
Vano pura-pura mengalihkan perhatiannya ke arah lain, tapi sudah terlanjur ketahuan oleh Elvina bahwa Ia sedang mencari tahu apa yang sedang Elvina perhatikan di ponselnya.
“Kamu ngintip, Mas?”
“Apa? Tidak,”
“Yang benar? Aku liat kok mata kamu ngeliatin handphone aku tadi,”
“Ya terus kalaupun saya ngeliatin handphone kamu kenapa? Ada larangannya suami nggak bomeh ngeliat handphone istri? Kalau ada larangannya dan saya belum tau, alias kurang update soal itu, saya minta maaf,” ujar Vano seraya menekan kata update berharap Elvina paham kalau sebenarnya Vano itu tahu, Elvina update sekali soal mantan kekasihnya.
“Aku lagi liat story instagram—“
“Saya tau, nggak perlu kamu jelasin saya juga udah tau kok, El. Nggak apa-apa, santai aja,” jawab Vano seraya tersenyum menatap Elvina. Senyum yang menutupi luka.
Baru juga beberapa hari menjadi suami istri, tapi Vano sudah terlalu sering dibuat sakit hati oleh Elvina yang tak ada habisnya mencari tahu soal mantan kekasih. Lagi-lagi medianya dari ponsel. Nampaknya akan begitu terus. Ponsel Elvina lah yang akan menjadi media untuk Vano merasakan kecewa atau sakit hati.
“Aku minta maaf ya, Mas. Tapi kamu tau ‘kan kalau aku masih—“
“Iya-iya, saya tau kok, El. Saya paham banget gimana perasana kamu. Saya nggak akan melarang. Saya hanya berdoa, supaya suatu saat nanti kamu bisa balas perasaan saya ya,” ujar Vano seraya mengusap rahang istrinya dengan lembut dan itu membuat Elvina merasa bersalah. Ketulusan Vano bisa Elvina lihat dari mata dan perluan Vano terhadapnya. Elvina tahu Vano sangat kecewa dengan perbuatannya tapi Vano tidak menunjukkan amarah atau bahkan sedikit rasa kesalnya. Itu karena Vano pengertian sekali. Vano sudah tahu sejak awal bahwa Elvina masih terjebak dalam bayangan masa lalunya.
__ADS_1
“Ya udah kita balik ke penginapan yuk. Saya mau istirahat, saya capek, dan saya yakin kamu juga capek ‘kan?”
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia menerima uluran tangan Vano ketika hendak beranjak berdiri sambil Ia memberikan senyumnya untuk Vano.
“Mas, aku kok rasanya nggak nyaman ya,”
“Maksud kamu?”
Saat akan memasuki mobil, tiba-tiba Elvina merasa tidak nyaman di area bawahnya.
Oleh sebab itu Ia jujur pada Vano. Ia harus ke kamar mandi sekarang untuk memastikan secara langsung.
“Aku kayaknya datang bulan, Mas,”
“Aku lupa, ada di koper nggak aku bawa ke sling bag yang aku bawa sekarang,”
Vano mengulum bibirnya sebentar. Ia sedang kebingungan sekarang. Sebelumnya Ia tidak pernah menangani perempuan yang datang bulan. Ini untuk pertama kalinya.
“Hmm gimana ya? Saya bingung,”
__ADS_1
“Aku ke kamar mandi deh, Mas,”
“Ya udah okay-okay, saya belikan pembalut ya,”
“Nah iya, aku ke kamar mandi sekarang, Mas tolong beli pembalut ya. Makasih, Mas,”
“Saya antar ke kamar mandi,”
“Eh nggak usah, udah aku aja,”
Alih-alih mendengarkan larangan Elvina, Vano justru tetap menggenggam tangan Elvina dan mengajak Elvina untuk segera ke kamar mandi restoran yang mereka kunjungi saat ini.
Setelah tiba di kamar mandi, Vano langsung bergegas buru-buru meninggalkan Elvina dengan tujuan membeli pembalut.
Elvina menepuk keningnya pelan perkara Ia lupa membawa pembalut, akhirnya jadi merepotkan suaminya sendiri.
“Duh, maaf banget ya, Mas. Jadi bikin Mas harus buru-buru gitu deh,” batin Elvina yang saat ini sedang menunggu antrean masuk ke dalam bilik kamar mandi yang jumlahnya hanya dua saja.
“Mba, suaminya kenapa? Kok buru-buru gitu keliatannya?” Tanya seorang wanita yang saat ini sedang bercermin dan posisinya dekat dengan Elvina.
__ADS_1
“Mau beli pembalut,”
“Wah perhatiannya nggak tanggung-tanggung ya,”