Ya habisnya aku kesal sama kamu. Kenapa enggak pulang-pulang dan cuek sama aku udah beberapa hari ini? Kamu stop tanya kabar aku melalui Amih,"
"Karena aku rasa percuma. Untuk apa aku perhatian sama orang yang bahkan enggak pernah perhatian juga sama aku, aku capek lah,"
"Aku minta maaf," Elvina melunakkan suaranya. Ia tidak tahu kenapa berat sekali rasanya membiarkan Vano pergi lagi dari rumah ini. Ia memang menikmati kesendiriannya tanpa Vano. Ia merasa bisa bahagia tanpa suaminya itu. Tapi setelah Vano pulang, Ia merasa keberatan melepaskan Vano pergi lagi. Semua keras kepala, ego, dan jumawa selama Vano pergi perlahan runtuh.
"Lagian aku balik perhatian ke kamu lagi kok. Aku kirim makanan ke kamu, tapi gimana reaksi kamu? Dimakan enggak?"
"Aku makan kok,"
__ADS_1
"Karena terpaksa? Kamu udah lapar dan masakan Amih belum matang makanya kamu makan ya?"
"Kenapa kamu bisa tau? Dari Amih?"
"Aku bisa tebak aja sih, gimana jalan ceritanya sampai kamu sudi makan kiriman aku,"
Vano tersenyum sinis. Ia menepuk sekali meja makan dengan pelan setelah meluruskan kedua tangannya. Ia memandang Elvina yang menatap dalam diam ke arahnya.
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Kamu mau aku kembali lagi ke sini?"
"Ya, kalau kamu enggak keberatan,"
"Lho, kok berubah? Tadi bukan main larang aku sampai halangi mobil aku. Sekarang terserah aku? Kalau aku keberatan gimana?"
"Aku rasa kamu enggak akan keberatan. Aku tau kamu itu udah rindu sama aku, Mas,"
"Jangan terlalu percaya diri, Elvina,"
"Artinya benar kalau kamu udah punya yang baru. Iya 'kan?"
"Tuduh lagi, sampai kapan mau nuduh aku? Hmm?"
"Buktinya kamu enggak kangen sama aku 'kan?"
"Aku balik pertanyaan itu, apa kamu kangen sama aku? Enggak 'kan? Ya udah, sesekali aku punya jawaban yang sama kayak jawaban kamu,"
"Aku memang merasa ada yang beda setelah kamu pergi. Tapi aku berusaha untuk nikmati kesendirian aku selama kamu enggak ada. Gimana dengan kamu?"
"Aku pun sama, tapi bedanya, aku enggak bisa lepas dari bayang-bayang kamu. Tapi kalau kamu pasti udah lupa kalau kamu punya suami. Iya 'kan? Benar apa yang aku bilang?"
"Enggak, siapa bilang aku lupa?"
"Tapi sikap kamu itu enggak menggambarkan kalau kamu ingat sama aku,"
Melihat Vano beranjak dari meja makan usai mereka berbicara berdua, Elvina langsung menahan lengan Vano.
"Kamu masih tetap mau pergi? Kalau begitu, udah bukan aku lagi yang salah. Tapi murni kamu yang salah karena aku udah minta maaf, tapi kamu tetap marah sama aku,"
"Kalau kamu memang mau aku pulang, biarin aku untuk pergi sebentar,"
"Ngapain?"
"Suka-suka aku lah mau ngapain, memang apa urusannya sama kamu?"
Elvina terdiam telak mendengar sahutan tajam Vano yang hampir tidak pernah berujar ketus seperti itu apalagi sambil memberikan tatapan sinis.
"Tapi kamu benar-benar mau pulang 'kan? Setelah pergi sebentar, kamu pulang ke sini?"
"Hmm, kalau memang kamu maunya begitu. Tapi kalau kamu nggak mau juga aku nggak keberatan sih. Aku udah nyaman juga tinggal sendiri,"
"Aku mau kamu pulang. Kurang jelas apalagi, Mas? Itu yang mau kamu dengar 'kan?"
"Okay, tunggu sebentar. Aku mau pergi dulu,"
Vano beranjak meninggalkan rumah setelah mereka bicara dengan lebih tenang berdua di meja makan. Ia pergi keluar hanya untuk mengambil pakaiannya di hotel. Ia sudah yakin untuk kembali karena memang Elvina menginginkan itu. Ia sudah katakan, kalau Elvina ingin Ia pulang, maka Ia akan pulang. Tapi kalau Elvina tidak ingin, Ia tidak akan pulang.
Vano harap setelah ini mereka tidak ada masalah lagi dan mereka tidak terpisahkan lagi. Harapannya semakin besar tentang Elvina yang ingin belajar menerimanya bahkan mencintainya. Semoga saja Elvina bisa mewujudkan itu.
****
Vano mengambil semua pakaian yang Ia bawa ke hotel dimana Ia menginap. Ia memasukkan semuanya ke dalam koper. Sebelum pergi, Ia menatap seluruh penjuru kamar dengan tatapan dalam.
"Sekarang ini gue mau balik ke rumah, thanks untuk beberapa harinya, bukan cuma buat kamar ini tapi kamar-kamar hotel lain udah pernah gue singgahi," gumam lelaki itu. Setelahnya Vano keluar dari kamar terakhir dimana Ia bermalam. Ia menyelesaikan proses cek out setelah ia kembali menarik koper keluar menuju basement dimana mobilnya terparkir.
Vano segera membuka bagasi mobil untuk meletakkan kopernya di dalam bagasi setelah itu, Ia duduk dibalik kemudi.
Ia siap untuk pulang ke rumah kembali berkumpul bersama wanita pujaan hati yang terus menerus membuatnya kecewa tapi tidak pernah benar-benar bisa Ia benci.
****
Kedua sudut bibir Elvina tertarik ke atas melihat Vano datang. Lelaki itu masuk ke rumah dengan menarik kopernya. Jadi ternyata Vano benar-benar ingin pulang. Vano tidak bohong ketika mengatakan bahwa Ia ingin pergi sebentar tadi. Rupanya lelaki itu pergi untuk mengambil kopernya.
“Aku senang kamu pulang,”
Elvina menatap wajah Vano yang menatapnya juga tapi dengan wajah datar. Kedua alis Elvina bertaut kebingungan.
“Kenapa? Kamu enggak senang kembali ke rumah?”
“Kata siapa?”
“Ya itu buktinya muka kamu enggak ada senyum-senyumnya,”
“Aku senang tapi enggak mau terlalu senang,”
“Maksudnya?”
“Takutnya nanti disakiti lagi, aku benar-benar takut kecewa lagi sama kamu,”
Elvina mengusap pelan lengan Vano. “Aku enggak mau bikin kamu kecewa lagi,
“Ya, semoga aja omongan kamu bisa aku pegang. Sebenarnya aku itu enggak akan mau pisah dari kamu kalau memang bukan kamu yang minta aku untuk pergi dari hidup kamu dan kita benar-benar pisah. Tapi setelah aku pikir-pikir kenapa harus tunggu kamu yang nyuruh aku pergi? Kalau bisa secepat ya dipercepat aja, lagipula itu ‘kan yang kamu mau?”
“Mas, enggak. Aku mau belajar menerima kamu, Mas,”
“Masalahnya dari dulu sampai sekarang kamu selalu ngomong begitu. Kali ini coba kita lihat. Kamu benar-benar belajar atau hanya sekedar omong kosong belaka aja,”
“Sekarang simpan koper kamu,”
“Apa kita tidur terpisah?”
“Kenapa kamu ngomong begitu? Apa kamu mau tidur terpisah sama aku, Mas?”
Elvina menatap suaminya penuh rasa curiga. Kalau Vano menjawab ya, Ia semakin percaya kalau Vano sebenarnya ada selingkuhan. Tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba pria itu ingin mereka tidur terpisah. Padahal setelah beberapa hari mereka pisah ranjang, harusnya ketika tinggal satu rumah lagi, tidak ada cerita ingin pisah ranjang.
“Ya barangkali aja kamu maunya begitu. Aku ‘kan harus memastikan,”
“Enggak, aku enggak bilang kalau aku mau kita tidur pisah ranjang. Jangan bawa-bawa aku deh, kalau kamu yang sebenarnya mau tidur pisah ranjang sama aku,”
“Tuh ‘kan, ngomong yang jelek lagi ke aku, itu menghargai aku namanya?”
“Ya habisnya kamu yang aneh. Mana ada kita tidur pisah ranjang, tidur di satu tempat!”
“Woah kamu ternyata enggak mau tidur pisah tempat sama aku ya,”
Elvina memutar bola matanya halus. Ia meraih koper Ken kemudian dibawanya ke lantai atas. Ken segera melarangnya.
__ADS_1
“Biar aku aja, itu berat,”
“Aku bisa,”
“Enggak usah ngeyel kalau dikasih tau,”
Vano segera merampas kopernya sendiri dari tangan Elvina yang mau berbaik hati membawa kopernya tapi Ia tidak izinkan sebab kopernya itu berat. Selama menaiki tangga harus benar-benar dibopong, bukan ditarik supaya cepat sampai lantai atas dan koper tidak rusak.
Elvina membuka pintu kamar mereka dan mempersilakan Vano masuk. Tidak ada yang berubah dari kamar yang sudah satu minggu Ia tinggalkan. Tetap harum khas Elvina dan bersih walaupun ranjangnya agak berantakan.
“Apa kaki kamu masih sakit?”
“Hmm enggak lagi, tapi kalau lagi kelelahan suka datang sakitnya, tapi sedikit sih, enggak kayak waktu awal-awal,”
“Memang kamu kelelahan ngapain? Kamu masih kerja di rumah? Bukannya semua dipegang sama Amih?”
“Ya kalau aku kelelahan jalan intinya,”
“Makanya jangan suka jalan-jalan. Kalau disuruh dokter istirahat ya harusnya istirahat, bukannya keras kepala. Ini mah enggak, baru sembuh aja udah jalan-jalan sama teman. Mana mesra lagi kelihatannya. Aduh bukan main,” sindir Vano membahas pertemuannya dengan Elvina bersama temannya saat Ia pergi dengan Ajun dan anaknya Ajun. Ia melihat dengan jelas sosok istrinya tapi istrinya itu tak menyadari keberadaannya. Ia melihat Elvina pergi dengan dua orang perempuan dan laki-laki. Dengan yang laki-laki akrab sekali kelihatannya. Sampai Ia lihat lelaki itu mengusap kepala istrinya. Dada Vano saat itu panas sekali, tapi Ia harus sadar diri. Untuk apa Ia merasa kepanasan? Elvina saja tidak menginginkannya. Bahkan Ia sempat berpikir Elvina sudah mulai mencari penggantinya walaupun statusnya masih sebagai istrinya dan itu salah besar.
“Kamu mau apakan koper aku?”
“Aku keluarkan isinya. Apa kamu ada oleh-oleh?”
“Ya enggak ada lah. Emang kamu pikir aku baru habis liburan? Orang aku minggat kok, bukan liburan. Lagipula aku cuma ke hotel-hotel aja, jadi enggak ada ceritanya aku punya oleh-oleh untuk kamu,”
“Kamu nginap di hotel?”
“Iya, enggak cuma satu hotel. Kalau aku bosan, aku pindah hotel. Ya pokoknya sesuai hati aku aja. Aku mau menikmati kesendirian aku, jujur aku merasa jadi bujang lagi selama enggak tinggal sama kamu. Awalnya sih berat banget, tapi lama-lama jadi terbiasa. Cuma tetap aja enggak bisa—-“
Elvina yang tengah serius mendengar cerita suaminya langsung menaikkan satu alisnya karena Vano tiba-tiba menghentikan ucapannya.
“Enggak bisa apa?” Tanya Elvina yang penasaran dengan lanjutan kalimat sang suami.
“Enggak bisa lupain kamu,” dalam hati Vano menyahuti. Cuma tidak Ia lontarkan melalui mulut. Supaya Elvina tidak merasa besar kepala dan tahu bahwa selemah itu Vano tanpa Elvina sekeras apapun usaha Vano untuk lupa sejenak dengan istrinya.
“Enggak bisa apa sih? Kok enggak dilanjutin ngomongnya, Mas?”
“Enggak jadi ah, udah jangan tanya itu lagi,”
“Okay, sekarang aku keluarkan semua isi koper kamu ya,”
“Keluarkan aja, orang enggak ada apa-apa kok. Kamu mau geledah juga enggak masalah,”
Elvina membuka koper yang dibawa suaminya pergi. Begitu Ia keluarkan seluruh isinya dari dalam sana, memang hanya berisi pakaian saja.
“Ini pakaian bersih semua, Mas?”
“Iya, aku ‘kan laundry,”
“Oh, terus ini langsung aku kembalikan ke dalam lemari?”
“Aku aja, ngapain kamu ngurusin itu sih?”
“Lho, bukannya biasanya aku ngurusin baju-baju kamu?”
“Sekarang udah enggak biasa lagi bukannya?”
“Aku bersikap baik, malah dikomentari, giliran—-“
“Okay-okay, terserah kamu mau apakan baju aku itu,”
Vano mempersilakan Elvina mau melakukan apapun terhadap bajunya. Vano masih berdiri di depan pintu dan Elvina tengah membongkar isi kopernya sampai benar-benar habis.
“Kamu satu minggu pergi semua bajunya di laundry?”
“Iya, tadi aku ‘kan udah ngomong,”
“Okay, jangan ketus gitu dong sama aku, Mas,”
“Kamu aja suka ketus sama aku,”
“Jadi ceritanya mau balas dendam ya?”
“Iya lah, sesekali, supaya kamu tau rasanya diketusin itu gimana. Enggak enak, dan kamu udah sering begitu ke aku,”
Vano pulang ke rumah dengan perangainya yang sedikit berbeda. Kalau Elvina perhatikan, Vano tidak begitu manis seperti biasanya.
“Kamu kenapa masih berdiri di depan pintu? Enggak mau istirahat?”
“Aku istirahat di sini? Seriusan?”
“Iya lah, masa aku bohong sih, Ken?”
“Ya udah, kalau gitu aku mau tidur,”
Elvina mengangguk, Vano langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang sementara Elvina tengah mengembalikan baju-baju suaminya ke dalam lemari, juga mengembalikan peralatan mandinya ke dalam kamar mandi.
“Kalau lelah enggak usah dipaksain. Bisa besok aja, nanti aku yang bereskan semuanya, lagipula itu ‘kan baju aku semuanya,”
“Enggak apa-apa, aku bisa kok,”
Elvina menyudahi kegiatannya dengan baik sementara Vano sudah tertidur. Sebelum menyusul Vano yang sudah lebih dulu ke alam mimpi, Elvina turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Lebih tepatnya Ia ingin membuat minuman dingin.
“Ibu, mau buat apa?”
Amih melihat Elvina yang tengah mengambil es batu dari dalam kulkas. Maka dari itu Ia bertanya pada majikannya itu.
“Mau bikin es teh manis,”
“Untuk ibu?”
“Iya, Mas Vano lagi tidur,”
“Jadi Pak Vano udah balik ke rumah ini ya, Bu? Pak Vano enggak pergi lagi?”
“Enggak, dia udah pulang dan sekarang lagi istirahat,”
“Alhamdulillah saya senang banget dengarnya, Bu. Semoga Ibu sama Pak Vano baik-baik terus hubungannya,”
Elvina mengamini dalam hati sambil tangannya bergerak ke lemari kabinet mengambil stok teh hijau.
“Saya aja yang buatkan ya, Bu?”
“Enggak usah, aku aja, Mih,”
“Apa Pak Vano enggak diajakin malan dulu, Bu?”
“Dia enggak minta, kayaknya dia enggak lapar, kalau dia lapar nanti dia tinggal ambil sendiri,”
__ADS_1
*****