
Setelah menemani Elvina ke salon untuk memotong rambutnya, dan juga melakukan perawatan kuku, Vano dan Elvina langsung singgah ke sebuah kafe untuk menikmati minuman dingin.
Selain memesan jus mangga, keduanya memesan hot dog juga sebagai teman minum jus. Lengkap sudah, minuman ada, dan makanan juga ada. Waktunya mereka mengobrol sambil menikmati apa yang ada di depan mata mereka sekarang.
“Itu si Rendra gimana? Dia masih hubungi kamu nggak? Kalau masih, aku samperin dia, terus aku getok kepalanya kali ya biar seru,” kata Vano sambil menggertakkan giginya.
“Nggak kok, aman-aman aja. Dia nggak hubungin aku. Emang kenapa, Ren? Eh kok Ren, Mas maksud aku. Kita kan udah bahagia dengan jalan masing-masing, Mas,”
Mendadak suasana hati Vano berubah mendengar Elvina salah menyebut nama. Yang seharusnya menyebut sepenggal dari namanya ‘Vano’ ini malah ‘Ren’ dan itu diyakini Vano merupakan nama Rendra.
“Bisa-bisanya salah sebut nama. Yang dk depan kamu sekarang ini, suami kamu sendiri lho. Dan namanya Vano, siapa Ren? Hmm? Maksud kamu Rendra? Kok bisa salah sebut? Kok bisa nukar nama aku sembarangan?”
“Maaf aku nggak sengaja, Mas. Aku nggak ada niat nukar nama kamu kok. Wajar ‘kan kalau kadang orang lupa. Itu manusiawi, Mas,”
“Tapi aneh aja gitu. Kok bisa-bisanya ketukar nama aku sama Rendra? Itu nama Rendra ‘kan yang kamu sebut? Ngaku kamu, El. Nama aku sama dia jauh lho padahal. Aku Vano dia Rendra. Kok bisa jadi tukeran? Aneh banget, kayaknya nama dia udah nempel banget di kepala kamu ya,”
Elvina tahu itu sebuah sindiran. Vano tidak terima ketika istrinya salah sebut nama. Apalagi telinganya mendengar nama ‘Ren’ hati Vano mendadak kepanasan.
“Udah jangan debat ya. Kita ‘kan lagi habisin waktu berdua masa debat sih, jangan dong,”
“Lah kamu yang bikin hati aku kesal,”
“Aku nggak sengaja, Mas. Sumpah nggak ada niat untuk salah sebut nama. Aku juga nggak mau lah salah sebut nama suami aku sendiri. Tapi ini ‘kan nggak sengaja, manusiawi dong harusnya,”
“Ntar kebiasaan, makanya aku peringatin dari sekarang. Awas aja ya kalau kamu sampai nukar nama aku sama nama orang lain, siapapun itu. Aku nggak suka dengarnya, El. Nama aku Vano, coba dihafal dulu deh sana, biar nggak salah-salah lagi,”
“Ih kamu kok jadi sinis gitu sih? Aku ‘kan udah minta maaf. Jangan kesal lagi dong, Mas. Aku janji nggak akan salah sebut nama, seriusan deh,”
“Ya gimana aku nggak sinis. Aku nggak senang istri aku sebut nama orang lain apalagi aku nggak suka sama orang itu. Kamu ‘kan tau sendiri aku cemburu sama Rebdra, eh kamu malah sebut-sebut nama dia. Aku benci, tau nggak?”
Elvina menghela napas pelan. Suaminya kelihatan kesal sekali, padahal Ia sudah meminta maaf pada sang suami karena mulutnya salah menyebut nama.
__ADS_1
“Maaf ya, aku benar-benar nggak sengaja,”
“Lupa, nggak sengaja, atau gimana?”
“Ya gabungan keduanya,”
“Bisa-bisanya lupa nama suami sendiri. Yang ingat nama dia doang ya? Katanya cuma teman, tapi namanya nempel banget di kepala kamu kayaknya,” ujar Vano yang masih belum puas meluapkan rasa kesal yang memenuhi dada ketika Elvina salah menyebut namanya.
Elvina memilih untuk diam karena Ia mengakui bahwa apa yang Ia lakukan adalah hal yang salah. Kalau Ia menyahuti ucapan Vano, yang ada malah berdebat lebih panjang nantinya.
“Teman ‘kan? Namanya nempel banget di kepala,”
“Astaga, Mas. Aku ‘kan udah berulang kali bilang kalau Rendra itu cuma teman aku aja. Kamu kenapa nggak percaya sama aku sih?”
“Tapi saking dekatnya temenan sampai namanya nempel di kepala ya, terus giliran ngobrol sama suami jadi ketuker gitu deh namanya, padahal jauh banget dari huruf awal aja udah beda banget,”
“Aku minta maaf, udah deh jangan dibahas lagi. Nanti yang ada kita malah berantem. Aku nggak nyangka kamu bisa juga debatin masalah yang sebenarnya tuh kecil, tapi kamu bikin jadi besar,”
“Kamu ngomong apa? Ini masalah kecil ya menurut kamu? Tapi ini bisa jadi masalah besar lho kalau kamu salah terus. Aku khawatirnya nggak sekali kamu begini. Dan kalau udah salah sebut gitu artinya apa? Dia ada di kepala kamu, nama dia nempel di kepala kamu, dan bisa jadi yang kamu liat sekarang di depan kamu ini bukan suami kamu sendiri tapi Rendra,”
Elvina lama-lama jengah juga. Ia tidak kuat bila terus disalahkan. Ia sudah menjelaskan, meminta maaf berulang kali, tapi tetap saja suaminya kesal.
“Aku mendadak badmood hanya gara-gara kamu salah sebut nama aku, El, jujur aku,”
“Iya aku minta maaf ya, Mas. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Aku nggak ada maksud nukar nama kamu sama nama orang lain. Aku harap kamu maafin kesalahan aku,”
“Ya udah nggak usah dibahas lagi, badmood aku makin nambah nanti,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan membahas lagi karena itu permintaan suaminya. Akhirnya ia lanjut makan dan minum. Sebelumnya mereka terlibat obrolan, sekarang jadi diam saja. Jujur Elvina merasa tidak nyaman kalau hanya diam, tapi kalau bicara hanya untuk debat untuk apa? Lebih baik Vano tenangkan hatinya dan Ia menghargai. Jadi nanti bisa kondusif lagi situasi di antara mereka berdua.
Lima belas menit berlalu, Elvina melirik suaminya yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya, sambil minum. Elvina menghela napas pelan.
__ADS_1
“Nggak enak diem-dieman kayak begini sama Mas. Dia masih kesal ya?”
Elvina terus melirik ke arah suaminya yang kini jadi sibuk dengan ponsel seolah-olah Ia tak ada di sisi Vano. Elvina lebih suka suasana yang cair di antara mereka berdua, bukan dingin seperti ini.
“Mas, aku ke kamar mandi ya,”
Vano hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Dari situ Elvina bisa menyimpulkan kalau suaminya memang masih kesal. Tadi Vano berkata bahwa mereka tak perlu lagi membahas perkara salah sebut nama. Elvina pikir setelahnya mereka bisa mengobrol hangat seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak juga.
“Tumben, biasanya dia inisiatif mau antar aku. Lah ini nggak ada tanda-tanda,”
Elvina kembali membatin. Ia tidak mengerti kenapa suaminya langsung berubah seperti saat ini. Rasa kesal sepertinya masih berkumpul di hati Vano.
“Aku ke kamar mandi ya,”
“Iya, aku ‘kan udah ngangguk tadi,” kata Vano yang akhirnya mau mengeluarkan suara.
Elvina menghembuskan napas kasar kemudian beranjak meninggalkan kursi. Ia langsung menatap suaminya yang ternyata sedang menatap ke arahnya juga.
“Kenapa muka kamu kayak gitu?”
“Nggak apa-apa,”
“Kayak yang kesal, kamu kesal sama aku?”
“Nggak, kata siapa?”
“Mukanya aja begitu,”
“Biasa aja muka aku,”
Setelah menjawab seperti itu, Elvina langsung bergegas ke kamar mandi. Sebenarnya Elvina tidak ingin-ingin sekali buang air kecil, tadi hanya berharap dengan pamitnya Ia ke kamar mandi, Vano akan bersedia mengantarnya seperti biasa, atau paling tidak mengeluarkan suara tanpa Ia harus pamit dua kali.
__ADS_1
“Kenapa sih dia? Kok jadi dia yang keliatan kesal sekarang? Emang gue salah apaan? Harusnya gue lah yang kesal, orang dia yang salah. Nyebut nama orang pas lagi ngobrol sama gue ‘kan bikin kesal banget,”
******