Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 90


__ADS_3

Setelah Elvina lulus kuliah, Elvina langsung diboyong oleh suaminya untuk tinggal di tempat tinggal mereka yang sudah lama dipersiapkan oleh Vano.


“Kamu nanti makan siang ke ruangan saya ya. Kita makan siang di luar. Tapi daripada saya datang ke rumah, lebih baik kamu datang aja ke kantor supaya lebih menghemat waktu,"


"Lihat nanti deh,"


Vano merengut karena jawaban singkat istrinya. Apakah tidak bisa menjawab 'ya' dengan pasti? Ia hanya mengajak Elvina untuk makan siang bersama.


"Kamu enggak mau ke kantor saya? Nggak udah malu sama dosen lain lah. Orang cuma datang ke ruangan saya untuk kita sama-sama pergi makan bareng. Kamu sibuk memangnya?"


"Ya enggak sih. Cuma malas aja ke ruangan kamu,"


"Lah kok gitu, El? Datang lah. Masa malas ke ruangan suami sendiri?"


"Makan siang aja sendiri-sendiri,"


"Ya ampun kenapa sih memangnya? Enggak mau banget makan siang sama suaminya,"


Vano selesai sarapan bangkit dari duduknya untuk ke kamar mengambil ponsel.


Ia meninggalkan Elvina yang sendirian di ruang makan sementara Ia bergegas ke kamar untuk mengambil ponsel sebelum berangkat bekerja.


Ia cari di nakas karena seingatnya Ia letakkan di sana namun Ia tidak berhasil menemukannya. Lalu Vano mencari di bawah bantal.


"Lah kemana ini handphone saya ya?"


"Kok enggak ada sih,"


Vano mengobrak abrik ranjang yang sudah rapi karena Elvina. Ia berdecak karena belum menemukannya juga.


Vano merunduk untuk melihat ke kolong tempat tidur. Barangkali jatuh di sana tapi ternyata tidak ada juga.


"Ih dimana sih?! Kok enggak ada. Ya ampun deh mana udah kesiangan,"


Vano membuka satu persatu laci nakas sebelah ranjang. Ya walaupun memang rasanya mustahil bisa ketemu sebab Ia tidak pernah menyimpan ponsel di dalam laci-laci.


"El,"


Vano memanggil Elvina dengan suara kerasnya. Elvina mendengar samar-samar tapi malas untuk menghampiri suaminya sebab Ia sedang sarapan.


"El, handphone aku dimana?"


Elvina tidak menghampiri bahkan untuk menyahuti pun enggan. Vano berdecak kesal karena tidak mendapat jawaban. Vano membanting badannya di atas ranjang.


"Kemana handphone saya? Ya ampun! Saya simpan dimana sih?"


Vano belum membuka laci meja rias istrinya. Ia buka laci nomor tiga tapi bukan ponsel yang Ia temukan. Ada benda yang justru mengalihkan fokusnya yaitu obat.


"Ini untuk pencegah kehamilan 'kan ya? Saya pernah lihat ibu-ibu beli ini waktu ke apotek," gumam Vano menatap pil kontrasepsi yang sudah jelas milik Elvina yang katanya sudah siap mengandung tapi ternyata menyimpan pil pencegah kehamilan. Siapa lagi yang ada di kamar ini kalau bukan Elvina dan dirinya sendiri? Tapi Ia tidak pernah mengonsumsi obat semacam ini. Dan di dalam laci itu isinya adalah semua barang Elvina.


"Ya Allah, jadi Elvina pakai ini,"


Sesak sekali rasanya ketika mengetahui Elvina yang ternyata mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Padahal selama ini Vano sudah menantikan buah hati mereka. Elvina sudah lulus kuliah jadi ingin sekali punya keturunan. Akhirnya Ia tidak perlu menahan keinginan itu lagi. Tapi ternyata diam-diam Elvina mengonsumsi pil pencegah kehamilan.


"Kenapa Elvina enggak punya kesepakatan dulu sebelumnya sama gue?"


Vano menggertakkan giginya kesal hingga saling beradu satu sama lain. Vano membuka pintu kamar dengan kasar lalu menuruni anak tangga dengan cepat.


"Elvina!"


"Apa sih? Kenapa lagi? Kamu panggil-panggil, aku sengaja enggak jawab karena kalau kamu ada perlu tinggal datang ke aku. Enggak usah teriak. Lagipula aku masih sarapan,"


Vano meletakkan pil pencegah kehamilan di atas meja dengan kasar dan detik itu juga Elvina pucat pasi.


"Mas, kamu dapat---"


"Apa? Jadi ternyata kamu pakai itu dan kamu enggak bilang sebelumnya sama aku?! Kalau memang kamu belum mau punya anak, kamu tinggal bilang sama aku. Kenapa sih, Elvina? Kamu selalu aja bisa bikin aku terluka. Kamu keterlaluan. Masalah anak ini urusan kita berdua. Tapi apa yang kamu lakukan? Hah? Kamu pakai ini tanpa sepengetahuan aku. Padahal kamu tahu sendiri kalau aku udah berharap banget,"


Vano melampiaskan semua isi hatinya tanpa jeda. Elvina sudah sangat keterlaluan. Vano sampai tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang seenak hati mengambil keputusan untuk menunda kehadiran momongan tanpa Ia tahu sebelumnya.


"Kalau memang belum siap, kamu tinggal bilang sama aku, Sayang," suara Vano mulai merendah dan raut wajahnya benar-benar menggambarkan bagaimana Ia sakit dibuat Elvina.


"Aku enggak akan paksa. Yang enggak aku suka adalah cara kamu, Elvina. Kamu enggak ngomong apapun sama aku. Padahal aku suami kamu,"


Elvina menelan salivanya kelat melihat betapa kecewanya vano terhadapnya. Ia kembali membuat lelaki itu terluka untuk yang ke sekian kalinya.


Vano tidak akan memaksa bila memang Elvina mengatakan belum siap untuk mengandung. Ken akan menunggu sampai istrinya merasa siap. Apa sulitnya untuk berbicara? Mereka memiliki komunikasi yang baik. Setiap hari bertemu. Tinggal katakan bahwa Ia belum ingin memiliki keturunan.


As, aku minta maaf. Aku memang belum mau kalau dalam waktu dekat. Aku---"


"Iya, aku paham. Tapi kenapa enggak bicara dari awal? Kamu tahu 'kan, aku udah berharap sekali, Elvina? Selama ini kamu menertawakan aku pasti ya? Karena aku berharap hal yang mustahil,"


"Mas, aku minta maaf. Aku takut kamu kecewa, makanya aku enggak bilang kalau aku nunda,"


"Aku lebih kecewa kalau kamu begini, Elvina. Seharusnya kamu bicarakan dari awal jadi aku enggak kaget. Selama ini kamu tahu sendiri kalau aku udah sangat-sangat berharap. Ternyata diam-diam kamu mengambil keputusan untuk menunda punya anak. Aku kecewa sama kamu. Sangat kecewa karena kamu sama aja enggak menghargai aku sebagai suami kamu. Padahal aku berhak tahu tentang apapun keputusan yang kamu ambil dalam pernikahan kita,"


Elvina menunduk menatap jemari tangannya yang saling bertaut untuk menguatkan dirinya sendiri yang merasa sangat dibenci. Ia tahu  membuat Vano kecewa. Tadi Vano sudah mengungkapkannya dan Ia sangat merasa bersalah.


Vano meninggalkan ruang makan dan bergegas untuk pergi bekerja. Elvina menangis tergugu di meja makan.


"Vano marah banget sama gue. Jelas aja, karena gue enggak jujur sama dia. Dan dia udah terlanjur berharap banget,"


****

__ADS_1


Sejak pertengkaran, Vano memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia membiarkan Elvina di rumah hanya dengan asisten rumah tangga mereka saja.


Elvina menghubunginya tapi Vank selalu menghiraukan. Pesan maupun telepon, sengaja dibiarkan begitu saja oleh Vano yang masih belum pulih lukanya.


"Bu, melamun aja. Enggak sarapan, Bu?"


Elvina mengangguk dan segera menatap mangkuk berisi sereal yang sudah Ia buat barusan. Hari ini adalah hari kedua Vano tidak ada di rumah. Tapi Anatha tetap memasak, dengan harapan Vano pulang mau menikmati masakanannya dan mereka bisa bicara berdua. Kali ini Ia tidak bisa berkutik karena memang Ia yang melakukan kesalahan.


Elvina menyantap sarapannya dengan pelan sembari menatap ponsel sesekali. Rasa bersalah membuatnya kelihatan beda dari Elvina yang biasanya cuek pada Vano.


"Bu, bapak pulang," bisikan dari Amih membuat Elvina langsung menoleh pada arah yang ditunjuk Amih. Elvina segera menyusul suamimya yang menaiki anak tangga menuju kamar.


Vano pulang dengan tujuan mengambil pakaian. Bukan untuk kembali ke rumah ini. Tidak, Ia tidak pindah atau angkat kaki selamnaya dari rumah ini. Ia hanya perlu waktu sejenak untuk menjauh dari sumber lukanya selama ini.


"Mas, kamu pulang? Aku senang banget. Kamu udah sarapan?"


Vano membuka pintu kamar dan mempertahankan keterdiamannya. Ia tidak peduli pada Elvina yang berusaha menyapanya dan bersikap seolah semua baik-baik saja.


"Mas, kamu mau apa?"


Elvina tentu tahu bahwa Vano akan pergi setelah melihat Vano mengeluarkan beberapa pakaiannya kemudian dimasukkannya ke dalam koper.


"Mas, kamu mau pergi kemana? Kita bicara berdua dulu ya? Aku mohon jangan pergi. Aku tahu kalau aku salah. Aku minta maaf, Mas. Jangan pergi, kita bicarakan berdua dengan baik-baik,"


Vano tetap sibuk memindahkan beberapa baju dan juga keperluannya yang lain. Kemarin Ia sudah membeli baju dan karena masih kurang, Ia putuskan untuk ke rumah. Bukan hanya karena ingin mengambil pakaian. Tujuan utamanya adalah memastikan Elvina baik-baik saja di rumah ini. Ya, Vano masih memiliki rasa sayang yang begitu besar untuk Elvina sekalipun Ia dibuat sakit hati terus menerus.


Bahkan saat memijakkan kakinya pertama kali di rumah dan melihat Elvina yang dalam kondisi baik, Vano ingin sekali memeluknya untuk meluapkan rasa rindu dan juga meminta maaf karena telah meninggalkan Elvina tanpa kabar. Tapi rasa marah masih menguasainya sehingga keinginan sederhana itu tidak terlaksana. Yang terpenting Ia sudah melihat Elvina sehat, itu sudah cukup baginya.


Vano selesai menyiapkan barang yang akan Ia bawa untuk tinggal sementara waktu di hotel.


Vano akan keluar dari kamar dan Elvina masih setia mengikutinya. "Mas, jangan petgi dulu. Aku enggak mau kamu pergi lagi, Mas. Kita bisa ngobrol berdua dulu 'kan? Aku tahu kamu kecewa dan marah. Aku minta maaf sama kamu, Mas. Maaf udah bikin kamu seperti ini. Mas, jangan---"


"Ini 'kan yang kamu inginkan? Huh?"


"Enggak, aku enggak mau kamu pergi. Aku enggak mau kita bertengkar,"


"Tapi kamu menghadirkan penyebab kita bertengkar, Elvina. Lebih baik aku cari tempat lain yang nyaman demi memulihkan diri aku sendiri. Karena kamu enggak pernah mau memahami apa yang sebenarnya aku rasakan, Elvina,"


Dentuman pintu kamar yang ditutup dengan kasar membuat Elvina tersentak kaget.


Tidak ada yang bisa Elvina lakukan selain menangis. Ia mulai putus asa mendapatkan maaf dari Vano. Ia minta waktu agar mereka bisa bicara berdua, Elvina kelihatan sangat enggan.


Elvina memutuskan untuk keluar dari kamar. Barangkali Vano belum pergi dari rumahnya.


"Saya titip Elvina,"


Satu kalimat singkat dan sederhana namun berhasil menggoncang batin Elvina terdengar ketika Elvina tiba di lantai dasar. Ia melihat punggung Vano yang semakin menjauh usai meninggalkan pesan pada Amih asisten rumah tangga mereka.


Elvina berlari mengekori Vano namun Vano sudah masuk mobil dan langsung tancap gas meninggalkan rumah.


"Ibu, makannya dihabiskan," ujar Amih pada Elvina agar Elvina mau kembali ke ruang makan. Ia tahu betul, orang yang sedang sedih pasti enggan untuk mengisi perutnya. Nafsu makan Elvina sejak terlibat pertengkaran dengan Vank pun menurun, Amih menyadari itu.


"Ayo makan dulu, Bu,"


Amih meraih tangan Elvina yang akan bergegas ke kamar. Elvina menurut saja. Ia dibimbing untuk ke meja makan oleh Amih.


"Makannya dilanjut, Bu. Kalau Ibu sakit, bapak pasti bakal kepikiran,"


"Memang dia peduli, Mih? Dia aja pergi, enggak mau maafin saya,"


Amih tersenyum dan segera duduk di samping Elvina. Ia meraih satu tangan Elvina yang terbebas tidak memegang sendok.


"Bu, bapak cuma pengin menyendiri aja untuk sementara waktu. Bapak enggak benar-benar marah sama Ibu. Punya rasa kecewa wajar 'kan, Bu?"


Tentu, Elvina mewajari hal itu karena Ia pun sering mengalami apa yang namanya kecewa. Apalagi Vano, yang selama hidup dengannya selalu dihadapkan dengan banyak kekecewaan yang Ia ciptakan dan memaksa Elvina untuk mengalaminya. Mulai dari pernikahan mereka yang terjadi akrena Ia ingin belajar mencintai Vano tapi kenyataannya sampai detik ini Ia tidak bisa melakukan itu, dan barusan Vano harus menelan kekecewaan karena dibohongi olehnya.


Ia tidak jujur kalau Ia belum siap memiliki anak. Padahal di depan Vano, Ia berjata sudah siap. Vano tidak pernah memaksa tapi Vano begitu menginginkan hadirnya seorang anak. Yang Vano sesalkan adalah, kenapa Elvina tidak jujur saja? Sehingga Ia tidak perlu berharap dulu untuk sementara waktu sampai Elvina merasa benar-benar siap.


Terlalu banyak hal yang Elvina lakukan dan membuat Vano sakit hati. Elvina selalu menyia-nyiakan suaminya, entah itu perasaannya ataupun kebaikannya.


****


"Vano masih belum pulang ke rumah?"


"Belum, Bun. Dia masih enggak mau pulang,"


"Ya Allah benar-benar Vano ya,"


"Assalamualaikum,"


Dini menoleh ke belakang saat terdengar suara seseorang mengucapkan salam dan Ia langsung menjawabnya.


Suaminya datang dengan wajah lelahnya tapi tersenyum menatapnya. "Tumben enggak nunggu ayah di bawah?"


"Sebentar ya, Pa,"


Dimi meminta Arman untuk menunggu Ia selesai bicara dengan Elvina, putri satu-satunya, yang ternyata masih belum bertemu dengan Vano.


"Ya udah kamu enggak usah mikirin dia. Terserah maunya dia gimana. Masa mau nunda anak malah marah. Keterlaluan banget dia, enggak bisa pinjam perasaan kamu,"


Arman menanggalkan pakaiannya sambil bertanya-tanya dalam hati. Entah siapa yang dibicarakan oleh Dinu, Ia belum paham.


"Nanti kamu malah sakit mikirin dia. Dia aja belum tentu memikirkan kamu, Elvina. Ayah udah pulang. Bunda tutup dulu teleponnya,"

__ADS_1


Dini segera meletakkan ponsel genggamnya di atas nakas kemudian menatap suaminya yang sedang melepas kaus kaki.


"Kamu bicara sama Elvina?"


"Iya, Vano marah sama Elvina karena Elvina nunda anak, Yah. Sampai Vano enggak pulang ke rumah. Keterlaluan ya anak itu,"


"Lho tadi ayah enggak sengaja ketemu dia sama temannya,"


"Dimana?"


Dini langsung penasaran dengan cerita suaminya. Sayangnya Arman belum tahu permasalahan Elvina dengan Vano. Jadi Arman tidak bicara apapun pada Vano tadi, mengingat mereka juga tidak sengaja bertemu sehingga obrolannya singkat sekali.


"Waktu makan siang. Dia sama teman perempuannya. Tadi dikenalkan sama ayah cuma ayah lupa namanya,"


"Dia cari-cari kesalahan Elvina mungkin karena udah mau sama yang lain kali,"


"Bun, jangan ngomong begitu. Kita enggak tahu 'kan permasalahan yang sebenarnya gimana. Kamu baru dengar dari Elvina aja. Coba dengar juga dari versi Vano,"


"Apapun itu, kalau udah berhubungan dengan anak, seharusnya Vano enggak seperti ini, Yah. Dia bisa lebih dewasa sedikit. Dia 'kan tahu kalau Elvina belum lama ini juga lulusnya jadi ya wajar kalau masih nunda untuk punya anak. Ya harusnya hal itu nggak perlu lah dipermasalahkan, malah jadinya bertengkar kayak gini ‘kan. Kasihan Elvina nya, Yah. Tahu kalau El bunda punya anak, eh dia malah enggak terima,"


"Tenang dulu. Kita harus bicara sama Vano juga,"


"Ya masalahnya Vani enggak pulang, Yah. Kita mau temui dia dimana? Mama enggak tahu tempat kerjanya dimana,"


Kekesalan Dini sudah sampai di puncak kepala alias ubun-ubun. Vano sudah tidak ada sopan santun menurutnya. Kalau memang inginnya pisah dari Elvina makanya memilih tidak pulang, harusnya kembalikan Elvina pada Ia dan Arman sebagai orangtua secara baik-baik bukan malah dibiarkan begitu saja.


"Ini baru berapa hari Vano enggak di rumah?"


"Dua, kalau enggak salah Elvina bilang begitu tadi,"


"Sabar, jangan langsung menyalahkan Vano,"


"Papa malah bela dia, Yah,"


Arman berdecak, mulai jengah dengan istrinya itu. Ia sedang menempatkan dirinya di tengah-tengah antara Vano dengan Elvina. Ia tidak bisa menyalahkan Vano karena belum tahu cerita dari mulut Vano yang mungkin berbeda dari apa yang disampaikan Elvina pada mamanya.


*****


"Kamu pulang, bicarakan baik-baik dengan Elvina. Apa Elvina udah minta maaf sama kamu?"


Vano mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Arman. Elvina memang sudah berkali-kali meminta maaf. Saat Ia datang ke rumah, di pesan dan di telepon juga Elvina meminta maaf. Cuma Ia belum memberikan respon apapun sebab Ia masih perlu waktu untuk kembali baik-baik saja.


"Dia udah minta maaf sama kamu. Jadi seharusnya kamu enggak bersikap seperti ini, Vano. Kamu udah enggak pulang beberapa hari demi ego kamu itu,"


"Bun, aku minta maaf,"


Dini mendengus dan membuang arah pandangnya, enggan untuk menatap Vano lagi. Dini menyampirkan tasnya ke bahu lalu mengajak sang suami untuk pergi.


"Jangan terlalu lama membuat Elvina sedih, Van. Pesan saya cuma satu, kalau memang kamu enggak mau bertahan bersama Elvina, cukup katakan pada kami orangtuanya, kembalikan dia secara baik-baik,"


“Iya tapi dia bohong. Dia bilang udah siap tapi kenyataannya belum,”


“Tapi nggak seharusnya kamu eprgi dari rumah, Vano,”


Setelah berkata seperti itu, Dini angkat kaki dari ruangan dimana Vano bekerja. Tersisa Arman yang masih duduk di tempatnya.


Vano menatap Arman yang sudah Ia kecewakan karena Ia meninggalkan putrinya begitu saja setelah dibohongi.


“Aku juga nggak masalah kalau El nunda asalkan dia jujur. Tapi okay aku bakal pulang, Yah. Aku enggak mau pisah dari Elvina. Tapi aku perlu waktu sebentar,"


"Iya, ayah pulang dulu,"


"Jangan terlalu lama menghindar dari sumber kekecewaan kamu karena itu bakal bikin kamu lama untuk pulih. Bicara berdua dengan Elvina itu yang terbaik, Van," pesan Arman sesaat sebelum meninggalkan Vano di tempat pertemuan mereka.


Vano tidak menyangka kalau Elvina akan melaporkan apa yang sudah terjadi di antara orangtuanya, yaitu permasalahan anak. Sekarang Ia harus menghadapi kekecewaan mertuanya. Ia tidak mau berlarut-larut membuat mereka kecewa.


"Iya, Yah, Insya Allah aku bakal langsung pulang ke tumah ketemu sana El dan mungkin bakal langsung bicarain ini semua kalau situasinya pas,”


Vano melepas kepergian Arman dari ruangannya, menyusul Dini yang sudah lebih dulu pergi tadi.


Dini menunggu suaminya di dekat mobil. Ia menggerutu karena Arman tidak kunjung menyusulnya.


"Ayah lama banget sih. Ngomong apalagi sama Vano yang keras kepala itu,"


Setelah Ia menggerutu seperti itu, suaminya datang dengan senyum mengembang, yang berusaha untuk membuat Dini tidak jengkel lagi dengan Vano.


"Lama banget enggak datang-datang,"


"Ya karena masih mau bicara dulu sama Vano tadi, Bun,"


Arman membuka pintu mobil untuk istrinya yang menatap ke arahnya dengan kesal. Setelah Dini masuk ke dalam mobil, Ia segera masuk juga dan duduk di balik kemudinya.


"BundaMama enggak habis pikir sama Vano. Dia keras kepala banget enggak mau pulang dan bicara sama Anatha. Alasannya perlu waktu. Halah, mau sampai kapan coba?"


"Ya udahlah, Bun. Vano dan Elvina sama-sama udah dewasa. Vano udah mengambil keputusan untuk menyendiri dulu, jadi kita hargai keputusannya itu. Memang Elvina yang paling bersalah di sini. Dia enggak terbuka sama suaminya sendiri padahal ini harusnya dibahas berdua, tapi kayaknya Vano mau pulang kok, kita liat aja dulu apa yang bakal Vano lakuin setelah ini,”


"Ya barangkali aja Elvina sulit untuk bicara, Yah. Dia takut Vano kecewa,"


"Justru kalau begini Vano lebih kecewa, Bun. Dia merasa enggak dihargai. Masalahnya ini soal anak. Enggak boleh memutuskan sendiri begitu. Kalau Vano tahu 'kan lebih enak juga, Bun,"


"Tapi Bunda kasihan sama Elvina. Dia kelihatan kepikiran, Yah. Makanya bunda berharap banget Vano bisa secepatnya pulang dan bicara sama Elvina," ujar Dini.


"Ayah yakin enggak lama lagi Vano pulang. Dia juga sebenarnya enggak mau bersikap seperti ini. Cuma biar Elvina tahu bahwa dia kecewa, jadilah ditinggal dulu Elvina untuk sementara waktu,"

__ADS_1


Dini bersandar seraya membuang napasnya kasar. Ia tidak bisa berkata-kata lagi karena Vano sempat tetap keras kepala meskipun sudah dihampiri langsung olehnya dan Arman.


Sekarang entahlah apa keputusan yang Vano ambil. Apakah Ia akan benar-benar lansgung pulang menemui istrinya atau justru bertahan untuk tidak pulang ke rumah karena kekecawaannya itu. Elvina memang salah karena tidak terbuka pada suaminya. Elvina bilang siap tapi kenyataannya tidak siap untuk punya anak. Vano akan paham kalau memang Elvina terbuka atau jujur sejak awal kepadanya sehingga Ia belum terlanjur berharap punya anak, tapi kenyataannya Elvina malah berbohong. Elvina nengatakan sudah siap punya anak tapi diam-doam menyimpan pil pencegah kehamilan tanpa sepengetahuan Vano yang sebenarnya paling berhak tahu tentang itu. Kalau Vano diberitahu, Vano tidak akan marah dan kecewa seperti ini.


__ADS_2