Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 109


__ADS_3

“Mas, kamu berangkat kerja gimana? Enggak bawa baju kerja ke sini ya?”


“Iya, nanti ganti baju di rumah aja, Ma,”


“Oh begitu, untung aja baju tidur kalian selalu ada di lemarinya Elvina,”


“Sekarang sarapan aja dulu,”


“Iya, Yah,”


Vano yang sudah mandi dan shalat subuh berjamaah di masjid dengan ayah mertuanya langsung menyantap roti bakar yang sudah disiapkan Dini.


“Aku minta tolong ambil susu aku, El,”


Elvina bergeming, membiarkan gelas susu untuk Vano berada di dekat tangannya, Ia tidak mau mendengar permintaan tolong Vano. Sikapnya itu membuat Arman menggelengkan kepalanya.


“El, itu suami kamu minta tolong, nggak dengar ya?”


Elvina bisa apa kalau ayahnya sudah menegur. Ia langsung meletakkan gelas milik Vano ke hadapan lelaki itu. Vano segera meneguk isinya karena memang roti sudah tersangkut di kerongkongan, tapi istrinya malah diam saja tadi padahal Ia butuh sekali yang namanya minum.


“Elvina ini benar-benar ya kelakuannya. Kenapa lagi sih?”

__ADS_1


“Udah-udah, di meja makan jangan ngobrolin itu dulu. Kata orangtua papa kalau di depan makanan nggak boleh ribut, enggak boleh cemberut biar rezeki enggak sungkan mau datang,” ujar Arman ketika istrinya menuntut penjelasan alasan Elvina bersikap cuek seperti tadi pada suaminya yang jelas-jelas sudah meminta tolong.


Vano menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak tahu mengapa Elvina bersikap seperti itu padanya padahal Ia tidak merasa punya salah apapun.


“Kenapa lagi sama kamu, El? Aku bikin salah apa? Sampe segitunya kamu sama aku ya, bahkan di depan orangtua kamu sendiri. Enggak paham deh aku,” gumam Vano seraya menatap istrinya dalam diam sambil mengunyah. Elvina pun tak sengaja beradu pandang dengannya. Tapi dengan cepat perempuan itu memalingkan pandangan.


****


“Aku langsung berangkat kerja ya, udah siang banget ini,”


“Katanya ‘kan emang mau berangkat siang, ya udah enggak aku bangunin,”


“Kamu enggak mau cium tangan aku nih?”


Elvina meraih punggung tangan Vano untuk Ia kecup singkat setelah itu Ken langsung pergi. Ia membalas singkat lambaian tangan Vano yang sudah di dalam mobil.


Elvina langsung bergegas ke kamar dan mengganti pakaiannya. Ia menjinjing handbag nya dan langsung ditanya oleh Amih yang penasaran Ia ingin pergi kemana sebab penampilannya rapi dan menawan sekali.


“Aku mau keluar sebentar, Mih,”


“Oh iya, hati-hati ya, Bu,”

__ADS_1


“Iya aku pergi dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, Bu,”


Amih menatap punggung Elvina yang bergegas buru-buru sekali. Tadi juga ditanya ingin pergi kemana, Elvina tidak menjawab tujuannya.


Karena Elvina ingin hanya Ia saja yang tahu bahwa tujuannya sekarang ini adalah mengikuti jejak Vano yang katanya mau langsung ke kantor padahal sebelum Ken berangkat, Ia sempat baca pesan dari orang yang sama dengan orang yang menelpon Vano dini hari tadi.


Orang itu mengajak Vano untuk bertemu sekarang ini. Dan Ia yakin Vano tidak langsung ke kantor seperti apa katanya tadi, melainkan singgah dulu ke suatu tempat untuk bertemu dengan perempuan bernama Dalila yang sampai sekarang membuatnya bertanya-tanya.


Ia tidak terima ketika Vano tidak menyukai bila dirinya pergi dengan yang lain sementara Vano merasa bebas sekali dengan yang lain.


Elvina hampir kehilangan jejak mobil Vano. Padahal Ia tidak benar-benar ganti baju tadi, hanya melapisinya dengan baju yang layak dibawa keluar rumah, bukan stelan santai yang Ia pakai sebelumnya tapi ternyata masih saja membutuhkan waktu lama. Beruntung Ia berhasil menemukan mobil Vano lumayan jauh di depan sana. Matanya masih cukup jeli ternyata.


Elvina perlu kesabaran untuk mengejar mobil Vano atau paling tidak bisa memata-matai dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Setelah berhasil menempatkan mobilnya setelah dua mobil persis di belakang Vano, Elvina mampu menghela napas lega.


“Aku penasaran kamu mau kemana Mas. Aku yakin kamu bohongi aku. Bilangnya mau ke kantor padahal ketemu sama perempuan lain,”


Sejak dimana Ia menemukan aroma parfum perempuan lain dari badan Vano, entah mengapa pikiran Elvina pada Vano selalu saja negatif padahal sudah jelas Vano meyakinkan dirinya bahwa Ia tidak akan macam-macam di belakangnya. Tapi soal hati siapa yang tahu? Ken yang begitu mencintainya bukan tidak mungkin main-main di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2