Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 32


__ADS_3

“Eh kamu kenapa sih? Kok tumben tiba-tiba meluk saya? Ada apa ini?”


Vano bingung ketika akan melajukan mobilnya, tiba-tiba Elvina memeluknya dari samping. Vano tidak mengerti kenapa istrinya mendadak bersikap seperti itu. Dan begitu Vano lihat wajahnya, ekspresi Elvina kelihatan sedih tapi haru. Sulit dijelaskan oleh Vano.


“Kamu kenapa sih?”


“Makasih ya udah bantuin aku, Mas,”


“Hah? Bantuin apa?”


“Liat deh, Mas sampai keringetan lho karena harus buru-buru beli pembalut buat aku,” ujar Elvina sambil memghapus jejak keringat yang masih ada di kening sang suami.


“Ditambah lagi tadi ada ibu-ibu yang bilang kalau perhatian Mas itu nggak tanggung-tanggung. Aku jadi merasa nggak enak udah bikin repot. Makasih ya, Mas. Dan aku minta maaf, tolong maafin aku, okay?”


“Astaga, kok kamu bisa-bisanya mikir kayak gitu sih? Saya nggak merasa direpotkan sama istri saya sendiri. ‘Kan memang tugas suami itu ya bantu istrinya kalau lagi kesulitan atau perlu bantuan. Nah tadi ‘kan kondisi kamu itu datang bulan tiba-tiba. Dan kamu nggak bawa pembalut jadi saya harus turun tangan,”


“Iya makasih banyak udah bantuin aku. Sekali lagi maaf ya,”

__ADS_1


Elvina mengeratkan pelukannya pada Vano yang langsung tersenyum. Jujur hatinya menghangat ketika mendapat pelukan yang hangat dan ucapan terimakasih sekaligus maaf yang begitu tulus keluar dari mulut Elvina.


“Iya sama-sama. Ya udah sekarang kita balik ke penginapan, kamu mau meluk saya negini terus gitu?” Tanya Vano seraya menepuk lembut tangan istrinya yang melingkari pinggangnya.


“Iya, aku nyaman sebenarnya,”


“Bilang aja kamu ngantuk, iya ‘kan?”


“Hehehe kok benar?”


“Ya sudah, tidur lah. Nanti saya bangunin kalau udah sampai,”


“Iyalah, masa saya tinggalin kamu sendirian di kendaraan, nggak mungkin. Saya punya hati, El,”


“Okay makasih, Mas,”


Selagi ke pantai kali ini menggunakan mobil, berbeda dengan yang lalu menggunakan motkr, dan sekarang Elvina kelihatannya mengantuk, kalau Elvina tidur Vano sudah punya niat untuk tidak membangunkan istrinya. Ia akan menggendong Elvina nanti dan itu kegiatan yang mudah sekaligus menyenangkan.

__ADS_1


Setelah tiba di area parkir, Vano langsung melepaskan tangan Elvina yang memeluk dirinya, lalu Ia sandarkan Elvina ke kursi mobil. Ia membka seatbeltnya, tak lupa melakukan hal yang sama pada sang istri yang sudah tertidur pulas. Setelah menikah dengan Elvina, Vano jadi tau kalau istrinya itu bisa jadi tipe orang yang cepat dan mudah sekali tertidur tapi di waktu tertentu akan menjadi tipe yang sulit untuk tidur.


Setelah terbebas dari seatbelt, Vano langsung keluar dari mobil dan membuka pintu di samping Elvina dengan hati-hati. Kemudiam Ia raih Elvina ke dalam gendong, tak lupa menutup pintu mobil dengan punggungnya.


Vano menggendong Elvina ke kamar mereka dnegan langkah hati-hati, Ia berharap Elvina tidak terbangun.


“Kalau sampai dia bangun, kasian banget. Lagi pulas gini malah kebangun karena saya gendong,” gumam Vano sambil menatap wajah istrinya sebentar dan kemudian fokus berjalan lagi.


Tiba di depan kamar mereka, Vano membodohi dirinya sendiri yang lupa belum mengeluarkan kunci dari saku celana. Sulit sekali untuk menggapai apapun ketika sedang menggendong orang seperti ini, apalagi merigoh saku. Ketika Ia sedang berpikir, tiba-tiba Elvina mengerjapkan kedua matanya dan perlahan mata indah yang langsung membuat Vano tertarik ketika pertama melihatnya itu akhirnya terbuka. Elvina kebingungan ketika Ia digendong oleh suaminya.


“Lho, kamu kok gendong aku, Mas? Turunin sekarang, ih kenapa kamu gendong? Aku ‘kan berat tau,”


“Maaf ya kamu jadi bangun,”


“Bukan salah Mas. Udah buruan turunin aku. Mas pasti keberatan deh gendong aku,”


“Nggak kok, saya senang malah. Cuma sayangnya, saya lupa ambil kunci pintu, jadi nggak bisa anterin kamu sampai ke kasur deh,”

__ADS_1


ujar Vano seraya menurunkan istrinya yang langsung minta diturunkan begitu tau kalau suaminya itu membopongnya.


__ADS_2