
“Lebih baik buka hati untuk Vano aja daripada kamu terus-terusan terjebak dalam masa lalu. Toh Vano udah bisa terima kenyataan kalau kamu memang masih perlu waktu untuk belajar cinta sama Vano. Vano juga tau kalau cinta bisa datang karena terbiasa. Nih ya, daripada kamu mikirin orang yang udah jelas-jelas nyakitin kamu, mendingan kamu belajar terima seseorang yang datang dan niat mau bawa kamu ke dalam hubungan yang serius, yang bisa bikin kamu bahagia. Kamu pikirin deh niat baiknya Vano itu,”
Elvina merenungi kata-kata ayahnya sampai tengah malam Ia bahkan belum bisa memejamkan mata karena terus teringat dengan ucapan ayah dan bundanya yang tidak ingin Ia terus-terus mengingat Rendra yang sekarang sudah bahagia dengan jalan hidup pilihannya. Seharusnya Ia juga seperti itu.
“Pak Vano itu baik, malah baik banget, dewasa, semua yang ada di Pak Vano itu hampir sempurna, dan apa pantas aku sama Pak Vano?”
“Duh, kenapa jadi susah tidur begini sih? Kenapa harus kepikiran terus sama omongan ayah bunda? Apa yang di omongin sama mereka emang benar, tapi aku emang maish belum bisa lupain Rendra!”
******
“Abang, mama diundang ke acara pernikahan teman Mama. Papa nggak bisa karena ‘kan ada rapat. Sama Abang mau nggak? Kira-kira Abang udah selesai ngajar belum kalau jam satu siang?”
“Boleh, Ma. Abang kayaknya hari ini selesai ngajar jam dua belasan. Abang nanti langsung pulang jemput Mama dan kita berangkat ke tempat acaranya ya,”
__ADS_1
Lisa mengangguk senang mendengar jawaban anaknya yang tidak keberatan sedikitpun hendak Ia bawa ke acara pernikahan anak dari temannya.
Sekalian membuat Vano membuka mata dan mengira-ngira seperti apa konsep pernikahannya nanti. Barangkali ada yang bisa dijadikan inspirasi dari pernikahan anak temannya nanti.
“Mama sih udah sering ya ajak Abang ke acara pernikahan kenalannya Mama, apa Abang udah punya gambaran mau nikah kayak gimana? Konsepnya apa? Nanti ‘kan mau temenin Mama lagi tuh, abang pelajari lagi ya,”
“Udah belajar mulu, Ma. Dan abang udah punya gambaran kayak gimana konsep pernikahan abang nanti,”
“Belum persiapan sebenarnya, Dek. ‘Kan punya gambaran itu wajar, kamu juga pasti udah punya gambaran ‘kan di masa depan kamu bakal ngapain aja? Bakal jadi apa? Nah kayak gitulah kira-kira. Kalau abang karena udah dewasa ya gambarannya udah sampai ke pernikahan, kalau kamu belum mungkin,”
“Udah, aku pengen pernikahan kayak princess,”
“Tuh kamu aja udah punya gambaran pernikahan yang kamu pengen, Abang masa nggak ada,”
__ADS_1
“Iya Papa doakan semoga Abang sama adeknya bisa mewujudkan pernikahan impian kalian masing-masing ya. Adek mau pernikahan kayak di negeri-negeri dongeng gitu, nah kalau abang gimana?”
Di meja makan, saat sarapan membicarakan hal-hal yang ringan memang hampir setiap pagi terjadi.
“Abang yang konsepnya santai gitu, Pa. Pengen di taman juga. Tapi ya, liat gimana calon istri abang nanti, Pa. Kalau dia setuju ya bagus, tapi kalau dia kurang setuju kita cari jalan tengahnya. Dia ‘kan juga pasti punya gambaran pernikahan yang dia mau,”
“Ya kapan Abang lamar Elvina? Nanti Elvina keburu diambil orang lho,”
“Tunggu, El nya masih ragu gitu,”
“Emang apa sih yang diraguin dari abang? Orang abang udah nunjukkin keseriusan abang kok. Datang ke rumahnya untuk kenalan sama orangtuanya udah, bawa orang tua abang sendiri ke rumah mereka juga udah, ngomong langsung pengen serius juga udah,”
“Abang El benar-benar siap nerima Abang jadi pasangan sehidup sematinya, Dek,”
__ADS_1