Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 37


__ADS_3

“Bisa nggak jangan sibuk sama handphone dulu, di depan mamu sekarang ada makanan lho. Sayang kalau dianggurin,”


“Eh iya ya, heheheh maaf, Mas,”


Mulut Vano didesak oleh hatinya supaya menegur Elvina yang sibuk dengan ponsel, dan seperti biasa stalking akun sosial media mantannya yang entah sudah berapa ribu kali distalking.


“Apa nggak bosan liatnya itu lagi-itu lagi?”


“Maksud Mas?”


“Saya cuma nanya, bosan nggak kalau kita liat sesuatu di handphone dan yang diliat tuh sebenarnya itu-itu lagi,”


“Aku memang suka aja ngeliatin foto-fotonya Rendra, kecuali foto Rendra sama pasangannya yang baru,”


Vano langsung tersedak mendengar pengakuan Elvina yang tidak ragu mengatakan bahwa melihat foto-foto Rendra itu membuatnya merasa bahagia. Ternyata kebahagiaan Elvina masih bersumber dari mantannya yang sudah bahagia dengan yang lain.


“Ya ampun, Mas. Makanya jangan ngobrol dulu deh, fokus makan aja,”


Elvina langsung mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung sang suami dengan lembut. Sekarang Vano sedang menyeruput minum dan masih batuk karena tersedak yang Ia alami barusan.

__ADS_1


“Jangan ngobrol lagi ya setelah ini,”


Vano menganggukkan kepalanya seraya meletakkan gelas di atas meja. Ia membuang napas kasar, berusaha mengusir rasa sesak di dadanya karena dua penyebab yang pertama karena Elvina yang entah sampai kapan berhenti menganati mantan kekasihnya melalui sosial media, dan yang kedua karena tersedak.


Selesai saralan mereka kembali ke penginapan untuk bersih-bersih badan. Lumayan berkeringat setelah bersepeda dan bertemu dengan sedikit sinar matahari yang masih malu-malu datang.


“Kita naik mobil ya, Mas? Biar bagasinya biar kita isi sama oleh-oleh,”


“Iya,”


Setelah mandi mereka bergegas ke toko yang menjual buah tangan khas Bali. Di sana mereka akan membeli buah tangan untuk dibawa ke Ibukota tempat mereka menetap.


“Boleh,”


“Aku suka banget suasana di sini. Walaupun banyak orang asing tapi tentram gitu rasanya,”


“Iya, saya juga suka liburan ke sini. Nanti seseklai kita ke luar negeri juga. Saya ‘kan belum pernah ngajak kamu liburan ke negeri orang,”


“Di Indonesia juga udah cukup kok, Mas,”

__ADS_1


“Tapi saya pengen sesekali ajak kamu liburan yang jauh,”


“Bali bukannya udah jauh?”


“Kurang, masih di dalam negeri. Maksud saya ke Eropa sana,”


Elvina menganggukkan kepalanya. Tidak ada orang yang bisa menolak liburan. Karena liburan itu kegiatan paling menyenangkan dan paling digemari oleh kebanyakan orang.


“Aku senang diajak liburan kemana aja, cuma ‘kan kalau liburan tuh ngabisin uang,”


“Ya untuk apa kerja kalau nggak bisa bahagiain diri sendiri dan pasangan, benar nggak?”


Elvina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia senang sekali mendengar jawaban Vano yang nampak tidak keberatan bila menuruti hobinya yaitu berlibur. Padahal Elvina senang diajak liburan kemana saja walaupun ke tempat yang dekat tapi Vano punya keinginan sendiri yaitu membawa Elvina sesekali ke luar negeri.


Perjalanan mereka terhenti karena mobil di depan mereka tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Si pemilik langsung turun dan menangkup kedua tangannya meminta maaf pada pengendara yang lain karena sudah mengganggu perjalanan.


“Hah? Itu Rendra ya?”


Elvina memicingkan kedua matanya menatap pengemudi mobil di depannya yang barusan meminta maaf karena mobilnya berhenti secara tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2