Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 135


__ADS_3

“Iya makan ‘kan? Ini udah aku kasih makan, El, kurang apalagi?”


“Aku nggak mau makan apapun di sini, aku maunya makan masakan mama,”


“Tapi mama sekarang lagi nggak ada di sini, jadi sementara makan ini dulu ya, Sayangku,”


“Ya ampun, kamu nggak ngerti banget sih. Aku mau pulang!”


“Nanti aja pulangnya. Lebih baik sekarang kita makan dulu ya? Kamu mau aku suapin?”


“Biarin aja aku kelaparan, intinya aku nggak mau makan,”


Vano menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menatap Elvina dengan jengah. Kalau Elvina tidak makan nanti sakit yang dibuat kepikiran dia lagi.


Ia harus berhasil membujuk Elvina makan, dan untuk sejenak mengurangi keras kepala nya. Ia mendekatkan sendok ke depan bibir istrinya itu yang langsung menggelengkan kepalanya dengan memasang wajah yang datar.


Ia sudah berulang kali menolak tapi Vano tidak juga paham. Itu namanya memaksa dan Ia tidak suka ketika dipaksa.


“Kamu bisa sakit kalau nggak makan, El. Perut kamu itu udah kosong, tolong jangan bantah aku kali ini deh, aku juga punya batas kesabaran lho. Aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, nggak mau kamu sakit,”


“Tapi aku nggak mau makan,”


“Ya kenapa? Kamu mau sakit? Hmm?”


Vano masih mempertahankan sendok di depan bibir Elvina yang kini memalingkan mukanya setelah mendorong pelan tangan Vano. Masih lebih baik Ia dorong pelan, kalau Ia sudah dirasuki dengan emosi yang menggebu-gebu, sudah Ia lempar piring di tangan Vano sekarang tepat di depan wajahnya.


“Lebih baik aku sakit aja, Elvina. Aku nyakitin diri aku sendiri nggak apa-apa, tapi kalau kamu yang nyakitin aku, nggak boleh! Udah terlalu seirng juga sebenarnya,”


“Sayang, jangan ngomong begitu dong, memang aku nyakitin kamu ya?”


Elvina menyuruh Vano berhenti membujuknya untuk makan. Sekalipun perutnya ribut minta diisi


Tapi Elvina tidak bersedia makan nasi goreng atau apapun yang Vano berikan.


“Masih nanya? Ih nggak ada otaknya,”


“Tapi aku ‘kan—“


“Udah diam deh! Jangan ngomong terus!”


Elvina beranjak menjauh dari Vano, Ia meraih ponselnya dan menghubungi mamanya, apa yang Ia lakukan itu tidak luput dari pengamatan Vano.


“Aku mau minta jemput sama ayah bunda aku,”

__ADS_1


Vano segera meraih ponsel Elvina tanpa basa-basi. Elvina tidak sempat menjaga ponselnya.


“Mas, balikin handphone aku!”


“Nggak boleh, bilang cinta dulu sama aku,”


“Aku ‘kan udah bilang, kamu itu jangan banyak nuntut! Nggak pantes kamu banyak nuntut tau nggak sih?”


“Aku ‘kan pengen dengar kamu ngomong cinta sama aku, coba dong bilang lagi, aku mau dengar, Sayang,” ujar Vano menatap istrinya dengan tatapan yang menyebalkan, menggigit bibir bawahnya dan mengedipkan satu matanya.


Elvina akan menampar Vano lagi tapi Vano dengan cepat menahannya. Ya ampun, sudah mau tiga kali dia ditampar oleh istrinya. Beruntung kali ini Ia bisa memastikan mukanya baik-baik saja.


“Nanti muka ganteng aku merah-merah karena kamu tampar,”


“Biar sekalian buruk rupa kamu! Muka itu yang digunain buat cari selingkuhan ‘kan? Sok kegantengan, dia itu paling cuma mau harta kamu aja,”


Vano tertawa mendengar celotehan Elvina yang seperti ibu-ibu tengah mengomeli anaknya. Entah tahu darimana dia kalau Delila hanya mengincar hartanya saja.


“Kamu curiga banget kayaknya ya,”


“Iyalah, emang kenyataannya begitu. Dia ngincer harta kamu, atau, dia memang nggak punya malu, dan nggak ada harga diri, masa mau-maunya sama suami orang. Kalau aku jadi dia ih amit-amit deh, kayak nggak ada laki-laki yang lain aja,”


“Kembaliin handphone aku sekarang, Mas!”


“Memang aku itu terbuka orangnya, lagian mereka ‘kan udah tau. Nah biar papa percaya sama aku, nggak percaya lagi sama kamu yang jelas-jelas salah. Papa bela orang yang salah,”


“Nggak lah, aku nggak salah,”


Vano mendekati Elvina dengan piring di tangannya. Ia belum bisa makan kalau Elvina sendiri belum makan. Istrinya itu sudah cukup lapar sampai perutnya berbunyi tapi dia tetap saja keras kepala. Entah mau sampai kapan menahan rasa lapar.


“Aku nggak mau, Mas. Tolong, jangan paksa aku dong!”


“Harus dipaksa supaya kamu makan. Kamu nggak kasian sama perut kamu yang udah minta jatah?”


“Aku bisa makan di rumah mama papa aku makanya pulangin aku sekarang, aku udah mau pisah sama kamu, Mas. Benar-benar mau pisah. Karena menurut aku selingkuh itu kesalahan yang susah banget untuk aku maafin,”


“Nggak, kamu udah cinta sama aku masa mau pisah?”


“Gampang, nanti juga bisa berhenti cinta sama kamu. Aku tinggal cari pengganti kamu,”


Vano meradang mendengar ucapan istrinya itu. Elvina akan mencari penggantinya? Tidak akan Ia biarkan. Ia begitu mencintai perempuan itu. Ia tidak mau mereka berpisah apalagi sampai Elvina mencari laki-laki yang lain. Ia tidak akan siap menerima kenyataan itu.


“Tolong kamu jangan bahas perpisahan lagi. Kamu itu cuma salah paham aja, El. Aku udah berusaha jelasin sejujur-jujurnya sama kamu tapi kamu tetap keras kepala nggak mau percaya sama aku,”

__ADS_1


“Aku nggak sudi lagi sama kamu,”


“Ya apa alasannya?”


“Karena kamu udah sama perempuan lain, aku nggak maulah diinjak-injak terus. Kamu selingkuh sama aja injak harga diri aku. Padahal kalau memang kamu mau pisah dari aku, caranya nggak begitu,”


“Siapa yang mau pisah, itu ‘kan cuma pikiran kamu aja. Sekarang makan dulu biar aku tenang,”


Hal tidak terduga tiba-tiba saja terjadi. Elvina mendorong piring yang ada di tangan Vano sekaligus sendoknya juga hingga seluruh isi dari piring tumpah ruah di lantai. Nasi goreng lezat buatan chef hotel berserakan di lantai bercampur dengan pecahan piring.


“Astaga, mancing banget kamu ya,”


Vano menggertakkan giginya emosi. Rahang lelaki itu mengetat sempurna dan tatapan tajam menyalang Ia layangkan pada istrinya.


“KAMU JANGAN PAKSA AKU! AKU BILANG NGGAK MAU YA NGGAK MAU!” Bentak Elvina tidak takut sama sekali suaminya semakin marah.


“Aku paling nggak suka lagi marah terus malah dipaksa-paksa,”


“YA TERUS MAU KAMU APA?! HAH?!” Vano kelepasan mengeluarkan suara tingginya pada sang istri. Ia sudah cukup sabar sebenarnya. Tapi kali ini Elvina memang keterlaluan.


“Aku mau pulang! Kamu budek atau apa sih? Udah berulang kali aku minta itu dari tadi tapi kamu nggak juga biarin aku pulang. Okay kalau kamu nggak mau nganter nggak masalah yang penting buka pintu kamar ini sekarang,”


“Bukan budek, ada permintaan lain nggak?”


“Nggak ada, aku cuma mau ke rumah orangtua aku, cuma itu aja kok. Emang sesusah itu nurutinnya? Hah?”


Vano menganggukkan kepalanya jujur. Memang susah sekali untuk memenuhi permintaan Elvina yang satu itu. Ia tidak bisa dan tidak bersedia juga untuk membiarkan Elvina ke rumah orangtuanya dan juga berpisah darinya.


“Makan dulu, El, biar kuat berantem sama aku nya,”


“Nggak usah! Aku nggak makan tiga hari juga kuat,”


“Tapi aku nggak akan biarin kamu nggak makan tiga hari,”


“Kenapa? Nggak perlu perhatian sama aku. Aku mati harusnya kamu senang. Kalau aku mati karena nggak makan, kamu bisa kawin lagi,”


“Makin ngelantur omongan kamu, Sayang. Ya udah aku makan sendiri aja ya? Yakin nggak mau makan nih?”


Elvina hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Vano bimbang, Ia harus makan sendiri saja? Istrinya Ia biarkan kelaparan? Tega sekali kalau dipikir-pikir, tapi memang itu yang Elvina inginkan.


“Aku beresin ini dulu deh, piring hotel pecah sama kamu. Ganti ya,”


“Aku ganti, abis itu pergi,”

__ADS_1


__ADS_2