
“Kamu kenapa jadi lancar gitu ya komunikasi sama Rendra nya? Hmm? Katanya bukan siapa-siapa lagi, kok ini saya liat udah akrab di chat,”
“Ya ngobrol cuma sebatas itu aja, Mas, kamu jangan salah paham. Kamu bisa liat sendiri ‘kan nggak ada yang aneh dari obrolan aku sama dia,” ujar Elvina dengan santai setelah kedapatan oleh suaminya sudah lancar komunikasi dengan Rendra melalui chat. Yang biasanya Ia cuma mengamati Rendra dari postingan-postingannya di instagram, atau Ia mengamati foto atau video kenangan yang masih Ia simpan di galeri, belakangan ini Vano lihat Elvina akrab di whatsapp dengab Rendra.
“Sejak kapan kamu bertukar nomor lagi sama dia bukannya kata kamu, udah kamu hapus ya nomor dia?” Tanya Vano dengan rasa penasaran dan cemburu yang semakin tinggi.
Tidak ada laki-laki di dunia ini yang tidak cemburu mengetahui istrinya masih berkomunikasi dengan mantan kekaishnya. Di belahan dunia manapun pasti ada rasa cemburu ketika mengetahui itu walaupun cuma setitik rasa cemburu.
“Ya udah aku minta maaf, Mas,”
__ADS_1
“Saya tanya kapan bertukar nomor sama Rendra?”
“Hmm—-baru, kamu liat aja sendiri kapan dia chat aku duluan. Nah di hati itu lah aku bertukar nomors ama dia, dia dm aku di instagram, Mas,” jelas Elvina seraya menatap suaminya yang baru meluapkan kecemburuannya. Ya, menurut Elvina, saat ini Vano sedang cemburu karena Ia akrab lagi di chat dengan mantan kekasihnya.
“Aduh, Mas. Jangan cemburu gitu dong, aku sama Rendra itu ‘kan udah bukan siapa-siapa lagi, kami sekarang cuma berteman jadi Mas nggak perlu khawatir,” ujar Elvina dengan wajah santainya dan itu terlihat menyebalkan di mata Vano.
Elvina menggampangkan perasaannya, Elvina tidak peduli kalau saat ini Ia berusaha untuk lagi dan lagi menekan rasa cemburunya. Entah sampai kapan Ia seperti bersaing dengan mantan kekasihnya Elvina, haruskah bersaing terus menerus? Ia lelah, sungguh.
“El, kamu kenapa sih nggak bisa banget jaga perasaan saya? Karena mentang-mentang saya nggak pernah protes ya? Oh bukan nggak pernah, maksudnya jarang. Jadi kamu merasa seenak hati ya? Kamu tau ‘kan kalau saya ini suami kamu, harusnya kamu lebih bisa dong jaga perasaan saya kok ini—“
__ADS_1
“Mas, dia itu cuma nanya keadaan aku aja karena dia tau aku sempat nggak enak badan, udah gitu doang, kami nggak ada bahas yang lain, kamu kenapa sih jadi kesal kayak gini?”
“Ya kamu pikir aja dulu, gimana saya nggak kesal, nggak cemburu, kalau kamu tuh masih berhubungan baik sama mantan yang jelas-jelas sebelum kamu lupain. Kamu paham nggak sih perasaan saya? Hmm? Ada ketakutan dalam diri saya kamu sama dia lagi, El,”
Elvina membuang napas kasar setelah itu berdiri menatap suaminya yang saat ini berdiri sementara Ia di atas ranjang.
“Mas, jangan ribet deh. Aku sama Rendra itu nggak ada hubungan apa-apa lagi! Ya walaupun aku maish simpan perasana buat dia tapi ‘kan itu harusnya nggak kamu pikirin lah, kamu liat aja sendiri tuh isi chat aku sama dia, nggak ada ngobrolin apa-apa, Mas. Kamu jangan salah paham,”
“Apapun isi chat kalian, disaat kamu tetap aja berhubungan sama dia itu udah salah, Elvina! Paham nggak sih? Poin pentingnya di situ. Orang yang udah jelas-jelas move on dari mantan aja masih bisa bikin pasangannya cemburu kalau masih komunikasi lancar, apalagi ini, jelas-jelas aku tau kalau kamu belum bisa move on, jadi wajar lah kalau ada ketakutan dalam diri saya bakal kehilangan kamu, atau kamu bakal balik lagi sama dia,”
__ADS_1
“Ya udah berarti kita nggak jodoh, kayak gitu nggak usah diambil pusing,” jawab Elvina dengan santai setelah itu Elvina bergegas pergi, alias keluar dari kamar meninggalkan Vano yang geleng-geleng kepala tak habis pikir karena Elvina yang terlalu santai menanggapi rasa cemburunya, Elvina masih belum bisa menghargai perasaannya.