
Vano terbangun karena pendingin ruangan di kamarnya benar-benar membuat badannya terasa seperti di dalam kulkas. Ketika Ia msmbuka mata ternyata memang hujan juga, pantas saja semakin dingin.
Vano mencari remot AC yang biasanya Ia letakkan di nakas, tapi ketika Ia raba-raba nakas tepat di dekat kepalanya, remot itu tidak ada.
“Kemana sih?” Batin Vano sambil mencari dengan mata belum terbuka sepenuhnya hanya mengandalkan tangannya saja.
Ia tidak berhasil menemukan benda itu, akuirnya Vano terpaksa duduk. Ia akan mencari dengan posisi duduk dan mata yang terbuka sempurna barangkali dengan begitu Ia bisa menemukan apa yang Ia cari.
Tapi alih-alih mencari remot, Ia malah menatap ke arah Elvina yang ternyata belum tidur. Posisi Elvina memang miring membelakanginya. Elvina tidak sadar kalau Ia bangun.
Vano melihat ke arah jam dinding. Padahal sudah jam dua belas malam tapi Elvina belum tidur. Dan sekarang Vano lihat Elvina sibuk dengan ponsel genggamnya.
__ADS_1
Mau menegur, takut membuat Elvina kaget, akhirnya Ia biarkan saja. Ia pura-pura tidak tahu kalau Elvina masih terjaga. Ia fokus mencari remot AC saja sekarang.
Setelah Ia cari dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara ternyata remot itu ada di bawah kalender kecil yang memang sengaja Ia letakkan di sana.
Vano menghela napas lega dengan pelan setelah menemukan remot AC itu. Ia benar-bebar tidak mau mengganggu Elvina. Sebelum menaikkan suhu AC, Ia pandang Elvina sekali lagi. Kepalanya sedikit miring untuk menatap apa yang sedang Elvina lakukan dnegan ponselnya, karena jujur Ia penasaran sekali. Matanya mengerjap ketika tahu kalau Elvina sedang memandangi foto seorang pria yang Vano tidak tahu siapa.
Untuk lebih menegaskan, Vano memicingkan kedua matanya. Benar, Elvina memang sedang memandangi foto seseorang melalui akun instagram.
Vano langsung kembali berbaring dengan pelan-pelan setelah tahu siapa orangnya. Setelah itu tangannya yang masih memegang remot segera menaikkan suhu AC dan karena menimbulkan suara pada AC otomatis Elvina sadar. Elvina langsung menoleh ke arah Vano yang tersenyum ke arahnya.
“Hai, kok belum tidur?”
__ADS_1
Elvina gugup, Ia tidak menduga kalau duaminya itu akan terbangun dan sekarang bertanya kepadanya yang memang sulit sekali untuk tidur. Malah terbayang-bayang dengan Rendra terus. Ya, nyatanya mantan kekasihnya itu maish belum mau pergi dari pikirannya walaupun Ia sudah menikah.
“Belum, nanti aja,”
“Ya udah, jangan malam-malam ya. Nggak baik tidur terlalu malam, nanti istirahat kamu kurang. ‘Kan besok kita mau pergi,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Diingatkan dengan agenda bulan madu ke Bali dan berangkat besok, membuat Elvina menghela napas pelan.
Entah sampai kapan Ia mengingat Rendra, dan coba membuka hati untuk Vano. Ia menerima pernikahan ini, karena tujuannya ingin membuka hati untuk Vano, membalas perasaan Vano. Barangkali dengan intens nya pertemuan mereka, kebersamaan mereka, cinta itu hadir untuk Vano. Semoga saja tidak lama lagi itu benar terjadi.
“Aku emang suka begadang, bye the way,”
__ADS_1
“Tapi nggak baik, apalagi kalau besok paginya kamu ada kegiatan. Jangan kurang istirahat, nanti kamu sakit. Saya nggak mau kamu sakit ya, apalagi karena seseorang. Selamat malam, El. Saya lanjut tidur lagi,”